Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 60 Aku membutuhkanmu



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


Pria tampan bertubuh jangkung terlihat berjalan keluar dari lobby Bandara. Beberapa anak buah juga terlihat mengekori langkah kakinya dari belakang. Mobil mewah yang bertugas menjemputnya juga sudah terparkir di depan lobby.


Rey masuk ke dalam mobil pribadinya, sedangkan para anak buahnya menaiki kendaraan lain yang disediakan khusus oleh perusahaan untuk memfasilitasi kinerja para karyawan.


Selama 1 minggu, Rey melakukan monitoring langsung terhadap pekerjaan dari seluruh karyawannya yang bekerja di perusahaan cabang Kalimantan. Tidak hanya itu, kepulangannya tentu dengan membawa beberapa investor yang dapat meningkatkan nilai modal perusahaannya.


Dalam perjalanan, pria tampan tersebut terlihat sangat lelah. Tentu saja beberapa hari ini dia telah banyak menguras tenaga dan pikirannnya.


Rey mengambil benda pipih yang berada di dalam jas kerjanya. Membuka kunci password dengan menekan beberapa angka yang menunjukkan sebuah tanggal kelahiran seseorang. Kedua netranya tiba - tiba berubah sendu ketika melihat foto seseorang yang masih setia menjadi wallpaper ponselnya. Dengan cepat, ibu jarinya menuntun dia untuk mengganti wallpaper ponselnya dengan gambar pemandangan.


"Kamu pasti sudah menandatangani surat perceraian itu," gumamnya di dalam hati.


Senyuman getir terlihat menghiasi muka tampannya. Lalu dia memasukkan kembali HP pintarnya ke dalam saku jas.


"Pak, hentikan mobilnya," titah Rey kepada sopir pribadinya ketika melewati sebuah taman yang terlihat sepi.


Mobil yang ditumpanginya pun berhenti tepat di depan taman. Tanpa ada kata - kata kepada si sopir, Rey membuka pintu dan menurunkan kakinya keluar mobil. Kaki jenjangnya menuntun dia untuk masuk lebih dalam menuju taman yang terlihat sangat luas.


Rey melangkah pelan menyusuri jalananan taman yang terbuat dari batang pohon. Kedua matanya terlihat menyapu pemandangan yang terlihat sangat asri. Pikirannya melayang untuk bernostalgia.


* * *


Dara masih berkutat dengan dengan alat kerjanya. Berkas - berkas dokumen masih terlihat menumpuk di atas meja kerjanya. Wanita itu memang sudah memulai aktivitasnya di kantor semenjak 3 hari yang lalu. Kembalinya Bos besar di perusahaan Wangsa tentu disambut hangat dan senang oleh para karyawannya. Jabatan pemimpin perusahaan yang selama ini dialihkan ke Kayla kini sudah kembali ke empunya.


Dara yang terlalu fokus dengan pekerjaannya hingga tidak terasa jam sudah menunjukkan waktu pulang. Kebetulan semua pekerjaannya juga sudah selesai. Wanita cantik itu meregangkan otot - otot tubuhnya sebelum merapikan alat - alat kerjanya. Setelah semua hasil kerja tersimpan rapi dan aman, dia pun berlalu dari ruangan kerjanya.


Hari ini Dara sudah mulai menyetir mobil sendiri. Sebenarnya Kayla sudah beberapa kali menyuruh dia untuk memakai jasa supir pribadi karena masih khawatir dengan kondisi mata Dara, namun Dara masih saja ngotot ingin menyetir sendiri.


Dara melajukan mobilnya dengan kecepatan rata - rata. Setelah menembus kemacetan ibu kota kini jalanan terlihat lenggang pengendara. Dara menghentikan kendaraannya ketika melewati tempat yang dulu merupakan tempat favoritnya ketika dia masih remaja. Tempat itu terletak di kawasan perumah elit tempat dia tinggal.


Kira - kira setelah pernikahannya dengan Rey, dia sudah jarang mengunjungi tempat itu. Berniat menyegarkan otak dan pikirannya, Dara keluar dari sedan mewahnya dan mamasuki tempat yang ditumbuhi berbagai macam bunga dan pohon. Sebuah taman yang ditata sedemikian rupa oleh tangan profesional sehingga terlihat begitu indah dan menyegarkan.


Sangat cocok bagi orang yang ingin menenangkan pikirannya atau hanya sekedar untuk bersantai menghirup udara segar di tengah - tengah kota metropolitan yang penuh dengan polusi udara karena padatnya kendaraan.


Dara menyusuri jalanan setapak taman yang menuntun dia menuju sebuah danau buatan. Wanita cantik itu melihat bangku taman yang menghadap ke danau. Entah kenapa, kakinya melangkah begitu saja mendekati bangku tersebut.


Tangannya mengusap pelan sandaran bangku yang bewarna coklat tersebut. Bangku itu mengingatkan dia saat pertama kali dia bertemu dengan Rey. Kedua sudut bibirnya terlihat melengkung ke atas seakan ingatan akan kenangan di waktu itu adalah hal yang sangat manis.


"Kamu adalah saksi biksu atas awal mula cerita cintaku dengan pria menyebalkan itu," gumamnya sangat lirih.


