Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 32 Sang Ayah pergi untuk selamanya



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Kayla telah memantapkan keputusan. Dia tidak ingin menunggu sampai hari esok. Bagaimanapun juga dia harus memberitahu Dara tentang kondisi Ayahnya. Dara berhak tahu.


"Ra, gue mau kasih tahu sesuatu," ucap Kayla.


"Ada apa Kay? kok muka lo tiba - tiba berubah serius gitu?" tanya Dara heran.


Percakapan mereka juga menarik perhatian Radit yang juga berada dalam satu ruangan dengan mereka.


"Ayah lo sakit dan dia sekarang juga berada di Rumah Sakit ini," ungkap Kayla.


Sontak hal itu buat Dara terkejut, begitu juga Radit.


"Apa?! kenapa lo nggak beritahu gue dari tadi?"


"Antar gue sekarang Kay!" pinta Dara.


Dengan kondisi tubuh masih lemah Dara memaksakan dirinya turun dari ranjangnya dan ingin melangkah menuju pintu keluar. Namun langkahnya terhenti, karena selang infus mengurangi ruang geraknya. Dengan cekatan Dara mencabut jarum infus yang masih melekat di tangannya.


"Ra! kenapa lo lepas jarum infusnya? lo masih membutuhkannya," panik Kayla.


"Ra! tunggu dulu!" seru Radit.


Namun Dara tak bergeming. Dia tetap gencar melanjutkan langkahnya keluar kamar. Dara sudah tidak bisa menahannya terlalu lama. Membayangkan Ayahnya terkapar lemah sungguh membuat Dara takut akan kehilangan.


"Ayahh.." gumam Dara.


Dara menyusuri lorong rumah sakit diikuti Kayla dan Radit. Di tengah - tengah, mereka berpapasan dengan Rey yang memang berniat mengecek kondisi Dara. Tanpa seucap kata, Rey pun mengikuti kemana mereka pergi. Meskipun rasa khawatir terus saja menghampirinya karena melihat kondisi Dara sekarang.


Mereka melewati beberapa bangsal tempat pasien dirawat hingga akhirnya langkah mereka terhenti di depan kamar VIP tempat Pak Dimas dirawat. Dengan sangat hati - hati, Dara memutar knock pintu dan mendorongnya ke dalam.


Dari dalam terlihat Pak Dimas terbaring lemah di atas ranjang Rumah Sakit yang di temani oleh asistennya. Hatinya sungguh sakit melihat tubuh sang Ayah sudah terpasang beberapa alat medis yang baginya begitu asing. Beberapa jarum juga terlihat singgah pada tubuh renta Pak Dimas.


Dara melangkah cepat mendekati Ayahnya yang masih tak sadarkan diri.


"Ayah Dara datang,"


"Yah kenapa kamu berada disini?"


"Kamu nggak boleh sakit seperti ini," ucap Dara sembari mengusap dan mencium tangan sang Ayah. Guratan khekawatiran begitu melekat pada mukanya.


"My little princes," terdengar suara lemah Ayah Dimas yang ternyata kehadiran Dara membuat dia sadar.


"Iya Ayah, ini Dara, your little princes,"


"Ayah harus cepat sembuh,"


"Kamu nggak boleh lama - lama disini,"


"Dara nggak suka," gerutu Dara.


"Putriku, kalau ayah sudah tidak ada berjanjilah untuk hidup bahagia," pinta sang Ayah lemah.


"Ayah tidak akan kemana - mana. Ayah akan tetap tinggal disini bersama Dara!" kedua kelopak mata Dara mulai tergenang bulir - bulir bening.


"Sayang, maafkan Ayah yang belum bisa membuatmu bahagia," terulas senyuman pahit pada mukanya.


"Tidak! Ayah selalu buat Dara bahagia. Kamu adalah Ayah terbaik yang pernah ada," air mata Dara mulai luruh membasahi pipinya.


"Berjanjilah, putri kesayangan Ayah ini akan hidup bahagia. Jadilah wanita yang kuat," sang Ayah menggenggam erat tangan putrinya. Hingga akhirnya dia merasakan sesak luar biasa.


Kepanikan Dara semakin memuncak melihat Ayahnya kesulitan dalam bernapas. Tubuh sang Ayah terlihat kejang. Raut mukanya semakin pucat menahan kesakitan yang luar biasa.


Tidak membutuhkan waktu yang lama. Seorang Dokter datang memasuki ruangan yang di ikuti seorang perawat di belakangnya.


"Dok! tolong selamatkan Ayah saya Dok!" pinta Dara di sela isakan tangisannya.


Dengan keahliannya, sang Dokter segera melakukan beberapa pemeriksaan pada pasiennya yang sudah ta sadarkan diri beberapa waktu yang lalu.


Tiiiiiit... Terdengar suara nyaring dari alat patient monitor yang menampilkan garis lurus.


