Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 74. Kehilangan Yang Tersayang



"Den Arkan ketemu!"


"Arkan! Aku mau liat Arkan!" seru Silva menuruni brangkar.


Tanpa sempat dicegah, ia lepas jarum infus yang tertancap di punggung tangannya lalu berlari keluar ruangan. Mengacuhkan mereka yang berteriak memanggil namanya.


"Silva, hati-hati, Nak!" seru Laras panik karena melihat Silva berlari dengan keadaan pikiran yang kacau.


"Biar kami yang kejar, Tante," ujar Raini dengan menarik tangan Bening lalu ikut berlari keluar mengejar Silva.


"Astaga, Silva..." lirih Laras yang mendapat pelukan dan usapan dari Dinda di kedua bahunya.


"Ayo kita ke sana juga, Tante."


***


Tubuh Arkan yang tak berdaya dan penuh luka yang kini tidak terlalu banyak darah, diturunkan dari ambulan dan dibawa oleh tim medis menuju ruang ICU agar bisa segera ditangani dengan peralatan kesehatan lain yang lebih mendukung.


***


Silva berlari sambil menangis dan menggumamkan nama Arkan berkali-kali. Tanpa memikirkan isi perutnya yang tidak boleh terguncang apalagi berlari. Silva terus berlari, menuruni tangga menuju ruang ICU.


Saat sampai, Silva melihat tubuh Arkan yang baru saja akan dimasukkan ke dalam. Ia melihat tubuh Arkan yang tak berdaya bahkan bernapas saja harus ditunjang. Didorong oleh para perawat, dokter, dan sahabat mereka.


"Arkan!"


Rafan, Faris dan Kevin menyadari keberadaan Silva yang berlari menghampiri mereka. Rafan berusaha menahan Silva agar tidak melihat kondisi Arkan dengan jelas. Karena ia tahu bahwa hal itu bisa menyebabkan Silva semakin khawatir akan kehilangan Arkan.


Namun, Silva menepisnya dengan kasar. Masih sambil menangis, Silva mencoba mendekati Arkan. Belum sampai di sana, Silva harus berhenti karena perawat tidak mengizinkannya ikut masuk.


"Tolong tunggu di luar saja, ya!"


Terpaksa Silva berhenti dan hanya bisa menangis menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Lalu perlahan tubuhnya meluruh ke lantai.


Rafan mendekat dan mengusap bahu Silva lembut. Berusaha menenangkan gadis itu. Sementara Faris dan Kevin memperhatikan dengan wajah tertunduk lesu.


Tak lama kemudian, Raini dan Bening sampai dan memeluk tubuh bergetar Silva. Keduanya ikut menangis mendengar tangis pilu milik Silva.


"A, akh..." rintih Silva di sela tangisnya.


Raini dan Bening melepas pelukan mereka dan memeriksa keadaan Silva. Betapa terkejutnya mereka saat mendapati sepanjang kaki Silva dialiri darah.


"Ya Tuhan, Silva!"


Raini menatap Faris dan Kevin yang juga nampak kaget. Faris segera mencari bantuan para perawat untuk membantu Silva agar cepat ditangani.


"Silva kenapa?" tanya Laras yang baru sampai dengan panik.


"Sepertinya pendarahan, Tante," jawab Dinda yang melihat darah mengucur di sepanjang paha hingga betis Silva.


Silva dibawa dengan brangkar oleh dua orang perawat untuk segera mendapat pertolongan. Diiringi sang bunda, ketiga sahabatnya, dan juga Faris yang akan berjaga jika ada masanya tenaga lelaki dibutuhkan. Sementara Rafan dan Kevin menunggu di depan ruangan ICU.


***


Di lantai berbeda namun masih tempat yang sama, Regan sedang memeluk sang adik tersayang. Bunga yang baru saja siuman, masih belum bisa berkata apapun karena efek samping obat bius pasca operasi, masih tersisa. Ia hanya bisa menangis saat mendengar penjelasan Regan sekaligus ucapan perpisahan darinya karena ia harus menjalani hukuman atas perbuatannya yang termasuk tindakan kriminal.


Bunga hanya menjawab dengan memejamkan kedua mata hingga air mata mengalir di pipinya.


Cukup lama Regan memeluk Bunga. Sampai polisi yang senantiasa berjaga di belakang pun menariknya agar segera menyudahi acara perpisahan itu. Ia seakan tidak rela melepas sang adik karena ia tahu setelah ini ia akan berpisah dengan Bunga. Entah bisa bertemu lagi atau tidak. Seketika ia menyesal atas apa yang telah ia perbuat hingga membuatnya harus ditangkap aparat hukum.


Polisi kembali memasangkan borgol di pergelangan tangan Regan yang hanya bisa pasrah.


"Abang pergi dulu, ya. Kamu hati-hati di sini, jangan lupa nanti temui Abang kalo kamu udah sembuh," tutur Regan sebelum akhirnya digiring keluar oleh para polisi.


