Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 67 Hamil



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


1 bulan kemudian.


Dara dan Rey sedang berada dalam perjalanan.


"Sayang, kamu jangan bekerja terlalu lelah ya," pinta Rey seraya satu tangannya mengusap lembut pipi sang istri sedangkan satu tangannya lagi masih memegang setir.


"Baik sayang, kamu juga ya," jawab Dara dengan seulas senyuman di wajahnya.


"Apa kamu beneran nggak apa - apa? tadi aku perhatikan kamu hanya makan sedikit. Tidak seperti biasanya begitu," ucap Rey khawatir mengingat porsi makan Dara selalu banyak namun pagi ini Dara hanya memakan tidak lebih dari 3 kali suapan.


"Jangan berlebihan sayang, aku hanya tidak begitu berselera makan saja. Ya sudah aku turun dulu," Dara mengecup tangan suaminya dan hendak membuka pintu mobil, namun pintunya tidak bisa terbuka karena pria itu segera menekan tombol auto lock yang terletak di pintu mobil sebelah bangku supir yang diduduki Rey.


"Sayang, tolong buka kunci pintunya,"


"Aku tidak akan membukanya sebelum kamu menciumku," ucap Rey sewot.


"Ah, maaf aku lupa, gitu saja sudah sewot," Dara tersenyum geli melihat kelakuan suaminya yang semakin hari semakin manja.


Dara mencondongkan badannya ke arah Rey dan memberi kecupan ringan pada bibirnya. Rey yang merasa tidak puas, tangan kanannya langsung menarik tengkuk leher Dara dan menciumnya lebih dalam namun dia hanya bisa melakukan beberapa kali cecapan saja karena Dara segera menghentikan ciuman suaminya. Jika dilanjutkan lebih lama, bisa - bisa Rey akan meminta jatahnya di mobil.


"Sayang, sudah cukup! aku nggak mau melakukannya di dalam mobil seperti terakhir kali waktu kita di pantai. Itu memalukan," Dara mengingatkan Rey kejadian adegan panas yang hampir ketahuan Radit dan Kayla waktu itu.


"Hehehe.. kan mereka nggak sampai melihatnya kan sayang," timpal Rey dengan mimik muka nakal.


"Nggak.. nggak.. nggak.. pokoknya aku nggak mau mengulanginya lagi. Kamu sih nggak lihat - lihat tempat," protes Dara dengan muka cemberutnya.


"Padahal itu sangat seru sekali," timpal Rey, matanya menerawang mengingat kejadian itu. Senyuman nakal masih terulas di mukanya.


"Ya sudah, aku turun dulu ya," pamit Kayla segera mengakhiri percakapan.


"Oke, nanti siang kita makan bareng ya, aku jemput kamu," ucap Rey seraya menekan kembali auto lock pintu mobil.


"Oke, kamu hati - hati ya,"


Akhirnya Rey melajukan mobilnya dan Dara masuk ke gedung 10 tingkat tempat dia bekerja.


Alat penunjuk waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Dara dan Kayla baru saja keluar dari ruang meeting.


"Kay, hari ini gue akan makan siang bersama Rey, apa kamu mau gabung sekalian?" tanya Dara yang masih berjalan menyusuri koridor kantor.


"Nggak ah, yang ada gue malah jadi obat nyamuk bakar nanti," tolak Kayla. Sesekali dia mengintip layar ponselnya. Mimik mukanya seperti sedang terlihat kesal.


"Ow, ya sudah kalau begitu," timpal Dara.


Akhirnya mereka berpisah di pertigaan koridor kantor menuju ruang pribadi masing - masing.


Mobil mewah Rey sudah terparkir di depan lobby kantor Dara. Dara terlihat melangkah keluar dari sana. Senyumannya merekah melihat sosok suaminya yang sudah menunggunya di dalam mobil.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah Restauran yang terkenal dengan masakan Nusantara yang begitu cocok dengan lidah sepasang suami istri tersebut.


Tidak sampai menunggu lama. Seorang pelayan restauran datang dengan membawa menu makanan dan minuman yang sudah dipesan sebelumnya. Pelayan itu meletakkannya di atas meja dengan hati - hati.


