
Pagi telah menjemput, kedua mata itu mengerjap lalu perlahan terbuka. Ouh, rasanya sakit semua badan Arkan. Ia ingat jika semalam ia ketiduran di sofa ini. Tapi, seingatnya ia tertidur dengan bersandar ke sofa, lalu kenapa sekarang bisa berbaring. Apa mungkin ia tak menyadari jika ia telah berpindah posisi?
Arkan mengedikkan bahu acuh lalu bangkit dari sofa. Merenggangkan seluruh otot tubuhnya lalu berjalan ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Arkan membuka kaosnya dan bercermin. Kedua alisnya mengerut bingung.
"Kok udah diobatin? Perasaan gue gak ada ngobatin ini dulu deh sebelum tidur," gumamnya menyentuh luka-luka di wajahnya. Terdapat bekas obat menempel di sana.
"Apa mungkin gue lupa?"
Perlahan kerutan menghilang di keningnya. Berganti dengan senyum senang sekaligus miris. Andai ia boleh berharap bahwa Silva lah yang mengobatinya. Namun, sepertinya itu mustahil terjadi. Silva begitu sangat membencinya sampai mengatakan benci kepadanya berulang kali. Mana mungkin gadis itu peduli padanya sampai mengobati luka-lukanya semalam.
Tunggu, berbicara tentang semalam, tiba-tiba wajahnya terasa panas. Mengingat mimpinya yang sangat nyata, seakan memang benar-benar terjadi. Ia menyentuh permukaan bibirnya yang semalam sangat beruntung. Rasanya tekstur lembut bibir milik Silva masih tertinggal di sana. Padahal hanya mimpi, tapi kenapa rasanya sangat nyata. Arkan menggeleng berusaha mengenyahkan bayangan itu dari pikirannya lalu mulai membersihkan tubuhnya.
***
Perutnya yang bergemuruh berhasil membangunkan Silva dari tidur singkatnya. Kenapa singkat? Karena, ia tidak bisa tidur semalaman, dan baru bisa terlelap pukul tiga dini hari. Penyebabnya apalagi jika bukan kelakuan mencurigakan Arkan semalam yang mencium bibirnya.
Iya, bagi Silva itu sangat mencurigakan. Bagaimana tidak, mana ada orang tertidur dan mengigau sampai bisa sungguhan mencium orang di depannya. Seumur hidup, Silva baru mendapatinya dari Arkan saja. Uh, pipinya terasa panas! Mungkin sudah memerah padam sekarang. Untung di sana hanya ada dirinya.
Kruyuuk...
Suara perut diiringi rasa menggelitik mengganggunya dan menghempas bayangan semalam yang terus berputar di dalam kepalanya. Silva turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Ia buka pintu itu perlahan dan menyembulkan kepalanya keluar. Tidak ada siapapun di ruang tv. Lalu kemana Arkan? Pikir Silva. Apa mungkin sudah pergi?
Dengan kepala yang celingukan, Silva keluar dan kembali menutup pintu kamar. Ia berjalan setengah mengendap-endap hingga sampai di dapur. Baru selangkah Silva menginjak wilayah dapur, langkahnya terhenti mendadak dan tubuhnya menegang.
Di depan pintu kamar mandi, Arkan baru saja keluar dengan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya dan rambut juga sebagian tubuhnya masih basah. Hal itu berhasil membuat wajah Silva memanas. Hingga rona samarnya terlihat oleh Arkan yang perlahan menahan senyumnya dengan mengulum bibir karena merasa lucu dengan tingkah Silva yang sepertinya sedang malu.
"E-eh, Silva!" Arkan menghampiri Silva lalu menahan pergelangan tangannya karena gadis itu akan berbalik pergi.
Arkan membalikkan tubuh Silva yang menundukkan kepalanya dalam. Seakan tidak ingin melihat tubuhnya.
