Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 62 Momen manis Radit & Kayla



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


Wanita cantik bertubuh semampai tersebut sedang merapikan semua berkas kerja hasil dari meeting antar petinggi perusahaan Wangsa tadi pagi. Tidak lupa dia menyimpan soft file dokumen penting yang baru dikerjakan di leptopnya. Jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja. Kayla pun bergegas keluar dari gedung tingkat 10 tempat dia mengais rejeki.


Setelah sampai di basement, Kayla langsung menuju ke sedan metalixnya. Menekan tombol auto lock pintu mobil. Dengan tergesa - gesa Kayla memasukki mobilnya.


Sebenarnya Kayla sedang panik karena kondisi langit yang mulai gelap karena tertutup mendung dan disertai suara gemuruh petir yang masih terdengar jauh dan samar - samar.


"Please, langit kali ini berpihaklah kepadaku. Jangan ada petir besar sebelum aku sampai rumah," gumam Kayla seraya menghidupkan mobilnya. Kemudian melajukannya keluar basement dengan kecepatan tinggi.


* * *


Radit berniat menemui Dara setelah jam pulang kerja. Mobilnya sudah memasuki kawasan perumahan elit tempat Dara tinggal saat ini. Namun tiba - tiba dia menghentikan mobilnya karena tanpa sengaja matanya menangkap sebuah pemandangan yang cukup membuat hatinya terasa perih.


Dari arah berlawanan, Radit melihat Rey dan Dara berada dalam satu atap mobil. Mobil mewah yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah mewah Dara.


Radit bisa menangkap aura kebahagiaan pada muka Rey dan Dara sebelum mobil mereka menghilang di balik gerbang. Meskipun Radit hanya melihat dari layar kaca depan mobil yang di kendarai Rey, namun hal itu cukup terlihat jelas di matanya.


Akhirnya Radit mengurungkan niatnya untuk menemui Dara. Pria itu terlihat menghela napas berat. Cinta tidak harus memiliki, sepertinya kalimat itulah yang cocok untuk menggambarkan perjuangan cintanya kepada sang pujaan hati.


Bukan perasaan benci ataupun kecewa yang dia rasakan saat ini, namun perasaan putus asa yang membuat dia harus menerima kenyataan. Meski hati tidak bisa berbohong, rasa sakit itu jelas ada.


"Haruskah aku berbahagia di atas kesedihanku sendiri?" gumam Radit.


"Sepertinya aku harus berhenti memperjuangkan cintaku," terulas senyuman getir di mukanya.


Netranya menatap jauh ke langit yang yang sudah tertutup mendung hitam, seakan mewakili sebuah rasa di dalam hatinya.


"Haahh! oke, 12 tahun merasakan cinta bertepuk sebelah tangan sudah cukup memberiku kekuatan. Aku akan melepaskan cintaku. Aku tidak ingin menjadi duri pada hubungan kalian karena kalian berhak bahagia," Radit memantapkan hatinya. Kemudian dia melajukan mobilnya kembali.


* * *


Kayla sudah sampai pada basement gedung apartemennya. Memarkirkan mobilnya dan segera memasuki lift yang membawanya ke apartemen pribadinya yang berada di lantai 6. Kayla segera keluar lift setelah pintunya terbuka kembali.


Jederrrr!!!!


Suara petir yang menggelegar akhir muncul ketika Kayla sudah berada di depan pintu apartemennya. Tubuhnya tercekat dan perasaan takut dan panik mulai menghinggapinya. Wanita itu langsung masuk ke apartemennya tanpa menyadari pintu apartemennya belum tertutup dengan benar.


Jederrrrr!!!


Serangan butiran air hujan mulai menghantam bumi diiringi kilatan cahaya yang diakhiri suara petir yang menggemuruh.


Kayla beringsut di atas ranjang kamarnya. Bersembunyi di bawah selimut tebalnya. Menghalangi indera pendengaranya menangkap suara petir dengan menutup kedua telinganya.


Baginya, Kayla lebih baik bertemu hantu dengan wajah rusak yang menyeramkan daripada harus mendengar suara petir. Sungguh di saat seperti ini, dia sangat membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya.


