Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 77 Happy Ending.



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


3 tahun kemudian, di kediaman Rey dan dara.


Sudah hampir 2 jam, sepasang sahabat itu berkutat dengan alat tempur dapurnya. Beberapa menu makan siang sudah tersaji di atas meja makan.


"Akhirnya selesai juga," ucap Dara seraya melepas apron yang melekat pada tubuhnya.


"Ini sudah waktunya jam makan siang, sebaiknya aku panggil para lelaki dan anak - anak," timpal Kayla dan melangkahkan kaki menuju ruang keluarga.


Sesampainya di ruang keluarga, Kayla dibuat gedek dengan kedua pria yang berstatus Ayah tersebut.


"Bukankah tadi aku memintamu untuk menjaga anak - anak?" cerca Kayla kepada Radit yang sedang asyik bermain Playstation bersama Rey.


"Anak - anak anteng kok sayang, mereka sedang asyik bermain di ruang bermain," timpal Radit tanpa mengalihkan pandangannya pada layar pipih berukuran besar itu. Tangannya masih asyik menekan - nekan tombol Game Stick.


Sedangkan Dara yang juga mengekori Kayla terlihat mendengus melihat kelakuan kedua Ayah tersebut. Dia lalu menuju ke ruang bermain yang terletak di sebelah ruang keluarga untuk melihat anak - anak.


Sedangkan di sudut ruang bermain, Kenzie terlihat menekuk mukanya.


"Kenapa kalian selalu merebut mainanku? Kakak kan sudah kasih mainanku yang lainnya ke kalian," ucap Kenzie yang terlihat cemberut.


"Kak Ken, Tata ingin mainan itu," rengek anak yang usianya hanya berbeda 8 bulan lebih muda dengan Kenzie sembari menunjuk dua mainan robot Iron Man yang dipegang Kenzie.


"Tito juga mau mainan itu Kak Ken," kembaran Tata juga merengek.


Dengan berat hati si kecil Kenzie yang memang usiannya lebih tua memilih mengalah dan memberikan kedua robot mainannya kepada Tata dan Tito. Lalu dia berpindah ke pojok ruangan dengan muka masamnya, namun sepasang anak kembar Tata dan Tito mengekorinya.


"Kak Kenzie marah ya?" tanya Tata.


"Kak Kenzie jangan marah, nanti Tito sedih," sela Tito dengan mimik muka sedih, kedua sudut bibirnya terlihat melengkung ke bawah.


Kenzie hanya menggelengkan kepalanya tidak ingin menjawab pertanyaan kedua saudara kembar tersebut.


Dara terlihat muncul memasuki ruang bermain. Melihat gelagat si buah hatinya membuat dia penasaran dan ingin bertanya.


"Kakak Kenzie kenapa mukanya murung begitu?" tanya Dara yang mulai menjongkok untuk menyamakan posisinya dengan putranya.


"Kalian bermain dengan baik kan?" tambahnya lagi.


"Kakak Kenzie marah sama kita Tante," sela Tito yang juga terlihat murung.


"Kakak Kenzie sayang, kamu marah ya sama adik - adikmu?" tanya Dara lembut.


Kenzie menggelengkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan sang Mommy.


"Kak Kenzie nggak marah Mom, tapi aku tuh sedih. Adik Tata dan Tito selalu menginginkan semua mainanku," paparnya.


Dara tersenyum mendengar penjelasan putra kesayangannya.


"Adik Tata dan Tito seperti itu karena mereka suka dan sayang sama Kakak Kenzie. Mereka selalu ingin samaan dengan Kakak. Coba lihat, baju kalian juga sama kan?" dengan sabar Dara menjelaskan.


"Benarkah?" jawab Kenzie yang masih menyisakan raut muka masamnya.


"Nanti Mommy belikan mainan yang sama langsung tiga gitu ya, biar kalian punya mainan yang sama dan nggak rebutan lagi,"


"Sungguh?" Sepasang netra polos itu terlihat berbinar - binar.


