
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Rey menatap sendu muka cantik istrinya yang terlihat pasi. Tujuh Hari setelah insiden tabrakan, Dara masih setia dengan kediamannya di bawah alam sadar. Matanya masih enggan untuk sekedar melihat warna dunia.
Pria tampan yang masih setia menunggu di sebelahnya membelai lembut tangan sang istri. Sesekali memberi kecupan hangat sebagai tanda sayang.
Papa Rengga dan Mama Rani yang juga dalam satu ruangan menatap sendu pemandangan yang ada di hadapannya sekarang.
"Sayang, Mama dan Papa akan pulang dulu. Tadi Papamu menyempatkan diri membelikan makanan untukmu. Jangan lupa dimakan ya," ucap sang Mama seraya mengusap lembut punggung Rey yang membelakanginya.
"Jangan siksa dirimu, makanlah agar kamu punya tenaga untuk menjaga istrimu," sela Papa Rengga yang beberapa hari ini melihat putranya jarang makan.
"Baik Pa," ucap Rey lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.
"Ya sudah, nanti sore Mama dan Papa akan kembali lagi," Papa Rengga dan sang istri pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Saat mereka sudah sampai di ambang pintu, mereka berpapasan dengan Kayla dan Radit yang baru datang untuk menjenguk Dara.
"Papa? Mama? kalian mau pulang?" tanya Radit sedangkan Kayla hanya tersenyum ramah.
"Iya sayang, nanti kami akan kembali lagi," jawab Mama Rani.
"Ya sudah, hati - hati di jalan Ma, Pa,"
"Iya, kalian segeralah masuk, temani sahabatmu itu. Tolong bujuk dia untuk makan," pinta Mama Rani penub harapan, kemudian berlalu pergi dari hadapan kedua anak muda tersebut.
* * *
"Sayang, sampai kapan kamu akan tetap tidur?" gumam Rey lirih seraya menangkup dengan hati - hati tangan wanita yang masih terpasang jarum infus tersebut.
"Sebesar itukah kebencianmu sehingga kamu masih tidak mau membuka matamu untuk melihatku? hemm?" suara Rey terdengar sendu.
"Lebih baik kamu memakiku sepanjang hari daripada aku harus melihatmu terdiam seperti ini,"
"Bangunlah dan aku akan menuruti semua permintaanmu? termasuk pergi dari kehidupanmu. Tapi berjanjilah untuk bangun," kini suara Rey terdengar serak diikuti butiran air yang menetes jatuh di atas tangan Dara. Hatinya terasa perih mendengar ucapannya sendiri.
"Maafkan aku, aku mohon maafkan aku. Selama ini aku terlalu egois tanpa memikirkan perasaanmu," kini isakan tangis mulai terdengar mengisi ruangan.
"Aku sadar, rasa cintaku yang terlalu dalam kepadamu justru membuatmu menderita. Aku sudah menyadari itu dan aku tidak akan memaksamu lagi. Maka dari itu bangunlah. Aku akan memenuhi semua permintaanmu. Aku akan pergi dan kamu bisa bebas,"
"Sungguh melihatmu seperti lebih sangat menyakitkan bagiku," Rey masih saja bergumam tanpa menghiraukan keberadaan Radit dan Kayla yang sudah berada di belakangnya beberapa saat yang lalu.
Kayla dan Radit hanya bisa memandang sendu punggung Rey yang terlihat berguncang karena menangis.
Radit mencoba mendekati sahabatnya yang juga merupakan viralnya. Tapi entah sejak kapan rasa kecewanya terhadap Rey karena telah menyakiti Dara kini mulai luruh sedikit demi sedikit. Dia memberi tepukan penyemangat pada pundak kekar Rey yang terasa bergetar.
"Berhentilah menangis seperti anak kecil, ingusmu mengotori tangan Dara. Dia akan marah kalau waktu sadar tangannya sudah dipenuhi ingusmu," Radit mencoba mencairkan suasana sedih.
Rey hanya menatap tajam kepada sahabatnya yang selalu bersikap bar - bar itu.
"Makanlah dulu, biar lo ada tenaga untuk melawanku. Kalau lo lemah, terlalu mudah bagiku untuk merebut Dara darimu," seloroh Radit tanpa menghiraukan tatapan tajam Rey.
Rey menghela napas panjang. Mulai mengusap cairan bening yang membasahi pipinya, sehingga hanya menyisakan kedua matanya yang masih memerah.
Rey membenarkan perkataan Radit yang meskipun terdengar menyakitkan itu. Meskipun sekarang dia bukan lagi pasien Rumah Sakit semenjak dua hari yang lalu, tapi tubuhnya yang memang belum pulih sepenuhnya karena menjadi salah satu korban tabrakan beberapa hari yang lalu juga membutuhkan asupan makanan.
"Gue akan makan dan keluar sebentar. Gue titip istriku, tolong jaga dia," pinta Rey dengan nada yang masih tidak bersemangat. Dengan langkahnya yang tak bertenaga dia berlalu pergi sesudah meraih makanan yang Papa Rengga belikan sebelum dia pulang.
Radit menghela napas dan mendudukkan dirinya di atas kursi samping ranjang tempat Dara terbaring.
