Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 46 Radit & Kayla



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Kayla sedang menikmati jam istirahatnya di rooftop gedung tempat ia bekerja. Menyaksikan pemandangan kota jakarta dari ketinggian seraya menyeruput kopi yang di pegangnya.


Hari ini cuaca seperti tidak bersahabat. Awan hitam yang mengapung berangsur - angsur memenuhi langit di atas kepala, namun rintikan air hujan belum juga terjatuh dari sarangnya.


Angin yang berhembus terasa sejuk di tengah hari yang seharusnya terasa panas. Rambutnya yang sengaja digerai melambai - lambai karena hempasan angin.


"Hari ini sepertinya akan hujan," gumam Kayla sembari menengadahkan mukanya ke arah langit yang mulai bewarna abu - abu pekat.


"Semoga saja hujan nggak bawa - bawa petir dan kilat segala ya," keluhnya.


Wanita cantik itu tiba - tiba teringat akan sahabat kesayangannya yang sering ada di sampingnya ketika dia sedang menahan rasa takut akan cahaya kilat dan suara petir yang menderu. Namun itu dulu sebelum Dara memutuskan untuk menikah.


Ketakutannya bukan karena tak beralasan. Itu semua disebabkan rasa trauma dimasa lalunya yang begitu membekas.


(cerita tentang Masa lalu Kayla akan dibahas di bab selanjutnya ya😉)


"Itu anak gimana keadaannya sekarang?" Kayla cemas dengan keadaan sahabatnya yang selama trakhir menginjakkan kakinya di negara kelahirannya lagi, mereka belum pernah sekalipun ada kesempatan untuk saling bertemu karena ulah Rey yang super protektif itu.


"Hah..!" Kayla menghela napas panjang dan hendak kembali ke dalam gedung sebelum hujan mengguyur bumi.


Namun sebelum membalikkan tubuhnya, tiba - tiba pandangannya terlihat gelap. Kayla terkejut karena seseorang sedang menutup kedua matanya dari belakang.


Telapak tangan yang melekat pada kedua matanya terasa besar dan hangat. Harum parfum maskulin khas pria menerobos ke indera penciumannya. Indera perabanya mulai menyusuri setiap inci tangan itu.


Kayla tahu pria pujaan hatinya yang sedang berdiri di belakangnya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Radit yang selalu bersikap usil terhadapnya. Sikap usil yang bagi Radit itu hal yang biasa tapi menjadi tidak biasa bagi Kayla.


"Lepaskan tanganmu. Gue tahu itu lo,"


Kayla melepaskan tangan Radit dan membalikkan badannya. Jantungnya seketika terasa ingin loncat dari tubuhnya karena jarak tubuh mereka begitu dekat.


Muka cantiknya terlihat gugup namun tidak bagi Pria di depannya. Radit yang tidak peka akan reaksi Kayla malah tersenyum lebar hingga menampakkan serentetan gigi putihnya.


Wanita yang masih sayang dengan jantungnya itu kembali membelakangi Radit guna mengalihkan perasaannya.


"Apa yang wanita cantik ini lakukan disini sendirian?" tanya Radit seraya berpindah posisi di sebelah Kayla. Kedua sikunya menompang pagar pembatas pinggiran rooftop.


"Kapan lo sampainya? kok nggak bilang - bilang kalau sudah kembali?" tanya Kayla tanpa menjawab pertanyaan Radit, namun masih terulas senyuman pada muka cantiknya.


"Baru tadi pagi. Siangnya gue langsung kesini,'


"Seharusnya lo istirahat dulu. Emang ada urusan apa lo nemuin gue?" tanyanya seraya meletakkan kopi gelas pada pinggiran rooftop.


"Tadinya gue mau cari makan siang, tapi nggak enak makan kalau nggak ada temannya. Jadi gue mau ajak lo makan gitu," Jelas Radit.


"Lo kan bisa makan siang bersama nyokab lo."


"Nyokab lagi sibuk,"


"Ooow,"


"Oya bagaimana keadaan Dara?"


"Sampai saat ini gue belum bisa berbicara dengannya, karena Rey mencoba menjadikan dia tahanan rumah," ucap Kayla mulai cemas.


"What?!"


"Lo pasti merindukannya ya?" tanya Kayla tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan setiap sudut kota yang terlihat dari atas.


"Iya. Gue sangat merindukannya," tandas Radit.


Kayla tersenyum getir mendengar ucapan Radit. Seperti ada yang tersayat di dalam dadanya. Dia menyesali, seharusnya pertanyaan itu tidak terlontar dari mulutnya.


"Kita harus cari cara untuk bisa menemuinya,"


"Apa lo sudah mendatangi kantornya Rey?"


"Gue sudah beberapa kali mencoba menemui Rey di kantornya, tapi orang itu memiliki seribu alasan untuk tidak menemuiku," timpal Kayla.


"Besok coba kita menemuinya berdua,"


"Apa lo yakin Rey mau bertemu dengan lo? sedangkan Rey tahu lo mencintai istrinya,"


"Lo kenapa diam?" tanya Kayla seraya memalingkan mukanya ke arah Radit.


"Haaah....!" Radit menghela napas panjang seraya membalikkan badannya, membiarkan pinggangnya bersandar pada pagar besi pembatas rooftop.


"Kenapa?" tanya wanita yang sedang heran itu.


"Apa aku salah mencintainya?" Radit tersenyum getir.


