Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 8 Keharmonisan Dara dan Rey



Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dara mengernyitkan dahinya, mencoba membuka matanya yang masih berat. Menggeliat merenggangkan otot - ototnya yang kaku. Namun kegiatan itu terhenti setelah menyadari ada tangan kekar yang melingkari perutnya di balik selimut tebalnya. Terdengar suara dengkuran teratur dan lembut di telinganya. Dara membalikkan badannya dan mendapati suaminya yang masih tertidur pulas. Raut mukanya terlihat begitu damai.


Dara meneliti setiap inci wajah yang disuguhkan di depannya sekarang. Seakan kawatir jika ada yang berkurang. Bentuk rahang yang tegas, hidung yang tinggi dengan garis miring yang sempurna, kedua alis tebal yang nyaris menyatu, bulu mata yang tebal dan lentik, bibir tipis berwarna pink, dan terdapat jambang tipis karena belum dicukur tapi justru terlihat lebih maskulin.


Wajah yang masih sama dari beberapa tahun yang lalu, masih tampan, hanya saja sekarang terlihat lebih tegas dan matang. Wajah pria yang selalu buat Dara merasakan jatuh cinta setiap saat.


"Apa kamu belum selesai mengagumi wajah gantengku sayang?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur dengan mata masih terpejam.


Dara terkejut ternyata suaminya sudah bangun dari tadi.


"Ihh! sejak kapan kamu bangun?!"


"Sejak kamu menggerakkan tubuhmu dan itu buat si junior di bawah sana terbangun sayang,"


Emang benar, Dara merasakan ada yang menonjol di bawah sana. Kemudian Rey menarik tubuh Dara dan gencar meneruskan aksinya tadi malam. Bergumul di bawah selimut hingga udara di ruangan terasa panas.


"Dasar Rey mesum!!


"Tapi kamu menyukainya kan sayang," Rey tertawa lebar dan terus menggoda istrinya.


Setelah satu jam berolah raga di ranjang mereka akhirnya mandi.


Iya, Dara dan Rey sudah mengarungi bahterah rumah tangga selama 5 tahun. Setelah percakapan mereka 9 tahun yang lalu, tepatnya di gedung olah raga sekolah, hubungan mereka semakin serius.


Satu bulan setelah berpacaran, Rey membawa kedua Orang Tuanya untuk berkunjung ke Rumah Dara. Apalagi kalau bukan untuk mengajukan lamaran pernikahan. Bukan Rey namanya kalau tidak langsung menggencarkan apa yang dia inginkan segera.


Ya tentu saja mereka tidak langsung ke jenjang pernikahan. Rey dan Dara bertunangan terlebih dahulu, dan berniat menikah setelah menyelesaikan studi kuliah S1nya masing - masing.


Mereka menikah di umur 21 tahun yang dikategorikan masih muda. Tapi hal itu tidak masalah bagi mereka karena itu sudah menjadi komitmen mereka berdua. Rey benar - benar menepati janjinya. Selama empat tahun bertunangan, lima tahun menikah tidak pernah sedikitpun melirik atau bahkan membayangkan wanita lain. Dara benar - benar sudah menguasai pria itu sepenuhnya.


Rey sang playboy sudah menemukan pawangnya^.^


* * *


Dara terlihat sibuk membantu Bi Ningsih menyiapkan sarapan pagi. Bi Ningsih adalah pembantu yang sudah bekerja di rumah mewahnya itu semenjak awal hari mereka menikah. Dia adalah saksi hidup keharmonisan rumahtangga Tuan dan Nyonyanya.


"Bi.. tolong bawakan saya piring besar ya," ucap Dara sopan.


"Iya nyah.." tanpa aba - aba dua kali dia bergegas mengambilkan piring.


"Ini Nyah.."


"Makasih ya Bi," ucap Dara sembari menampilkan senyuman yang merekah.