Dengan sigap, sang Dokter memberikan teknik RJP. Dia meletakkan kedua telapak tangannya pada dada Pak Dimas dan mulai menekan dadanya beberapa kali. Namun usahanya itu belum menunjukkan respon.


Sang Dokter memberikan isyarat pada perawat di sampingnya untuk menyiapkan alat pemacu jantung yang bertenaga listrik. Setelah alat sudah siap, dengan cekatan dia menempelkan alat itu di dada Pak Dimas.


Tubuh Pak Dimas sedikit terangkat beberapa kali karena menerima kejutan dari alat medis tersebut.


Rey yang tak tega melihat keadaan Dara mulai memeluk tubuh istrinya itu. Mencoba memberi ketenangan. Sesekali tubuh Rey terasa bergetar karena isakan tangis Dara yang menderu.


Sedangkan Kayla dan Radit berada di luar ruangan. Kecemasan juga mereka rasakan. Mereka berdua hanya bisa berdoa yang terbaik.


Beberapa waktu sudah terlewati. Terlihat sang Dokter memberhentikan upayanya. Terlihat raut muka duka pada mukanya.


"Maaf, saya sudah melakukan semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain," ucap sang Dokter dengan berat hati.


"Apa maksud Dokter?!"


"Tidak, Ayah saya masih hidup!" Dara menangis seraya mendekati tubuh sang Ayah. Beberapa kali dia mengguncang tubuh dingin di depannya.


"Ayah! ini semua bohongkan?!"


"Bercandamu kelewatan Yah!"


"Ayo sekarang bangun! kita pulang sekarang. Tidak baik terlalu lama disini," rancau Dara yang masih belum percaya dengan kenyataan bahwa sang Ayah telah tiada.


"Ayah! jangan begini. Dara nggak suka!" Dara berteriak.


"Katanya Ayah ingin Dara dan Rey menginap di rumah?!"


"Kalau Ayah pergi, bagaimana putrimu ini bisa kuat menjalani pahitnya hidup!"


"Dara mau ikut Ayah saja. Dara sudah nggak kuat Yah," Dara menangis hebat. Dia memeluk erat tubuh Ayahnya. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman pada kening dan pipi sang Ayah.


Hati Rey sungguh sangat terpukul melihat kesedihan istrinya yang begitu besar. Perkataan Dara sungguh menusuk hatinya hingga Dasar. Selama ini dia telah menyayat hati Dara dengan kedua tangannya sendiri.


* * *


Dara melihat jenazah Ayahnya untuk terkahir kalinya sebelum dimasukkan ke dalam liang lahat kubur. Menyaksikan tubuh yang terbungkus kafan putih itu yang berangsur - angsur tenggelam ke dalam bumi.


Para peziarah sudah pulang. Kini tinggal Dara dan Rey serta kedua sahabatnya Radit dan Kayla yang setia menemani.


Dara masih meratapi kuburan sang Ayah yang masih basah itu. Mengusap lembut batu nisan yang tertulis jelas nama Dimas Adi Wangsa.


"Sayang sebaiknya kita pulang," Saran Rey.


Dara masih urung membuka suara. Apalagi perasaan terluka dan kecewa kepada suaminya itu masih tersimpan rapi di hatinya. Dia belum bisa melupakan peristiwa - peristiwa yang beberapa hari terakhir yang begitu menyayat hati. Semua ini terlalu tiba - tiba bagi Dara.


Belum lama dia harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya harus menikahi wanita lain. Di ikuti kehilangan calon bayi yang sudah sangat lama dinantikan kehadirannya. Dan masih harus kehilangan sang Ayah, satu - satunya keluarga yang dia miliki. Sang Ayah yang paling dia sayangi.


Cobaan dan ujian yang dia terima datang secara beruntun, seakan tanpa belas kasih. Betapa besar dan berat cobaan yang Tuhan berikan padanya.


"Non, sepertinya saya harus memberi tahu anda sesuatu," ucap ragu si asisten almarhum Pak Dimas yang ternyata masih berada di pemakaman. Hal itu tentu mengambil perhatian keempat orang yang sedang berduka itu.


"Apa Pak?" tanya Dara lirih.


"Sebenarnya, sebelum almarhum Pak Dimas drop. Dia kedatangan seorang tamu bernama Bella," Jelas si asisten.


"Setelah mendengar semua kabar dari Bella, almarhum Pak Dimas sangat terkejut, hingga berakhir seperti sekarang," bebernya lagi.


Benar saja, hal itu membuat Dara terkejut bukan main. Begitu juga dengan Rey, Radit, dan Kayla. Mata Dara membulat di balik kelopak matanya yang sembab karena terlalu lama menangis.


Rasa kesedihan karena sedang berkabung kini beralih menjadi rasa amarah dan kebencian yang begitu besar.


Bersambung~~