
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Rey dan kedua istrinya, Dara dan Bella sudah bersiap - siap berangkat ke kediaman Rani untuk makan malam bersama. Mereka menuju ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Rey lebih dulu masuk menempati bangku supir diikuti Dara dan Bella. Bella duduk di bangku penumpang depan. Tentu saja Dara duduk sendiri di bangku penumpang belakang.
Tadinya Dara hendak duduk di bangku depan sebelah suaminya itu. Namun Bella dengan cepat menyerobot begitu saja, mendahului Dara. Dia tidak ingin berebut tempat dengan Bella, jadi dia lebih milih mengalah.
"Cih! dasar kampungan!"
"Ya Tuhaaannn, Bella adalah orang yang paling menyebalkan setelah Rey!" geruru Dara yang hanya bisa didengarnya sendiri.
"Sabaar... Sabar.. gue lagi hamil. Pamali benci sama orang!" gerutunya lagi seraya mengelus perutnya yang masih rata.
Sepanjang perjalanan hanya Bella terlihat sangat berantusias. Sesekali dia menyenderkan kepalanya pada pundak Rey yang sedang fokus menyetir. Terlihat Rey bersikap acuh pada Bella.
Wanita jalang itu bersikap seakan keberadaan Dara disana tidak ada. Sungguh pemandangan yang menyesakkan bagi Dara. Ingin rasanya Dara melempar Bella keluar lewat jendela mobil.
"Apa kamu nggak bisa diam sebentar?" celetuk Rey risih.
"Si sopir tidak bisa fokus kalau kamu kecentilan," cibir Dara.
"Kayak tidak ada waktu lain saja," ketus Dara.
Rey tersenyum tipis yang hampir tidak terlihat. Mendengar ucapan ketus Dara sedikit memberi kepuasan dalam dirinya. Terlihat Dara sedang cemburu.
Bella tentu saja tidak suka dengan sikap kompak kedua manusia di dekatnya itu. Dia merasa terpojokkan.
"Ini karena si bayi ingin dekat - dekat terus sama Ayahnya!" bella sewot.
"Kak Dara akan mengerti kalau kamu juga hamil," cela Bella yang sekarang mulai berani menunjukkan ketidaksukaanya di depan Rey.
Dara yang mendengar celaan Bella cuma bisa menghela napas. Dia terlalu jengah jika harus meladeni Bella yang super menyebalkan itu.
"Jaga perkataanmu Bella!" seru Rey yang mulai kesal dengan Bella.
"Kan emang bener Mas. Kalau saja kak Dara hamil dia akan ngerti sendiri rasanya. Jadi nggak bakal dia ngeledek aku," Bella membela diri.
"Hahh!" Rey menghela napas keras.
"Dara sekarang juga lagi hamil!" papar Rey.
"Jadi aku mohon, sesama wanita hamil bersikaplah lebih bersahabat!" pinta Rey.
"Jangan buat aku pusing," tukasnya lagi.
"Ow, ternyata kak Dara hamil juga. Syukurlah, selamat ya," Kilah Bella dengan senyuman terpaksanya.
"Sial, ternyata wanita sial itu bisa hamil juga. Posisiku bisa terancam kalau begini!" batin Bella.
Tertampil senyuman masam pada muka Dara sebagai responan singkat dari ucapan Bella. Namun dia sedikit lega mendapati sikap Rey yang terkesan membelanya. Tentu saja dia juga merasa puas melihat raut muka Bella yang di tekuk itu.
* * *
Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga. Acara makan malam bersamanya memang belum dimulai.
"Kurang satu orang lagi yang belum datang. Kita tunggu dulu ya. Nggak enak kalau kita makan duluan," ujar Rani kepada anak dan kedua menantunya.
"Memangnya siapa lagi sih Ma? tanya Rey penasaran.
"Nanti kamu bakal tahu sendiri Sayang," Rani berkata penuh makna.
Rengga sang suami sudah mulai curiga dengan tingkah Rani. Tidak seperti biasanya dia terlihat sesenang itu. Biasanya Rani akan langsung pasang muka masam jika ada Dara. Rengga sebenarnya sudah mulai jengah dengan semua sikap tidak sukanya dengan Dara.
"Ya Tuhan.. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi," batin Rengga sembari diam - diam menatap sendu muka Dara. Sungguh Rengga merasa kasian dengan menantu kesayangannya itu.
Tap...
Tap...
Tap...
