Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 21 Radit kembali ke Indonesia



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Tiga wanita tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Dara, Bella, dan Bi Ningsih melakukan tugasnya masing - masing. Dara tengah memasukkan beberapa macam bahan berbeda ke dalam panci sup. Sesekali mencicipi masakannya. Dirasakan sudah cukup, dia mematikan api kompor. Hendak meletakkan sop ayam yang sudah matang ke atas meja makan.


"Kak, biar aku saja yang menyiapkannya," Bella menawarkan diri.


"Tidak perlu. Biar aku lakukan sendiri. Kamu lagi hamil duduk saja?" Dara menolak.


"Nggak apa - apa kak. Biar aku saja. Kamu pasti lelah," Bella masih ngotot.


Tentu saja Dara merasa aneh dengan sikap Bella yang tiba - tiba baik.


"Ini sudah hampir selesai. Kamu duduklah," ucapnya jengah.


Dara merasa risih dengan sikap Bella. Menurutnya keberadaannya malah memperlambat pekerjaannya. Dia yang hendak membawa panci sop panasnya ke meja makan sontak kaget, karena tanpa sengaja menabrak tubuh Bella yang sedari tadi mengekornya. Panci sop panasnya tidak terjatuh, karena Dara dengan sigap mempererat pegangan pancinya. Hanya saja ada sebagian kuahnya yang tumpah mengenai tubuh Bella. Sontak Bella berteriak karena merasa kepanasan.


Rey yang mendengar jeritan Bella langsung keluar dari kamar dengan tergesa - gesa. Dia menyaksikan Bella yang sedang merintih dengan Dara di depannya yang masih membawa panci sop panas. Seakan Rey menyaksikan sebuah Scene film, yang dimana istri pertama sedang melakukan adegan penganiayaan pada madunya.


(Salah paham lagi. Sepertinya dewi fortuna masih berpihak pada Bella🤦)


Rey mendekati kedua istrinya.


"Sayang apa yang kamu lakukan?!" tanya Rey kepada Dara.


"Tindakanmu ini sangat berbahaya," ucap Rey kecewa.


"Bella kamu tidak apa - apa kan?" tanya Rey beralih ke Bella.


Dara tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Dia tidak terima. Seakan dia dituduh sebagai tersangka oleh suaminya sendiri.


"Ehemmm!" Dara berdehem. Memastikan suaranya bisa keluar dengan mulus ketika hendak membela diri.


"Bella, apa kamu tidak ingin menjelaskannya?" Dara melontar pertanyaan ke Bella.


"Maksutnya apa Kak?" Bella berlagak tidak mengerti.


"Seperti kamu sangat senang jika terjadi kesalahpahaman antara aku dan Rey,"


"Aku tidak pernah seperti itu Kak," Bella mulai berakting sedih.


"Kalau kamu wanita yang baik, seharusnya segera beri penjelasan kepada suamimu itu!"


"Apa perlu aku beri rekaman CCTV yang ada disana?" Dara menunjuk ke arah CCTV terpasang.


"I..iya Kak, Maaf," Bella tertunduk.


"Mas Rey, Kak Dara tidak salah. Sebenarnya dia sudah nyuruh aku untuk istirahat. Tapi aku yang bersikukuh ingin membantunya,"


"Dan akhirnya Kak Dara tidak sengaja menumpahkan sopnya karena aku yang selalu mengekornya," Bella menjelaskan.


"Sialan! Aku terpaksa berkata jujur. Kali ini usahaku gagal!" batin Bella.


Rey yang setelah mendapati penjelasan dari Bella, tentu saja merasa bersalah kepada Dara. Dia telah salah paham kepada istri pertamanya itu.


"Sayang maafkan aku," Rey memohon.


Dara tidak menjawab. Dia lebih memilih melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi. Meletakkan panci yang berisi sop di atas meja makan. Mengambilkan beberapa menu makanan di atas piring Rey. Tidak ketinggalan menuangkan susu hangat kedalam gelas kosongnya.


"Makanlah, aku sudah menyiapkannya," titah Dara kepada Rey. Suaranya terdengar rasa kecewa.


