
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂 Selamat membaca 🍂
Hari sudah menjelang petang. Kayla baru saja sampai di basement apartemennya. Dia berjalan menuju ruang apartemen dengan langkah lunglai tidak bersemangat. Wanita bertubuh semampai tersebut menghempaskan tubuhnya pada sofa ruang tamu. Dia terlihat beberapa kali melirik layar ponselnya.
Setelah percakapannya bersama sang pujaan hatinya pada tadi malam, Radit belum juga menghubunginya hingga saat ini. Bahkan Kayla beberapa kali mencoba menelepon dan mengirim pesan singkat, namun tidak ada balasan.
Kayla menyandarkan kepalanya pada kepala sofa. Matanya menatap lurus langit - langit, mulai menerawang percakapannya dengan Radit di malam itu.
FLASHBACK ON
Radit dan Kayla sedang menikmati pemandangan malam kota dari Jembatan Penyeberangan Orang. Jembatan yang dibangun dengan konsep baru dengan ornamen unik. Memiliki bentuk bergelombang seperti kobaran api, sehingga sangat cocok untuk dijadikan spot berfoto.
Malam ini Radit dan Kayla memang sedang ingin menikmati malam dengan berjalan kaki, hingga akhirnya mereka berhenti pada jembatan penyeberangan.
Suasana jembatan sedang lenggang pengguna pejalan kaki, jadi Kayla membiarkan Radit memeluk tubuhnya dari belakang seraya menikmati lampu - lampu jalanan kota.
Radit meletakkan dagunya pada tulang selangka Kayla. Sesekali dia mendaratkan kecupan ringan pada leher jenjang Kayla dan menghirup dalam - dalam aroma khas Kayla yang sudah menjadi candu baginya.
"Ish! Radit, jangan lakuin disini!" pinta Kayla yang merasa geli karena tindakan nakal Radit.
"Kalau gitu ayo kita kembali saja. Kita lakuin di rumah," ucap Radit dengan senyuman nakalnya.
"Jangan macam - macam!"
"Gue nggak akan macam - macam. Cuma peluk cium saja kok," Radit mulai merengek.
"Radit! jangan nakal, kita baru pacaran."
"Kayla?" panggil Radit lembut.
"Hmmm?"
"Bagaimana kalau kita nikah saja?" ucap Radit yang tiba - tiba serius.
"Apa? lo ceritanya sekarang ngajak gue nikah?" tanya Kayla sedikit tertegun.
"Iya," Radit menganguk dengan percaya diri.
"Hiiish!" Kayla mendesis.
"Lo nggak mau ya?" tanya Radit yang melihat wanitanya seperti sedikit kecewa.
"Lo nggak romantis banget sih?" Kayla sewot seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nggak ada cincin, bunga, dan makan malam romantis," sambungnya lagi.
"Hahaha.. gue lupa. Tapi Kay, gue serius. Ayo kita menikah," ucap Radit setelah memutar tubuh Kayla untuk menghadapnya.
Kedua pasang iris mereka saling terkunci. Menatap lekat dan begitu dalam. Saling menyalurkan perasaan hangat. Berharap perasaan cinta tidak akan hilang dilekang waktu.
"Mau ya?" Radit berharap tidak akan ada penolakan.
Kayla tidak pernah membayangkan bahwa pria yang dulu dia cintai dalam diam selama bertahun - tahun kini ada di hadapannya dan meminta untuk menikahinya. Wanita mana yang tidak akan bahagia jika berada di posisinya saat ini.
"Iya, gue mau nikah sama lo, tapi ada syaratnya?"
"Apa syaratnya?"
"Lo harus minta restu dulu pada kakek dan nenek gue dan... sama Bokap gue," ucap Kayla yang terlihat berat di akhir kalimatnya.
"Baik, gue akan cari waktu yang untuk menemui mereka," timpal Radit seraya mengusap lembut pipi kekasihnya.
"Tapi kenapa lo terlihat sedih begitu saat nyebut kata Bokap?" tanya Radit yang menyadari kesedihan Kayla.
"Gue sudah lama banget nggak bertemu dengan Bokap. Setelah kematian Nyokap, Gue benar - benar sangat kecewa sama dia. Tapi bukan berarti gue nggak butuh keberadaannya. Tapi dia malah hampir nggak pernah nemuin gue. Dia terlalu sibuk dengan keluarga barunya. Dan gue nggak yakin apa dia mau datang untuk jadi wali gue saat pernikahan," ucap Kayla sendu.
"Sudah, jangan bersedih. Sekarang ada gue di sisi lo," ucap pria itu seraya mendekap hangat tubuh kekasihnya.
