
Dara sedang menatap bayangan dirinya di kaca meja rias. Terlihat guratan kesedihan disana. Sesekali dia memejamkan kelopak matanya, diikuti mengambil napas dalam - dalam hingga paru - paru terasa penuh kemudian dihembuskannya pelan. Berharap usaha kecilnya itu bisa memberi sedikit kekuatan pada dirinya dalam menghadapi mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Mimpi buruk setiap istri di dunia ini.
Hari ini, Rey dan Bella akan syah menjadi pasangan suami istri. Meskipun harus melewati beberapa drama penolakan dari Rey. Tapi karena adanya bukti hasil DNA janin dan rekaman CCTV waktu kejadian yang tentu saja itu memberatkan Rey, mau tidak mau dia harus menerima keputusan menikahi Bella.
Sebenarnya ketika Dara melihat hasil rekaman CCTV tersebut dia sempat merasa ada yang ganjal. Pada rekaman cuma terlihat Rey dan Bella masuk ke dalam kamar istirahat di kantornya. Ingin rasanya dia mencari tahu kejelasan dari rekaman itu lebih jauh. Akan tetapi Bukti DNA janin dalam perut Bella terasa lebih kuat, yang membuat Dara seakan tak berdaya. Apalagi Rani yang selalu menuntut Rey.
Haaah! Dara menghela napasnya, ingin membuang semua pikiran yang sedang berkecamuk dalam otaknya itu. Tanpa dia sadari, ternyata Rey sudah berada dalam satu ruangan dengannya dengan menatap sendu Dara. Dia mendekati Dara dan menyentuh kedua pundak istrinya itu, seraya memberi kecupan singkat ujung kepalanya. Dara reflek memejamkan matanya karena mendapati perlakuan suaminya itu. Tidak bisa dia bayangkan. Setelah ini kasih sayangnya akan dibagi dengan wanita lain.
"Kenapa kamu ada disini? bukankah acaranya akan dimulai?" ujarnya datar.
"Bagaimana bisa aku melakukannya jika kamu tidak di sampingku sayang," timpal Rey sendu.
"Aku akan turun sekarang," Dara beranjak dari duduknya. Melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Tapi langkahnya terhenti.
"Sayang, sekali lagi maafkan aku," ucap Rey memelas. Dia tahu Dara masih sangat kecewa dengannya.
"Jangan bahas itu lagi sekarang. Cepat turun. Jangan buat orang berfikir buruk tentang aku,"
"Maksudmu apa sayang?"
"Iya kalau kamu tidak segera turun, orang akan berfikir aku menghalang halangi pernikahan kalian," tandas Dara.
Rey begitu pasrah dengan sikap istrinya itu. Tapi nasi telah menjadi bubur. Tidak ada jalan lain selain tetap melanjutkan semua kenyataan ini.
Kemudian Rey dan Dara menuruni tangga bersama. Terlihat Rey menggenggam tangan Dara. Benar saja, hal itu mendapati perhatian semua orang disana, termasuk Bella yang sudah tampil cantik dengan riasan di mukanya.
Rey yang menyadari itu tidak ingin memperdulikannya. Dia ingin semuanya tahu, Dara adalah istrinya yang sangat dia cintai.
Bella menatap mereka nanar. Menyaksikan tontonan yang ada di hadapannya kini buat dia merasa ada sesuatu yang teriris di dadanya.
Rey sudah duduk di samping Bella. Pelaksanaan ucapan janji suci pernikahanpun dimulai.
"Sah?" ucap sang Penghulu.
"Sah...!" disambut semua orang dengan serentak.
Dilanjuti dengan pertukaran cincin perkawinan. Kemudian Bella mencium tangan Rey yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Rey pun mendaratkan kecupan ringan pada keningnya, meski dalam hatinya terasa sangat berat.
Acara pernikahan dilaksanakan dengan sangat sederhana. Hanya di hadiri oleh Rengga dan Rani dari pihak Rey. Sedangkan dari pihak Bella dihadiri oleh beberapa keluarganya termasuk kedua orangtuanya.
Beberapa hari sebelum acara pernikahan. Dara meminta agar pernikahan suaminya itu dirahasiakan dari ayahnya untuk sementara waktu. Ayahnya sekarang masih dalam kondisi kurang sehat. Dia tidak ingin masalah rumahtangganya membuat kesehatan ayahnya semakin menurun.
* * *
Langit sudah terlihat gelap. Dara berdiri di balkon kamarnya. Memandang langit yang sudah dipenuhi bintang. Seakan mereka ikut menyaksikan kesedihan Dara. Dara melipat kedua tangannya di dada untuk menghalangi dinginnya hembusan angin malam. Malam ini Dara akan tidur tanpa Rey. Mana mungkin dia bisa mengganggu malam pertama pengantin baru.
Dara berdecih, merasa miris dengan takdir yang menimpanya sekarang. Bagaimana dia bisa iklas membagi suaminya pada wanita lain? Akan tetapi wanita itu bisa memberi calon anak untuk Rey. Dia bisa menjadi istri yang sempurna. Berbeda dengannya yang belum juga memberi keturunan pada keluarga Erlangga.
Tidak terasa air matanya menerobos keluar begitu saja tanpa permisi. Udara di dadanya seperti habis. Begitu menyesakkan. Tidak bisa dibayangkan. Kelak Rey dan Bella akan mempunyai dunianya sendiri dengan malaikat kecil di antara mereka.