Dara lanjut melepaskan celemek dapurnya. Menggapai tas kerjanya. Mendekati Rey dan menyalami dan mencium tangan suaminya itu.


"Aku berangkat kerja dulu,"


"Sayang kamu seharusnya sarapan dulu," ucap Rey gelisah.


"Tidak berselera," timpal Dara singkat sembari berlalu lalang menjauh dari Rey dan Bella.


Rey menyesal dengan tindakannya tadi. Dia merutuki diri sendiri. Bella diam - diam menampilkan seringai jahat pada mukanya. Merasa usahanya pagi ini tidak sia - sia.


* * *


Sesampainya di kantor, Dara menghempaskan tubuhnya pada kursi besar nan empuk disana. Menatap sendu tangannya yang sudah memerah karena luka bakar terkena tumpahan sop tadi. Dia sangat kecewa dengan Rey. Terlalu sibuk dengan Bella yang mentang - mentang lagi hamil, tapi lupa untuk memperhatikannya yang berstatus istri pertama.


Ceklek! Terdengar suara handle pintu.


Brakk!


Terlihat Kayla membuka pintu dan menutupnya dengan keras. Dara sontak menyembunyikan tangannya di balik bawah meja. Dia tidak ingin Kayla melihatnya, karena dia masih sangat sayang dengan telinganya. Tahu sendirilah, seorang Kayla yang akan selalu bersikap berlebihan dengan khas suara klakson teloletnya, jika melihat sahabatnya itu terluka.


"Ya Tuhan Kay! lo bisa merobohkan tembok kantor gue!" seru Dara.


"Ra.. gue ada info penting buat lo,"


"Ini tentang Bella!" seru Kayla tanpa memperdulikan gerutu Dara.


* * *


Di Bandara Soekarno - Hatta.


Terlihat Pria tampan bertubuh tinggi menggunakan long coat selutut bewarna abu - abu dan mengenakan kacamata hitam yang terlihat sangat modis melekat pada tubuhnya proposionalnya. Dia berjalan gagah melewati Exit Gate Bandara. Mendorong kopernya menuju pengawal pribadinya yang memang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.


"Selamat siang Tuan Radit," sapa sang pengawal.


"Selamat siang," balas Radit ramah.


"Silahkan masuk Tuan," sang pengawal membuka pintu penumpang. Mempersilahkah Radit masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Tidak lupa memasukkan koper Tuannya ke dalam bagasi sebelum melajukan mobil.


"Tolong antar saya ke Perusahaan Erlangga Group," titah Radit.


"Baik Tuan,"


* * *


Di perusahaan Erlangga Group.


"Pak, hari ini anda ada jadwal makan siang dengan pemimpin perusahaan M.G. Sekalian membahas tentang kontrak kerjasamanya dengan kita." Ucap Asisten Ricko yang umurnya sepantaran dengannya.


"Kurang berapa jam lagi acaranya akan dimulai?" tanya Rey.


"Anda masih ada waktu dua jam lagi Tuan,"


"Ok, saya ingin beristirahat dulu,"


"Baik Tian." Lalu melangkah pergi.


Selang waktu tidak lama, terdengar suara deringan telepon kantor. Rey langsung menekan tombol speaker mode.


"Iya ada apa?"


"Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda?" ucap sekretaris.


"Apa sebelumnya dia sudah membuat janji?"


"Belum Pak."


"Kalau begitu suruh dia buat janji terlebih dahulu baru bisa menemui saya,"


Tut. Sambungan telepon berakhir.


* * *


"Maaf Tuan, Bos sedang sibuk. Anda harus membuat janji dulu," ucap Sekretaris dengan nada yang sangat manis. Terlihat Dia sedang terpesona dengan ketampanan mahkluk Tuhan di depannya itu.


"Kalau begitu, aku akan langsung masuk saja," ucap Radit santai.


"Jangan Tuan. Anda tidak diperbolehkan masuk, karena Pak Rey sedang sibuk,"


"Apa kamu takut kena marah? tenang saja. Kamu akan aman," ucap Radit sembari memberikan satu kerlingan matanya, yang tentu saja membuat wanita di depannya tak berkutik, membiarkan dia masuk begitu saja.


