
Malam terasa dingin. Dara tiba - tiba terjaga dari tidurnya. Tangannya mencoba menggapai remot AC yang terletak di meja bawah lampu tidurnya. Mengecilkan suhu AC yang dirasa terlalu dingin. Dara melihat kesamping ranjang tempat dia berbaring. Ternyata suaminya belum pulang.
Dia melirik jam yang terpasang kokoh di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Tidak seperti biasanya suaminya lembur hingga terlalu larut seperti sekarang. Ini baru pertama kali terjadi selama pernikahan.
Dia meraih ponsel dari meja lampu tidur. Melakukan beberapa panggilan ke nomor ponsel suaminya. Tapi tidak kunjung juga diangkat. Dara mulai gelisah, takut terjadi sesuatu pada suaminya itu. Jantungnya berdenyut kencang. Otaknya sudah dirubung berbagai pertanyaan.
Tiba - tiba saja hatinya merasa tidak enak dan terasa sesak. Hatinya mengatakan akan ada sesuatu yang buruk dalan rumah tangganya.
Dara berjalan bolak balik gelisah, sembari terus melakukan panggilan, berharap segera ada respon disana.
Tuuttt.. Tuuttt.. Tuuttt..
"Halo sayang," terdengar suara Rey di balik Telpon.
Dara menghela napas lega, akhirnya panggilannya di angkat.
"Sayang, apa yang sedang terjadi? tidak biasanya jam segini belum pulang?" tanya Dara cemas.
"Maaf sayang, tadi aku ketiduran di kantor. Maaf ya,"
"Terus sampai kapan kamu tetap mau disana sayang?" ucap Dara sewot.
"Ini aku mau pulang sayang, tunggu aku ya,"
"Ya sudah, kamu hati - hati ya di jalan, jangan ngebut,"
"Iya sayang"
Tut. Panggilan berkahir. Dara menghela napas. Merasa sedikit tenang. Ternyata tidak terjadi sesuatu pada suaminya. Tapi hatinya tidak bisa berbohong, rasa gelisah masih tetap bersemayam disana. Dia tidak tahu kenapa, rasanya dia ingin menangis begitu saja tanpa sebab dengan alasan yang tidak dia ketahui.
* * *
Di kantor Rey masih dibuat pusing oleh Bella. Dari tadi dia belum juga mendapatkan kejelasan dari Bella. Ingin rasanya dia berteriak meluapkan emosinya. Darahnya benar - benar mendidih.
"Apa sebenarnya tujuanmu menggodaku? berani sekali kamu menjebakku!" ucap Rey geram.
Benar saja. Perkataan Rey berhasil membuat raut muka Bella berubah hampir 180°, meskipun masih tersirat kesedihan disana.
"Apa yang Bapak katakan?! andai saja tadi Bapak mau saya antar ke Rumah Sakit, ceritanya sudah berbeda!" akhirnya Bella membuka suara.
"Bukan saya yang menggoda Bapak, tapi justru Bapak yang memperkosa saya!" tambah Bella kesal.
"Itu tidak mungkin!"
"Bapak bisa liat bekas kekerasan yang Bapak lakukan" Bella menunjukkan bagian - bagian tubuhnya yang lebam, yang katanya ulah dari Rey.
Rey sontak memalingkan mukanya ke arah lain, karena tak mau melihat bagian tubuh Bella yang seharusnya tidak dia lihat.
"Tapi saya tidak ingat apapun!" sanggah Rey.
"Saya memang gadis miskin Pak, tapi bukan berarti saya bisa berbuat serendah itu! saya sudah berontak melepaskan diri tapi Bapak terlalu kuat!" Bella mulai terisak.
"Arrrgggg!!!!" Rey frustasi, menggebrak meja kerja yang ada di depannya dengan keras, sehingga sontak membuat wanita yang di depannya terkejut. Terlihat tangan Rey yang memerah karena perbuatannya barusan.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt..
Terdengar suara getaran dari ponsel milik Rey. Mengetahui istrinya yang menelpon, dia bergegas keluar kantor. Mengatur napas agar suaranya terdengar tenang.
Setelah mengakhiri percakapan dengan Dara, Rey melihat Bella juga keluar dari kantor dengan jalannya yang lunglai. Mungkin karena ulahnya.
Rey sudah tidak dapat berfikir jernih. Dia lebih memilih meninggalkannya dan bergegas kembali ke kediamannya. Membayangkan Dara pasti sedang mencemaskannya.
* * *
Setibanya di rumah Rey di sambut Dara dengan senyuman manisnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Dara jika mengetahui apa yang telah dia lakukan tadi di kantor. Dia tidak ingin menghilangkan senyuman manis yang selalu terpasang pada wajah cantik istrinya.
"Sayang kamu pasti kelelahan ya?" tanya Dara seraya mencium tangan suaminya dan mengambil alih tas kerja milik suaminya itu.
"Iya sedikit sayang," ucap Rey, lalu mengecup dahi istrinya.
"Kamu buruan bersihkan diri, langsung istirahat ya,"
"Okey,"
Selesai membersihkan diri, Rey melangkahkan kakinya menuju ranjang berukuran King size. Mendekati istrinya yang sudah terbaring disana. Masuk ke dalam satu selimut tebal yang hangat. Memeluk erat dari belakang tubuh kecil istrinya yang sangat dia cintai itu.
