
Semenit sebel bel istirahat berbunyi, Faris sudah lebih dulu keluar kelas. Dengan dalih meminta izin pergi ke toilet, ia melangkah menuju kelas sang pemilik hati. Ya, tentu Silva. Memang siapa lagi?
Kelas mereka berjauhan. Faris di IPS, sementara Silva di kelas IPA. Jadi, Faris butuh waktu untuk menjemput Silva di kelasnya. Katakanlah Faris bucin kuadrat pada Silva. Ia bahkan tidak bisa bernapas dengan benar saat Silva tidak ada di dekatnya dalam waktu tidak sampai sehari. Ia berkali-kali menelpon Silva dengan panggilan video waktu ia berangkat bertanding basket ke luar kota waktu itu.
Silva sih senang-senang saja. Namun, kadang ada masanya ia sangat membenci sifat bucin akutnya Faris. Yaitu, saat lelaki itu sudah sangat berlebihan. Pernah waktu itu Silva sedang belajar, Faris tidak henti-hentinya menelpon. Tentu saja itu mengganggunya. Itu menyebabkan ia marah-marah dan Faris malah ikutan ngambek. Tapi tak lama setelah itu, Faris meminta maaf. Ia berkata telah menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi. Padahal Silva tahu bahwa yang dilakukan Faris adalah agar dirinya tidak ngambek lagi. Ya, mau tidak mau ia memaafkan.
Sikap Faris yang menurut Silva berlebihan adalah pacarnya itu selalu menjemputnya saat bel istirahat batu saja berbunyi. Ia tahu jarak dari kelasnya ke kelas Faris itu cukup jauh. Jadi bagaimana bisa lelaki itu sudah sampai di depan kelasnya bahkan sebelum ber berbunyi. Dan yang bisa Silva lakukan hanyalah menggeleng tak habis pikir.
Seperti saat ini, pacarnya itu sempat melambai padanya lalu bersandar di tiang koridor yang berada tepat di depan pintu kelas. Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, tatapan lelaki itu tajam terarah padanya. Entah kenapa, Silva seakan gugup setengah mati. Padahal Faris hanya menatapnya dari jarak yang cukup jauh. Tapi kenapa nampak berdamage sekali!! Batin Silva menjerit frustasi.
Setelah bel berbunyi menandakan waktunya istirahat, Silva segera menghampiri Faris yang masih berdiri dengan posisi yang sama di depan kelasnya. Bahkan lelaki itu tidak terganggu oleh teman-teman kelasnya yang berebut ingin keluar lebih dulu. Pandangannya terkunci pada gadisnya yang sekarang berjalan menghampiri.
"Ih, ngapain sih berdiri begitu di depan kelas? Mau narik perhatian cewek-cewek di kelasku, ya?!" tuduh Silva menyipitkan kedua mata.
Faris mengubah posisi berdirinya. Kini ia tak lagi bersandar di tiang. Ia berdiri tegak dengan satu tangan terangkat untuk menyampirkam rambut panjang Silva yang tergerai ke belakang telinga.
"Kamu gak boleh nuduh yang enggak-enggak sama pacar kamu, Sayang!" peringat Faris dengan sangat lembut diakhiri senyum yang begitu manis.
"Terus, ngapain berdiri di sini?!" tanya Silva lagi masih ingin mendengar alasan yang logis dari Faris.
"Aku kan nunggu pacar aku buat ke kantin bareng. Kuy, Yang!"
"Heh!! Kok kuyang?!" marah Silva menatap Faris tajam.
"E-eh, m-maksudnya bukan gitu! Tapi, aku-maksudnya tuh kuy, Sayang, gitu. Bukan ngatain kamu kuyang, bukan!" Faris membela dengan terbata. Jujur, ia paling takut saat Silva marah. Karena, jika marah betulan, sangat susah membujuknya.
"Tau ah!" putus Silva pergi meninggalkan Faris sambil menghentakkan kedua kakinya.
"Yah, Honey! Kok ngambek, sih? Honey! Yah..." Faris mendesah frustasi.
"Yah... Ka...si..an..."
Saat menoleh ke belakang, tiga teman baik Silva sedang menatapnya prihatin sambil menggeleng dramatis.