Dara mendaratkan tubuhnya di atas bangku yang menghadap danau tersebut. Menutup kedua matanya seraya menikmati keheningan taman yang kebetulan sedang sepi, sehingga suasana alam sekitar begitu terasa. Suara cicitan burung yang bersautan dan alunan musik alam dari daun yang bergesekan karena ulah angin.


Dara menghela napas panjang dengan mata yang masih terpejam. Suasana taman yang tenang sangat mendukungnya untuk bernostalgia.


Tap...


Tap...


Tap...


Seketika Dara terperanjak dari duduknya saat mengetahui siapa pemilik suara langkah kaki tersebut. Dadanya bergetar hebat karena denyutan jantung yang begitu kuat.


Bukan lagi rasa kecewa atau benci yang mengisi ruang hatinya, namun besarnya rasa kerinduan yang kini menyelimuti.


"Rey?" bibir Dara reflek menyebut sebuah nama yang sebenarnya beberapa hari ini dia rindukan, akan tetapi rasa gengsinya mencoba menampik rasa itu. Suaranya terdengar sangat lirih, namun berhasil membuat seseorang disana menyadarinya.


Rey yang terlalu hanyut dalam pikirannya sehingga tidak menyadari langkah kaki mengantarnya menuju ke tempat yang sama dengan wanita yang beberapa hari ini sangat dia hindari sebisa mungkin. Matanya yang sedari tadi hanya menatap setiap langkahnya kini beralih kepada sumber suara yang baru saja menyebut namanya. Suara yang sangat dia hafal.


Kedua pasang bola mata bening saling terpaku. Jendela hati yang saling bertautan sejenak membiarkan rasa menguasainya.


Iya, hanya sejenak. Bahkan hanya beberapa detik saja. Rey mencoba memutus interaksi antara matanya dengan Dara. Mengalihkan pandangannya ke obyek lain. Yang dia pikirkan saat ini, pergi sejauh mungkin dari hadapan Dara. Tanpa ada rangkaian kata yang diberikan ke Dara, pria gagah tersebut membalikkan badan dan melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Rey...," Dara berusaha menghentikan Rey.


"Kemana saja kamu selama ini?" teriak Dara yang masih berdiri di tempatnya berpijak.


Rey masih tak bergeming. Dia masih kukuh melangkahkan kakinya menjauh.


"REY VANNO ERLANGGA!" teriak Dara lagi. Namun hal itu masih belum berhasil membuat Rey menghiraukannya yang membuat jarak mereka semakin menjauh.


Dara lalu mengambil salah satu sepatu yang membungkus kakinya, kemudian melemparnya tepat ke arah Rey dan mendarat sempurna pada punggung lebar Rey. Akan tetapi Rey masih mengacuhkannya. Sekali lagi, Dara mengambil sepatu sebelahnya yang masih tersisa. Dengan sekuat tenaga, Dara melayangkan lagi ke arah sasaran bidikan yang sama. Kali ini sepatu highheel tersebut mendarat lebih keras ke punggung Rey, yang membuat dia menghentikan langkahnya, namun masih enggan membalikkan tubuhnya ke arah Dara.


"Dasar pembohong! lagi - lagi kamu menyakitiku!" seru Dara. Kedua matanya mulai terlihat basah.


"Kamu bilang, sampai aku sudah terlalu lelah untuk membencimu sekalipun, kamu akan tetap di sisiku. Nyatanya kamu berbohong!" ucap Dara penuh tuntutan.


"Aku bahkan belum selesai membencimu, tapi kamu sudah pergi dari sisiku," sambungnya lagi. Kini butiran bening mulai berjatuhan di pipinya.


"Lagi - lagi kamu mengacuhkanku," Dara mulai terisak.


"Sebaiknya kamu segera menyerahkan surat gugatan cerai kepada Pengacara yang telah aku kirim," ucap Rey terdengar dingin yang masih membelakangi Dara.


"Jangan siksa dirimu dengan hidup bersamaku. Kamu berhak bahagia dengan pria lain," tambahnya lagi.


Tidak ingin memperlama suasana yang bisa membuat usahanya beberapa hari ini goyah, Rey pun melanjutkan langkah kaki yang tadi sempat terhenti. Kini langkah kakinya terlihat lebih panjang dan cepat.


"Nggak bisa! kamu akan tetap menderita jika tetap hidup bersamaku. Carilah kebahagiaanmu sendiri," batin Rey seraya meninggalkan Dara.


"Dasar pria menyebalkan! kenapa di saat dulu aku mulai melupakanmu kamu datang? dan sekarang ketika aku membutuhkanmu malah pergi! teriak Dara yang suaranya mulai terdengar jauh.


"Shit! Nggak boleh goyah. Sekali aku membalikkan badanku, semua usahaku selama ini pasti berakhir sia - sia," batin Rey yang berusaha keras meyakinkan dirinya.


Tubuh Rey sudah menghilang di hadapan Dara. Dia merasa hubungan mereka memang sudah tidak bisa diperjuangkan lagi. Dara kini membalik tubuhnya dan juga melangkah pergi dari tempat yang menyimpan kenangannya bersama Rey.


"Kamu jahat Rey. Lagi - lagi kamu menyakitiku, Hiks!" Dara melangkah lamban tanpa semangat. Tanpa disadari, dia berjalan tanpa mengenakan alas kaki.


"Aku sangat membutuhkanmu," isak tangisan Dara semakin pecah. Dia meremas kain di dadanya yang terasa sangat nyeri.


Bersambung~~