
Hari minggu yang tenang Rey terlihat santai duduk di bangku taman yang terdapat di halaman rumah mewahnya. Sekali - kali dia mengedarkan pandangan kepada sosok wanita yang sedang asyik dengan bunga - bunga yang ditanamnya. Dara terlihat sangat menikmati, seakan dia sedang bercengkrama dengan bunga - bunga yang tertanam rapi disana.
Dara memang sangat menyukai tanaman. Maka tidak heran bila setiap sudut rumahnya terdapat tanaman hias. Hampir setiap hari, Dara menyisihkan waktu untuk tanaman - tanaman kesayangannya itu.
Tak jarang Rey dibuatnya cemburu karena merasa diduakan. Memang di balik kewibawaannya sebagai CEO, dia akan bersikap seperti anak kecil di hadapan Dara.
"Sayang, sampai kapan kau terus bercumbu dengan mereka?" seloroh Rey yang mulai merasa kesal karena dicuekin.
Dara sontak melebarkan kedua netranya, nggak percaya dengan yang diucapkan suaminya itu.
"Apa maksutmu bercumbu sayang? pilihlah kata - kata yang lebih masuk akal!" ketus Dara.
"Aku khawatir, bunga - bunga itu akan merebutmu dariku. Sekarang saja kamu lerlihat lebih tertarik pada mereka daripada dengan aku," Rey merajuk.
"Kamu tak sepatutnya cemburu dengan mereka Tuan Rey Vanno Erlangga," tandas Dara.
"Jangankan mereka, ada nyamuk jantan yang mendekatimu aku juga bisa cemburu Nyonya Dara Violeta Wangsa," sanggah Rey tak mau kalah.
Kalimat yang terlontar dari bibir sexy Rey berhasil membuat Dara melepaskan tawanya yang lebar. Suara tawanya terdengar renyah, hingga tidak terasa keluar butiran bening dari sudut matanya.
Hal itu malah justru buat Rey kesal. Terlihat Rey melipat muka tampannya hingga kusut.
"Apa kamu puas? kemarilah sayang, mumpung hari ini aku off kerja. Seharusnya kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku," Ucap Rey sambil mengrucutkan bibirnya.
"Sebentar sayang,"
"Aaaahhh!" Dara sontak menjerit karena tindakan Rey yang tiba - tiba.
Rey yang tidak sabaran langsung mendekati Dara. Menggendongnya ala bridal style. Membawanya kembali ke bangku taman yang didudukinya tadi. Meletakkan Dara di pangkuannya.
"Astagaaaa! heran deh, punya suami manjanya minta ampun,"
"Aku kan manjanya cuma sama kamu. Masak kamu tega lihat aku bermanja - manja dengan wanita lain?"
"Awas ya kalau kamu nakal di luar sana!" ancam Dara.
"Mana mungkin sayang. Jiwa dan ragaku hanya untukmu my sweety," ucap Rey manja lalu mengecup pipi mulus istrinya.
"Gombal!"
"Ih, kamu ko nggak percaya sih?"
Rey menangkup kedua telapak tangannya di muka cantik Dara. Sedikit memberi tekanan pada kedua pipinya. Sehingga tersaji ekspresi muka Dara yang lucu dengan bibir yang mengerucut. Rey sangat gemas dan dengan cepat melesatkan kecupan - kecupan di seluruh bagian muka Dara hingga tiada tempat yang tersisa.
"Cup cup cup cup cup," suara kecupan Rey.
"Ih sudah dong sayang, berhenti!" rengek Dara.
Hal itu justru membuat Rey tertawa gemas dan masih melanjutkan aksinya.
"Nggak bisa berhenti sayang. Bibirnya bergerak otomatis nih," ucap Rey ngawur.
"Hahaha, mukaku basah nih. Air liurmu harus dikondisikan dulu!" timpal Dara lebih ngawur.
Tiba - tiba keasyikan mereka terhenti, karena terdengar suara ponsel dari saku celana Rey. Di layar ponselnya tertera nama mama Rey disana. Rey pun menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Halo Ma, ada apa?"