"Iya sayang,"


"Makasih Mommy," Kenzie langsung berhamburan memeluk tubuh Dara.


Kenzie kini kembali menatap muka Dara. Sorotan matanya seperti penuh makna. Tentu saja sang Mommy menyadarinya.


"Ada apa lagi sayang?" tanya Dara kepada Kenzie.


"Tolong Mommy marahi Daddy. Kenzie kecewa sama Daddy," ucap Kenzie seraya mengerucutkan bibir mungilnya.


"Memang Daddy kenapa?" tanya Dara seraya menatap manik mata putranya dengan lekat.


"Kenzie juga ingin main Playstation Mom. Daddy bilang dia hanya bermain 1x pertandingan. Ternyata sampai 5x pertandingan lebih. Daddy curang," sungut Kenzie yang justru terlihat menggemaskan bagi Dara.


Kenzie berdiri dari tempatnya, tangan kecilnya berusaha meraih tangan Dara dan menuntunnya ke arah si Daddy yang masih asyik dengan game sticknya.


"Lihat Daddy Mom. Padahal tadi Mommy nyuruh Daddy untuk bermain dengan Kenzie kan? tapi Daddy malah main sendiri," Adu Kenzie yang sudah berdiri di sebelah si Daddy.


"Sayang, apa kamu belum juga selesai bermainnya?" tanya Dara ke Rey.


"Sebentar lagi sayang, aku hampir menang nih," balas Rey.


"Lo nggak bakal bisa menang dari gue Rey," ucap Radit dengan senyuman mengejek namun pandangannya tidak lepas dari layar TV di depannya.


"Gue udah ngomel - ngomel sedari tadi, tapi kedua bayi besar ini nggak menghiraukannya Ra," lapor Kayla ke Dara yang mulai kesal dengan kedua pria itu.


Tanpa berfikir panjang, Dara mencabut kabel TV dari colokan yang terpasang di dinding.


"Yaaaah! ko mati?" kata Radit yang terlihat kecewa.


"Padahal lagi seru. Sayang kenapa kamu cabut colokannya?" protes Rey ke Dara. Namun Rey langsung mengubah mimik mukanya saat menyadari tatapan kesal istrinya. Di tambah lagi Kenzie juga terlihat cemberut membuat dia menarik kembali niatnya untuk protes.


"Eh jagoan Daddy disini juga ternyata. Kamu sudah selesai bermain dengan adik Tata dan Tito?" tanya Rey kepada putranya.


Kenzie hanya memasang wajah cemberut.


"Daddy curang, katanya tadi mau ajak main Kenzie bermain. Tapi malah asyik bermain dengan Om Radit," sungutnya seraya melirik ke arah Radit.


"Haha.. Daddy nggak sengaja sayang,"


"Iya.. Daddy memang salah. Daddy minta maaf ya," ucap Rey dengan memasang muka melas.


"Iya," balas Kenzie yang bisa begitu mudahnya untuk memaafkan.


Kini Kenzie melirik ke arah Radit yang sedari tadi mengamati percakapannya dengan Rey.


"Om Radit masih ingatkan? Om janji mau ajak Kenzie dan adik Tata dan Tito bermain di Time Zone hari ini," Kenzie menagih janji ke Radit.


"Iya dong. Om kan sudah janji," jawab Radit seraya mengayak rambut Kenzie.


"Yeeey!" Kenzie melompat kegirangan begitu juga si kembar Tata dan tito.


"Ya sudah sebaiknya kita makan dulu. Makanannya keburu dingin," saran Dara.


Akhirnya kedua pasang suami istri beserta anak - anaknya menuju ke ruang makan. Mereka menikmati santapan makan siang dengan santai. Sesekali terdengar percakapan ringan di antara mereka.