Aroma lezat masakan yang merasuki indera penciuman mampu membuat cacing - cacing di perut berontak. Namun hal itu tidak dirasakan oleh Dara saat ini. Dari awal makanan itu datang, dia merasakan mual pada perutnya. Isi perutnya terasa diaduk - aduk.


"Hmp!" Dara menutup mulutnya karena merasa ingin muntah.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Rey khawatir karena menyadari tingkah istrinya yang tak wajar.


Tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Dara berjalan cepat menuju toilet umum yang tersedia di restauran. Rey pun mengikuti Dara, karena takut istrinya kenapa - kenapa.


Dara memuntahkan semua makanan yang mengisi perutnya tadi pagi di dalam washtafle. Rey langsung berinisiatif memberi sedikit bantuan dengan memijat ringan tengkuk sang istri.


Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, tubuh Dara mulai terasa lemas disertai rasa pusing yang menggerogoti kepalanya.


Rey dengan sigap menangkap tubuh Dara yang tadi sempat terhuyung ke samping.


"Sayang, sebaiknya kita ke dokter sekarang," Rey terlihat begitu panik. Mukanya begitu pucat.


Rey berniat memangku tubuh Dara, namun Dara menghentikan niatnya.


"Aku masih bisa berjalan, cukup papah tubuhku saja sayang. Kenapa kamu selalu berlebihan? suasana restauran sedang ramai, malu kalau dilihat orang banyak," Dara sedikit tersenyum di sela rasa pusingnya.


Akhirnya setelah membayar makanan yang belum sempat terjamah, Rey segera membawa Dara menuju Rumah Sakit.


Selama perjalanan Dara masih sempat terkekeh geli melihat raut muka cemas pada muka suaminya. Padahal dia yang sakit, tapi justru suaminyalah yang terlihat pucat saat ini.


Kini Rey dan Dara sudah berada di ruang pemeriksaan.


"Ibu Dara apa masih ingat kapan terkahir kali datang bulan?" tanya sang Dokter.


"Istri saya sudah telat 1 minggu lebih Dok. Dia awal datang bulannya tanggal 23 Desember dan terakhir datang bulan tanggal tanggal 29 Desember. Sedangkan sekarang sudah tanggal 3 Februari," sela Rey dengan penjelasan yang sangat mendetail disertai mimik muka menerawang.


Rey mendahului Dara yang masih mencoba mengingat - ingat kapan terakhir kali dia datang bulan.


Sang Dokter sedikit menahan tawa. Padahal istrinya yang datang bulan, tapi justru suaminya yang lebih hafal dengan siklus tanggal menstruasi istrinya.


Sedangkan Dara hanya bersikap santai karena dia sudah terbiasa. Dari awal pernikahannya dulu, Rey adalah pihak yang paling antusias dalam mempelajari semua hal yang dapat menunjang proses pembuahan pada istrinya. Rasa ingin segera mendapatkan momongan memang sangat dia impikan.


Meski pada akhirnya usahanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Dan sekalipun istrinya diberi kesempatan hamil, namun dia harus kehilangan calon bayinya karena kesalahannya di masa lalu.


Setelah melewati beberapa prosedur pemeriksaan dasar dan mencermati keluhan pasien, senyuman hangat kini terulas di muka sang Dokter.


"Pak Rey dan Ibu Dara, selamat ya. Kalian akan menjadi calon orangtua," ucap sang Dokter dengan sangat ramah.


"Benarkah Dok?" Rey terlihat sangat bahagia.


"Sayang, aku akan menjadi ayah," Rey terlihat sangat bahagia.


Muka cantik Dara pun tak luput dari serangan kecupan suaminya yang bertubi - tubi tanpa peduli sang Dokter yang sedang menyaksikan mereka.


"Sayang, tolong hentikan," pinta Dara lirih. Dia sebenarnya sangat malu dengan sang Dokter.


"Pak Rey, untuk mengetahui pemeriksaan lebih lanjut sebaiknya kandungan Ibu Dara di USG dulu ya," sela sang Dokter.


"Baik Dok," balas Rey.


Dara sekarang berada di ruang USG. Dia sudah berbaring di atas ranjang pemeriksaan sedangkan Rey hanya menonton.