Silva melirik tangannya yang digenggam Arkan. Menyadari itu, Arkan melepaskan genggamannya dengan gerakan kaku lalu mengusap tengkuknya merasa canggung.
"Eum... J-jangan balik lagi. Kita sarapan bareng, nanti gue masakin mi goreng. Oke?" gagap Arkan menatap Silva yang masih setia menunduk.
Melihat kepala Silva mengangguk kaku, Arkan tersenyum lebar. "Y-ya udah, kalo gitu gue mau pake baju dulu, ya. L-lo tunggu aja di meja makan."
Lagi-lagi Silva hanya mengangguk sebagai jawaban. "Ya udah, tunggu bentar, ya!" Arkan tergesa memasuki kamarnya untuk memakai pakaian.
Sementara Silva menoleh ke arah pintu kamar Arkan yang sejak kemarin ditempati olehnya. Wajahnya nampak sendu. Entah kenapa, tapi ia merasa sedikit sedih dengan panggilan Arkan yang kembali menggunakan 'gue-lo'. Apa sebabnya pun ia tidak tahu, karena ia sendiri pun merasa dirinya aneh sejak kejadian semalam. Silva menggelengkan kepala saat bayangan itu kembali melintas di kepalanya.
"Huh! Kalo sampe gue gila, pasti gara-gara dia!" gumam Silva lalu berjalan menuju meja makan.
Beberapa menit kemudian, Arkan keluar dari kamar dengan sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya. Entah sejak kapan setiap melihat Arkan, jantung Silva selalu berdebar keras. Padahal hanya melihat senyum manis lelaki itu saja.
Arkan menyimpan tasnya di sofa ruang tv sebelum menghampiri Silva yang sudah duduk menunggunya di meja makan.
"Tunggu bentar lagi, ya. Gue masak dulu mi nya."
Pipinya kembali memanas. Bukan karena perkataan Arkan karena itu hanya kalimat biasa yang wajar diucapkan semua orang. Namun, karena pergerakan lelaki itu yang mengusak pelan rambut Silva ketika melewatinya menuju kompor dan mulai memasak. Lagi-lagi membuat Silva berusaha menetralkan detak jantungnya.
Silva menyangga dagunya dengan telapak tangan yang ditumpu di atas meja. Memperhatikan gerakan kaku Arkan saat di depan kompor. Terlihat sekali bahwa lelaki itu belum terbiasa bersentuhan dengan alat dapur. Andai ia punya keberanian yang tinggi, ia akan mengambil alih kegiatan itu dan menggantikan Arkan memasak. Namun sayang, nyalinya tidak sebesar itu. Jadi, yang ia lakukan hanya diam menunggu Arkan selesai.
"Nah, udah jadi! Nih, ayo dimakan!" Arkan sudah selesai dan menyajikan sepiring mi goreng ke hadapan Silva. Lalu ia sendiri duduk di seberang meja berhadapan dengan Silva dengan sepiring mi goreng berwarna merah gelap di hadapannya.
"Gue suka makanan pedes, makanya gue tambahin bubuk cabe lumayan banyak," ujarnya sedikit canggung.
Dalam hati Silva menimpali, "Bukan lumayan banyak lagi itu sih, tapi kebangetan banyaknya."
Mereka pun mulai menikmati sarapan masing-masing. Suasana hening hanya ada suara dentingan garpu dan piring. Hingga Arkan berdehem memecahkan keheningan itu. Ia meminum beberapa teguk air putih miliknya lalu menatap Silva yang sibuk makan dan sesekali melirik Arkan dengan tingkahnya yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Eum... Mulai sekarang setiap pulang sekolah gue kerja part time di cafe bang Regan. Kemungkinan pulangnya sore. Lo kalo mau makan siang, cuma ada mi instan aja, gak papa kan? Nanti pulang dari cafe, baru gue belanja bahan makanan."
Lagi-lagi Silva hanya menjawab dengan anggukan dan kepala tertunduk. Setelahnya keheningan kembali mengambil alih.