"Tidak! aku tidak boleh berfikiran melampau batas," Dara berusaha menangkan dirinya sendiri.
"Aku yakin, kelak Tuhan juga akan memberi aku kesempatan untuk menimang bayi,"
Dara mengusap lembut perutnya. Berharap Tuhan segera menitipkan sebuah nyawa di dalamnya. Dara begitu yakin kalau dia tidak mandul, karena dia sering konsultasi kepada Dokter Obgyn paling terkenal di kotanya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ada masalah dengan rahimnya, jadi dia juga masih ada peluang untuk hamil. Rey juga mengetahui hal itu.
* * *
Pada ruangan lain Bella terlihat sibuk menata semua pakaiannya. Ya tentu saja, sekarang Bella juga menjadi salah satu nyonya di rumah yang jg ditempati Dara. Setelah meletakkan selesai Bella memperhatikan Rey yang hanya duduk di pinggiran ranjang.
"Bagaimana saya bisa tidur dengan nyenyak, sedangkan istriku harus menanggung kesedihan di kamarnya sendirian," ucap Rey datar.
"Haahh...." Bella menghela napas panjang.
"Pak Rey bisa menemuinya sekarang. Saya juga tidak akan memaksa anda,"
"Sebagai orang baru yang masuk dalam pernikahan kalian, saya tau bagaimana caranya menempatkan diri," ucap Bella yang terlihat sedih.
Namun Rey urung meninggalkan ruangan. Dia juga tidak mau egois. Bella sekarang juga istrinya. Meskipun dia sadar akan sangat sulit untuk bersikap adil pada kedua istrinya. Rey beranjak dari duduknya dan pindah ke sofa besar yang memang sudah ada di kamar.
"Kamu tidurlah di ranjang. Saya akan tidur di sofa," ucap Rey.
"Kenapa Pak Rey tidak tidur di ranjang saja?" yanya Bella.
"Maaf, sementara ini aku belum siap,"
Suasana hening sesaat.
"Apa saya boleh panggil anda dengan sebutan lain? kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Sepertinya terdengar aneh kalau saya masih menggunakan panggilan formal," Bella tersipu malu.
"Terserah kamu saja,"
"Terimakasih mas Rey," Bella mulai menggunakan panggilan sayang.
"Sudah malam ayo tidur,"
Bella mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur, sehingga menampilkan suasana kamar yang remang - remang. Malam ini mereka tidak tidur satu ranjang karena permintaan Rey.
* * *
Malam terasa sunyi. Hanya terdengar detakan jarum jam yang memenuhi ruangan. Rey masih saja terjaga. Matanya menolak untuk terpejam, karena merasa ada yang kurang. Dia terbiasa tidur dengan memeluk tubuh Dara, dan sangat menyukai harum tubuhnya yang menenangkan.
Rey melihat ke arah Bella memastikan dia benar - benar terlelap. Kemudian Rey beranjak dari tempatnya dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Memutar knock pintu dengan hati - hati agar Bella tidak terganggu dengan suara berisik.
Rey berniat menyambangi kamar istri pertamanya Dara. Memastikan kalau istrinya itu sudah tertidur. Rey menjejakkan kakinya pada anak tangga satu persatu menuju kamar Dara yang berada di lantai dua.
Akhirnya Rey sampai di depan pintu kamar Dara. Memutar knock pintu dan mendorongnya ke dalam. Di dalam kamar terlihat Dara yang sudah terlelap dalam mimpi. Tubuhnya yang tidak berselimut terlihat meringkuk seperti bayi.
Hembusan angin malam terasa dingin menyelimuti ruangan. Terlihat pintu balkon kamar yang masih terbuka. Melihat pintu yang masih terbuka dan tidur tanpa menggunakan selimut, sepertinya Dara tidak sengaja ketiduran.
Dara terlihat tidur dalam kedinginan. Rey yang tidak tega melihatnya segera menutup pintu balkon. Kemudian mendekati dan membetulkan posisi tidur Dara agar lebih nyaman. Lanjut membungkus tubuh kecil istrinya dengan selimut tebal.
Rey menatap sendu muka istrinya itu. Masih terlihat mata yang sembab dan bekas air mata yang sudah mengering pada mukanya yang cantik itu. Rey menyingkirkan helaian rambut Dara dari pipinya. Mengusap lembut pipinya yang mulus dan memberikan kecupan hangat pada kening, lalu turun ke pipi, dan terakhir mendarat pada bibirnya yang ranum.
Tubuh Dara bagaikan candu bagi Rey. Ciuman di bibir membuat tubuhnya bagian bawah mengeras. Rey mengutukki perbuatannya itu. Sempat - sempatnya hasratnya untuk bercinta muncul, sedangkan masih terlihat gurat - gurat kesedihan pada muka istrinya itu. Memang tubuh Rey selalu bereaksi jika berdekatan dengan Dara, tapi malam ini Rey harus menahannya. Istrinya masih larut dalam kesedihan. Dia tidak ingin egois.
Setelah memastikan istrinya baik - baik saja. Rey beranjak pergi dari ruangan Dara dan kembali ke kamar Bella.
* * *
Merasa keberadaan Rey sudah tidak ada dalam ruangannya. Dara membuka matanya. Sebenarnya dia terbangun dari tidurnya semenjak Rey mendaratkan ciuman pada mukanya tadi. Tapi Dara sengaja berpura - pura masih tertidur, karena jika membuka matanya dipastikan dia akan menangis lagi. Untuk hari ini Dara sudah terlalu lelah.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