
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Dara masih enggan untuk berpindah dari tempatnya berdiri saat ini. Tubuhnya lunglai tidak bersemangat. Kedua netranya sekarang beralih ke arah Rey. Pria yang sedang terkapar lemah tidak berdaya itu sepertinya sudah tertidur karena efek obat.
Dara melangkah pelan mendekati pria yang baginya sudah menjadi masa lalu. Masa lalu yang memahat begitu dalam hingga ke palung hatinya. Pandangannya menyusuri muka Rey yang terlihat sedikit kurus dengan jambang tipis menghiasi bentuk rahangnya yang tajam, namun masih menampilkan ketampanannya yang khas.
"Kenapa kamu terlihat kurus? apa kamu hidup dengan baik selama ini?" geming Dara di dalam hati.
"Andai dulu kamu lebih bertanggungjawab untuk selalu melindungiku. Mungkin calon bayiku masih hidup,"
"Kamu terlalu bodoh!" kini rasa sakit dan benci menyeruak kembali.
Tidak lama, dia memalingkan mukanya yang cantik ke arah lain. Melihat muka Rey mengingatkan dia pada peristiwa masa lalu yang sangat menyakitkan baginya.
Dara pun bergegas melangkahkan kakinya keluar kamar tempat Rey di rawat dan kembali ke kamar pribadinya. Dengan malas dia mendaratkan tubuhnya, duduk di atas karpet bulu berwarna pastel yang terlihat hangat. Bersandar pada pinggiran ranjang yang dilapisi sprai berenda dengan warna yang senada dengan karpet bulunya.
Jantungnya berdenyut begitu dalam, meski masih dengan detakan seirama, namun begitu terasa nyeri. Sumber mata air kesedihan mencuah dari persembunyiannya yang membuat telaga bening itu sudah tak terbendung lagi.
"Sakittt!" Dara meremas bajunya bagian dada akibat rasa sakit batinnya.
"Aku belum siap untuk bertemu lagi denganmu. Ini sangat menyakitkan!" geming Dara di antara isak tangisnya.
Kini dia duduk dengan memeluk kedua kakinya. Menenggelamkan mukanya yang basah di antara dua lutut.
Suasana kamar begitu muram. Aura kesedihan wanita yang masih terbelenggu akan kekecewaan masalalunya itu memenuhi ruangan kamarnya. Kamar yang menjadi saksi bisu akan semua perasaan dan gejolak jiwa yang merana selama ini.
Dara pun tenggelam dalam kesedihan hingga matanya terasa berat dan tertidur. Badannya meringkuk seperti bayi yang rindu akan kehangatan.
Praaang!
Terdengar suara keras dari kamar tempat Rey terbaring. Dara yang tertidur sontak terbangun karena kaget. Kamar mereka terletak bersebelahan dan kebetulan pintu kamar Rey tidak tertutup, sehingga suara itu masih bisa tertangkap oleh gendang telinga Dara dengan begitu jelas.
Dara beranjak dari karpet bulu hangatnya. Melangkahkan kakinya ke arah pintu kamarnya dan bergegas menuju ke arah sumber suara itu.
Dia dibuat heran dengan apa yang dilihatnya sekarang. Gelas yang tadinya terletak di atas nakas samping ranjang kini sudah berpindah ke lantai dalam bentuk serpihan kaca.
Terlihat Rey yang sudah terbangun dari tidurnya. Sepertinya efek obat yang diberikan Dokter Arka sudah habis. Rey sekarang sudah duduk bersandar pada headbed.
"Maaf, aku haus dan tidak sengaja menjatuhkan gelas itu," ucap Rey merasa bersalah.
Tanpa sepatah kata, Dara berlalu dari kamar itu, selang tidak lama kambali dengan membawa segelas air hangat di tangannya dan memberikannya pada pria yang menjadi pasien dadakannya itu.
Rey pun meneguk habis air minum hingga tak tersisa. Membasahi tenggorokannya yang kering. Terlihat jangkun yang naik turun seirama dengan tegukan air yang masuk ke tenggorokan. Pria sakit itu dengan susah payah meletakkan gelas kosong itu di atas nakas bedside.
Dara yang berlalu lagi setelah memberikan air minum, kini kembali lagi dengan alat kebersihan mini set berupa sapu dan pengki. Tangannya begitu cekatan membersihkan serpihan kaca tersebut.
Rey yang masih terduduk di atas ranjang mengamati Dara yang masih terlihat sibuk. Kedua pupil matanya bergerak mengikuti tubuh Dara yang berpindah - pindah.
"Sayang," panggil Rey. Namun tidak ada respon dari Dara.
"Dara," panggilnya lagi.
Pada panggilan kedua Dara memalingkan mukanya pada sumber suara. Masih setia dengan kebisuannya, Dara hanya melemparkan pandangan datarnya menunggu Rey bersuara lagi.
"Aku sudah nggak tahan," perkataan Rey sungguh ambigu.
Dara pun berdecak pinggang, masih dengan tatapan datarnya, menuntut kejelasan dari ucapan Rey.
"Aku sudah nggak tahan nih, pingin dikeluarin," tambahnya lagi.
"Apa maksutmu?" akhirnya Dara pun menghentikan kebisuannya karena terperanga akan ucap Rey yang menurutnya itu memalukan.
"Bantu aku dong! cuma kamu yang bisa bantu," Rey sedikit meringis, tangannya terlihat menekan pisangnya.
Kedua pupil Dara bergerak mengikuti arah tangan Rey. Sontak Matanya langsung membulat sempurna bak bola pimpong.
"Dasar mesum!" teriak Dara seraya menutupi kedua matanya dan masih menyisakan celah di antara jari - jarinya agar matanya masih leluasa mengintip di luar sana.