FLASHBACK OFF
Akhirnya Kayla mengakhiri lamunannya dan berniat membersihkan diri. Semoga setelah selesai mandi, Radit segera menghubunginya. Itu yang dipikirkan Kayla saat ini.
* * *
Radit kini sedang berada di kediaman Pak Ridwan Ayah Kayla. Malam setelah percakapannya dengan Kayla yang membahas tentang rencana pernikahan mereka, keesokan harinya Radit langsung menjalani syarat yang diajukan Kayla.
Terlihat ada seorang pria tua yang berusia hampir menginjak 60 tahun sedang duduk di hadapannya. Pak Ridwan memandang Radit dengan tatapan bertanya - tanya. Pasalnya dia belum pernah melihat seorang pemuda yang sedang berada di hadapannya sekarang.
"Maaf, kamu siapa dan ada perlu apa?" tanya Pak Ridwan.
"Pertama saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Radit," ucapnya sopan.
"Terus ada perlu apa kamu datang kemari?"
"Saya datang kemari karena ingin meminta restu dari anda untuk menikahi putri anda,"
Pak Ridwan berfikir sejenak. Dia mencoba mencerna perkataan Radit. Putrinya yang mana yang akan dia nikahi, karena dia memiliki dua putri dari dua wanita yang berbeda. Satu putri dari istri pertama yang pernah dia tinggalkan dan putri satunya lagi dari istri ke duanya yang kini tinggal bersamanya.
"Maksut kamu putri saya yang mana?"
"Putri anda bernama Kayla. Saya ingin membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Maka dari itu saya mohon restuilah kami. Ini juga permintaan Kayla,"
Seketika hati pria tua itu bergetar. Tiba - tiba rasa bahagia menyeruak di hatinya. Meskipun selama ini rasa penyesalan selalu membuat dia tidak punya muka untuk menemui putrinya, namun Pak Ridwan masih sering mencuri - curi waktu untuk mengetahui keadaan Kayla.
Sungguh, sebagai seorang Ayah dia masih sangat peduli kepada Kayla. Namun selain rasa bersalah atas kematian istri pertamanya, istri ke dua nya selalu mengancam akan membawa pergi anak dari hasil buah cinta mereka jika masih berusaha menemui Kayla.
"Kayla berharap, anda bersedia menjadi walinya pada pernikahannya kelak,"
Kedua mata Pak Ridwan sudah memerah, netra tuanya mulai berkabut. Tetesan air mata mulai berjatuhan. Dia terharu karena putri yang dia tinggalkan, putri yang dia sia - siakan masih menganggapnya sebagai Ayah.
"Apa saya pantas menjadi walinya? saya sudah banyak buat dia kecewa," keluh Pak Ridwan.
"Putri anda pernah bercerita, meski dia pernah sangat kecewa pada Ayahnya, namun dia masih sangat membutuhkan keberadaan Ayahnya," beber Radit. Berharap hubungan kedua antara Ayah dan anak itu bisa kembali hangat seperti dulu.
"Benarkah?" sekali lagi pria tua itu tertegun.
"Bersikap baiklah pada putriku, sayangi dan lindungilah dia selalu. Cukup satu pria seperti saya yang buat dia kecewa," tutur Pak Ridwan dengan harapan penuh, bahwa pria muda di depannya sekarang bisa membahagiakan putrinya.
"Apa ini berarti anda merestui hubungan kami?" tanya Radit untuk meyakinkan.
"Ya, tentu saja saya merestui kalian. Segera kirim undangan pernikahan kalian, saya pasti akan datang," balasnya penuh haru.
"Terimakasih. Sekali lagi terimakasih," senyuman Radit merekah, hatinya merasa senang dan lega.
Akhirnya Radit pamit dari kediaman calon mertua. Setelah dari sana dia berniat langsung mendatangi kediaman kakek dan nenek Kayla yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari kediaman Pak Ridwan.
Selang 1 jam perjalanan, mobil Radit sudah terparkir di pekarangan rumah sepasang kakek dan nenek yang akan dia mintai restu untuk menikahi cucunya.
"Ayo Radit, kurang 1 langkah lagi, semangat!" Radit menyemangati dirinya sendiri, lalu dia melangkah mendekati pintu masuk rumah tua yang bernuasa jaman penjajahan belanda, namun masih terlihat indah dan bersih. Terdapat beberapa tanaman hias pada teras rumah.
Radit menarik napas dalam - dalam dan menghembusnya pelan untuk menetralkan detak jantungnya. Hal itu juga dia lakukan sebelum bertemu Ayah Kayla beberapa waktu yang lalu.
Tok.. Tok.. Tok..
Radit mengetuk pintu. Dia menunggu beberapa detik namun belum ada respon.
Tok.. Tok.. Tok..
