
Dalam perjalanan menuju rumah sakit yang sangat jauh, Rafan menangisi Arkan karena mengingat keadaan sahabatnya itu. Beruntung, tim polisi datang ke sini dengan tim medis juga. Jadi, selama masih di perjalanan, Arkan ditunjang dengan alat-alat medis yang memungkinkannya untuk tetap bertahan hingga sampai ke rumah sakit.
Mengingat keadaan Arkan yang begitu parah, ditambah pukulan-pukulan yang ia berikan pada Arkan, Rafan sangat merasa bersalah. Ia meringkuk di kursi belakang dan membiarkan tangisannya pecah.
Faris dan Kevin berulang kali berusaha menenangkannya, namun tidak didengar. Rafan tetap menangis sejadinya.
"Fan udah dong, nangisnya. Emang gak takut nangis kenceng di tengah hutan begini?" ujar Kevin menghadapkan tubuhnya ke samping agar bisa menatap Rafan yang duduk di kursi belakang.
"E, emang ke, kenapa?" tanya Rafan bertanya dengan sesenggukan.
"Nanti penghuninya keganggu terus nyariin siapa yang nangis terus mereka ngikutin suara tangisan itu sampe rumah, emang lo gak takut?" jawab Kevin menakuti Rafan yang langsung dibalas tangisan yang lebih pecah.
"Huwaaaaa takut, mamiii! Rafan takuuuut!"
Kevin dan Faris gelagapan mendengar tangisan Rafan yang semakin keras.
"Lu sih! Lagian nenangin orang yang lagi nangis pake ditakut-takutin. Makin kenceng kan, nangisnya," ujar Faris menyalahkan Kevin.
"Ya biasanya kan anak-anak juga kalo nangis suka ditakut-takutin sama ibunya supaya berenti nangis," jawab Kevin menggaruk kepalanya.
"Ini kan Rafan, Vin. Dia udah gede bukan anak-anak lagi! Gimana sih lu?"
"Mana ada udah gede masih nangis kejer begini?"
"G, gue kan hiks se, sedih liat Arkan k, kritis g, gara-gara g, gue...hiks huwaaaa!"
"Lagian lo sih tiba-tiba mukulin Arkan, belom juga selesai gue nyusun rencana--"
"Ya gue kan gak tau! Lo juga gak ngasih tau sih!" potong Rafan memekik menatap Kevin nyalang lalu kembali menangis.
"Gimana nih, Ris?" tanya Kevin menggaruk dagunya.
"Lu pindah ke belakang sana!" titah Faris mengedigkan kepalanya ke belakang.
Kevin menurut, melepas seatbelt-nya dan melangkahkan kaki jenjangnya ke kursi belakang lalu duduk di samping Rafan yang menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil masih menangis sesenggukan.
"Ini semua salah gue," lirih Rafan yang teredam di telapak tangannya.
Kevin dan Faris tertegun dan tubuh mereka kaku seketika saat mendengar suara lirih Rafan. Ingatan mereka pergi ke beberapa tahun yang lalu sebelum Rafan berhasil menjadi sosok yang seperti sekarang.
Keduanya saling melempar tatapan melalui kaca spion dalam. Berbagi rasa khawatir yang sama terhadap Rafan. Kevin meneguk salivanya dengan susah payah.
"Bener kata mereka, gue emang lemah, gue pembawa sial, gue emang manusia yang gak bisa diandelin... Gue gak berguna sama sekali, harusnya gue--"
Grep!
Kevin memeluk Rafan dengan erat. Menghentikan segala kata-kata Rafan yang menyalahkan dirinya sendiri. Kedua matanya memanas merasakan tubuh Rafan dalam dekapannya bergetar hebat. Kevin tahu, ketakutan Rafan kembali.
Diusapnya punggung bergetar Rafan agar sahabatnya itu bisa lebih tenang.
Kevin menggeleng dengan kedua mata tertutup rapat. "Enggak, Arkan gak bakal mati. Dia pasti bisa bertahan. Dan ini semua bukan salah lo, tapi salah mereka yang udah nyulik Arkan. Udah ya, berhenti nyalahin diri lo sendiri. Lo gak salah..."
"Ta-tapi harusnya Arkan cuma kritis aja, gak sampe parah begini. Gue masih bisa liat kerutan di jidatnya tadi, Vin..."