Suara langkah kaki menarik perhatian semua orang yang berada di ruang keluarga.
"Selamat malam semuanya," sapa Radit senang.
"Halo sayang, kamu itu ya, kalau Mama nggak nyuruh, nggak mau datangin Mama," sewot Rani.
"Radit memang belum sempat Ma," sanggah Radit sembari menyalami dan mencium tangan Rani.
"Papa apa kabar?" tanya Radit yang melihat Rengga juga menyambut kedatangannya. Tidak lupa dia juga menyalami dan mencium tangan Rengga.
Radit adalah sahabat Rey sejak kecil. Waktu masih sekolah Radit sering menginap dan tidur sekamar dengan Rey. Sehingga tak Khayal Rani sudah menganggap Radit seperti anak sendiri.
Semua orang menyambut kedatangan Radit dengan hangat, kecuali Rey. Terlihat raut muka tidak senang dari muka tampannya. Namun dengan cepat dia menghapus raut muka kesalnya itu. Radit terlihat biasa jadi dia juga harus bersikap sama mengikuti alur.
Namun raut muka tidak senang Rey sudah kepergok duluan oleh Rani dan Bella. Mereka berdua saling melirik dan melempar senyuman licik diam - diam. Rencana mereka membuat Rey semakin panas seperti berhasil.
"Baiklah jam makan malam sudah terlewatkan beberapa menit. Sebaiknya kita manyantap makanananya dulu baru lanjut ngobrolnya," saran Rani antusias.
Merekapun menyantap makan malamnya dengan kidmat kecuali Dara. Sangat terasa sekali perbedaan sikap Rani kepadanya dan Bella. Rani lebih banyak bertanya kepada Bella. Dia terlihat senang Bella akan memberinya cucu. Rani memang belum tahu tentang kehamilan Dara. Biar Rey sendiri yang memberitahunya batin Dara.
Akhirnya acara makan malam keluarga sudah selesai. Mereka sekarang berkumpul dalam satu ruangan keluarga. Terdengar canda tawa di antara mereka. Apalagi keberadaan Radit selalu sukses memecahkan suasana.
Namun tidak untuk Rey dan Dara. Mereka lebih banyak diam. Rey hanya sesekali menampilkan senyuman pada mukanya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Bella sinis, sembari melangkah mendekati Dara.
"Apa perlu aku jawab?" tanya Dara balik dengan nada datar. Dara heran sejak kapan Bella datang.
"Apa kamu benar - benar hamil?" Bella memicingkan matanya kearah perut rata Dara.
"Iya janin yang berada dalam perutku murni darah daging Rey," Dara menutupi perutnya seakan memberi perlindungan pada bayinya karena merasa terancam dengan sikap Bella.
"Tapi sepertinya Rey ragu kalau itu anaknya," cibir Bella.
"Dan aku yakin kamulah orang yang memanipulasi semua keadaan yang bagaikan neraka ini," hardik Dara.
Bella hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Dara.
"Ingat aku akan membongkar semua kebusukanmu!"
"Tidak akan pernah bisa!" Rey sudah terlalu percaya padaku," yakin Bella.
Dara Terdiam sejenak. Menatap tajam muka Bella yang menggambarkan raut muka meremehkan Dara.
"Kamu jangan terlalu percaya diri. Semua perhatian Rey padamu semata - mata karena kasihan," sanggah Dara.
"Ingat Rey hanya mencintaiku!" tandasnya dengan nada sedikit menekan di akhir kalimat.
"Dan ada saatnya Rey akan mengatahui semuanya dan membencimu!" hardik Dara yang mulai emosi.
Bella yang tak kalah emosi karena ucapan Dara, tanpa aba - aba melayangkan tamparan pada pipi mulus Dara. Dia mendorong tubuh Dara hingga perutnya terbentur benda keras yang terletak di pinggir kolam tersebut.
"Aahh!" pekik Dara kesakitan namun masih dia tahan.
Bella tidak diam begitu saja. Tangannya dengan sigap menarik rambut Dara dengan kasar.
"Dasar wanita murahan! aku masih berbaik hati tidak membunuhmu!" gertak Bella namun dengan nada rendah. Tidak ingin ada orang yang mengetahui pertengkaran mereka.
"Lepasin! wanita monster!" umpat Dara.
"Tidak akan aku lepaskan! keberadaan bayimu ini akan merusak semuanya! lebih baik mati saja!" geram Bella yang mulai tidak bisa mengontrol kegilaannya.