* * *


Kedua mobil mewah sudah terparkir di basement Mall Kelapa Gading. Dua pasang suami istri beserta putra - putranya segera menuju ke pintu masuk Mall.


Sepanjang perjalanan menyusuri koridor Mall yang begitu luas, begitu banyak mata yang melirik ke arah dua pria tampan dan gagah yang sedang membawa anaknya masing - masing. Rey berjalan sambil memanggul Kenzie. Sedangkan Radit berjalan dengan kedua tangannya menggandeng Tata dan Tito. Bahkan ada beberapa dari pengunjung Mall yang mengambil gambar mereka dengan ponsel mereka. Sungguh pemandangan yang sayang jika tidak di abadikan.


"Ra, coba lo lihat. Suami kita sepertinya sudah tidak aman kalau dibiarkan keluyuran sendiri deh," sindir Kayla yang menyadari kedua pria yang sedang berjalan di depannya sedang menjadi sorotan para pengunjung Mall terutama para kaum wanita.


"Lo betul sekali Kay," timpal Dara membenarkan perkataan Kayla.


"Para lelaki itu sok jadi artis sekarang. Coba lihat mereka. Senyum - senyum tebar pesona," cibir Kayla.


"Seharusnya kita bangga punya suami yang tampan, mapan, dan penyayang seperti mereka, tapi ngeri juga ya,"


Akhirnya mereka sudah sampai di area Time Zone yang merupakan pusat hiburan yang terletak di lantai 2 bangunan Mall.


Rey dan Radit langsung membeli beberapa koin dan mengajak putra - putra mereka memainkan beberapa permainan terbaru. Kenzie, Tata, dan Tito terlihat bersemangat. Suara tawa mereka terdengar mengiringi kebahagiaan mereka. Para Papa tampan tersebut juga sangat menikmati kedekatannya mereka dengan sang Putra.


Waktu bergulir begitu cepat. Hingga tidak terasa, suara keroncongan perut menjadi sebuah alarm bahwa jam waktu makan malam telah tiba. Mereka pun menyudahi permainan mereka dan menuju ke food court.


"Mimi, Tito ingin ikut Kak Kenzie,"


"Tata juga ingin ikut Kak Kenzie,"


Di basement Mall Tito dan Tata merengek ketika mereka akan berpisah untuk kembali ke kediamannya masing - masing.


"Sayang, kalian seharian kan sudah bermain bersama Kak Kenzie. Minggu depan nanti Mimi ajak kalian bermain ke rumah Kak Kenzie lagi ya," rayu Kayla kepada kedua putra kembar mereka.


"Yeyyy! oke Mimi!" sepasang anak kembar tersebut terlihat girang.


"Tata dan Tito sampai bertemu minggu depan ya," ucap Dara kepada si kembar.


"Iya Tante.." jawab si kembar bersamaan.


Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil masing - masing dan melaju terpisah menuju rumah pribadi mereka.


Selang beberapa waktu, mobil yang ditumpangi Dara dan Rey sudah terparkir di halaman rumah istana kesayangan mereka. Rey terlihat sedang menggendong Kenzie yang sudah tertidur selama dalam perjalanan.


Dengan hati - hati Daddy tampan itu merebahkan tubuh Kenzie di atas ranjang kamar pribadi putranya dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Rey membelai rambut dan mengecup kening Kenzie dan menamati muka fotokopiannya yang sedang tampak damai dalam dunia mimpinya.


Dara yang berdiri di ambang pintu kamar putranya, tersenyum hangat melihat pemandangan yang menyejukkan mata tersebut.


Kemudian kedua Orang tua tersebut meninggalkan sang Putra dan kembali ke kamar pribadi mereka.


"Sayang, kenapa kamu senyum - senyum sendiri?" tanya Dara heran yang melihat suaminya rebahan di ranjang dengan muka yang terus mengulas senyuman.


"Sayang, aku merasa Kenzie akan mendapatkan adik sebentar lagi," balas Rey seraya menatap angka kalender di layar ponselnya.


