
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Hangatnya sinar mentari membelai lembut setiap kelopak bunga yang dengan bangga memamerkan kecantikannya pada setiap mata yang memandang. Dedaunan nan hijau terlihat segar setelah bermandikan embun pagi yang dingin.
Angin pagi meliuk - liuk menghempas helaian rambut wanita yang sedang tenggelam dalam lamunannya. Di bangku taman istana, Dara terlihat sedang duduk santai menikmati suasana taman bagi orang yang melihatnya sekilas.
Padahal, tidak seperti yang terlihat. Otaknya sedang berpikir keras mencari cara untuk bisa keluar dari istana megah namun bagaikan penjara.
Sudah dua minggu wanita cantik itu tertahan di dalamnya. Selayaknya seorang tahanan, dia tidak diberi kesempatan untuk sekedar menikmati angin di luar gerbang. Dan entah sejak kapan, pria egois itu menempatkan beberapa pengawal di depan istananya. Rey benar - benar menjadikannya seorang tahanan rumah.
Bahkan pria yang sangat dia benci namun masih berstatus suaminya itu menyimpan ponsel milik Dara, karena khawatir istrinya akan mencoba untuk kabur. Kayla yang beberapa kali ingin menemuinya namun berakhir pengusiran.
"Aku harus memutar otakku,"
"Ayo otak.. Bekerjalah..!" perintahnya pada otak yang bersarang di kepalanya.
Dia memejamkan matanya, membiarkan otaknya besarnya fokus mencari jalan. Setelah kesekian detik, mata cantik nya terbuka karena jaringan saraf - saraf otaknya mengirimkan sebuah informasi yang diperlukan.
"Bi Ningsih. Iya aku perlu bantuannya."
"Bego kamu Ra..! kenapa nggak dari kemarin - kemarin kamu memikirkan itu?!" gerutu Dara seraya melangkahkan kakinya mencari Bi Ningsih.
"Bi.. Bi Ningsih.." panggil Dara seraya menyapu setiap ruangan.
"Bi Ningsih dimana?" panggilnya lagi karena belum juga menemukan sosok yang dicari.
"Iya Nyah.. Saya disini," saut Bi Ningsih yang baru saja keluar dari ruang menyetrika baju.
Dara tersenyum lebar setelah mendapati sosok wanita yang dia cari - cari.
"Bi.. Bisa tolongin saya?" tanya Dara lembut dengan mata yang berbinar - binar.
"Iya Nyah, minta tolong apa Nyah?" jawab wanita paruh baya itu.
"Saya boleh pinjam ponselnya?" Dara berencana menghubungi Kayla dengan meminjam ponsel Bi Ningsih.
"Tapi Nyah, Tuan melarang saya untuk meminjam ponsel saya ke Nyonyah," Jawabnya sedikit takut kalau sampai ketahuan Tuannya.
"Jangan bilang ke Tuan, dia takkan tahu," Rayu Dara.
"Ba.. baik Nyah. Ini ponselnya Nyah," Bi Ningsih merogoh sakunya dan menyerahkan ponsel jadulnya.
Saat Dara memulai aksinya, tiba - tiba ponselnya berdering. Matanya terbelalak mengetahui bahwa Rey yang menelpon. Dia dengan cepat mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.
"Tuan menelpon. Cepat angkat Bi, tapi jangan bilang aku mau pinjam ponselmu," ucap Dara setengah berbisik. Seakan takut ada orang lain yang mendengarnya.
"Baik Nyah,"
Perempuan paruh baya yang selalu mengenakan jarik saat bekerja itu menjawab panggilan.
"Halo Tuan.."
"Kasihkan ponselnya ke Nyonyah," titah Rey tanpa basa basi.
Bi Ningsih sempat terkejut, seakan Tuannya tahu kalau Nyonyanya sedang bersama dia sekarang.
"Tuan ingin bicara Nyonyah," lapornya seraya mengulurkan ponsel yang berada di tangannya.
"Hah?! Saya?" ucap Dara seraya menunjuk dirinya sendiri.
Bi Ningsih hanya menjawab dengan anggukkan.
"Ha..halo," Dara gugup.
"Jangan sekali - kali kamu meminjam HP Bi Ningsih untuk berniat kabur,"
"Atau Bi Ningsih akan aku pecat!" ancam Rey di balik telepon.
Dara seketika tercekat diikuti dengan tarikan napas yang terhenti di kerongkongan. Seakan rencananya kepergok. Dengan mulut yang masih ternganga dia celingukan ke kanan dan ke kiri. Matanya menyapu ruangan, apa ada sosok Rey di sekitar, namun tidak ditemukan keberadaannya.
"Ko kamu bisa tahu? Uups!" ucapnya keceplosan.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" gerutunya sangat lirih. Tangannya beberapa kali menepuk - nepuk bibirnya.
"Aku bisa melihat semua gerak gerikmu. Termasuk ketika sedang mandi!" tandas Rey.
Dara reflek menutup badannya dengan kedua tangan yang tidak cukup untuk mencangkup seluruh tubuhnya.
"Rey bodoh! pasti dia memasang CCTV pada setiap sudut. Tapi kenapa harus ada di kamar mandi juga!" gerutunya dalam hati.
