Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 24 Kemarahan Rey



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


Peringatan! Ada sedikit part 21+ ya. Meskipun tidak mendetail harap di baca secara bijak. Terimakasih🙏


🍂Selamat membaca🍂


Akhirnya Dara dan Radit pergi berdua. Kali ini bukan wahana extreem yang dipilih Dara. Dia ingin menaiki Bianglala. Setelah antri panjang, akhirnya tiba giliran mereka.


Cekrek!


Cekrek!


Tanpa mereka sadari ada sosok lain yang sedang membuntuti mereka. Diam - diam mengambil gambar mereka berdua sedari tadi.


Dara dan Radit berada dalam satu ruangan. Gondola yang mereka tumpangi mulai membawa mereka ke atas. Dara memalingkan mukanya ke kiri. Dari atas dia bisa menikmati pemandangan dengan luas. Mukanya menampilkan senyuman tipis yang menawan.


Radit sedari tadi tidak melepaskan pandangan nya pada wajah kecil nan cantik di depannya itu. Jantungnya berdenyut, mengingat wanita di depannya tidak bisa dia miliki. Sekilas Radit melihat ada guratan kesedihan di muka Dara yang sengaja dia tutupi.


"Ra?" panggil Radit.


"Hemmm," saut Dara tanpa memalingkan mukanya.


"Lo baik - baik saja kan?" ada nada kecemasan pada suara Radit.


"Gue baik kok,"


"Kalau ingin menangis. Keluarkan saja. Nggak apa - apa?"


"Lo ko malah nyuruh gue nangis sih?" ucap Dara tersenyum.


"Gue ngerti prasaan lo pasti sakit," ucap Radit yang tak melepaskan pandangannya pada Dara.


"Emang sakit banget. Sayangnya itu memang harus gue rasakan meskipun sulit,"


"Kalau lo nggak kuat, datang ke gue. Gue akan selalu ada untuk lo,"


"Termasuk hati gue, juga selalu ada untuk lo Ra," batin Radit sendu.


"Makasih ya Dit," sekarang Dara mulai mengarahkan pandangannya ke Radit. Tergambar senyuman lega di mukanya.


Tanpa terasa gondola yang mereka tumpangi berhenti. Mereka melangkahkan kaki menuruni gondola secara bergantian. Radit mengulurkan tangan menawarkan bantuan ke Dara. Dara pun menyambut tangan Radit dengan senang.


"Habis ini kita kemana lagi Ra?" tanya Radit.


"Hmmm. Udahan aja. Gue lapar nih?" ucap Dara sembari mengusap lembut perutnya.


"Oke, kita cari makanan kesukaanmu," Radit tersenyum.


Braakkk!


Tubuh Dara oleng, karena ada sesuatu yang menubruk badannya. Dengan sigap Radit menangkap tubuh rampingnya agar tidak terjatuh. Sekarang terlihat tubuh Dara tenggelam dalam pelukan Radit.


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!


Lagi - lagi seorang penguntit mengambil gambar mereka dari jauh.


"Maaf Kak. Saya tidak sengaja," kata seorang anak remaja yang tidak sengaja menabraknya tadi.


"Iya tidak apa - apa, lain kali lebih berhati - hati," ucap Radit.


Dara yang merasakan posisinya yang kurang nyaman dengan cepat Dara menjauhkan tubuhnya dari Radit.


"Maaf," kata Dara malu.


"Tidak usah malu gitu, karena akan lebih memalukan lagi kalau gue biarin lo jatuh tersungkur di tanah," canda Radit yang memang berniat menghilangkan rasa canggung di antara mereka.


Dara menampakkan wajah cemberut dan melayangkan pukulan ringan pada lengan Radit lalu melenggang pergi.


"Hahaha.. Gue bercanda Ra, gitu aja udah sewot," Radit mengekori Dara yang melangkah cepat.


Hari sudah gelap. Setelah mencari makan guna mengisi perut yang sudah keroncongan, Dara , Radit, dan Kayla berniat pulang.


* * *


Rey sedang duduk di sofa ruang tamu dekat pintu masuk rumah. Gurat - gurat kecemasan terukir di wajah tampannya. Sejak kejadian kissmark tadi pagi, dia merasa tidak tenang.