Selama menjalin persahabatan, Radit sangat mengenali Rey. Pria yang dulu mendapat julukan playboy di sekolahannya tidak pernah sekalipun menangis karena wanita. Seorang playboy namun tidak pernah menyentuh bahkan hanya mencium para kekasihnya itu paling anti membiarkan air matanya terbuang sia - sia hanya untuk wanita. Namun sekarang sudah terbalik. Radit menerawang kembali ingatannya ketika Rey beberapa kali menangis bahkan hingga sesenggukan karena Dara.
"Lo juga harus kuat," sela Kayla yang membuyarkan pikirannya yang melayang.
* * *
Mama Rani terlihat berdiri di depan pintu apartemen mewah milik Arka dan Nandira. Dia terlebih dahulu menghubungi Nandira tentang rencana untuk datang ke apartemennya.
Sebelum menekan tombol berlogo lonceng yang terletak di samping pintu, dia beberapa kali menghirup napas dan menghembuskannya pelan guna meminimalisir amarah yang sedang merajainya saat ini.
Ting tong... Ting tong...
Cukup lama Dia menunggu dan akhirnya pintu yang bertulisan angka 16 itu terbuka. Terlihat Nandira menyambut dengan malas dari balik daun pintu.
"Tante? cepat sekali nyampainya? perasaan baru beberapa menit yang lalu teleponnya mati," ucap Nandira seraya membuka lebih lebar daun pintu sebagai tanda mempersilakan tamunya masuk.
Mama Rani yang mengerti maksud dari Nyonya Rumah melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen.
"Ada apa Tante datang kemari? tidak seperti biasanya?" tanya Dira tanpa mempersilahkan tamunya duduk terlebih dahulu.
Rani menggelengkan kepala pelan mendapati perlakuan kurang sopan dari mantan calon menantunya itu. Bisa - bisanya dia dulu memaksa putranya untuk bertunangan dengannya.
"Aku mendengar semua yang kamu katakan ke menantuku di saat acara pernikahan Jenita beberapa hari yang lalu,"
"Terus?" tanya Dira seraya mendaratkan bokongnya di atas sofa ruang tamu.
"Kamu harus menjelaskan semuanya ke Dara bahwa semua perkataanmu waktu itu adalah fitnah," pinta Mama Rani.
"Ayolah, buat apa dijelaskan lagi? bukankah Tante senang hubungan Rey dan Dara hancur? harusnya kamu berterimakasih kepadaku," timpal Dira santai diikuti tawa sindiran.
"Itu dulu. Sekarang aku sudah menyesalinya dan aku lebih memilih kebahagiaan putraku," sanggah Mama Rani.
"Aku tidak akan menjelaskan apa - apa kepadanya," tolak sang Nyonya Rumah.
"Perkataanmu itu menciptakan kesalahpahaman antara Rey dan Dara,"
"Itu hanya kesalah pahaman kecil, tidak perlu dibesar - besarkan," timpal Dira meremehkan.
"Lagian menantumu itu sedang terbaring lemah di Rumah Sakit. Paling sebentar lagi juga mati, jadi tidak perlu dijelaskan lagi bukan?" terdengar nada mengejek dalam perkataan Dira.
"Kamu akan menyesali perbuatanmu," ancam Mama Rani.
"Aku tidak akan menyesal. Buat apa aku menyesal?"
"Aku tidak yakin kamu akan tetap percaya diri dengan ucapanmu itu setelah melihat apa yang aku dapat," ucap Mama Rani seraya menunjukkan sesuatu yang tersimpan di ponselnya.
Sebuah foto yang menampilkan Nandira sedang bercumbu dengan selingkuhannya di sebuah kafe.
Nandira sontak berdiri dari tempat duduknya karena syok. Matanya membulat sempurna. Napas tercekat di kerongkongan. Dia tidak percaya mantan calon mertuanya itu mempunyai foto itu.
"Darimana Tante mendapatkan foto itu?"
"Tidak penting darimana aku mendapatkannya. Sebaiknya sekarang kamu pilih, menjelaskan yang sebenarnya kepada Dara ketika dia sudah siuman atau foto ini akan berpindah ke ponsel suamimu," Mama Rani memberi dua pilihan.
"Dasar wanita tua brengsek! segera hapus foto itu atau aku ak..!" Hardikan Dira terputus karena sesuatu melayang ke pipinya.
Plakkk!
Suara tamparan terdengar menggema mengisi ruangan. Nandira terkejut akan tindakan nekat Mama Rani yang melayangkan tamparan keras pada pipinya.
"Berani - beraninya ya kamu berkata tidak sopan kepadaku?!" Mama Rani mulai tersulut emosi.
"Kamu akan menyesal karena mencoba mengusik rumah tangga putraku. Dasar wanita tukang selingkuh!" Hardik Mama Rani.
"Kalau kamu tidak menjelaskan semua perkataanmu waktu itu kepada Dara di saat dia siuman, siap - siap kamu akan diceraikan suamimu karena foto ini," ancam Mama Rani.
Dengan emosi yang masih menggebu - gebu dia berlalu pergi meninggalkan wanita laknat yang sedang mengusap pipinya yang masih terasa panas itu.
Sebenarnya, meskipun Nandira bersedia meluruskan semua perkataannya kepada Dara, dia akan tetap memberitahu Arka keponakan kesayangannya itu tentang kebusukan istrinya selama ini. Arka adalah orang yang baik, Mama Rani tidak rela keponakannya itu dikhianati.
Bersambung~~