"Apa maksudmu mesum? ayolah Ra, bantu aku berdiri. Sudah nggak tahan!" pinta Rey sedikit memaksa.
"Ah berdiri?! apanya yang berdiri?! aku nggak mau?!" Dara histeris. Otaknya sudah membayangkan yang tidak - tidak.
"Apa kamu ingin lihat aku kencing di celana?" Rey dibuat heran dengan respon Dara yang berlebihan itu.
"Hah? kencing?" Dara mengulangi.
"Ooow? i.. Iya," ucapnya terbata - bata. Dara dengan cekatan mendekati Rey dan membantunya berdiri.
Dara berkali - kali mengutuki dirinya di dalam hati. Mukanya memerah sudah seperti kepiting rebus. Merasa malu gara - gara otaknya yang terlalu jauh travelling, sehingga buat dia salah paham.
"Sungguh memalukan! semoga saja Rey tidak menyadarinya. Harga diriku bisa hancur kalau dia sampai sadar," gerutu Dara yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Rey diam - diam mengulum bibirnya. Tersenyum geli melihat gerak gerik Dara. Dia tahu Dara sedang menutupi rasa malunya. Muka dan telinga wanita yang sedang memapahnya itu sudah memerah.
Rey memang sengaja menggoda Dara. Menggunakan kata - kata jebakan, untuk melihat reaksi Dara yang memang sesuai dengan prediksinya.
Dara yang sedang memapah Rey, langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi. Hal itu membuat Rey bertanya - tanya kenapa wanita itu berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Rey.
"Kamu harus masuk sendiri ke dalam," timpal Dara.
Rey terdiam. Masih enggan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Buruan! jangan buat aku repot karena harus membersihkan air kencingmu karena ngompol di celana!" kesal Dara yang sebenarnya dia masih berusaha menutupi rasa malunya karena kejadian tadi.
"Badanku masih lemas. Kamu harus mengantar aku sampai dalam," pinta Rey memelas.
"Apa?! please ya! jangan manja!" seru Dara.
"Iiishh! buruan papah aku ke dalam. Sudah mau keluar nih!" Rey meringis menahan kencing.
"Hah! oke oke!" Dara pun terpaksa mengantar Rey ke dalam.
Mereka sekarang sudah berdiri di depan kloset duduk. Dara masih memopang tubuh Rey yang masih terasa panas itu. Tangannya yang kanan melingkari pinggang berototnya dan tangannya yang kiri memegang tangan Rey yang bersender di bahunya.
Tubuh Dara yang kecil memang agak kesulitan jika harus memapah tubuh Rey yang tinggi dan besar itu. Tinggi tubuh Dara tidak lebih tinggi dari bahu Rey.
"Kreeeek!"
Rey mulai menurunkan resleting celananya dengan satu tangannya dan mulai mengeluarkan air seni yang sudah memberontak minta dibebaskan sedari tadi.
Mengetahui hal itu, Dara dengan cepat memalingkan muka ke arah samping karena malu. Meskipun dulu dia sudah terbiasa melihat pisang tunggal yang bergelantungan milik Rey. Namun tetap saja situasi sekarang sudah berbeda.
Suara gemericik air kencing sudah berhenti dari beberapa saat yang lalu. Tapi Dara belum juga mendengar komando dari Rey. Dara yang mulai merasa pegal pada pundaknya karena beban tangan Rey sedikit merasa kesal.
"Apa belum selesai?" tanya wanita yang sedang merasa keberatan itu.
"Belum. Susah nih," timpal Rey.
"Apanya yang susah?" Dara penasaran.
"Hah! aku nyerah deh!" seru Rey.
"He? kamu itu tinggal ngeluarin aja apanya yang susah sih?! haruskah aku mengajarimu?!" ejek Dara yang jengkel.
"Coba kamu bantu aku!" pinta Rey.
"He? bantu apanya?! kamu jangan macam - macam!" ancam Dara.
"Ini loh, resleting celanaku nyangkut," jelas Rey.
"Hadeeh! kenapa ada adegan nyangkut segala sih?! udah biarin saja begitu! buruan keluar. Badanku sudah pegal nih!" gerutu Dara.
"Masa kamu tega biarin burung aku menciut karena kedinginan? apalagi sekarang udaranya mulai dingin," protes Rey.
"Mending buruan bantu aku. Daripada kita bermalam di toilet, karena aku nggak mau keluar kalau burungku satu - satunya ini belum tertutup," rengek Rey.
"Apa'an sih, dari tadi ngomong burung - burung melulu! makanya punya burung dikasih bulu biar nggak kedinginan!" hardik Dara.
Dengan berat hati Dara pun bersedia membantu Rey. Dia mulai berjongkok di depan Rey. Kepalanya sudah sejajar dengan sesuatu yang menjadi pangkal masalahnya.
Dara sedikit kikuk. Ingin rasanya dia cepat - cepat mengakhiri situasi yang bikin dia canggung ini. Beberapa kali Dara mencoba menaik turunkan kunci Resleting yang tersangkut itu, tapi belum juga berhasil.
Dara menipiskan kedua belah bibirnya. Kedua matanya sedikit menyipit. Jari - jari tangannya sudah membuat posisi kuda - kuda. Mengumpulkan energi sebanyak mungkin dan dengan kekuatan maksimal Dara menarik kunci resleting itu tanpa ampun.
"Kreeeekk!"
"Aarrrrggggggg.........!!!!!"
Terdengar suara resleting yang di ikuti suara teriakan Rey menggema di seluruh ruangan apartemennya.
Rey merasakan nyeri yang luar biasa pada benda pusakanya yang paling beharga itu. Sungguh na'as.
Begitulah akhir cerita tragedi burung kecepit.
(Author gesrek!🤣)
Bersambung~~