"Nyonya, yang lainya biar saya beresin. Nyonya dan Tuan Rey buruan sarapan saja," saran Bi Ningsih


"Iya Bi,"


Dari atas terlihat Rey menuruni tangga sambil membenarkan posisi jam tangan mahalnya. Mengenakan setelan jas kerja bewarna hitam, dengan dalaman kemeja berwarna putih dilengkapi dasi bewarna abu - abu serta celana kain dengan bahan dan warna sama. Begitu cocok dipasangkan pada tubuh Rey yang tinggi dan proposional itu. Dia terlihat begitu tampan dan maskulin.


Rey mendekati Dara dan memeluknya dari belakang. Menompangkan dagunya pada ceruk leher Dara. Bi Ningsih yang menyaksikan kemesraan mereka berdua cuma bisa tersenyum geli. Hal itu sudah biasa jadi bahan tontonannya setiap hari. Jadi sudah terbiasa dan tidak kaget.


"Kamu masak apa sayang?" ucap Rey manja.


"Iihh, apaan sih kamu? malu diliat Bi Ningsih, jauhan dikit!" ucapnya lirih diikuti raut muka yang memerah karena malu.


Rey terkekeh geli melihat reaksi Dara dan menjauhkan tubuhnya sebelum memberikan kecupan singkat di pipi istrinya, lalu duduk di kursi meja makan. Dara menghampiri Rey dan melayaninya selayaknya seorang istri yang baik dan berbakti pada suami.


Menu sarapan pagi nasi uduk spesial lengkap dengan rendang sapi kesukaan Rey dan segelas susu hangat. Mereka menyantap sarapan mereka bersama. Tidak lupa bi Ningsih juga selalu makan satu meja dengan mereka. Itu memang permintaan Dara karena sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.


Heran, hati Dara terbuat dari apa, sangat baik dan tidak pernah memandang status dan drajad orang lain. Itu salah satu pesona Dara yang membuat Rey semakin cinta kepada istrinya itu.


Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt..


Ponsel Dara bergetar, ada satu panggilan masuk di sela - sela waktu sarapannya.


"Maaf sayang, aku angkat telpon dulu ya," ijin Dara sebelum mengangkat telepon.


"Iya sayang,"


Dara mengusap layar depan ponselnya dan mulai menjawab panggilan tersebut tanpa meninggalkan meja makannya.


Dara


Kayla


Lo ngapain aja sih Ra? lihat ini sudah pukul berapa? apa perlu gue bawakan Elizabeth Tower ke rumahmu? hari ini ada janji meeting klien sama Mahendara Group. Mereka sudah datang!" suara Kayla terdengar lantang di balik telepon.


Dara yang masih sayang dengan indera pendengarannya, sontak menjauhkan benda pipih yang menempel di telinganya.


(Elizabeth Tower sebutan menara jam raksasa yang terkenal di London, Inggris).


"Maaf tadi ada sedikit urusan mendadak di rumah, 30 menit aku sampai di kantor," jawab Dara sambil menatap sinis ke arah Rey yang ternyata disadari oleh Rey. Pria itu hanya melempar senyuman termanisnya pada muka istrinya yang terlihat sedang kesal.


Ya iyalah, Rey adalah alasan tepat kenapa dia bisa telat ke kantor. Sering minta jatah tapi nggak kenal waktu. Dara takkan pernah sanggup menolaknya jika suaminya itu sudah tersulut nafsu. Selain itu Dara juga sempat khawatir dengan libido suaminya yang tinggi itu sampai njajan di luar.


Dara menjabat sebagai CEO di perusahaan Wangsa Group. Perusahaan keluarganya sendiri. Dia tidak punya pilihan lain, karena dia satu - satunya keturunan penerus Wangsa Group. Setelah ibunya meninggal, ayahnya nggak pernah ada niat untuk menikah lagi. Meskipun dia seorang wanita yang masih berumur 26 tahun, kategori umur yang relatif muda tapi kemampuannya sangat diakui oleh perusahaannya. Profesional dan sangat berkompeten. Selama empat tahun dia menghandle perusahaan, rating pendapatan selalu meningkat drastis.


