
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Dokter Arka sedang fokus mendengarkan ritme detak jantung dari alat stetoskop yang ditempelkan pada tubuh pasiennya. Beberapa kali dia memindahkan piringan Ddiaphragm ujung stetoskop pada bagian dada dan punggung untuk mendeteksi keluhan pasien.
"Mama, butuh istirahat yang cukup dan harus diiringi rutin minum obat yang sudah saya resepkan ya," tutur Arka kepada Mama Rani seraya melepaskan earpieces stestokop dari telinganya.
"Tekanan darah Mama juga tinggi. Mama harus jaga pola makan dan jangan terlalu memikirkan hal yang nggak begitu penting secara berlebihan," Tambahnya lagi sembari memeriksa alat elektrik pengukur tekanan darah.
"Bagaimana nggak berpikir yang berlebihan? adikmu itu sudah nggak menganggap aku sebagai ibunya lagi," keluh Rani sedih.
"Bukannya begitu Ma, Rey hanya butuh waktu untuk menata perasaannya. Biarkan dia tenang dulu," Sanggah Arka yang memang sudah mengetahui cerita permasalahan rumahtangga adik sepupunya itu.
"Kamu kan tahu dia putra Mama satu - satunya. Mama takut Rey tidak mau memaafkan Mama sampai aku mati," timpal Rani.
"Mama jangan berpikir terlalu jauh. Setidaknya dia masih ada niat untuk menjenguk Mama dan Papa Rengga beberapakali,"
"Biarkan dia mengobati lukanya perlahan - lahan,"
"Karena luka akibat penyesalan itu butuh proses waktu yang lama Ma. Tolong Mama mengerti hal itu," Arka mencoba memberikan pengertian pada Rani.
"Iya, benar yang kamu katakan sayang," Rani membenarkan.
"Oya, bagaimana kabar wanita itu? apakah Rey berhasil membawanya kembali?" tanya Rani antusias.
"Dara kah yang Mama maksud?"
"Iya.. Siapa lagi?" balas Rani.
"Dia sekarang sudah kembali Ma," jawabnya singkat seraya merapikan stetoskop dan alat pengukur tensi darah ke tempatnya.
Rani tidak bertanya lagi. Jawaban Arka cukup buat dia terdiam karena sibuk dengan pikirannya. Dia tidak tahu bagaimana nanti dia harus menghadapi Dara. Sebenarnya dia cukup merasa bersalah, namun rasa gengsinya juga tidak kalah tinggi dengan rasa penyesalannya. Antara harus minta maaf atau berpura - pura seakan tidak pernah terjadi sesuatu. Entah mana yang harus didahulukan.
"Apa masih ada yang ditanyakan Ma?" tanya Arka memastikan.
"Oh, sudah tidak ada," Rani tersadar dari lamunan singkatnya.
"Oya, kapan - kapan kamu ajak istrimu makan malam bersama disini ya. Nanti Mama juga akan meminta Rey untuk datang," pinta Rani karena setelah kejadian beberapa tahun yang lalu Arka sudah tidak pernah datang untuk makan malam dan menginap.
"Rey pasti tidak akan menyukainya Ma. Apa lagi kalau saya harus mengajak Nandira," Arka beralasan.
"Kejadian itu kan sudah lama sayang. Rey pasti sudah tidak mempermasalahkannya," Sanggah Rani.
"Sebaiknya urungkan niat Mama itu. Karena hal itu akan semakin memperkeruh suasana," tanda Arka.
Akhirnya Arka pamit untuk pergi, melanjutkan kerjaannya sebagai dokter. Setelah dari rumah Rani, Arka berniat datang ke rumah Rey untuk memeriksanya yang sebenarnya masih dalam proses penyembuhan total.
Beberapa menit kemudian Arka sampai pada kediaman Rey. Jarak rumah Rani dan Rey hanya berselang 30 menit.
* * *
"Rey! hentikan!" bentak Dara.
Pria yang sudah terselubung nafsu itu seakan tidak mendengar teriakan Dara. Penolakan Dara justru semakin membuat dia gila. Beberapa tanda kepemilikan sudah mendarat sempurna pada leher dara yang putih.
Pria berlibido tinggi itu mendorong tubuh Dara ke ranjang dan menindih tubuh yang begitu candu baginya.
Tangan Rey mulai merambat pada gundukan sintal Dara. Risih pada kain yang menghalangi tangannya, Rey membuka paksa piyama yang melekat pada tubuh wanita yang sedang membencinya dengan sangat dalam itu. Sehingga kancing - kancing piyamanya berserakan ke segala arah.
Kedua netra Rey semakin berkabut melihat suguhan yang begitu menggoda di depannya. Dengan cepat dia mengulum habis gunung kembar Dara sehingga terlihat basah karena cairan salivanya.
Dara yang kehabisan tenaga akhirnya pasrah.