Dia mengetuk pintu sekali lagi.
"Iyaa, tunggu sebentar," terdengar suara wanita yang sudah renta dari dalam rumah.
Sedangkan di luar pintu, Radit sudah mempersiapkan senyuman termanisnya untuk memberikan kesan pertama yang baik pada kakek dan nenek Kayla.
Daun pintu mulai terbuka, seorang wanita tua muncul dari balik pintu.
"Selamat siang Nek," sapa Radit ramah.
"Kamu?! kenapa datang lagi kemari?!" teriak Nenek Wina seraya memukul tubuh Radit menggunakan sapu yang sedang dia pegang.
"Aw! sakit Nek!" Radit mengadu sambil menangkis serangan sapu mematikan dari wanita lansia tersebut.
"Berani - beraninya kamu menampakkan mukamu lagi!" Nek Wina masih melayangkan sapunya berkali - kali.
Radit mencoba menghindari serangan brutalnya dengan sedikit menjauh menuju ke pekarangan, namun Nek Wina masih terus mengejarnya dengan mengayun - ayunkan sapu ke arahnya.
Radit bersembunyi di balik pohon Mangga yang berada di pojok halaman rumah, tapi cukup sulit untuk kabur dari jangkauan wanita lansia tersebut. Di usianya yang renta itu, dia masih bisa dikatakan terlalu lincah dan tak kenal lelah.
Sedangkan Kakek Wono yang mendengar suara keributan dari dalam rumah segera mendatangi sumber suara. Kedua netra tuanya melihat ke arah istrinya yang sedang gencar memukul seseorang pria muda yang tidak dikenal.
"Buk, hentikan," teriak Kakek Wono.
Pria tua itu melangkah cepat untuk menghentikan aksi sang istri. Dengan cekatan dia mengambil alih sapu dari tangan Nenek Wina.
"Buk, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu memukul pria ini, terus siapa dia?" tanyanya heran.
"Pak, kok masih tanya? Dia kan Ridwan," balas sang istri yang masih dengan raut muka geram.
"Buk, kamu salah orang. Dia bukan Ridwan," jelasnya kepada Nenek Wina.
"Kamu siapa? dan mau apa datang kemari?" tanyanya Kakek Wono setelah mempersilahkan Radit masuk ke dalam rumah.
"Saya Radit Kek, temannya Kayla," jawab Radit yang masih meringis karena kesakitan, namun tidak meninggalkan sikap sopannya kepada orang yang lebih tua.
"Oala, kamu temannya Nak Kayla? Maaf ya, Nenek pengelihatannya emang sudah sedikit rabun, jadi dia tidak bisa mengenali wajah orang dengan jelas," ucap si Kakek.
"Itu tadi bukan sedikit rabun, tapi sudah rabun berat. Sepertinya aku mengerti darimana Kayla memiliki kekuatan tangannya. Ternyata ada yang diturunkan," gerutu Radi di dalam hati.
"Nenek juga minta maaf ya karena tadi sudah mukul kamu pakai sapu," ucap Nenek Wina menyesal.
"Ayo teh nya diminum dulu," sambung Nek Wina lagi.
"Iya Nek, terimakasih," ucap Radit sedikit mangangguk sopan dan dengan hati - hati mengambil cangkir teh yang disuguhkan di atas meja.
"Terus Nak Radit ada perihal apa datang kemari?" sela Kakek Wono setelah meletakkan cangkir tehnya yang baru saja diseruput.
Radit pun mulai menjelaskan tujuan atas kedatangannya.
* * *
Kini Radit sudah berada dalam perjalanan menuju apartemen Kayla. Senyumannya masih terus tergambar pada mukanya. Perasaan lega setelah melewati sedikit ketegangan sudah memenuhi hatinya.
Akhirnya restu dari Ayah, Kakek dan Nenek Kayla sudah berada di genggaman tangannya. Dia sudah tidak sabar ingin menemui sang pujaan hatinya dan bercerita tentang usahanya hari ini.
1 jam perjalanan sudah ditempuh. Kini Radit sudah berada di depan pintu apartemen Kayla.
Ting tong..!
Ting tong..!
Namun daun pintu belum juga terbuka. Radit berinisiatif memanggil Kayla melalui sambungan panggilan telepon.
"Kay, lo dimana? gue di depan pintu apartemen lo sekarang,"
"Oh, tunggu sebentar. Gue baru saja dari kamar mandi,"
Tut. Panggilan berakhir. Selang tidak lama pintu terbuka dan terlihat kepala Kayla yang menyembul dari balik pintu. Seketika mata Kayla membulat. Kayla terkejut melihat keadaan muka kekasihnya saat ini.
Bersambung~~