Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 45. Adik Rafan Hamil?



"Adik kamu hamil."


"H-hah? R-reva hamil?!"


"Loh? Siapa Reva?"


"Adik saya."


"Maksud saya adik kamu yang ada di sini."


Seakan otaknya berbunyi klik, Rafan tersadar. "Oh! Adik saya, Silva maksudnya?" tanya Rafan retoris, terkekeh canggung. Dirinya sendiri yang mengaku Silva sebagai adiknya, sekarang dia sendiri pula yang lupa sandiwaranya.


Tapi seketika Rafan melebarkan kedua matanya. "Hah?! Silva hamil?!"


Dokter menghela napas jengah. Sebenarnya ia sedang menahan untuk tidak memutar bola matanya apalagi memukul kepala Rafan dengan stetoskop.


"Y-yang bener, Dok?"


Dokter mengangguk lalu menyerahkan sebuah amplop yang berisi surat pernyataan hasil uji lab. Di sana dinyatakan bahwa Silva memang benar-benar sedang mengandung. Saking shocknya, Rafan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Ya udah kalo gitu, Dok. S-saya permisi," pamit Rafan masih dengan wajah kagetnya.


Si dokter menahannya dengan menyentuh pundak Rafan. "Apapun yang terjadi nanti, jangan sampai Silva stress atau sedih berlebihan, apalagi sampai depresi atau bahkan melakukan aborsi. Karena itu bisa berakibat fatal bagi kandungannya. Jaga adikmu dan bayinya dengan baik. Biarkan bayi itu lahir dengan selamat atau mengikuti takdir Tuhan, tapi tidak dengan perbuatan tangan jahat manusia."


Perlahan Rafan mengangguk yakin. "Baik, Dok. Saya pasti menjaga adik saya dan bayi yang ada di dalam kandungannya dengan baik. Bagaimanapun, saya adalah manusia yang punya hati nurani selembut kain sutra dan sebening embun pagi di pegunungan Jaya Wijaya."


Tentu saja dokter itu terkekeh mendengar jawaban Rafan. Apalagi saat berkata demikian, raut wajahnya nampak serius. Membuatnya hanya bisa menggelengkan kepala.


"Ya udah, Dok. Saya permisi." Rafan segera meninggalkan ruangan itu setelah melihat sang dokter menganggukkan kepalanya, mengizinkan.


***


Dengan sedikit tergesa dan perasaan khawatir, Hanum menyusuri lorong-lorong rumah sakit mencari letak kamar inap sang putri. Ia dapatkan informasi dari resepsionis tadi. Sudah cukup putri tunggalnya merasakan kesengsaraan setelah mendapat masalah yang pelakunya saja belum diketahui. Ia rasa memaafkan Silva bukanlah hal yang buruk. Toh, bukan Silva yang salah. Justru di sini ia yang menjadi korban. Hanum akan meminta maaf dan kembali melindungi Silva.


Setelah sepuluh menit mencari, akhirnya Hanum berhasil menemukan ruangan rawat inap Silva. Ia mengetuk pintunya beberapa kali. Hingga pintu terbuka dan menampakkan Bening, sang sahabat putrinya. Yang terlihat tegang saat melihat eksistensinya di depan pintu.


"O-om Hanum?"


"Gimana keadaan anak saya?" tanya Hanum masih dengan wajah datar ditambah lagi nada dingin, sukses membuat Bening bergetar dan sesak napas ringan.


"Euh... A-anu, Om. S-silva b-baik-baik aja," jawab Bening terbata dengan badan yang masih menghalangi akses masuk.


"Kalau begitu, saya mau melihatnya," ujar Hanum dengan nada seakan tak ingin dibantah.


Jelas itu membuat nyali Bening menciut. Niat awal ingin mencoba melindungi sahabatnya dari kemarahan sang ayah, pudar bersamaan dengan keberaniannya. Lantas digesernya tubuh agar Hanum bisa masuk. Lebih baik menyerah daripada dirinya yang susah, pikir Bening.


"Ayah?" ucap Silva dengan suara yang parau.


Bruk!


Seketika Silva melepas jarum infus yang tertancap di tangannya lalu bersimpuh memeluk lutut sang ayah. Menangis tersedu dan mengucapkan kata maaf berulang kali.


Semua yang ada di sana terperangah. Mereka tidak pernah menyangka Silva akan seberani itu. Tapi, ingin menolong pun tidak tahu harus bagaimana. Jadi, mereka hanya diam, membiarkan Silva dengan usahanya.


"Maafin Silva, Yah, maaf. Silva emang anak yang gak bisa dibanggakan, gak bisa diandalkan, gak bisa diharapkan. Maaf, Yah, Silva minta maaf. Tolong maafin Silva, Yah." Silva memeluk erat kaki Hanum, menangis tersedu di sana. Hingga sulit bernapas dengan baik.