"Lakukan sepuasmu dan besok kamu akan melihatku mati!" ancam Dara yang sudah dirundung amarah.
Ancaman Dara kali ini berhasil membuat Rey tersadar. Akal sehatnya mulai kembali. Melihat muka Dara yang sudah basah oleh air mata buat dia menyesal.
Rey beranjak dari posisinya yang masih menindih tubuh kecil Dara.
"Maafkan aku sayang. Aku benar - benar menyesal," mohon Rey.
Rey tidak tega melihat penampilan Dara yang saat ini sangat berantakan akibat ulahnya yang tidak bisa mengontrol diri.
"Aku mohon jangan menangis,"
Pria itu tidak rela membiarkan cairan bening yang terus mengalir tanpa sopan di muka Dara. Dia mengusap air matanya. Raut muka penyesalan begitu terlihat pada muka tampannya.
Dengan sangat hati - hati Rey membantu merapikan pakaian milik wanita yang hampir diperkosanya itu.
Dara yang masih sibuk dengan isakan tangisnya membiarkan Rey melakukan apapun sesukanya. Dia sudah terlalu lelah meski hanya untuk sekedar bersuara.
Saat mencoba mengaitkan kancing baju Dara, Rey tiba - tiba terhenti. Mukanya celingukan ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu.
"Apa yang kamu cari?!" akhirnya dara mulai bersuara.
"Anu sayang, aku lagi nyari kancing bajumu," Rey merasa tidak enak.
"Sepertinya aku tadi terlalu bersemangat hingga semua kancing bajumu lepas," Sesal Rey seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Dara mencoba memeriksa kancing bajunya. Yang benar saja, semua kancing bajunya menghilang. Dia sontak mengeratkan kedua sisi bajunya agar tubuhnya tidak terekspos.
"Bodoh!" umpat Dara
"Terus aku harus pakai baju yang mana lagi?! kamu tahu sendiri, aku kesini cuma bawa baju yang sedang melekat pada tubuhku ini!" Dara sangat kesal akan tindakan Rey.
"Maafkan aku," ucap Rey sedikit menunduk seperti anak anjing yang baru saja dimarahi majikannya, sedangkan Dara masih menatapnya sinis.
"Sebentar," ucap Rey singkat. Dia ingat sebelum Dara pergi dia masih meninggalkan beberapa bajunya di dalam lemari.
Rey melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian dan membukanya. Memilah - milah baju mana yang cocok dikenakan untuk Dara.
Kedua sudut bibir Rey melengkung ke atas saat menemukan salah satu baju yang cocok untuk Dara. Dia menunjukkan baju itu pada Dara.
Mata Dara langsung terbelalak melihat baju yang dipilih Pria nakal itu. Baju tidur bewarna merah yang berbahan kain tipis dan transparan sehingga memperlihatkan lekuk tubuh bagi yang memakainya.
"Kenapa otak mesummu tidak hilang - hilang dari dulu?!" hardik Dara.
Rey hanya memasang muka bodohnya. Sepertinya untuk saat ini apa yang dia lakukankan selalu dinilai salah dimata Dara.
Dara beranjak dari ranjang hendak memilih sendiri baju yang akan dikenakan. Dia dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya. Semuanya baju tidur transparan yang ada tersimpan di lemari.
Wanita itu mulai memilih dan menemukan satu baju tidur yang masih terbilang sexy tapi tidak transparan. Setidaknya itu lebih mendingan daripada pilihan pria yang berotak mesum itu.
Tok..
Tok..
Tok..
"Tuan, Dokter Arka datang untuk memeriksa Tuan," lapor Bi Ningsih usai mengetuk pintu.
"Hiiiiss! kenapa itu orang datang lagi?!" gerutu Rey yang tanpa sadar, Dara memperhatikannya.
"Sayang aku keluar dulu ya," Rey pun berlalu pergi meninggalkan Dara.
"Ada apa lagi kamu datang?" tanya Rey ketus.
"Aku hanya menjalankan tugas," jawab Dokter Arka.
"Aku sudah sembuh. Jadi kamu tidak usah datang lagi kesini untuk memeriksa keadaanku."
"Kamu baru saja sembuh dari sakit dan usai melakukan perjalanan jauh kemarin. Aku harus memastikannya dulu," timpal Arka sembari mengeluarkan stetoskopnya.
Tidak butuh waktu lama, Arka selesai memeriksa keadaan Rey.
"Kalau sudah selesai sebaiknya kamu cepat pergi," usir Rey.
Arka hanya bisa menghela napas mendapati perlakuan kasar dari adik sepupunya itu. Adik yang dulu sangat dekat dengannya, namun sekarang bagaikan dua manusia yang bermusuhan.
"Apa kamu tetap belum bisa memaafkanku?" tanya Arka sedih.
Dari lantai dua, Dara yang penasaran mencoba menguping percakapan Kedua lelaki itu.
Bersambung~~