Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 49 Ancaman dari luar



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Hari ini Rey berniat mengajak Dara ke suatu acara pernikahan. Beberapa hari yang lalu, Jenyta putri dari Pak Herdy yang dimana juga sebagai adik sepupu Rey mengirim undangan pernikahannya langsung ke kantor tempat Rey bekerja.


Pak Herdy adalah Kakak kandung Ayah Rengga. Jadi otomatis semua keluarga Erlangga akan menghadiri acara pernikahan salah satu keluarga terpenting tersebut.


Dara masih terdiam menatapi gaun cantik nan mewah bewarna merah maroon yang tergeletak di atas ranjangnya. Setelah beberapa minggu tekurung di dalam rumah istana yang begitu banyak meninggalkan kenangan pahit ini baru pertama baginya busa menghirup udara segar di dunia luar.


Rey menghampiri wanita yang masih terdiam menatapi gaun yang menjadi pusat perhatiannya saat ini.


"Kenapa kamu belum mengganti pakaianmu sayang?" tanya Rey seraya membelai rambut sang istri.


Dara masih setia dengan kebisuannya.


"Apa aku harus membantumu mengenakannya?"


"Jangan ngimpi," ucap Dara ketus seraya meraih gaun dan pergi menuju kamar mandi.


Rey hanya terkekeh geli sembari melihat punggung istrinya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar mandi. Namun siapa tahu dibalik tawanya masih terselip rasa kesedihan di dalamnya. Mengingat sikap istrinya yang masih memendam kekecewaan yang seakan tak berujung terhadapnya membuat hatinya perih.


Selang tidak lama, Dara keluar dari kamar mandi. Gaun cantik bewarna merah maroon tanpa lengan sudah melekat pada tubuh sexynya. Kemudian dia duduk di depan meja rias dan mulai mengaplikasikan beberapa benda make up. Terakhir mengoles lipstik matte warna coral. Riasan yang natural namun cukup menambah pesona kecantikannya. Rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai menutupi bahunya yang tidak terlapis kain.


Rey tersenyum puas melihat penampilan istrinya.


"Kamu terlihat sangat cantik sayang," puji Rey.


Tanpa merespon pujian suaminya, wanita bergaun merah maroon itu melenggang pergi melewati Rey menuju ke lantai bawah. Rey hanya menggelengkan kepalanya pasrah mendapati sikap dingin sang istri seraya mengikutinya meninggalkan kamar.


Sesampainya di depan mobil, dengan cekatan Rey membukakan pintu bagian bangku penumpang depan untuk Dara. Namun alih - alih sang wanita bersedia masuk. Dara malah lebih memilih membuka pintu sendiri dan duduk di bangku penumpang belakang.


Lagi - lagi Rey harus berusaha menerima dengan berlapang dada terhadap sikap dingin istrinya.


Akhirnya mobil mewah bewarna hitam metalik itu melaju melewati gerbang dan menembus jalanan. Kali ini Rey memang sengaja membiarkan Dara pergi dengannya tanpa diikuti pengawal. Semua itu dilakukan agar Dara sedikit merasa nyaman. Selama terkurung di rumah bagaikan sangkar emas itu, Dara sering sekali protes akan keberadaan para pengawal yang menurutnya sangat berlebihan dan dia tidak ingin membuat mood istrinya semakin buruk.


Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai pada kediaman Pak Herdy tempat acara pesta pernikahan putrinya berlangsung. Keluarga Pak Herdy memang sengaja tidak menyewa ballroom hotel berbintang sebagai tempat pesta pernikahan putrinya. Dia lebih memilih rumah mewahnya sebagai tempat perayaan momen bahagia sang putri.


Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir kendaraan khusus tamu, sepasang suami istri itu melangkah dengan beriringan menuju ke bangunan yang sudah dihias sedemikian rupa yang menampilkan dekorasi khas pernikahan mewah. Bunga - bunga segar ikut melengkapi keindahan dekorasi pesta pernikahan yang bertema klasik tersebut. Suara musik elekton dan merdunya suara penyanyi profesional tak kalah ikut memeriah acara pesta. Para penerima tamu yang sudah tampil cantik dengan riasan dan gaun senada menyambut hangat kedatang sepasang suami istri itu.


Papa Rengga dan Rani sang istri sudah terlihat duduk di kursi tamu keluarga yang telah disediakan. Pak Herdy dan istrinya juga terlihat sedang berbincang - bincang dengan kedua orangtua Rey.


Sebelum bergabung bersama Papa Rengga, Rey dan Dara terlebih dahulu menaiki stage tempat Raja dan Ratu semalam berdiri. Memberi kata selamat dan tak lupa kado yang sudah disiapkan sebelumnya di rumah.


"Selamat siang Om dan Tante?" sapa Rey kepada Tuan dan Nyonya rumah yang tengah asyik berbincang kepada kedua orangtuanya.


"Selamat siang Nak Rey dan Nak Dara juga, kalian sudah datang? Mari duduk dulu," Pak Herdy menyambut kedatangan Rey. Terlihat senyuman bahagia pada muka pria yang sudah berhias garis - garis usia tua tersebut.