Dara merasa kesakitan akibat perlakuan Bella. Apalagi rasa nyeri pada perutnya semakin menyeruak.
"Perutku sakit! nak kamu harus bertahan ya," Lirih Dara dalam hati.
Dara berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkraman tangan Bella. Dengan sigap dia menghempas tangan Bella ke atas. Dara berhasil bebas dari cengkraman Bella, namun upayanya itu membuat tubuh Bella kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh ke dalam kolam.
Byuuuuur..!
Suara tubuh Bella berbenturan dengan air kolam yang dingin.
"Tolooong!"
"Tol.." teriakan Bella sempat terputus karena tubuhnya beberapa kali tenggelam dan meneguk terpaksa air kolam.
"Toloong!" teriak Bella lagi meminta pertolongan karena dia tidak bisa berenang.
Dara yang masih menahan sakit pada perutnya juga dibuat bingung dan cemas.
"Gawat bayi Bella bisa dalam bahaya!" batin Dara yang masih sempat khawatir dengan bayi yang dikandung Bella.
* * *
Orang - orang yang masih asyik ngobrol di ruang keluarga tiba - tiba dibuat terkejut dengan suara teriakan minta tolong seseorang.
"Dara!" teriak Rey spontan menyebut namanya. Khawatir Dara dalam bahaya.
Rey yang diikuti Radit beranjak dari duduknya. Berlari secepat kilat mencari sumber suara tersebut. Begitu juga Rani dan Rengga.
"Dara gue harap lo baik - baik saja," batin Radit cemas.
Sesampainya di kolam renang belakang rumah. Betapa terkejutnya Rey melihat Bella yang hampir tenggelam di dalam sana. Rey sedikit merasa lega karena ternyata Dara baik - baik saja. Namun rasa kecewanya juga menyeruak di hatinya karena mengetahui Dara bisa bertindak senekat itu pada Bella. Hal itu bisa membahayakan bayi dalam kandungannya.
"Dara! apa yang kamu lakukan!" bentak Rey, sebelum melemparkan tubuh ke dalam air untuk menolong Bella.
Tidak butuh waktu lama, Rey menarik tubuh Bella ke pinggir kolam dan membantunya naik ke atas. Rey memapah tubuh Bella yang sudah basah kuyub sekujur tubuh.
Saat melewati tubuh Dara, Rey berhenti sesaat. Rey mengalihkan mukanya ke Dara. Mukanya menggambarkan kekecewaan pada Dara.
"Tidak bisakah kamu bersikap lebih dewasa? aku nggak percaya kamu bisa melakukan ini Ra!" ucap Rey kecewa.
"Rey aku bisa menjelaskannya. Dengarkan aku dulu," mohon Dara.
"Rey..!" panggil Dara.
Namun Rey tak bergeming. Dia melanjutkan langkahnya menuju rumah pergi meninggalkan Dara sendirian.
"Rey aku juga butuh kamu," geming Dara lirih sambil menatap nanar punggung Rey yang menghilang di balik tembok.
Air mata Dara sudah tidak terbendung. Cairan bening mengalir deras menerjang telaga beningnya. Hatinya begitu terluka. Rasanya dia ingin menyerah saja.
Rasa sakit pada perutnya yang sedari tadi dia tahan semakin merajai tubuhnya. Benturan keras akibat dorongan Bella tadi masih begitu terasa nyeri.
"Aaahhgg!" pekik Dara kesakitan.
Radit yang memang masih berada disana terkejut mendapati Dara yang terlihat sangat kesakitan. Dia berusaha memeluk tubuh Dara yang hampir terkulai di lantai.
"Raa! kamu kenapa?!" Radit begitu cemas. Matanya mulai terasa panas.
"Bayiku, selamatkan bayiku Dit," Dara meringis kesakitan.
Betapa terkejutnya Radit melihat darah segar mengalir di antara kedua kaki Dara. Darah masih mengalir begitu banyak. Radit begitu gugup. Tanpa berpikir panjang dia membopong tubuh Dara yang sudah terkulai lemas tidak sadarkan diri. Membawanya keluar melewati lorong samping rumah yang menghubungkan halaman tempat mobilnya diparkirkan. Jalan itu dipilih karena dirasa lebih dekat. Radit membawa Dara pergi tanpa ada yang tahu, begitu juga Rey.
Bersambung~~