* * *


Gemuruh petir yang memenuhi langit Ibu Kota saat ini juga menarik perhatian pria yang baru saja merasakan patah hati tersebut. Dia tiba - tiba teringat reaksi Kayla yang ketakutan akan petir saat berada di rooftop beberapa minggu yang lalu.


"Kayla pasti sedang ketakutan sekarang. Mengingat mukanya yang pucat karena ketakutan membuat aku kasian padanya," entah mengapa, rasa cemasnya muncul tiba - tiba.


Radit mencoba menelpon Kayla untuk menanyakan keberadaanya dan bagaimana keadaanya. Beberapakali panggilan tidak terjawab. Radit mencoba berfikir keras, mencari kemungkinan dimana wanita itu berada sekarang.


"Sepertinya dia juga sudah pulang kerja," ucap Radit seraya menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya.


"Apa mungkin dia sudah kembali di apartemennya? aaarg! kenapa tiba - tiba aku merasa tidak tenang seperti ini?" bayangan Kayla yang sedang ketakutan terus berkelebat di pikirannya.


"Sebaiknya aku mendatangi apartemennya. Aku harus memastikan kalau dia baik - baik saja,"


Radit pun memacu mobilnya menuju ke tempat yang memungkinkan keberadaan Kayla. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menembus lebatnya guyuran air hujan.


Beberapa saat, Radit sudah berada di depan pintu apartemen Kayla. Dia beberapa kali menekan tombol bel pintu namun daun pintu belum juga terbuka. Radit juga berusaha menelpon Kayla dan hasilnya pun sama.


"Apa dia belum pulang ya?" Radit bergumam.


"Hah! dia yang takut petir kenapa aku yang cemas? mungkin dia baik - baik saja. Sebaiknya aku pergi saja," Radit berbalik dan hendak pergi, tapi lagi - lagi rasa cemasnya membuat dia masih bertahan di depan pintu.


Rey menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, namun tubuhnya tiba - tiba terhuyung masuk ke dalam karena ternyata pintunya tidak tertutup dengan rapat.


"Kenapa tadi aku tidak menyadari kalau pintunya tidak tertutup rapat? dasar wanita ceroboh. Bagaimana kalau ada orang jahat masuk?" gerutu Radit seraya menutup kembali daun pintu. Kali ini dipastikan pintu benar - benar tertutup.


Radit mulai mencari sosok Kayla di dalam apartemen. Kedua matanya menyapu ruangan.


Jedeerr!!!


"Haloo.. apa ada orang?" suara Radit terdengar dibarengi gemuruh petir yang menyambar.


"Di luar sepertinya hujan lebat, suara petirnya terdengar keras sekali," gumamnya.


Pria itu mulai melangkahkan kakinya, mencari keberdaan Kayla yang mungkin ada di dalam salah satu ruangan apartemen. Beberapa ruangan sudah dia periksa, kini tinggal satu ruangan yang tersisa.


Dengan hati - hati pria beralis tebal tersebut memutar knop pintu dan mendorong daun pintu ke dalam. Dari luar pintu dia melihat ada sebuah gundukan besar di balik selimut ranjang. Gundukan tersebut sesekali terlihat tercekat dan bergetar ketika suara petir menyambar langit terdengar keras.


"Kay, apa itu lo?" Radit memastikan.


Kayla setengah terperanjat dari bawah selimut setelah mendengar suara yang sangat dia kenali.


"Radit? kok lo disini?" ucap Kayla yang masih dalam posisi duduk di atas ranjang dengan selimut menutup tubuhnya sampai leher. Wajahnya terlihat pucat.


Jederrr!! kilat cahaya yang di ikuti suara petir masih setia mengiringi hujan lebat.


"Aahhk!"


Suara pekikan Kayla membuat Radit betinisiatif berpindah dari tempatnya untuk mendekati Kayla yang terlihat sangat ketakutan.


"Tenanglah, ada gue sekarang," Radit mencoba menenangkan seraya duduk di bibir ranjang.


Tanpa menghiraukan apa yang akan dipikirkan Kayla, Radit memeluk tubuhnya yang masih terbungkus selimut. Melihat kondisi wanita yang dia anggap sahabat itu, membuat jiwa ingin melindungi tumbuh begitu saja.


