
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂 Selamat membaca 🍂
Di sepanjang pesisir pantai sudah Radit susuri, namun belum juga menemukan sosok wanita yang dia cari. Dia berniat meminta maaf ke Kayla karena membuatnya marah.
Selama bertahun - tahun mereka menjalin hubungan persahabatan, baru kali ini Radit merasa resah jika Kayla marah. Dulu melihat Kayla marah merupakan hal yang biasa baginya. Justru kemarahan wanita itu selalu dijadikan lelucon yang menyenangkan bagi Radit.
"Radit?" panggil Kayla yang penasaran dengan satu tangannya memegang ice cream contong rasa strawberry dengan toping blueberry.
Radit langsung membalikkan badannya mencari sumber suara yang berada di belakangnya. Pria itu masih tidak bersuara, namun matanya menatap lekat kedua netra Kayla.
"Apa Radit sengaja mencariku? kalau memang iya, pasti gue akan sangat senang," batin Kayla berharap. Bagaimanapun juga dia juga masih kesal dengan pria yang ada di depannya saat ini.
"Ngapain lo disini?" tanya Kayla menyelidik. Berharap mendapat jawaban yang bisa menyenangkan hatinya.
"Gue cuma ingin mencari angin segar saja," elak Radit.
Jawaban Radit ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Tentu saja hal itu semakin membuat Kayla kecewa.
"Ow, Yaudah gue mau balik," ucap Kayla yang hendak pergi dari hadapan Radit. Namun langkahnya tiba - tiba terhenti karena pria itu menarik pergelangan tangannya.
Kayla menggiring kedua manik matanya ke arah pergelangan tangannya yang terasa hangat karena sentuhan tangan Radit.
"Lo marah ya sama gue?" kini Radit mulai bersuara.
"Emang kenapa kalau gue marah? penting banget ya buat lo," Kayla balik bertanya.
"Kalau nggak penting mana mungkin gue pergi nyari lo," akhirnya Radit keceplosan.
"Katanya lo cuma mau cari angin segar? kenapa nyariin gue? emang lo nggak takut sama gue?" ucap Kayla santai seraya menikmati ice cream yang sempat dia beli tadi.
"Lo jangan marah dong?" pinta Radit memelas.
"Ya gimana nggak mau marah, gue aja belum pernah pacaran dan sekarang aja masih jomblo, terus nikah gimananya? lo itu merusak pasaran gue tau nggak sih?" seru Kayla.
"Mulai sekarang gue akan tunjukkan ke lo kalau masih ada pria yang bisa mencintai gue apa adanya," sambungnya lagi.
Lagi - lagi rasa tidak suka kembali muncul di hati Radit. Namun dia masih menahan perasaan itu saat ini.
Kedua insan itu berhenti mengeluarkan suaranya sesaat. Kayla masih lanjut menghabiskan ice creamnya yang keburu meleleh. Sedangkan kedua iris Radit belum juga lepas dari pemandangan bibir ranum yang sedari tadi sedang asyik ******* ice cream. Cairan ice cream yang tertinggal di salah satu sudut bibir Kayla, membuat tenggorokan pria itu terasa berat untuk menelan cairan saliva.
"Apa ice creamnya enak?" tanya Radit yang kini mengalihkan kedua irisnya ke mata cantik Kayla.
"Tentu saja enak, ini makanan kesukaan gue. Lo mau?" Kayla menyodorkan ice creamnya ke arah Radit.
"Apa boleh gue nyicipin ice creamnya?"
"Boleh saja, asalkan lo nggak jijik sama bekas mulut gue,"
"Gue emang sudah nggak tahan, ingin sekali nyicipinnya, gue harap lo nggak nyesel,"
"Kenapa gue harus nyess," kalimat Kayla tiba - tiba terpotong, karena sebuah benda kenyal mendarat pada bibirnya. Radit mencicipi ice cream yang berada di sudut bibir Kayla. Mengusap cairan manis itu dengan lidahnya.
"Hmmm, rasanya manis," ucap Radit santai setelah mengakhiri tindakan nekatnya.
"Radit...! apa yang lo lakukan?!" Seru Kayla kesal seraya melayangkan tinju pada dada bidang pria yang baru saja mencuri ciumannya. Jujur jantung Kayla rasanya ingin loncat dari sarangnya saat ini.