"Lo harus percaya kalo Arkan itu kuat. Dia pasti bisa bertahan demi orang-orang yang dia sayangi. Lo tau kan kalo Arkan gak pernah mau bikin orang lain khawatir?" tanya Kevin yang merasakan kepala Rafan bergerak mengangguk pelan.
"Jadi, dia pasti bakal bertahan supaya gak bikin kita semua khawatir apalagi nangis kayak lo begini. Kalo Arkan tau lo nangis sesenggukan gara-gara dia, dia pasti marah. Makanya, udah ya, jangan nangis lagi," lanjut Kevin dengan dekapan yang semakin erat.
Rafan mengangguk pelan. "Gue gak akan nangis kenceng lagi. Tapi dada gue sesak, Vin. Biarin gue nangis pelan aja, ya?"
Kevin mengerjakan matanya menghalau air mata yang akan menerobos pelupuknya. Lalu ia mengangguk. "Ya, lo boleh nangis pelan, tapi jangan nyalahin diri lo sendiri lagi, ya?"
"Iya, gue cuma nangis doang kok." Rafan mengangguk lalu melingkarkan tangannya membalas pelukan Kevin dan menangis lagi membasahi kaus bagian depan Kevin yang memejamkan matanya erat membiarkan air matanya berlomba-lomba keluar mengaliri kedua pipi.
Sementara Faris sudah menangis sejak tadi. Ia tidak kuasa menahan tangisnya apalagi saat bayangan Rafan yang trauma di masa lalu kembali terbayang. Saat itu Rafan benar-benar terpuruk bahkan takut kepada orang-orang terdekatnya. Ia selalu menyendiri, menangis di sudut kamar sendirian, dan akan mengamuk jika ada yang mendekati. Itu adalah trauma Rafan yang paling parah karena menjadi korban bull*ing di sekolah. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk sembuh dan kembali seperti semula. Maka dari itu, Faris dan Kevin takut jika Rafan akan kembali seperti dulu. Kata-kata seperti itulah yang sering ia katakan dulu.
"Lo gak boleh nyalahin diri lo sendiri lagi. Lo gak salah, ini bukan salah lo. Apapun yang terjadi, kita bakal ngebela lo. Jadi, jangan ngerasa bersalah terus dan jangan ngerasa sendiri lagi. Kita semua ada buat lo."
***
Tak jauh berbeda dengan keadaan Silva saat ini. Ia sedang menangis dalam dekapan Raini. Sudah berjam-jam Silva menangis dan sudah dipeluk bergantian oleh bunda dan para sahabatnya. Namun, tangisan Silva tidak kunjung berhenti karena khawatir pada Arkan. Sejak sadar dari pingsan, Silva sudah menangis terus menerus hingga sekarang kedua matanya membengkak akibat terlalu lama menangis.
"Va, udah ya, nangisnya. Liat deh, mata lo sembab gara-gara nangis terus. Nanti kalo Arkan pulang liat mata lo begitu, pasti dia gak suka. Emang lo mau Arkan marahin lo gara-gara nangisin dia terus?" bujuk Dinda mengusap rambut Silva lembut.
Silva menggeleng pelan namun masih menangis.
"Makanya, udah ya, jangan nangis terus. Kasian si adek pasti juga sedih liat mamanya nangis terus."
"Tapi Arkan belum ketemu..." cicit Silva dengan lirih.
Raini menengadahkan wajahnya berusaha menghalau air matanya turun. Tangannya sibuk mengusap punggung Silva agar lebih tenang. Sementara Bening sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan Laras yang juga bermata sembab.
"Makanya, dari pada nangis mending kita berdoa aja, semoga Arkan cepet ketemu dan dia baik-baik aja. Yuk!" Dinda masih berusaha membujuk Silva.
Perlahan, Silva menarik napasnya lalu mengembuskannya pelan. Ia mengangguk pelan dan mengangkat kedua tangannya dengan mata terpejam erat. Dalam hati ia berucap lirih.
"Ya Tuhan, jangan dulu Kau ambil Arkan dariku. Kami masih punya janji yang belum kami laksanakan. Jadi, tolong beri dia kesempatan untuk menepati janjinya."
Tiba-tiba pintu ruangan itu terdorong dari luar, menampakkan pak supir pribadi keluarga Silva yang wajahnya panik namun ada sedikit guratan lega.
"Den Arkan udah ketemu!"
...Bersambung......
huwaaaa aku sampe nangis sendiri nulisnyağŸ˜