"Gue nggak akan berbuat macam - macam. Sekarang tenangkan diri lo,"


Kayla hanya mengangguk pelan. Saat ini dia memang sedang membutuhkan pelukan untuk berlindung dari rasa trauma yang sedang melandanya saat ini.


Tanpa ada maksut selain ingin memberi ketenangan, Radit masuk ke dalam satu selimut yang sama dengan Kayla. Membiarkan wanita itu lebih nyaman dalam pelukannya. Radit mendaratkan tangannya pada punggung Kayla dan mengusapnya dengan lembut.


Saat ini hanya kain yang membatasi jarak tubuh mereka. Kehangatan tubuh masing - masing saling menjalar ke tubuh yang lain.


Beberapa saat gemuruh petir mulai lenyap, namun suara rintikan hujan yang terjun dari awan hitam masih terdengar. Kayla berangsur - angsur merasa tenang. Namun kedua anak manusia itu masih bertahan dengan posisi yang sama.


Kini bukan lagi suara petir yang terdengar, melainkan suara detakan jantung yang saling beradu.


"Sial! ini jantung memang ngajak berantem, bagaimana kalau Kayla menyadarinya?" gerutu Radit di dalam hati.


"Detak jantungnya terdengar keras sekali, apa Radit nggak apa - apa?" batin Kayla yang memang posisi kepalanya sekarang sangat memungkinkan untuk merasakan dan mendengarkan detak jantung Radit.


Insting penciuman Radit sepertinya mulai bermain. Harum rambut Kayla menuntunnya untuk bertindak di luar kesadarannya. Pria itu mendekatkan mukanya pada ujung kepala wanita yang sedang dalam pelukannya tersebut. Menghirup dalam rambutnya yang beraroma fruity yang begitu menyegarkan dan sexy. Tangan kekarnya yang semula hanya memberi gerakan mengusap kini mulai menarik tubuh Kayla agar lebih tenggelam dalam pelukkannya.


Radit tidak tahu, sejak kapan kedekatannya dengan Kayla memberikan kenyamanan tersendiri. Meski dia belum tahu pasti kenyamanan atas dasar apa yang dia rasakan.


Radit masih asyik dengan kesenangannya sendiri. Kedua matanya terpejam. Sepertinya Radit sangat menikmati aroma rambut Kayla. Bibirnya dan kepala Kayla sudah tak berjarak. Kini dia mulai berani mendaratkan kecupan pada ujung kepala Dara. Menciumi helaian rambut Kayla yang seakan sudah menjadi candu baginya. Pastinya Kayla menyadari gelagat Radit saat ini.


"Radit, sepertinya suara petirnya sudah pergi," ucap Kayla yang sudah merasa tenang namun sedikit kikuk.


Tentu saja suara Kayla membuat kedua mata Radit terbuka dan menghentikan aktivitasnya seketika.


"Sial! apa yang barusan aku lakukan? Ini bibir asal kecup aja!" di dalam hati, Radit mengutuki dirinya sendiri setelah sadar dengan apa yang dia lakukan barusan.


"A..apa lo sudah merasa tenang?" tanya Radit yang mulai canggung.


"Gue udah merasa tenang kok," balas Kayla yang tak kalah canggung.


"Syukurlah,"


"Dit?"


"Hmmm"


"Gue merasa sesak, lo bisa lepasin gue sekarang?" ucap Kayla yang sedari tadi ingin lepas dari pelukkan Radit, tapi dia kesulitan karena lilitan tangan kekar Radit begitu erat.


"Oh, maaf," timpal Radit seraya melepas pelukkannya dan dengan cepat beranjak dari ranjang.


Kini suasana di antara mereka semakin canggung.


"Dit? makasih ya," ucap Kayla dengan muka yang sudah memerah karena malu.


"Ehem! semua itu nggak gratis," Radit mulai memecahkan suasana canggung di antara mereka.


"Hiss! sudah gue duga. Emang lo minta dibayar pakek apa?"


"Sebagai imbalan masakin gue makan malam karena gue sudah lapar,"


"Oke!" Kayla menuruti permintaan Radit. Dia menuruni ranjang dan berlalu pergi meninggalkan kamar dengan perasaan jengkel.


Bersambung~~