Tapi kesibukannya di kantor tidak pernah menjadikan Dara lalai dalam memenuhi tanggungjawab seorang istri. Tidak hanya melayani Rey di atas ranjang tapi seperti menyiapkan makanan, menyiapkan kebutuhan Rey sebelum berangkat kerja dan selalu sudah sampai rumah sebelum Rey pulang kerja.


Tidak kalah juga dengan Rey, dia juga menjabat sebagai CEO muda di perusahaan sang Ayah, Erlangga Group. Kakak Rey meninggal ketika masih mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar karena sakit. Jadi dia satu - satunya penerus perusahaan keluarganya itu. Kalau membicarakan tentang kemampuannya dalam menghandle perusahaan bisa dikatakan setali dua tali dengan Dara. Dengan otaknya yang cerdas, pesaing bisnisnya selalu dibuat bertekuk lutut di depannya. Whorkaholic yang sangat disegani dan takkan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannnya. Seperti caranya mendapatkan Dara dulu.


Sungguh pasangan muda yang menakjubkan bukan. Sepasang suami istri yang sama - sama memiliki otak yang cerdas dan berkompeten dan keduanya menjabat sebagai CEO di perusahaannya masing - masing. Tidak bisa dihitung seberapa banyak kekayaan mereka.


Mungkin dalam perekonomian mereka sangatlah beruntung. Tapi tidak dalam impian memiliki sang buah hati.


Iya, selama lima tahun menikah mereka belum dikaruniai malaikat kecil yang bisa melengkapi keluarga kecil mereka. Tapi hal itu tidak mengurangi perasaan cinta mereka.


"Sayang ayo berangkat, hari ini aku antar," ajak Rey sembari berdiri dari kursi.


"Kamu kan juga harus ke kantor sayang, kamu juga terlambat loh," timpal Dara.


"Nggak apa - apa, hari ini aku gak ada meeting, lagian kamu lupa ya, kalau aku pemilik perusahaan," ucap Rey santai.


Rey merangkul pinggang ramping Dara, menuntunnya masuk ke dalam mobil mewahnya.


* * *


Drrrttt.. Drrrttt.. Drrrttt..


Dalam perjalanan tiba - tiba ponsel Rey bergetar. Rey menatap tulisan yang tertera di layar ponselnya. Dia sedikit menghela napas yang hampir tidak kelihatan, karena tidak ingin kekasih hatinya itu menyadarinya.


"Halo Ma,"


"Halo sayang, nanti waktu makan siang kamu datang ke rumah Mama ya. Mama kangen, kamu sepertinya sudah lupa dengan Mama mu ini," ucap Maharani sedikit merajuk.


"Bukannya lupa Mah, beberapa hari terakhir ini Rey emang sibuk dengan urusan kantor," sanggahnya.


"Tapi kamu selalu ada waktu dengan istrimu itu,"


"Baik Mah, nanti Rey akan datang bers.." kalimat Rey tiba - tiba terputus.


"Eiitt!! kamu datang sendiri aja ya!"


"Loh kenapa Mah?" tanya Rey, yang sebenarnya dia memang berniat datang bersama istrinya.


"Nggak Ada apa - apa, pokoknya kamu harus datang ya,"


"Baiklah Mah, nanti Rey akan datang,"


Tut. Panggilan berakhir.


"Ada apa sayang?" tanya sang istri.


"Mama cuma kangen, ingin bertemu dengan anaknya yang paling ganteng ini," Ucap Rey narsis sambil tersenyum menaik turunkan kedua alisnya bersamaan.


"Dasar narsis! ohya sayang, maaf ya, kalau kamu mau ke rumah Mama datang sendiri aja dulu ya, hari ini aku ada beberapa kali meeting dengan Group Mahendra," ucap Dara sambil pasang wajah melas.


"Iya udah gak apa-apa sayang," timpal Rey. Dalam hati, Rey sedikit menghela napas.


Bersambung~~


Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