Radit melangkahkan kakinya menuju pintu masuk ruangan pribadi Rey. Memutar knock pintu, mendorongnya ke dalam. Disana dia melihat Rey sedang berduduk santai sambil memejamkan matanya.


"Oh..! jadi ini yang dikatakan sibuk, sehingga lo nggak mau bertemu dengan gue?!" seru Radit kecewa.


Rey yang mendengar suara seseorang yang sangat dia kenali itu langsung mengerjap membuka matanya.


"Radit! lo kapan baliknya?" tanya Rey, sembari berdiri mendekati sahabatnya itu.


"Gue baru saja keluar dari bandara langsung nemuin lo B*ngsat! eh malah lo nggak mau nemuin gue!" Radit emosi.


"Mana gue tahu kalau itu lo tikus curut!" Rey juga emosi.


Mereka berdua saling melangkah mendekat. Sejenak mereka terdiam.


"Hahahaha..." terdengar gelak suara mereka berdua menggema dalam ruangan.


"Lo ternyata masih hidup Brow, gue pikir sudah mati!" seru Rey sambil memberi pelukan singkat ke sahabatnya itu.


"Lo doain gue mati?! tega bener lo. Nikah aja belum gue!" seru Radit kesal.


"Hahaha... Makanya buruan nikah,"


"Gue belum bisa move on. Lagian belum menemukan yang cocok,"


"Gue penasaran siapa itu cewek, sampai lo dibuat susah move on," Rey penasaran.


"Ah lo nggak perlu tahu. Nggak penting buat lo," kilah Radit. Tidak mungkin dia cerita kalau Dara yang bikin dia susah move on selama ini. Bisa perang dunia ke 3.


"Terserah lo deh!"


"By the way. Lo nikah lagi kenapa nggak ngabari gue?!"


Mendengar pertanyaan Radit, sontak membuat lidah Rey kelu. Senyuman lebar yang sedari tadi terukir di wajahnya tiba - tiba menghilang.


"Gue terlalu malu untuk menceritakannya Dit," ucap Rey sendu.


"Maksud lo apa? bukannya lo nikah karena kemauan lo sendiri?"


"Gue terpaksa Dit. Kecerobohan gue menumbuhkan kesalahan fatal!"


Rey pun mulai menceritakan semuanya. Dari awal mula permasalahan, dia tidak sadar telah memperkosa Sekretarisnya sendiri, hingga wanita itu hamil dan menikah.


Setelah mendengar Rey bercerita, Ada rasa kecewa pada Radit. Sebenarnya dia sudah mendengar ceritanya dari Kayla sebelum balik ke indonesia, tapi dirasa belum puas kalau belum mendengarnya langsung dari yang bersangkutan.


"Dara. Bagaimana dengan Dara?"


"Apa dia baik - baik saja?"


"Apa lo memikirkan perasaannya?"


"Apa lo bisa bersikap adil dengan kedua istrimu?"


"Dan apa lo yakin yang dikandung Bella itu anak lo?"


Radit membrondong sejuta pertanyaan ke Rey. Sungguh jiwa penasarannya sudah meronta - ronta.


"Gue terpaksa Dit. Apalagi Bella membawa bukti tes DNA kalau itu darah dagingku,"


"Dan tentu saja gue sangat merasa bersalah dengan Dara. Gue sangat mencintainya," papar Rey.


"Gue harap lo nggak menyakiti Dara lebih dari ini Rey," ucap Radit serius seperti menahan emosi.


"Kalau lo menyakiti dia lagi, maka lo akan berhadapan dengan gue," raut muka Radit terlihat sedikit mengeras.


"Maksud lo apa? Atas dasar apa lo berkata seperti itu?" Rey mulai terpancing emosi dengan perkataan Radit.


Kedua pria tampan itu saling melempar tatapan tajam. Seakan ada aliran listrik yang menghubungkan kedua pasang mata tersebut.


Bersambung~~


Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