Mulutnya sudah gatal ingin memberi penjelasan kepada sang istri dan meluruskan kesalahpahaman antara mereka.


Sesekali dia melirik ponselnya, berharap Dara segera memberi respon. Seharian Rey terus mengirim pesan tapi tidak dibalas. Mencoba menelpon pun juga tidak diangkat. Dia juga sudah mencoba menelpon nomor kantor Dara, dan ternyata Dara sudah tidak berada di kantornya sejak siang tadi. Hal itu semakin buat dia gelisah.


Drrrttt..


Drrrttt..


Drrrttt..


Bukan panggilan masuk, melainkan ada beberapa pesan yang masuk dalam ponsel Rey. Tanpa menundanya, Rey langsung membuka pesannya. Gurat - gurat kecemasan yang bersemayam di muka Rey sekarang berubah menjadi guratan amarah.


Rey masih menggeserkan layar ponselnya ke atas. Melihat isi pesan yang berupa foto - foto Dara dan Radit. Di dalam foto mereka sedang berpelukan, terlihat sangat mesrah. Muka Rey sudah sangat merah padam. Terdengar suara gertakan giginya karena menahan amarah bagaikan gunung vulkanik yang akan menyemburkan lahar panasnya.


Dari Dalam rumah Rey mendengar suara mesin mobil yang berhenti di depan gerbang. dia melihat Dara keluar dari mobil yang ditumpanginya. Dara pulang tanpa membawa mobilnya sendiri.


Memang Dara sengaja meninggalkan mobilnya di kantornya. Karena dirasa akan terlarut malam jika harus putar arah ke kantor untuk mengambil mobilnya. Karena waktu pergi ke taman hiburan Dara dan Kayla menumpangi mobil Radit.


Rey menangkap sosok Radit di dalam mobil yang ditumpangi Dara. Jelas saja hal itu semakin membuat Rey terbakar api cemburu.


Tap!


Tap!


Tap!


Namun langkahnya terhenti secara Tiba - tiba. Rey menarik lengan tangannya dengan cepat. Cengkraman tangan kekar Rey terasa kuat, membuat Dara meringis kesakitan.


"Sakit, tolong lepasin!" Dara mengadu.


"Darimana kamu?" tanya Rey dengan nada dingin.


Dara belum sempat menjawab namun seringai kecil muncul dari bibir Rey.


"Sepertinya kamu baru saja bersenang - senang," Ucap Rey diiringi mimik muka mencela.


"Tidak ada yang salah dengan hal itu," sanggah Dara yang heran dengan mimik muka Rey.


"Cih! oh jadi begitu caramu bersenang - senang,"


"Keluyuran sampai malam dengan pria lain!"


"Merelakan tubuhmu dalam pelukan pria lain!"


"Sejak kapan kamu menjadi wanita murahan?!" tuduh Rey geram.


Kedua mata Dara membulat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rey. Terasa desiran hebat pada hatinya. Sakit sekali.


"Apa maksud kamu?! tanya Dara penuh luka.


"Kamu mencoba menggoda sahabatku sendiri!" tuduh Rey lagi.


Lagi - lagi Dara dibuat tidak percaya dengan apa yang didengar. Kata - kata itu tidak harusnya keluar dari mulut suaminya.


"Aku hanya bersenang - senang di taman hiburan, bukan bersenang - senang di ranjang seperti kamu!" Bibir Dara tersenyum tipis, namun matanya tersirat luka yang mendalam.


"Kamu nggak usah mengelak. Aku sudah melihat semuanya!" bentak Rey sambil memperlihatkan foto Dara yang sedang berpelukan dengan Radit pada ponselnya.


Rasanya Dara ingin sekali menjelaskan semuanya. Namun hatinya sudah terlanjur sakit karena kata - kata hinaan dari mulut Rey. Lagian juga percuma memberikan penjelasan pada orang yang sedang disulut emosi.


"Apa kamu tidak puas hanya dengan satu pria? Hah?!" hina Rey.


Dara sudah tidak tahan lagi mendengar semua hinaan Rey. Dia berusaha menghempaskan cekalan tangan Rey dengan kasar, lalu melayangkan satu tamparan keras pada muka tampan Rey.