"Apaan sih? Honey gue lagi ngambek tuh! Kalian jangan ganggu kita dulu, ya! Gue mau duduk berdua dulu sama my honey," pesan Faris mengacungkan telunjuknya di depan para gadis itu.
"Dih, kok gitu?! Justru lebih enak kalo kita duduk bareng kalian. Kan nanti kita bisa bantuan lo ngebujuk Silva, iya gak, guys?" kilah Raini bertanya pada kedua sahabatnya.
"Diem deh, Gerimis! Udah ah, gue mau ngejar ayang Silva. Awas ya, kalo kalian ngeganggu kita..." Faris membuat gerakan memotong kepala dengan ekspresi wajah yang mengerikan(?) lalu berlari menyusul Silva.
"Anjir lu, menara epel! Masa gue dikatain gerimis?!" Gadis dengan rambut hitam sebahu yang tergerai itu menghentakkan kaki kesal, mengadu pada dua sahabatnya.
"Ya kan arti nama lo emang gerimis," kan?" jawab seorang gadis berkuncir kuda berponi dengan kaca mata. Menjawab datar lalu berjalan mendahului kedua sahabatnya.
"Ish, Dandi!!"
"Dinda, anjir!!" teriak sang empunya nama walaupun sudah berjalan melewati satu ruang kelas.
"Ayo Bening! Jangan kelamaan deket-deket si gerimis! Takut ntar kesamber petirnya!" lanjut Dinda berhasil membuat Bening terbahak sambil memukuli lengan Raini.
"Sakit, njir! Bening!!" pekik Raini melotot lebar pada Bening.
"Eh, eh, tuhkan bener gue kesamber petir! Dinda, tunggu!" Bening lalu melesat berlari menyusul Dinda.
"Mampus lu gak bening lagi!" sembur Raini bersungut-sungut lalu menyusul kedua sahabatnya dengan kaki menghentak.
"Nasib, nasib. Punya temen gak ada yang bener!"
***
Sampai di kantin, Silva segera duduk di meja yang masih kosong, ia sengaja mengambil tempat yang agak pojok. Tadinya ia ingin duduk di pojok, tapi sudah ada yang menempati. Ia duduk bersedekah dada dengan bibir yang masih mengerucut. Ia tahu Faris mengikutinya, jadi ia tidak perlu repot-repot memesan makanan. Biar saja pacar tengilnya itu yang memesan untuknya, pikir Silva.
Tak lama kemudian, Faris datang dan celungak-celinguk mencari keberadaan Silva. Saat sudah menemukan sang pacar, senyumnya mengembang lalu segera menghampiri gadis itu.
"Hon--"
"Pesenin aku makan!"
Baru saja Faris akan duduk di samping Silva, gadis itu sudah memerintahnya untuk memesan makanan. Faris terdiam sejenak menatap wajah tertekuk Silva. Lalu helaan napas pasrah keluar dari bibirnya. Faris ini manusia paling bucin di dunia, tentu saja apapun yang diinginkan sang kekasih, pasti akan ia penuhi.
"Siap, Tuan Putri! Ingin makanan apa?" tanya Faris agak membungkuk di hadapan Silva.
Sudut bibir Silva berkedut sedikit akibat menahan senyum. Saat Faris menaikkan pandangannya pada wajah Silva, ia kembali membuat ekspresi datar.
"Kaya biasa aja," jawab Silva datar.
Tanpa menyadari senyuman Silva yang pada akhirnya mengembang juga.
"Woy!"
Ketiga sahabatnya datang entah dari mana menggebrak meja di depannya membuat Silva agak terkejut.
Tanpa merasa bersalah, ketiganya malah tertawa lalu duduk di kursi-kursi yang masih kosong.
"Ish, kaget, dodol!"
"Lagian ngapain lo senyum-senyum sendiri? Kek orang gila, dih!" Raini bergidik ngeri.
"Yee, orang gue lagi seneng, juga," balas Silva melirik keberadaan Faris sambil tersenyum malu. Membuat Dinda dan Raini ikut menoleh ke arah yang dituju Silva, lalu mengangguk mengerti.
"Seneng kenapa?" tanya Bening menaikkan kedua alisnya.