"Ternyata hobi barumu menguntit orang mandi ya? Sekali berotak mesum, tetap saja mesum. Memang tidak ada obatnya!" cemoh Dara kemudian memutuskan panggilannya.
"Ini Bi saya kembalikan ponselnya. Terimakasih ya," Dara pun berlalu pergi dengan langkah kesalnya.
Dara memasuki kamarnya setelah menutup pintu dengan sedikit kasar. Dia mengayak kesal rambutnya yang panjang. Lalu membating tubuhnya dalam posisi tengkurap di atas ranjang yang empuk. Wanita cantik itu menenggelamkan mukanya di dalam bantal dan berteriak frustasi.
Sesaat setelah hatinya sudah sedikit tenang, Dara sekarang berganti ke posisi duduk bersila di atas ranjang. Matanya menyusuri seluruh ruangan mencari benda kecil yang dijadikan alat menguntit si pria menyebalkan itu.
Matanya terhenti pada pengharum ruangan elektrik yang terpasang di dinding. Curiga, wanita cantik itu mendekatinya. Diperhatikan seksama lubang kecil yang terdapat benda putih berbentuk persegi itu.
Dara membentuk garis lurus pada bibirnya dan mengeluarkan napas lewat lubang hidungnya dengan kasar. Sesuai kecurigaannya, pewangi ruangan elektrik itu adalah alat penguntit yang digunakan Rey. Masih kesal, dia mencari kain lalu menutupi kamera CCTV tersebut.
Tidak berhenti di situ saja. Dara bergegas menuju ke kamar mandi. Melanjutkan aktifitasnya yang dikira belum selesai. Kedua pupil matanya menyapu setiap sudut ruangan. Tidak butuh lama, kali ini tentu saja Dara bisa menemukannya dengan mudah. Alat penguntit yang diletakkan begitu jelas di ujung langit - langit kamar mandi.
"Astagaaaaa! kenapa aku tidak menyadarinya?! benda itu terlalu terpampang jelas disana?!" Dara menepuk jidatnya seraya mengutuki dirinya yang ceroboh.
* * *
Di kantor Rey sedang asyik dengan benda pipih yang sedang menempel di telinganya.
"Aku bisa melihat semua gerak gerikmu. Termasuk ketika sedang mandi!" ucap Rey seseorang di balik sambungan telepon.
Dia dibuat tersenyum geli melihat gelagat Dara dari layar leptopnya yang menampilkan rekaman CCTV dari rumahnya. Iya, Rey sedang berbicara dengan wanita yang tertangkap layar CCTV itu.
Beberapa hari yang lalu pria tampan itu menyuruh anak buahnya untuk memasang kamera micro CCTV pada setiap sudut ruangan tanpa sepengetahuan kekasih hatinya itu. Gunanya memang untuk mengawasi semua gerak gerik Dara yang selalu berusaha untuk kabur selama dia tidak berada di rumah.
* * *
Malam menjelang petang.
Dara sedang sibuk berkutat dengan alat tempur dapurnya. Dia mendapat kabar Papa Rengga akan datang ke rumah untuk berkunjung. Selama menjadi tahanan di istananya sendiri, ini baru pertama kalinya dia bersedia memegang alat dapur karena suasana hatinya yang terlihat lebih baik. Marah, jengkel, kecewa maupun kesedihan mulai tersingkir meski itu hanya berlaku sesaat.
Bagaimanapun juga Papa Rengga sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri. Selama masuk dalam keluarga Erlangga, Papa mertuanya itu selalu bersikap hangat kepadanya layaknya seorang Ayah menyayangi putrinya sendiri.
Wanita cantik yang sedang mengenakan celemek dapur bewarna ungu dengan motif bunga sakura terlihat bersemangat menampilkan kecakapannya dalam memainkan bahan - bahan bumbu masak dapur.
Dengan dibantu Bi Ningsih, Dara meletakkan semua hasil karya dapurnya di atas meja makan. Tidak ketinggalan dendeng sapi dan ikan gurami asam pedas makanan kesukaan Papa Rengga juga tersaji. Harum makanan yang merangsang cacing - cacing dalam perut berontak sudah menyapu ruang makan.
Dari lantai atas terlihat Rey yang sudah terlihat segar dengan pakaian santainya kaos polo dan celana pendek selutut berbahan jeans. Pria itu menuruni tangga dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Lepaskan! jangan membuat moodku semakin buruk!" seru Dara yang sebenarnya masih kesal karena kamera penguntit tadi pagi.
Tidak peduli dengan kekesalan Dara, Rey malah mendaratkan kecupan ringan pada ceruk leher Dara.
"Aaahh! jangan!" pekik Dara.
"Kenapa kamu malah mendesah sayang?" goda Rey terkikik.
"Apa kamu tidak bisa membedakan antara berteriak dengan mendesah?! bodoh!" cibirnya.
"Hahaha.. semuanya bagiku sama jika itu keluar dari mulut manismu."
Dara masih bersikukuh melepaskan tangan kekar Rey yang melingkari perut ratanya karena risih. Namun hal itu semakin membuat Rey gemas dan mempererat lilitannya.
Selang waktu tidak lama, Papa Rengga pun tiba. Dia datang bersama istrinya Rani.
Bersambung~~