Dengan tangan yang masih terasa panas setelah menampar suaminya itu, Dara pergi meninggalkannya, menaiki tangga menuju kamar. Setelah sampai di kamar hendak menutup pintu tiba - tiba tangan Rey menghadangnya. Ternyata Rey mengikutinya ke atas.


Rey melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Membanting pintu dengan keras. Hingga suara dentaman pintu memenuhi isi rumah.


Rey mendekati Dara dengan sorotan mata yang tajam. Matanya sudah berkabut amarah. Dara yang mendapati perlakuan Rey mulai ketakutan dan mulai berjalan mundur. Ketika jarak tubuh mereka hanya tinggal beberapa senti, Dara berusaha mengelak dari hadapan Rey. Namun usahanya gagal. Rey memeluknya kasar. Tangannya mencengkram muka Dara dengan kasar.


Dara masih berusaha lepas dari Rey. Dia benar - benar ketakutan saat ini.


"Lepaskan Rey! Sakit!" terlihat cairan bening mulai menerobos keluar.


"Kenapa? hah?! bukannya kamu suka melemparkan tubuhmu pada pria?!" hina Rey dingin.


"Lep.."


Rintihan Dara terputus karena secepat kilat Rey membungkam mulutnya dengan ciuman kasar. ********** habis tiada ampun. Tiada cela sedikitpun yang ketinggalan.


"Hiks. Aku mohon hentikan Rey!" Dara memohon.


Namun bukannya berhenti Rey malah gencar melakukan aksinya. Dia melucuti baju yang melekat pada Dara dengan kasar.


Kreeek! Terdengar suara robekan dress mini yang dipakai Dara. Sehingga pakaiannya jatuh begitu saja di lantai.


"Apa yang kamu lakukan Rey?! Aku mohon jangan lakukan ini!" Dara masih memohon dengan keras.


Rey masih tidak menggubris Dara. Dia malah melempar tubuh Dara yang sudah setengah telanjang itu ke atas ranjang. Melepaskan sisa kain yang masih melekat pada tubuh Dara.


Rey memperlakukan Dara dengan sangat kasar. Api cemburu telah membutakan mata dan hatinya. Dia tidak peduli dengan Dara yang sangat kesakitan karena belum siap dengan penyatuan Rey.


Dara hanya bisa menangis pasrah. Kekuatannya tidak sebanding dengan tubuh kekar suaminya itu. Sungguh malam yang tidak akan terlupakan bagi Dara. Hinaan yang dia terima dari Rey sungguh menorehkan luka yang begitu dalam.


"Kenapa kamu menangis?"


"Apa kamu sudah tidak sudi melakukannya denganku?"


"Apa kamu sekarang lebih suka melakukannya dengan pria lain?"


"Hah?! Jawab aku!" Rey membrondong sejuta pertanyaan pada Dara.


"Kamu akan menyesali perbuatanmu Rey!" Mata Dara masih basah tergenang air mata namun sorot tajam terlihat jelas.


"Kamu selamanya milikku!"


"Jika ada pria lain yang mendekatimu, maka kamu akan melihat dia mati di tanganku!"


"Camkan itu!" ancam Rey yang masih gencar menggagahi istrinya dengan kasar.


Setelah selesai menyalurkan emosi dan hasratnya, Rey pergi meninggalkan Dara begitu saja.


* * *


Dalam kamar Bella.


Bella tersenyum puas setelah menyaksikan tontonan yang telah lama dia nantikan dalam hidupnya. Menciptakan keretakan antara Dara dan Rey.


"Haahh.. Tidak ku sangka. Melihat mereka berseteru dengan hebatnya sungguh sangat mengasyikkan."


"Dara.. Dara.. masih untung aku tidak buat nyawamu melayang,"


"Setidaknya aku masih ada sedikit belas kasihan padamu," Bella menyeringai layaknya iblis.


Drrrttt...


Drrrttt...


Drrrttt...


Ponsel Bella bergetar, di layar ponselnya tertera tulisan Nicko. Iya, Nicko asisten pribadi Rey. Bella mendengus kesal karena merasa kesenangannya terganggu. Sebelum mengangkat panggilan tersebut, Bella mengecek sekeliling berharap tidak ada orang yang akan mendengar percakapannya dengan Nicko.


"Halo!" Bella membuka percakapan dengan ketus.


Bersambung~~


Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