"Biasalah, kaum jomblo kek lo gak bakal ngerti, Ning," sahut Dinda dengan tampang datarnya.
"Anjir, Dinda!" seru Raini membuat Dinda mengerutkan kening heran.
"Apa sih?"
"Pedes banget mulut lo!"
"Tau tuh, si Dandi! Gak berperikejombloan banget!" sungut Bening dengan bibir maju dua senti.
"Bagus, Din! Suka gue sama yang pedes-pedes begini. Lanjutkan, anak muda!" seru Raini sambil bertepuk tangan heboh.
"Apa lo bilang?!" geram Bening lalu menjepit leher Raini dengan lipatan sikunya membuat Raini berteriak sambil memukul-mukul tangan Bening.
Dinda hanya menggeleng dan menghela napas lelah dengan tingkah kekanakkan dua sahabatnya itu.
"Heh, heh, heh! Ngapain lo berdua, woy?!" Faris mencoba memisahkan keduanya, namun tetap tak bisa dipisahkan.
Terpaksa Faris harus menjinjing kerah belakang Bening untuk menjauh dan melepaskan Raini sampai kembali duduk di kursinya.
"Ih, Faris! Lo kira gue anak kambing apa dijinjing begitu?!"
Tak!
"Sakit dong, Din!"
"Mana ada kambing ngejinjing anaknya begitu? Yang ada kucing, dodol!" sembur Dinda setelah menjitak kepala Bening.
"Udah deh, stop, stop! Kalian tuh jadi cewek bar-bar banget, sih, heran?" gerundel Faris yang membuat semuanya kicep terdiam di tempat masing-masing.
"Gerimis tuh yang mulai duluan!"
"Enak aja--"
"Berenti!"
Hening. Semuanya terdiam. Faris menatap mereka tajam seakan marah sungguhan. Semua yang ada di meja itu terdiam, khususnya Raini dan Bening yang tertunduk takut.
Sedetik kemudian, Faris menghela napas lalu ekspresinya berubah seketika.
"Honey~ aku capek, mau disuapin," rengek Faris duduk di samping Silva lalu menduselkan kepala di bahu Silva.
"Lah?" Ketiga cewek di sana saling tatap lalu menggeleng tak habis pikir.
"Hmm... Ya udah, sini aku suapin!" Silva mendekatkan mangkuk bakso milik Faris lebih dekat dengannya lalu dengan sabar menyuapi Faris yang sedang dalam mode manja.
Faris tentu saja senang. Ia bisa bersandar dan memeluk Silva sambil disuapi oleh gadisnya itu. Jarang-jarang Silva mau diperlakukan seperti ini oleh Faris. Biasanya, gadis itu akan menolak dengan berbagai cara karena malu diperhatikan banyak orang. Namun, kali ini berbeda. Mungkin Silva sudah terbiasa atau berusaha membiasakan diri.
Yang jelas, ini sangat menguntungkan bagi Faris. Apalagi saat ia menangkap sosok Arkan duduk tak jauh dari mejanya. Dapat ia lihat wajah terkejut Arkan saat melihatnya. Faris yakin, Arkan pasti cemburu karena melihatnya bersandar dan memeluk Silva. Lalu, ide bagus terlintas di otaknya. Dengan tiba-tiba, ia mencium pipi Silva sekilas saat gadis itu sedang mengobrol dengan ketiga sahabatnya. Jelas itu membuat Silva terkejut sampai mematung. Tak lama kemudian, rona merah menjalar di kedua pipi putih itu. Faris memberikan seringai pada Arkan setelahnya. Betapa ia puas saat melihat Arkan dengan wajah merah dan kedua tangan mengepal, pergi keluar kantin tanpa memedulikan teriakan Rafan dan Kevin.
Faris menegakkan tubuhnya. Ia puas, namun, kenapa ada sedikit rasa bersalah? Apa tindakannya tadi berlebihan?
Ah, tidak juga! Ia melakukan itu karena ia ingin memberi tahu pada Arkan bahwa Silva adalah miliknya. Jadi, tidak ada yang boleh merebut Silva dari sisinya, sekalipun itu sahabatnya sendiri.
... Bersambung......