"Aw! gue cuma mau nyicipin ice creamnya," timpal Radit yang masih meringis menahan sakit akibat tinjuan Kayla.
"Kenapa lo asal nyosor! Itu ciuman pertama gue," Kayla terlihat cemberut. Meskipun Kayla mencintai Radit, tapi rasanya tidak rela jika Radit menciumnya tanpa ijin, apalagi yang dia tahu Radit tidak mencintainya saat ini.
"Tadi kan gue udah kasih peringatan. Lagian lo tadi bilang asalkan nggak jijik gue boleh nyicipinnya," ucap Radit seraya mengusap dadanya yang masih sedikit sakit karena ulah Kayla, namun mukanya terulas senyuman penuh arti.
"Tapi kan nggak gitu Dit," Kayla masih protes.
"Lo kalau mukul sakit tau nggak sih? tega bener sama sahabat sendiri," keluh Radit
Mendengar ucapan spontan Radit membuat hati Kayla terasa nyeri.
"Iya kita hanya sekedar sahabat dan tidak lebih, tapi sudah pernah berpelukan di dalam kamar, bahkan kami baru saja berciuman," gumam Kayla di dalam hati yang kini terulas senyuman getir di mukanya.
"Dit, gue mohon jangan lo ulangi lagi, itu nggak baik. Apa lagi hubungan kita hanya sekedar sahabat," ucap Kayla seraya membalikkan badannya membelakangi Radit.
"Kemarin gue sangat berterimakasih karena lo sudah berbaik hati berada di samping gue yang sedang ketakutan, tapi gue harap itu yang terkahir," Kayla sungguh tidak ingin menaruh harapan lebih kepada Radit.
"Sekali lagi, jangan suka cium - cium sembarangan," tutur Kayla seraya menyentuh bagian bibir bekas ciuman Radit.
Tanpa permisi, Radit menarik tangan Kayla yang membuat tubuh mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang hanya beberapa inci.
"Gue juga bukan pria yang suka sembarangan mencium wanita," tandas Radit yang sebenarnya tidak terima dengan semua ucapan Kayla.
Dia merasa semua perkataan Kayla barusan bertujuan untuk menjaga jarak dengannya. Bagaimana Radit akan terima hal itu, sedangkan saat ini dia selalu ingin berdekatan dengan Kayla. Ingin memeluk, ingin menghirup harum rambutnya dan ingin menciumnya itu yang ada di otaknya.
"Lagian itu tadi masih belum bisa dikatakan ciuman,"
Kayla membisu. Jaraknya yang begitu dekat dan tatapan mata Radit yang begitu intens membuat jantungnya berpacu sangat cepat. Tanpa dia sadari, detak jantung Radit bekerja jauh lebih cepat.
"Akan gue tunjukin ciuman yang sebenarnya," ucap Radit tanpa memberi jeda dia langsung menarik tengkuk leher Kayla dan mendaratkan bibirnya pada bibir Kayla. Tangan kirinya yang semula hanya memegang tangan Kayla, kini mulai berpindah melingkari pinggang rampingnya.
Kayla sangat terkejut karena belum siap akan serangan dadakan Radit. Matanya terpejap - pejap, sesekali tangannya berusaha mendorong dada bidang Radit agar mau menghentikan ciumannya. Namun kenyataannya kekuatannya memang nggak sebanding dengan pria bertubuh kekar tersebut.
Radit masih terus mencecap dan melum*at habis setiap inci bagian luar bibir Kayla. Tidak ada permainan lidah maupun pertukaran saliva, karena Kayla masih menutup rapat mulutnya.
Kayla tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang karena itu hal baru baginya. Dia merasakan aliran darahnya berdesir hebat. Jantungnya entah bagaimana nasibnya setelah ini. Kini dia mulai menikmati ciuman Radit yang begitu memanjakannya. Memejamkan matanya dan menerima pasrah semua perlakuan Radit.
Akhirnya Radit menghentikan ciuman karena nggak tega melihat Kayla yang seperti hampir kehabisan napas. Setelah tautan bibir mereka terlepas Kayla hanya bisa menunduk. Semburat merah muda terlihat menyapu kedua pipinya. Iya, Kayla sangat malu sekarang. Sedangkan Radit masih enggan melepas lilitan tangannya dari tubuh wanita yang kini telah menempati hatinya.