Hanum hanya berdiri. Masih belum membalas apapun. Lelaki paruh baya itu hanya melempar pandangan lurus. Jika orang-orang di sana memiliki penglihatan yang jeli, mungkin mereka bisa melihat kedua netra tegas itu sedikit memerah dan berair.


Semua orang tak terkecuali ayah dan anak yang sedang dalam keadaan mellow, menoleh ke arah pintu yang dibuka dari luar. Hanum membantu Silva berdiri.


Seketika tubuh Rafan kaku setelah melihat sosok Hanum ada di dalam ruangan itu. Harus bagaimana ia agar bisa menyembunyikan fakta ini sebelum Arkan tahu dan sahabatnya itu yang akan mengakui sendiri pada ayah Silva ini. Oh, ini di luar dari rencana! Bagaimana ini? Batin Rafan panik.


"Rafan? Kamu kenapa diam di situ? Ayo masuk dan jelaskan apa kata dokter tentang keadaan Silva!" kata Hanum membuat Rafan sedikit tersentak.


"K-kata dokter?"


"Iya, kamu habis dari ruangan dokter, kan?"


"I-iya Om."


"Jadi, apa katanya?"


"Eum... I-itu, Om. Si-silva... Eum..." gagap Rafan membuat Hanum mengembuskan napas tak sabaran. Hingga netranya menangkap sebuah amplop berlogo rumah sakit yang digenggam oleh Rafan.


"Ya udah, gak usah kamu yang jelasin. Biar saya lihat hasil lab-nya sendiri. Sini suratnya!" ujarnya menunjuk amplop di genggaman Rafan.


"I-ini Om?" tanya Rafan sambil mengangkat amplop tersebut. Namun, pandangannya terpusat ke arah para sahabatnya yang menggeleng ribut. Menandakan mereka melarang Rafan memberikan amplop itu sebelum Arkan datang dan mengetahuinya lebih dulu.


"Iya, cepat kemari!"


"T-tapi, Om. Ini..."


"Rafan!"


Tubuh Rafan yang sedang kaku, semakin terasa sulit digerakkan. Jantungnya berdebar keras dan darahnya berdesir sangat deras mengalirkan asumsi ke otaknya bahwa bahaya telah di depan mata jika ia masih kukuh pada pendiriannya. Jadi, Rafan maju menyerahkan amplop itu kepada Hanum dengan tangan gemetar.


Hanum menerimanya dan segera membuka amplop tersebut, membaca isinya. Sementara para penonton melempar tatapan tajam pada Rafan. Mereka kecewa dengan nyali Rafan yang menciut hanya dengan sekali bentakan dan pelototan mengerikan. Padahal, kalau Kevin yang berada di posisi Rafan, mungkin ia sudah mengompol di tempat.


Beberapa saat Hanum membaca surat pernyataan hasil lab itu, mereka semua menunggu bagaimana reaksi yang akan Hanum tunjukkan dari hasil lab itu. Karena mereka pun belum tahu hasilnya. Sementara Rafan yang sudah tau, meneguk ludahnya berkali-kali. Tubuhnya terasa panas dingin.


Silva yang melihat raut Rafan yang pias, hanya menunggu dengan harap-harap cemas. Sebenarnya dirinya ini sakit apa?


Saat itu juga mereka melihat rahang Hanum mengeras, wajahnya memerah padam, dan tangannya meremas sedikit bagian surat. Tak lama karena ia segera melipat surat itu dan kembali memasukkannya ke dalam amplop. Lalu amplop itu dimasukkan ke dalam saku jasnya.


Menarik napas panjang sekali, Hanum berbicara yang membuat semua orang di sana tercekat.


"Silva, kamu hamil. Oleh karena itu, silahkan keluar dari rumah saya! Saya akan memindahkan semua barangmu ke apartemen Arkan. Silahkan tinggal di sana bersama lelaki yang akan bertanggung jawab atas dirimu!"


Silva tidak bisa berkata apapun lagi. Ia sangat tidak menyangka dan terpukul oleh keputusan ayahnya. Kenapa sampai diusir dari rumah, pikir Silva. Pipi yang sudah basah, kembali dialiri air yang berlomba-lomba keluar dari kedua manik sembabnya. Silva menggeleng dan kembali mengucapkan kata maaf berkali-kali.


Hanum pun menggeleng dan meneguk salivanya sekali, seakan menelan tangisnya bulat-bulat. Tapi, hanya sedikit keyakinan yang percaya akan dugaan itu.


"Gak bisa, kamu harus ikuti keputusan saya. Setelah ini, kamu tidak perlu pulang ke rumah, langsung saja ke tempat Arkan. Tapi tenang saja. Jika kalian bisa membuktikan kepada kami bahwa kalian bisa menjadi orang tua yang baik bagi bayi kalian nanti, saya akan memaafkan kalian. Jadi, berusahalah!"


Hanum pergi setelah selesai mengucapkan kalimatnya. Keluar meninggalkan ruangan yang dipenuhi ketegangan.


"Silva!"


Saking dropnya, Silva kembali pingsan.


...Bersambung......