
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
Pada bab ini Author kasih bonus visual ya. Biar lebih greget menghalunya🤣
🍂Selamat membaca🍂
Dara Violetta Wangsa
Rey Vanno Erlangga
Radito Devanco
Meikayla Aruni Wijaya
Bella Silvana
Dara sudah bersiap diri untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun perusahaan M.G. Dia melangkahkan kakinya menuju mobil mewah yang dimana Rey sudah menunggunya. Rey juga akan menghadiri acara yang sama karena perusahaannya juga mendapat undangan.
Dara masuk ke dalam mobil dan duduk dibagian kursi penumpang belakang di sebelah Rey. Hari ini Rey menggunakan sopir pribadi untuk mengantar mereka. Sepanjang perjalanan tidak ada kata - kata yang terucap. Mereka saling diam seribu bahasa. Sehingga perjalanan terasa sangat lama.
Setelah satu jam lamanya jarak tempuh, akhirnya mereka sampai pada sebuah hotel bintang lima bernuansa mewah, tempat acara pesta berlangsung. Mereka berdua keluar dari mobil mewah yang mereka tumpangi.
Pada lobby hotel yang luas dan mewah itu ada beberapa karyawan hotel yang sudah standby, bertugas sebagai penyambut tamu. Terlihat beberapa undangan tamu VVIP sudah berdatangan.
Sebelum melangkah masuk kesana, Rey sedikit mengangkat lengan tangannya, sebagai tempat pengait tangan Dara.
"Pegang tanganku," titah Rey.
"Bersikap wajarlah di depan orang - orang," cibir Rey.
"Apa kamu pernah melihat aku bersikap tidak wajar?" celetuk Dara.
"Aku tahu bagaimana cara bersikap," sanggah Dara datar.
Dara pun mulai mengaitkan tangannya pada lengan Rey. Sebisa mungkin memberikan kesan keharmonisan dalam hubungannya, yang sebenarnya sedang tidak baik itu. Mereka mulai melangkah masuk dan tentu saja langsung disambut hangat oleh petugas disana.
Sekarang mereka sudah berada di ballroom luas yang sudah dipercantik sedemikian rupa. Terlihat interior - interior indah tertata rapi pada tempatnya. Pada bagian tengah ballroom tersedia meja besar yang sudah tertata rapi berbagai macam makanan mewah dan lezat yang sangat menggugah selera. Tidak ketinggalan jenis - jenis dessert, buah, dan minuman ikut melengkapi.
"Halo, apa kabar Pak Rey dan Ibu Dara?" Terdengar sambutan senang sang pemilik acara yang diikuti sang istri.
"Kabar saya tentunya baik Pak Mahendra. Bagaimana kabar anda?" Rey menjawab antusias sambutannya. Di ikuti Dara yang menampilkan senyuman manis di mukanya.
"Seperti yang anda lihat sekarang, saya sangat baik," Pak Hendra tersenyum lebar.
"Saya tidak mengira kalian bersedia datang pada acara pesta sederhana saya," ucapnya merendah.
"Kita sudah menjadi partner cukup lama, tentu saja saya harus datang," sanggah Rey.
"Haha.. Terimakasih,"
"Seperti kalian terlihat semakin harmonis saja," ucap sang pemilik acara setelah melihat sepasang tamunya yang terkesan sangat serasi.
"Hahaha.. tentu saja, karena kami saling mencintai, benarkan sayang?" Rey menampilkan senyuman lebarnya. Namun di mata Dara itu hanyalah sebuah senyum paksaan. Dara pun tersenyum kecut melihatnya.
"Kalau begitu, silahkan kalian menikmati pestanya. Saya akan menyambut tamu yang lain dulu," ucap Pak Hendra sebelum meninggalkan mereka.
"Rey.." panggil Dara ragu.
"Hmm, ada apa?" jawab Rey datar tanpa mengalihkan pandangannya ke Dara.
Dara tidak segera menjawab. Namun Rey dapat merasakan pegangan tangan Dara yang masih melingkar di lengannya itu, terasa semakin erat. Rey pun berganti mengalihkan pandangannya ke Dara untuk memastikan.
Ternyata muka Dara sudah terlihat pucat. Keringat dingin yang sebesar biji jagung itu sudah menghiasi dahi kecil Dara. Tentu saja hal itu sangat membuat Rey cemas.
"Kamu kenapa?" terdengar kecemasan dalam suara Rey.
"Pulang," ointa Dara singkat.
"Kita ke Rumah Sakit saja,"
"Tidak, kita pulang saja. Bau makanan disini buat aku mual dan pusing," ujar Dara yang memang hal itu disebabkan karena bawaan si orok.
"Oke, kita pulang sekarang," tanpa menunggu lama Rey membawa Dara keluar dari Ballroom.
* * *
Suasana perjalanan menuju kediaman mereka sungguh sunyi. Hanya suara mesin mobil yang mengisi suasana. Lagi - lagi tiada kata yang terucap. Seperti istilah diam adalah emas berlaku untuk mereka berdua.
Dara hanya mengedarkan pandangannya di luar kaca mobil. Beberapa potongan klise tentang ucapan Rey kemarin malam tertampil ulang dalam pikirannya.
FLASHBACK ON
"Seperti yang kamu liat. Ada apa?" tanya Rey dingin. Namun tatapannya tidak lepas dari Dara.
Dara maju beberapa langkah, sehingga hanya meja kerja Rey yang membatasi mereka.