Beberapa menit kemudian, Arkan selesai dengan sarapannya lalu mencuci piring bekas makannya.
"Kalo gitu, gue berangkat, ya," pamit Arkan yang hendak melewati Silva.
Namun, tertahan oleh Silva yang menahan pergelangan tangannya. Arkan sama sekali tidak menyangka Silva benar-benar menyentuh tangannya. Hingga ia perlahan menoleh dan mendapati Silva menunduk menatap tautan tangan mereka. Perlahan pula tatapan gadis itu naik ke atas hingga sampai di wajah Arkan.
"M-makasih," cicitnya pelan namun masih bisa Arkan dengar dengan jelas karena suasana yang hening.
Tak terlukis betapa berantakannya hati Arkan saking bahagianya. Senyum lebar pun mewakili perasaannya. Ia mengangguk dan menjawab, "Iya, sama-sama. Lo baik-baik ya selama gue gak ada. Jaga rumah baik-baik."
Tubuh Silva menegang dengan darahnya berdesir deras karena Arkan mengusap lembut pucuk kepalanya. Saking kosongnya pikiran Silva hingga ia tidak sadar jika Arkan sudah pergi. Lemas sudah seluruh tubuhnya. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi lalu menutup wajahnya dengan tangan.
"Gue bener-bener benci sama lo, Arkan! Cowok brengs*k! Pokoknya gue benci!" pekiknya yang bertolak belakang dengan tingkahnya yang mengipasi wajahnya yang masih terasa panas. Jangan lupakan debaran di dadanya yang menggila.
Entah sejak kapan berinteraksi dengan Arkan bisa membuatnya sekacau ini. Rasanya sebentar lagi ia akan sungguhan tidak waras.
***
Dalam sebuah ruangan, seorang pria paruh baya menerima sebuah amplop coklat dari seorang pria dengan jaket dan berkaca mata hitam. Si pria yang duduk di kursi kerjanya membuka amplop tersebut dan meneliti isinya dengan seksama. Sementara si pria berkaca mata hitam berdiri di sampingnya--menunggu.
Seulas senyum muncul di bibir sang bos besar setelah mengetahui isi amplop tersebut.
"Benar, kan, mereka jadi lebih dekat kalau tinggal bersama," gumam Setya memperhatikan satu persatu foto-foto Arkan dan Silva dengan kedekatan mereka yang entah kapan dipotret oleh pria berkaca mata itu. Yang jelas, pria itu yang menyerahkannya kepada Setya.
Ya, sudah lebih dari seminggu Arkan membawa Silva kabur. Dan memang kedekatan mereka menjadi lebih terlihat jelas.
"Aku harus menunjukkan ini pada Hanum, supaya dia gak uring-uringan terus," ucapnya lalu meraih ponselnya yang ada di atas meja.
Ia memotret lembaran-lembaran foto itu lalu mengirimkannya pada sang rekan kerja.
Setelahnya, senyum puas kembali ia tunjukkan pada pria di sampingnya. "Kerja bagus, Jeff. Terus awasi mereka sementara ini. Tapi, jangan terlalu intens seperti kemarin-kemarin. Cukup pastikan mereka baik-baik saja."
Pria yang dipanggil Jeff atau lebih tepatnya Jeffry itu mengangguk dan menunduk sopan. "Baik, Bos! Saya akan laksanakan perintah," jawabnya lalu kembali berdiri tegak.
"Terima kasih, kau boleh pergi dan istirahat," ucap Setya menyerahkan sebuah amplop coklat lainnya yang ia ambil dari dalam laci meja kerjanya. Sebuah ganjaran atas kerja keras Jeffry dari kemarin.
Setelahnya, Jeffry pun pamit undur diri dan berjalan keluar dari ruang kerja milik Setya.
"Apapun yang terjadi, semoga Silva gak hamil. Karena itu akan benar-benar buruk," gumam Setya menatap lembaran foto Arkan dan Silva dengan tatapan serius.
...Bersambung......