"Sayang, kamu datang ke rumah sekarang ya. Ada hal penting yang harus mama bicarakan,"
"Hal penting apa Ma?"
"Udah, pokoknya kamu harus datang ke rumah dulu, nanti mama jelasin. Jangan lupa ajak istrimu,"
"Baik Ma."
Tut. Panggilan terputus.
"Tidak seperti biasanya Mama suruh aku datang bersama Dara. Apa ada sesuatu yang buruk?"
"Ya Tuhan, semoga saja tidak ada apa - apa," Gumam Rey yang hanya bisa terdengar olehnya.
"Ada apa sayang?" tanya Dara.
"Mama minta kita datang ke rumahnya sekarang. Kamu siap - siap ya,"
"Baiklah,"
* * *
Mobil Mercedes Benz memasuki halaman istana. Di dalam mobil Dara terlihat mencoba menenangkan diri. Sebisa mungkin menghapus ekspresi tegang pada muka cantiknya. Rey menyadari akan hal itu. Dia mencoba menenangkan istrinya dengan menggenggam erat sepasang tangan Dara dengan satu telapak tangannya yang besar.
Rey tahu betul bagaimana hubungan Dara dan mamanya. Meskipun Dara selalu bersikap baik dan manis pada mamanya, tapi alasan belum juga memberi keturunan penerus keluarga Erlangga selalu menjadi alasan mamanya membenci Dara.
"Sayang, apa kamu baik - baik saja?" tanya Rey khawatir.
"Apa sih sayang? emang keliatan banget ya?"
"Iya banget," Ucap Rey, seraya ibu jarinya mengusap lembut tangan Dara.
"Semua akan baik - baik saja sayang. Mungkin itu cuma perasaanmu saja,"
"Iya semoga saja begitu. Ayo kita turun. Mama pasti sudah menunggu lama," Ajak Dara menampilkan sedikit senyuman paksaan di bibirnya.
"Oke. Ayo sayang,"
Rey menuruni mobil lalu melangkah mengitari mobil mewahnya. Membantu Dara membukakan pintu. Dara menuruni mobil yang disambut dengan uluran tangan kekar suaminya. Dara pun merespon dengan senang hati.
Mereka masuk ke Rumah mewah yang ada di depannya dengan bergandengan tangan. Rey menggenggam erat tangan istrinya seakan tidak diijinkan lepas. Sampai di depan pintu rumah, mereka disambut oleh beberapa pelayan rumah yang memang sudah menunggu kedatangan mereka.
Namun tiba - tiba langkah keduanya berhenti saat memasuki ruang tamu. Mereka melihat Rani sudah berada disana yang sepertinya dia sudah menunggu beberapa saat sebelum Rey dan Dara datang.
Betapa terkejutnya Rey saat melihat, siapa wanita yang sedang duduk di samping Rani. Badannya membeku, Lidahnya kelu, dan matanya menatap tajam pada objek yang ada di depannya.
Dara menyadari perubahan sikap pada suaminya itu. Apalagi sekarang tangannya terasa sakit karena begitu kuatnya genggaman Rey yang tanpa disadari alam bawah sadarnya. Dara berusaha melepaskan ikatan tangan Rey dengan lembut.
"Selamat siang mah," sapa Dara memecah suasana.
Dara mendekati Rani, hendak menyalami dan mencium tangannya. Namun usahanya itu sia - sia. Rani tidak meresponnya, malah melipat kedua tangannya di dadanya. Mendapati perlakuan yang tidak menyenangkan dari mertuanya, Dara cuma bisa tersenyum miris.
"Rey sampai kapan kamu terus berdiri disana?" tanya Rani, mengacuhkan Dara.
"Ayo duduk, ada yang mau mama bicarakan," perintah Rani tegas.
Tanpa kata - kata, Rey pun menduduki dirinya di atas sofa, berhadapan dengan Rani dan tentu diikuti Dara.
"Dan kamu, cukup mendengarkan saja," titah Rani pada Dara dengan sorotan mata sinis.