"Sleep tight sayang, I love you," bisiknya di telingan Dara.
"I love you too," balas Dara yang kemudian mencoba memejamkan matanya agar terlelap.
Sebenarnya Dara merasa ada yang beda dengan suaminya malam ini. Dia juga sempat melihat tangan suaminya yang memerah seperti terkena benturan keras. Tapi otaknya langsung menampiknya. Tidak ingin berfikiran buruk lebih jauh. Mungkin Rey memang lagi kelelahan.
* * *
Seperti biasa Rey memeluk tubuh istrinya dari belakang. Mendekap lebih lama dari biasanya. Menghirup dalam aroma vanilla yang selalu melekat pada tubuh istrinya itu.
"Sudah sayang, sarapannya sudah siap. Ayo makan dulu," ajak Dara.
"Oke,"
Dara melihat Raut muka Rey yang terlihat lesu.
"Kenapa mukamu kucel gitu sayang? tadi malam tidak tidur nyenyak?"
"Tidak kok sayang, tadi malam aku tidur nyenyak, cuma kurang enak badan saja,"
Sebenarnya Dara tahu, tadi malam suaminya tidak tidur dan terlihat gelisah.
"Kalau tidak enak badan kamu istirahat dulu sayang, tidak usah kerja?" sarannya
"It's oke sayang. Aku harus ke kantor, ada urusan penting yang harus aku selesaikan,"
"Kamu tidak terlibat masalah besar kan sayang," tanya Dara yang sebenarnya mulai curiga.
"No serious problem, hanya masalah kantor yang masih bisa ditangin kok sayang," timpal Rey yang memang berniat menyelesaikan masalah dengan Bella tentang kejadian tadi malam yang masih tertunda.
"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu kan sayang?"
"What's on your mind sayang?" Rey sedikit gelagapan dengan ucapan sang istri. Takut dia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui.
"Oh, oke kalau begitu, buruan berangkat kerja, nanti kamu terlambat,"
Dara segera mengakhiri percakapan yang diyakini akan jadi pertengkaran jika diteruskan. Dara tidak ingin ada kerenggangan dalam rumah tangga mereka yang selama ini harmonis. Lagian kecurigaan Dara juga tidak berdasar. Hanya perasaannya saja.
* * *
Rey duduk di kursi kebesarannya, terdiam tapi matanya tertuju pada amplop coklat yang berisi surat pengunduran diri dari Bella. Bella mengajukan pengunduran dirinya setelah kejadian tadi malam.
FLASH BACK ON
"Permisi Pak Rey Vanno, saya datang untuk menyerahkan ini," dengan sedih Bella meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja Rey.
"Apakah kamu sudah memikirkannya dengan matang?" tanya Rey.
"Saya selalu berfikir sebelum bertindak Pak,"
"Apa karena kejadian tadi malam? Kamu bisa menganggapnya tidak pernah terjadi apa - apa di antara kita," Ucap Rey yang sebenarnya mulai iba.
"Tapi saya tidak bisa bersikap seolah - olah kejadian tadi malam itu tidak pernah ada Pak. Maka dari itu, saya lebih memilih menjauh dari Pak Rey. Apalagi Pak Rey seorang pria yang sudah beristri. Saya takut hal itu akan merusak rumah tangga anda," ucap Bella yang netranya mulai berkabut.
"Maaf," hanya satu kata yang terlontar, namun mulai terbesit rasa bersalah di hatinya pada Bella.
"Baik, saya undur diri Pak," Bella mengakhiri percakapan dan melangkah pergi keluar ruangan tanpa menunggu jawaban dari Rey.
FLASH BACK OFF
Sebenarnya keputusan Bella untuk menjauh darinya cukup buat Rey bisa menghela napas lega. Meskipun sebenarnya masih terbesit rasa bersalah di hatinya. Bella adalah sekretaris pribadinya yang sangat baik dalam bekerja. Dia merasa kehilangan satu bawahan yang berpotensi karena ulahnya.
"Kamu adalah wanita yang baik, semoga kamu menemukan kebahagiaanmu diluar sana Bella. Maafkan saya," gumam Rey lirih.
Tapi di sisi lain otak Rey terus mengulang peristiwa kemarin malam karena merasa curiga. Dia yakin reaksi tubuhnya tadi malam karena efek dari obat.
"Apa mungkin Mama menaruh obat pada bekal makan siang kemarin?"
"Ah, itu tidak mungkin. Kalau mungkin, terus apa tujuan Mama? tidak masuk akal,"
"Apa mungkin Bella? tapi kalau emang Bella berniat jahat, mana mungkin dia berniat menjauh dariku. Pastinya dia akan menggunakan kesempatan itu untuk memerasku."
Rey masih bergelut dengan pikirannya dan terus sibuk dengan seribu pertanyaan yang dimana belum juga menemukan titik terang.
* * *
Di tempat lain terlihat Dara sedang berdiri menghadap dinding kaca dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Mencoba menenangkan hatinya yang masih terselubung perasaan yang menyesakkan.
"Ya Tuhan, ada apa ini? perasaanku gelisah tiada henti. Dari tadi malam Rey terlihat berbeda. Aku sangat menyadarinya. Semoga ini hanya perasaanku saja," Dara berbicara pada dirinya sendiri.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