"Nak Rey dan Nak Dara silahkan dinikmati semua makanan yang ada. Tidak perlu sungkan," sela istri Pak Herdy ramah.


"Baik Tante, terimakasih," balas Rey.


Dara hanya menampilkan senyuman termanisnya. Dia tidak mungkin menunjukkan moodnya yang sedang tidak bersahabat kepada orang - orang.


"Papa dan Mama sudah lama datang?" tanya Rey seraya membukakan kursi kosong untuk Dara duduki. Kali ini Dara menerima perhatian suaminya.


"Hai Rey...," sapa seorang wanita yang datang bersama suaminya. Mereka adalah Dokter Arka dan Nandira. Arka terlihat sedang menggendong seorang bayi lucu menggemaskan yang berusia sekitar satu tahunan.


Lagi - lagi Dara menyadari perubahan raut muka masam Rey saat mengetahui keberadaan Arka. Bahkan Raut muka tidak senang Rey terlihat semakin jelas akan kehadiran wanita yang baru saja menyapanya itu. Hal itu tentu semakin menumbuhkan rasa penasaran pada benak pikiran Dara.


"Selamat siang Om, Tante. Selamat siang Rey dan Dara," Arka memberi sapa selaan karena menyadari istrinya hanya menyapa Rey.


"Selamat siang sayang, anakmu gemuk sekali, sini ikut eyang Rani," Rani dengan gemas mengulurkan tangan dan meraih dengan hati - hati bayi perempuan yang masih dalam pelukan sang Ayah.


"Kalian duduklah bersama kami," tawar Rani kepada Arka dan Nandira.


"Terimakasih tante...," jawab Nandira antusias. Akhirnya Arka dan Nandira ikut bergabung dengan mereka.


Sedangkan Papa Rengga hanya tersenyum tipis. Dia merasa heran dengan sikap tidak peka Rani terhadap raut muka putranya akan keberadaan Arka dan Nandira.


Di sisi lain tiba - tiba Dara menatap nanar bayi perempuan yang sedang dalam pangkuan Rani. Wanita yang masih setia dengan kenangan masalalunya itu mulai teringat akan calon bayinya yang belum sempat melihat dunia sementara yang penuh dengan warna ini.


"Andai Mama bisa melindungimu saat itu, pasti umurmu sebaya dengan bayi itu," batin Dara kelu.


Rey menyadari kesedihan istrinya saat ini. Pria itu mencoba menenangkan perasaan istrinya dengan menggenggam tangannya yang berada di bawa meja, namun sekali lagi Dara menolak perhatian yang diberikan dengan menarik tangannya dari genggaman hangat tangan sang suami.


"Tenggorokanku kering, aku ingin mengambil minuman dulu," ucap Dara kepada Rey, mencoba mengalihkan perhatiannya dari bayi perempuan itu.


"Kamu duduklah sayang, biar aku ambilkan," tawar Rey yang masih setia memberikan perhatian kepada istrinya.


"Nggak perlu sayang, aku bisa mengambilnya sendiri," ucap Dara lembut guna menutupi ketidakharmonisan rumah tangganya di depan orang - orang, apalagi di hadapan sang Papa mertua yang selalu menyayanginya.


"Baiklah," ucap Rey melemparkan senyuman hangat. Pria itu sangat tahu bahwa Dara sedang berpura - pura bersikap hangat di depan orangtuanya.


Dara pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah buffet tempat makanan dan minuman yang telah disediakan.


Nandira yang memang sedari tadi diam - diam menyimpan perasaan tidak suka kepada Dara pun ikut beranjak dari tempat duduknya.


"Honey, aku juga haus. Aku mau ambil minum dulu ya," ucap Nandira kepada Arka yang duduk di sebelahnya sebelum menyusul Dara.


"Sepertinya ini pertemuan pertama kita," sela Nandira kepada Dara yang tengah memilih minuman di atas buffet.


"Oh, hai. Sepertinya begitu," timpal Dara yang menyadari kedatangan Nandira.


"Nandira," Ucap Dira datar.


"Hm?"


"Namaku Nandira," ulangnya lagi dengan sedikit nada penekanan.


"Aku Dara," timpal Dara yang mulai tak suka dengan kehadiran wanita yang baru diketahui namanya tersebut.


"Sepertinya Rey sangat pintar menutupi masalalunya darimu ya? sehingga kamu tidak mengenaliku," celetuk Dira yang memang sengaja ingin menciptakan suasana panas di antara dia dan Dara.


"Maksutmu apa ya?" tanya Dara yang masih berusaha menjaga sikap.


* * *


Di luar meriahnya acara pesta pernikahan, seorang wanita dengan kejiwaan yang tak menentu sedang menggenggam erat setir mobil yang ada di hadapannya. Gemertak suara himpitan gigi karena amarah terdengar mengerikan. Sesekali seringai jahat muncul pada mukanya yang terlihat berantakan.


"Mati! mati! mati!"


"kamu harus mati!"


Kalimat mengerikan itu terus terdengar berulang - ulang di dalam mobil.


Bersambung~~