Menyisakan Bunga sendirian yang menangis tanpa suara. Setelah ini, ia tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Semua anggota keluarganya sudah tiada, dan kakak yang hanya satu-satunya malah melakukan tindakan bodoh yang membuatnya berakhir dipenjara.


Padahal, ia tidak pernah menginginkan Regan melakukan hal kejam seperti itu. Ia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, hanya itu. Jika patah hati atau drop saat mendapat penolakan dari orang yang ia cintai, itu hal yang wajar. Ia juga akan memaklumi, karena ia tahu bahwa itu namanya normal. Jika sudah seperti ini, bukan cuma satu pihak yang merugi, tapi banyak orang juga yang merasa dirugikan.


Ah, rasanya ia ingin meminta Tuhan agar mencabut nyawanya saja sekarang. Karena hidup pun buat apa? Ia tak memiliki siapapun lagi untuk dapat membuatnya bertahan. Namun, seketika pesan mendiang sang ibu terlintas di otaknya.


"Jika kamu sudah merasa tidak ada lagi yang bisa membuatmu bertahan, ingatlah bahwa Tuhan masih ingin melihat kamu berdoa padanya. Tuhan selalu ada untuk semua hamba-Nya. Dia pasti akan menolong kamu."


Ya, satu-satunya penguat dirinya adalah Tuhan. Ia masih punya Tuhan yang menjadi alasannya untuk tetap hidup. Jadi, ia akan menerima semua kehendak Tuhannya. Tidak akan meminta dipercepat ataupun diperlambat kematiannya.


***


Beberapa jam kemudian, tim dokter yang mengoperasi Silva sudah selesai. Mereka terpaksa harus mengangkat janin yang ada di dalam perut Silva karena gadis itu mengalami pendarahan yang hebat menyebabkan ia kehilangan banyak sekali darah. Maka, untuk menyelamatkan hidupnya, para dokter terpaksa harus meniadakan si calon bayi.


Para keluarga sudah mengetahuinya dan dokter pun sudah mewanti-wanti agar mereka tidak menutupi kebenaran saat Silva sudah sadar nanti. Bagaimanapun, ia harus tahu apa yang sebenarnya telah terjadi padanya. Walaupun berat, tapi kejujuran akan jauh lebih baik dari pada kebohongan yang tidak akan pernah mendatangkan kebaikan, justru akan mengundang sesuatu yang lebih buruk lagi.


Kini, Silva sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Gadis itu masih belum sadar. Di sana, ada sang bunda dan tiga sahabat perempuannya. Mereka masih setia di sana. Bahkan Laras sudah mempersilahkan mereka pulang, karena hari sudah sore. Dari semalam, mereka sudah berada di sini. Tapi, mereka menolak karena mereka tidak akan bisa tenang jika meninggalkan Silva dalam keadaan belum sadar. Mereka khawatir Silva mengalami hal yang buruk saat mereka pulang.


"Tante yang sabar, ya. Ini adalah ujian yang berat banget bagi Silva. Jadi, kita sebagai orang-orang terdekatnya harus menguatkan. Gak boleh keliatan sedih, karena Silva pasti akan ikutan sedih juga. Dia butuh penguat supaya bisa tetap bertahan," tutur Dinda yang memeluk Laras sambil mengusap-usap bahunya lembut.


Laras mengangguk setuju. Ia akan berusaha terlihat kuat di hadapan sang putri tunggalnya. Ia menyadari bahwa dirinya adalah salah satu diantara support system' bagi Silva.


"Silva!" seru Bening yang merasakan pergerakan di tangan Silva.


Tak lama kemudian, Silva membuka matanya. Bening langsung memeluknya hangat beberapa saat.


"Bunda..." lirih Silva mencari sosok sang bunda.


"Iya, Sayang. Bunda di sini, kenapa, Nak?" Laras kemudian berdiri di samping Silva lalu mencium keningnya lembut.


"Adek..." ucapnya dengan tangan yang menyentuh perutnya yang rata.


Seketika semua orang yang ada di sana menegang saat mendengar lirihan Silva yang terdengar seperti pertanyaan tentang keberadaan sang calon bayi.


"Sayang, adek udah bahagia di surga. Ikhlasin ya, Sayang..."


Tanpa bisa dicegah, tangisan Silva pecah dengan air mata yang berloma-lomba menuruni kelopak mata mengaliri pipi. Silva merasa hancur sehancur-hancurnya. Kini, ia tidak lagi memiliki calon buah hati. Ia merasa penderitaannya lengkap dengan tiadanya si janin. Padahal, sebelumnya ia merasa harus kuat dan tetap bertahan demi Arkan dan si adek.


Jika sudah seperti ini, mungkinkan Arkan akan membencinya setelah ini karena ia tak bisa menjaga si adek dengan baik?


"Arkan, maafin aku..."


... Bersambung......


maafin aku juga ya, readers😭 cuti sehari mah gak papa meureun?