"Iya mah," Jawab Dara yang sebenarnya masih bingung dengan suasana saat ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi? suana macam apa ini? kenapa Rey tiba - tiba berubah sikap? dan siapa wanita itu?" batin Dara dengan seribu pertanyaan.
"Mama kenapa wanita ini ada disini?" akhirnya Rey membuka suara.
"Dari responmu sepertinya kamu sudah mengenalinya Rey,"
"Tentu saja saya kenal. Dia adalah Bella mantan sekretaris pribadi saya," tukas Rey, berusaha bersikap setenang mungkin.
"Dan kamu, ada urusan apa kamu datang kemari menemui Mama saya?" Rey melontarkan pertanyaan dengan tatapan tajamnya ke Bella.
"S..saya.." ucapan Bella terhenti karena Rani memutus ucapannya.
"Jangan salahkan dia, karena Mamalah yang mendatangi dia dan membawanya kemari," tandas Rani membela wanita di sampingnya.
"Mama kenal dia?" tanya Rey penasaran. Sesekali matanya menatap Bella sekilas.
"Mama memang mengenal dia belum lama ini,"
Di sisi lain, Dara hanya diam seribu bahasa. Mencoba menjadi pendengar yang baik. Terus berusaha mencerna percakapan mereka. Dia sadar, keberadaanya disana tidak dihargai oleh mertuanya.
"Kamu tahu kan Rey, keluarga Erlangga terkenal dengan imagenya yang baik?"
"Iya Ma, terus apa hubungannya dengan wanita ini?"
"Mama yakin kamu tidak melalaikan kewajibanmu Rey. Kamu harus memenuhi tanggungjawabmu sebagai calon ayah," Ucap Rani gamblang.
Dara mulai terasa sesak tapi bertahan dengan sikap tenangnya. Masih terus mencerna keadaan.
"Ya tentu saja saya akan bertanggungjawab ma. Apalagi Dara wanita yang sangat aku cintai," ucap Rey yang belum paham sepenuhnya dengan ucapan sang Mama.
"Rey apa kamu bodoh? istrimu bahkan tidak bisa memberikan mama cucu, apa yang mau kamu pertanggungjawabkan?!"
Perkataan Rani sangat menyakitkan bagi Dara. Dia tidak percaya, lidah mertuanya yang tak bertulang itu bisa setega dan semudah itu melontarkan kata - kata pedas padanya. Apalagi di depan seseorang yang belum dia kenal.
"Ma! tolong Mama jaga omongan Mama." tandas Rey membela Dara. Spontan Rey menggenggam tangan istrinya untuk menenangkannya.
"Kamu berani membentak Mama demi istrimu?" ucap Rani geram.
"Bukan begitu maksut saya Ma," sanggah Rey.
"Sudah, Mama panggil kamu kesini bukan untuk membahas istrimu. Mama hanya ingin kamu segera menikahi Bella,"
Rey yang mendengar ucapan Rani sontak terkejut, matanya melebar, dan tangannya mengepal. Begitupun Dara, hatinya begitu terluka. Mertuanya benar - benar tidak menghargainya sebagai menantunya.
"Tidak Ma. Hanya Dara yang boleh mendampingiku! pernikahan itu bukan sebuah permainan Ma!"
"Tapi kamu harus menikahinya suka atau tidak, karena dia sekarang sedang mengandung anakmu!" beber Rani dengan tenang.
Dara yang mendengar perkataan Rani sontak terkejut. Serasa ada kilat badai disiang bolong. Tidak percaya dengan yang didengarnya barusan. Dadanya berdenyut sangat keras, hingga terasa begitu sakit. Dunianya terasa terhenti. Begitu sulit menerima kenyataan pahit. Sekarang dia benar - benar bisa mencerna semuanya. Rey menghamili wanita lain. Dia mencoba melepaskan tangannya yang sedari tadi ada pada genggaman Rey. Kedua netra cantiknya mulai berkabut. Butiran bening hampir saja lolos, tapi sebisa mungkin Dara menahannya.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