Radit berkali - kali berusaha mengintip muka merah Kayla yang sengaja disembunyikan. Rasanya Kayla tidak berani menatap muka Radit karena akhirnya dia terlena akan ciuman Radit yang begitu manis.
"Kay, kenapa? angkat muka lo," pinta Radit yang mulai gemas dengan tingkah Kayla.
Kayla hanya menggeleng - gelengkan mukanya. Tangannya berusaha melepas lilitan tangan Radit yang masih bersemayam di perutnya. Namun tindakannya itu semakin membuat pria beralis tebal itu mempererat lilitan tangan kekarnya.
"Dit, gue mohon lepasin gue," pinta Kayla lirih. Sifat barbarnya yang selalu menjadi bahan olokan Radit sepertinya tenggelam begitu dalam.
"Nggak mau, gue suka seperti ini," Radit menolak. Senyuman nakal tergambar di muka tampannya.
"Dit, gue mohon, banyak orang yang lihat, gue malu," Kayla memelas, kini dia mulai berani mengangkat mukanya.
"Gue nggak peduli," Radit kembali melayangkan kecupan singkatnya di bibir Kayla.
Lagi dan lagi Kayla dibuat salah tingkah akan perbuatan Radit barusan. Wanita itu memalingkan mukanya ke samping. Dia tidak berani membalas tatapan Radit yang sedari tadi tidak ingin lepas dari muka cantiknya.
Kayla terdiam hanya sekian detik lalu kembali menggiring mukanya menghadap ke muka pria yang masih enggan melepas pelukan dari tubuhnya.
"Dit, apa lo masih mencintai Dara?" Kayla bertanya dengan hati - hati.
"hmmmmm, gue ngga tahu,"
Kayla mulai terlihat kecewa.
"Yang gue tahu saat ini..." ucap Radit menggantung.
"Apa?" Kayla tidak sabar menunggu kelanjutan dari kalimat Radit yang masih menggantung.
"Gue nggak suka kalau lo menjalin hubungan sama pria lain. Seperti tadi, hati gue terasa panas lihatnya. Rasanya ingin gue makan hidup - hidup lelaki tadi," muka Radit terlihat sangat serius.
"Terus?" tanya Kayla yang masih belum puas dengan jawaban Radit.
"Terus apanya? hm?" Radit berlagak bodoh.
"Iish!" Kayla menampilkan muka cemberutnya.
"Kayla?" panggil pria itu kembali serius.
"Apa lagi? sebaiknya lepasin dulu tanganmu,"
"Gue ingin hubungan kita lebih dari sahabat. Gue ingin menjadi kekasih lo," sela Radit dengan tatapan yang begitu dalam.
"Dit, lo jangan bercanda,"
"Gue nggak bercanda, gue serius karena gue cinta sama lo,"
Kayla menatap lekat kedua manik hitam Radit. Mencoba mencari kebohongan namun tidak dia temukan. Hatinya bergetar hebat. Rasanya dia ingin menangis haru. Rasa bahagia karena cintanya kini tidak lagi bertepuk sebelah tangan begitu memenuhi hatinya.
"Baik, mari kita membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius," ucap Kayla dengan buliran air mata yang mulai menetes.
"Sungguh?" tanya Radit meyakinkan.
Kayla hanya menjawab dengan satu kali anggukan yang meyakinkan.
"Terimakasih Kay, gue sangat berterimakasih," ucap Radit dengan penuh rasa syukur.
Rasa bahagia yang begitu besar juga tak kalah menghiasi muka tampan Radit saat ini. Pria itu semakin mempererat pelukannya. Mendaratkan kecupan sayang pada kening Kayla yang kini resmi menjadi kekasihnya.
* * *
Sore menjelang petang sang surya perlahan - lahan menenggelamkan dirinya ke ufuk barat. Biasan cahayanya menyapu langit sehingga berubah menjadi jingga. Salah satu karya sang Maha Pencipta yang bisa menghipnotis setiap mata yang memandangnya. Sungguh indah sekali.
"Sayang, coba lihat. Pemandangannya indah sekali," ucap Dara kagum.
"Kamu suka sayang?" Rey masih betah memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Iya,"
Rey mencoba menuntun rahang Dara agar sedikit menoleh ke samping, sehingga mempermudah dia untuk menikmati bibir manis Dara.
"Aku mencintaimu," ucap tulus Rey setelah melepas ciumannya.
"Aku juga mencintaimu,"
Bersambung~~