"Tidak ada yang salah dengan cinta. Karena perasaan itu tumbuh tanpa kita inginkan,"


"Jadi tidak ada yang salahkan jika gue mencintainya?"


"Cinta lo nggak salah, yang salah itu rasa ingin memilikimu, sedangkan Dara masih milik orang lain,"


"Gue hanya ingin memperjuangkan cintaku yang telah lama terpendam," Sendu Radit.


"Kalau diijinkan. Gue juga ingin memperjuangkan cintaku pada lo Dit," batin Kayla.


"Apa lo nggak bisa membuka hati untuk wanita lain?"


"Gue nggak tahu Kay. Sebenarnya ingin rasanya gue nyerah akan cintaku yang bertepuk sebelah tangan ini, tapi berat. Dara selalu singgah di hati gue,"


"Sama Dit. Gue rasanya ingin nyerah saja dengan perasaan cintaku terhadap lo. Rasanya sangat sakit harus mencintai dalam diam. Apa lagi gue tahu lo mencintai sahabat gue sendiri," gumam Kayla di dalam hati.


"Manusia memang aneh. Sudah tahu cinta bertepuk sebelah tangan itu nggak ada enak - enaknya sedikitpun. Tapi tetap saja mau bertahan," soloroh Kayla dengan melemparkan senyuman manisnya ke Radit.


"Iya, padahal enakan semur jengkol buatan lo ya Kay," timpal Radit dengan gurauannya.


"Lo dah lama tinggal di luar negeri tapi selera makannya masih tetep pribumi ya," canda Kayla.


Kedua anak manusia yang cintanya sama - sama bertepuk sebelah itu akhirnya tertawa pecah hanya karena lelucon receh seperti itu.


"Lo nggak ada pria yang lo sukai? seperti gue belum pernah liat lo dekat dengan pria lain," Tanya Radit di sela sisa tawanya.


"Ada sih. Tapi cinta gue jg bertepuk sebelah tangan," timpal Kayla dengan tawa yang berangsur - angsur luruh menyisakan senyuman getir.


"Cari yang lain aja kalau gitu. Masih banyak pria baik di luar sana yang rela ngantri buat lo,"


"Iiiish! lo sok menasehati tapu situ sendiri belum bisa move on juga," cibir Kayla.


"Hahaha.."


Kini Kayla memutar tubuhnya menghadap Radit. Kedua netranya menatap lekat kedua manik hitam Radit. Raut mukanya berubah serius.


Entah kenapa Radit sedikit gugup mendapati tingkah Kayla seperti itu. Ada perasaan aneh di dalam hatinya.


"Lo pasti merasakan sakit karena cinta bertepuk sebelah tangan bukan? gue juga sama. Ingin rasanya gue menenggelamkan tubuhku dalam pelukan pria itu, menumpahkan semua perasaan gue. Tapi hal itu hanya ada dalam mimpi. Karena pria itu mencintai wanita lain," ucap Kayla sendu.


Tiba - tiba Radit merentangkan kedua tangan kekar.


"Lo mau apa?" tanya Kayla bingung.


"Anggap saja gue pria itu. Lo boleh menumpahkan semua perasaan lo ke gue. Jangan lo pendam sendiri. Gue kan sahabat lo juga," tawar Radit dengan senyumannya yang khas.


Entah kenapa tindakan Radit ini semakin membuat hatinya teriris. Darah dalam jantungnya terasa berdesir hebat.


"Lo gila ya Dit! tindakanmu ini seakan memberiku harapan. Tidak, sebaiknya gue harus lekas menghindar sebelum gue lepas kontrol dan terlena dalam pelukannya," Kayla berbicara pada dirinya sendiri.


"Ayo kemari. Kenapa hanya diam? gue nggak mungut biaya alias gratis," goda Radit.


"Nggak ah. Nggak mau," Kayla menggeleng - gelengkan kepalanya seraya melangkah mundur.


"Jangan sungkan. Kita kan sahabatan," ucap Radit seraya melangkah maju dengan tangan yang masih membentang dan masih terukir senyuman nakal pada mukanya yang tampan.


"Astaga ini orang nggak peka amat sih!" gerutu Kayla di hati.


Radit yang tingkat kepekannya nol koma nol nol persen itu malah berusaha memeluk Kayla. Namun raupan kedua tangannya yang kekar ternyata berakhir hampa tiada isi, karena Kayla dengan cepat beringsut turun ke bawah.


Radit terkekeh geli melihat kelakuan Kayla. Entah sejak kapan, menggoda Kayla merupakan kesenangan tersendiri baginya.


Tidak sampai disitu saja. Radit masih saja kekeh berusaha memeluk Kayla yang sudah berdiri lagi. Tentu saja tidak semudah itu, karena wanita cantik itu begitu lincah mencoba kabur dari pria usil itu.


Di atas rooftop kedua anak manusia itu terlihat seperti kedua bocah yang sedang asyik bermain tangkap - tangkapan musuh. Mereka seakan lupa dengan perasaan sakit karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Mungkin Tuhan sedang berbelas kasih memberikan ruang jeda bagi hati kedua makhluk ciptaannya untuk tidak tenggelam dalam pedihnya jatuh cinta namun tak sampai itu.


Jederr....!


Aaaahhhhhh!!!


Tiba - tiba suara petir terdengar menggelegar di balik awan hitam yang memenuhi langit yang di ikuti suara pekikan Kayla karena terkejut bukan main.


Bersambung~~