Sang Dokter mulai melakukan USG dengan dibantu seorang perawat. Perawat wanita tersebut mengoles pelumas USG yang berbentuk gel pada perut Dara bagian bawah yang memberikan sensasi dingin pada kulit perutnya. Kemudian sang Dokter mengambil Transduser, sebuah komponen alat USG yang berbentuk gagang pipih.


Sang Dokter mulai menempelkan Transduser pada perut bagian bawah Dara yang telah dilumuri pelumas tadi. Menggerak - gerakkan gagang pipih tersebut sembari menatap layar monitor yang terpasang di tembok.


Senyuman terulas di wajah sang Dokter.


"Ibu Dara, coba anda lihat! Itu kantong bayinya. Janinnya masih sebesar biji jagung karena masih berumur 5 minggu,"


Kedua calon orang tua tersebut mendengar dengan cermat apa yang dijelaskan sang Dokter. Hati keduanya bergetar dan terasa terharu. Meskipun mereka belum bisa melihat dengan jelas bagaimana bentuk rupa sang bayi tapi mereka sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan lagi untuk menitipkan sebuah nyawa pada rahim Dara.


Sang Dokter pun kembali meletakkan alat Transduser ke tempatnya. Perawat yang masih berada salam satu ruangan membantu membersihkan pelumas USG pada perut Dara.


"Silahkan Ibu Dara duduk dulu ya," ucap sang Perawat ramah.


Dara pun kembali duduk di samping Rey.


"Kehamilan Ibu Dara sehat dan tidak ada kelainan apapun. Saya akan memberikan vitamin penguat kandungan dan penghilang mual. Harus di minum secara rutin ya. Terus kehamilan Ibu Dara masih masuk trisemester pertama yang dimana sangat rentan akan resiko keguguran, jadi anda harus mengurangi kegiatan berat, banyak beristirahat, dan mengasupi tubuh dengan makanan dan minuman sehat bernustrisi. Serta hindari pikiran stress, sebisa mungkin buat diri anda rilex. Saya harap Pak Rey bisa membantu istri anda nyaman dalam menjalani masa kehamilannya," tutur sang Dokter dengan ramah.


"Dok, apa kami masih boleh berhubungan badan?" tanya Rey terang - terangan. Dia hanya tidak ingin menyakiti istri dan calon bayinya. Mengingat hasrat libidonya yang tinggi jika dekat - dekat sang istri. Menurutnya hal itu wajib dipertanyakan. Sedangkan Dara terlihat menahan malu karena pertanyaan sang suami.


"Karena Ibu Dara memiliki riwayat kandungan lemah serta pernah keguguran, sebaiknya hindari berhubungan intim terlebih dahulu sampai saya memberikan lampu hijau ya," dengan telaten sang Dokter menjelaskan.


"Dok, kira - kira berapa lama Dokter akan memberikan lampu hijau itu?" Rey masih berantusias dengan pertanyaannya.


Dara terlihat menahan tawa setelah mendengar pertanyaan Rey barusan. Dengan hanya melihat mimik mukanya saja, Dara sudah bisa menangkap apa yang dipikirkan suaminya. Bagi seorang Rey, butuh kerja keras tinggi untuk menahan hasratnya setiap malam.


"Itu bisa dilihat setelah memasuki kehamilan trisemester ke dua ya, jadi bersabarlah," jelas sang Dokter.


Dara dan Rey mengangguk pelan pertanda memahami penjelasan sang Dokter.


"Apa ada yang ingin ditanyakan?" tanya sang Dokter.


"Tidak Dok,"


"Baik, kalau begitu saya akhiri pemeriksaan kita," ucap sang Dokter seraya menyerahkan gambar hasil USG. Senyuman ramah masih terus terulas di mukanya.


"Terimaaksih Dok,"


Rey dan Dara beranjak dari duduknya dan keluar ruangan. Dengan sangat hati - hati Rey merangkul tubuh Dara hingga sampai di depan mobil.


Sepanjang perjalanan, senyuman kebahagiaan masih setia menghiasi muka pria tampan itu, begitu juga dengan wanita cantik di sebelahnya.


"Sayang aku sangat bahagia, terimakasih ya," ucap Rey penuh syukur.


"Iya sayang, sama - sama," balas Dara yang tak kalah bahagianya.


Bersambung~~