"Rey aku sekarang hamil," ucap Dara lirih. Berharap Rey akan senang bila mendengarnya.
"Baguslah kalau kamu hamil, selamat," ucap Rey sekali lagi buat hati Dara teriris. Tidak seperti yang diharapkan. Rey terlihat biasa saja mendengar kabar kehamilannya.
"Apa kamu sekarang juga akan memberi perhatian lebih seperti kamu perhatian dengan Bella?"
"Aku juga mengandung anakmu sekarang," ucap Bella yang menahan sakit karena respon dingin Rey. Seakan hanya dia saja yang bahagia dengan berita kehamilannya.
"Aku tidak yakin kamu masih membutuhkan perhatianku. Bukankah Radit sudah memberimu perhatian cukup?"
"Atau jangan - jangan itu anak Radit," tuduhan pedas keluar begitu saja dari mulutnya.
Perih, sangat perih yang dirasakan Dara saat ini. Dia tidak ingin memperpanjang percakapan yang sudah diyakini bahwa dia akan lebih tersakiti jika terus dilanjutkan.
Mengingat saran Dokter, dia harus sebisa mungkin membuat pikirannya tenang. Gejolak hati yang berlebihan bisa berdampak buruk pada kandungan lemahnya.
"Aku tidak sekotor seperti yang kamu pikirkan Rey," sanggah Dara sebelum melangkah jauh dari pandangan Rey.
FLASHBACK OFF
Mengetahui istri yang sangat dicintainya sedang mengandung, tentu saja hal itu adalah sebuah kabar gembira bagi Rey. Dia juga sempat menyesali telah menuduhnya bahwa yang dikandungnya adalah anak Radit. Namun kecemburuan dan egonya lebih menguasai akal dan pikirannya.
Mengingat foto kemesrahan istrinya dengan sahabatnya membuat Rey berulang kali harus merasakan panasnya terbakar api cemburu. Ditambah lagi dia menyaksikan sendiri kedekatan mereka waktu di Rumah Sakit beberapa hari yang lalu.
Dara bisa begitu mudahnya menampilkan senyuman bahagia bila bersama Radit. Yang dimana senyuman manis itu sudah lama tidak dia dapatkan jika Dara bersamanya.
Semenjak Rey menikah lagi, tidak pernah sekalipun dia melihat Dara tersenyum lagi. Senyuman yang dulu sering menyambut keberadaannya. Suara senyuman yang terdengar menghiasi rumahnya seakan tenggelam begitu dalam, sehingga tidak terdengar lagi. Rey cemburu. Kenapa bersama Radit Dara bisa terlihat begitu bahagia.
Suara gerbang yang terbuka membuyarkan lamunan mereka masing - masing. Mobil mewah yang mereka tumpangi memasuki halaman istana mereka. Istana yang dipenuhi air mata kesedihan luka Dara.
Rey mengantar Dara masuk ke kamar. Bagaimanapun juga, masih terbesit kecemasan dalam dirinya untuk Dara yang sedang hamil itu.
Bella yang menyaksikan perhatian Rey kepada Dara, terlihat mendengus kesal ketika mereka melewatinya.
Di dalam kamar Dara dengan sigap membuka laci. Mengambil beberapa obat yang dikhusukan untuk ibu hamil dan langsung meminumnya. Kemudian dia berpindah ke atas ranjang.
"Tidurlah," titah Rey tanpa ingin ada penolakan dari Dara.
"Malam ini aku akan tidur bersamamu,"
Dara hanya menjawab dengan anggukan singkat. Kemudian dia menenggelamkan tubuhnya di balik selimut. Dia sudah terlalu lelah dengan rasa pusing dan mual yang dialaminya.
Drrrttt...
Drrrttt...
Drrrttt...
Getaran ponsel pada saku jas Rey terasa kuat. Dengan cepat dia merogoh ponsel yang ada di dalam sana. Tertulis nama Rani di layar ponselnya. Rey pun mengangkat panggilan suara dari Rani.
"Halo Ma, ada apa?" tanya Rey.
"Besok malam kamu datang kerumah ya. Kita makan malam bersama," pinta Rani sang Mama.
"Iya Ma. Besok Rey akan kesana,"
"Ajak istrimu juga,"
Rey terdiam sejenak. Mengingat dia mempunyai dua istri. Istri yang mana yang dimaksut Mamanya itu.
"Ajak kedua istrimu," tambah Rani cepat.
"Oh. Baik Ma,"
Tut. Panggilan berakhir.
Besok Mama meminta kita agar datang makan malam bersama di rumahnya,"
"Kalau kamu masih kurang enak badan, sebaiknya kamu tidak usah ikut," saran Rey.
"Biar aku dan Bella saja yang kesana," tambahnya lagi.
"Tidak, aku akan ikut," jawab Dara cepat.
"Oke. Sekarang tidurlah," titahnya sekali lagi.
Tanpa menjawab, Dara mencoba memejamkan matanya yang memang sedari tadi sudah terasa berat.
* * *
Di rumah Rani.
Setelah mematikan panggilan teleponnya dengan anaknya. Rani tersenyum penuh makna. Dia pun melanjutkan rencananya untuk mengundang satu orang lagi pada acara makan malam besok.
Tut..
Tut..
Tidak butuh waktu lama. Dalam dua deringan saja sudah terdengar suara yang tersambung di balik telepon.
"Halo Mama Rani. Apa kabar?" terdengar suara pria muda di seberang sana.
Bersambung~~