"Ih! aku baru saja ingin kasih kamu kejutan, tapi kamu sudah tahu duluan," timpal Dara dengan muka cemberutnya. Pasalnya dia gagal memberi kejutan pada suaminya kalau dia sedang hamil lagi.


Rey berpidah di bibir ranjang dan menarik tubuh Dara yang masih berdiri di dekat ranjang. Pria tampan tersebut memeluk tubuh Dara dan mendaratkan mukanya pada perut rata istrinya. Melayangkan kecupan hangat dengan penuh rasa syukur.


Belum puas, Rey menuntun tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pangkuannya dan menatap lekat sepasang netra cantik di depannya. Sebelah tangannya mengusap lembut pipi yang tampak merona tersebut. Mencium kening wanita yang paling beharga di hidupnya. Kemudian turun pada bibir ranum Dara. Bibir yang sudah menjadi candu saat awal pertemuan mereka. Lanjut memeluk tubuh kecilnya yang membuatnya gila jika seharipun tidak merasakan kehangatan tubuhnya.


"Terimakasih. Terimakasih telah bersedia menjadi ibu untuk anak - anakku," ucap Rey penuh syukur.


"Sungguh seiring bergulirnya waktu, rasa cintaku ini semakin dalam kepadamu,"


"Haaah! aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kamu dulu tidak menerimaku kembali. Mungkin aku sudah gila," Rey terus mengulas isi hatinya.


Dara tersenyum dan menatap hangat muka Rey yang kini terlihat haru bercampur bahagia.


"Mungkin dulu aku sudah gila karena rasa cintaku yang begitu besar kepadamu. Sebesar apapun kecewaku, namun akhirnya aku tetap saja goyah karena beradaanmu," Dara juga mulai mengutarakan perasaannya.


"Meskipun kamu selalu bersikap egois dan menggunakan cara paksa. Hisss! bisa - bisanya aku kembali terlena dalam pelukan pria yang sangat menyebalkan sepertimu," cibir Dara mengingat kenangan masa lalunya.


"Kamu ingat nggak, waktu pertama kalinya kita saling tukar sapa di taman? kamu juga memaksaku untuk masuk ke mobilmu,"


Rey terkekeh geli mendengar perkataan Dara.


"Asal kamu tahu, kamu adalah wanita pertama yang aku dekati dengan cara paksa," beber Rey dengan mimik bangganya.


"Tapi kalau tidak dengan cara itu, mungkin kita nggak seperti sekarang," sambungnya lagi.


"Apakah kamu menyesal?" tanya Rey seraya memainkan rambut panjang Dara dan menghirupnya dalam - dalam.


"Mungkin aku akan menyesalinya jika perasaan cinta itu tidak ada. Tapi kenyataannya perasaan itu ada disini dan sangat besar, mana mungkin aku menyesalinya," Dara meraih tangan Rey dan meletakkannya pada dadanya yang terasa bergetar.


"Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu sayang," ucap Rey yang semakin terselubung rasa haru dan bahagia.


Sepasang kekasih tersebut saling menyalurkan hasrat cintanya melalui tautan bibir yang penuh akan kehangatan dan gairah. Saling mengeratkan pelukan seakan tidak ingin membiarkan kesedihan masuk ke dalam kebahagiaan rumah tangga mereka.


Dara tak pernah membayangkan, bahwa kebahagiaan ikatan cinta sucinya yang dulu sempat terjatuh ke dalam jurang penderitaan bisa mendaki kembali ke puncak. Kapal bahtera rumahtangganya yang pernah hancur diterjang ombak badai kesedihan kini bisa kembali berlayar.


Penderitaan dan perjuangan dari rasa tersakiti, terhianati, serta rasa kehilangan seakan hanya mimpi buruk yang telah tenggelam dalam dunia fana.


Semoga ini adalah akhir cerita dari deritanya.


TAMAT~~