
Jam dinding yang terpasang di atas tv menunjukkan pukul sebelas malam. Kini Arkan sudah dengan badan yang bersih. Ia masih berada di ruang tamu. Rencananya ia akan tidur di kamar samping. Beruntung di dalam apartemennya terdapat dua kamar. Jadi, ia tidak perlu mengganggu privasi Silva atau sakit seluruh badan karena tidur di sofa.
Arkan merenggangkan otot-otot tubuhnya. Ia merasa seluruh sendi di tubuhnya terasa ngilu. Sekujur tubuhnya juga sakit, mungkin karena kegiatannya seharian tadi. Arkan lelah, ia ingin tidur tapi masih mengkhawatirkan keadaan Silva. Jadi, ia memutuskan untuk menonton tv dulu sebentar. Daripada terus menerus khawatir, lebih baik ia memeriksa Silva dulu.
Tok tok tok! Arkan mengetuk pintu kamar Silva. Tidak ada jawaban apapun.
"Silva! Udah tidur, ya? Butuh sesuatu gak? Nanti kalo butuh sesuatu, bilang gue, ya! Gue ada di ruang tv!" Semua pertanyaan dan pernyataan Arkan tidak direspon sama sekali oleh Silva.
Mengerutkan keningnya, Arkan kemudian membuka pintu kamarnya.
"Silva?" panggil Arkan di ambang pintu. Kepalanya menyembul ke dalam mencoba melongok Silva.
"Oh, udah tidur, ya?" tanyanya lagi saat melihat punggung sempit Silva yang berbaring membelakangi pintu.
Tersenyum tipis, Arkan berjalan memasuki kamarnya lebih dalam. Ia menghampiri Silva, memandang wajah tenangnya dengan seksama. Diliriknya wadah kosong bekas bubur dan air yang tersisa setengah gelas yang ia bawakan untuk Silva. Berarti Silva sudah makan. Syukurlah, ia jadi lebih tenang.
Ia merendahkan tubuhnya untuk mengusap rambut Silva lalu mengecup pelipisnya dengan sangat lembut.
"Yang sabar, ya. Kamu harus kuat! Aku akan selalu ada di samping kamu, Va. Kita jalani ini semua sama-sama. Sekarang ini, aku lagi berusaha dapetin maaf dari orang tua kita, setelah mereka bener-bener maafin kita dan gak akan nyakitin kamu, baru kita pulang. Sabar sedikit lagi, ya," bisik Arkan sambil tangannya masuk ke sela-sela rambut Silva.
Senyum tipis ia tunjukkan saat merasa lucu dengan panggilan yang ia gunakan. 'aku-kamu'. Ia hanya berani menggunakannya saat Silva tidak sadar seperti ini. Ketika Silva sadar, ia mana berani. Tapi, ia tetap berharap ada saatnya nanti ia dan Silva mengganti panggilan dan berbicara dengan bahasa yang lebih santun dan terasa lebih dekat.
Setelah puas menatapi wajah Silva, Arkan bangkit dan kembali meninggalkan kamar. Menutup pintunya pelan dan mulai menonton tv.
Sementara Silva di dalam kamar membuka matanya setelah mendengar pintu tertutup. Ia membalikkan tubuhnya, memandang pintu itu. Sebenarnya tadi ia hanya pura-pura tidur dan mendengar semua perkataan Arkan. Hatinya menghangat dan ingin menangis saat itu juga.
"Kenapa lo masih baik banget, Ar? Gue jadi gak tega mau marah sama lo. Harusnya lo tuh gak usah peduliin gue, biar gue bisa benci lo, bisa maki-maki lo setiap gue inget perbuatan bejat lo. Itu lebih keliatan normal. Kalo kayak gini, gue jadi berpikir kita ini sebenarnya dijebak dan lo gak tau apapun tentang masalah ini. Tapi, kenapa lo gak ngejelasin atau ngungkapin apapun ke gue? Gue jadi gak tau sebenarnya yang harus gue salahin tuh siapa," bisik Silva meneteskan air matanya.
Kemudian ia bangun, turun dari ranjang mendekati pintu. Ia buka sedikit pintu itu untuk melihat keadaan di luar. Tepatnya mencari keberadaan Arkan.
Di sana di depan tv, Silva melihat kepala Arkan bersandar ke sofa membelakanginya. Ia harap lelaki itu sudah tidur karena ia ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Perlahan ia buka pintu kamar lebih lebar dan melangkah pelan keluar dan kembali menutup pintunya. Ia berjalan mendekati Arkan dan melongok keadaan Arkan yang ternyata sudah terlelap dengan posisi kepala bersandar ke sandaran sofa.
Namun, ada sesuatu di wajahnya yang membuat Silva mengerutkan kening menajamkan penglihatan.
"Kenapa di muka Arkan banyak luka? Lo abis kelahi sama siapa sih, Ar?" gumam Silva pelan sambil tangannya menyentuh luka sobek di sudut bibirnya dengan sedikit takut.
Tiba-tiba tangan Arkan menggenggam tangan Silva yang berada di wajahnya. Kuat namun tetap lembut, seperti tidak ingin Silva meninggalkannya dan tidak pula menyakitinya. Tubuh Silva menegang seketika. Apa ia ketahuan? Pikir Silva.
Silva tidak bergerak sama sekali karena terlalu takut terpergok.
"Silva, maafin aku, ya?" gumam Arkan dengan mata terpejam. Sepertinya mengigau atau sedang bermimpi.
Perlahan genggaman Arkan melemah dan perlahan pula Silva melepaskan tangan Arkan dan disimpan di atas paha. Silva memposisikan bantal sofa dan dengan sangat pelan, Silva merebahkan tubuh Arkan menjadi berbaring di sofa. Lalu ia melenggang ke belakang untuk menuntaskan hasratnya yang ingin buang air di kamar mandi yang berada di samping dapur.
Beberapa menit kemudian Silva kembali dengan membawa kotak P3K. Ia berjongkok tepat di depan wajah Arkan. Ia buka kotak obat itu lalu mulai mengobati luka-luka di wajah Arkan dengan kapas yang diberi cairan alkohol lalu obat luka.
Tak lama kemudian, Silva selesai dengan kegiatannya. Ia merapikan kembali obat-obatan dan menutup kotak itu. Silva masih berjongkok di sana menatap wajah Arkan dari jarak dekat. Netranya menyusuri setiap sudut wajah Arkan. Wajah dengan pahatan mendekati sempurna. Rahang tegas, bulu mata dan alis tebal, bibir tipis dengan simetri yang melekuk indah, hidung mancung terpahat sempurna dan kulit putih bagai terawat apik. Arkan sungguh tampan dan membuat siapa saja yang memandang wajah damainya ikut merasakan ketenangan.
Saking kagumnya Silva menatapi wajah rupawan milik Arkan, tanpa disadari tangan Silva terangkat mengusap pipi Arkan dengan sangat pelan, sangat lembut. Pikirannya mengembara entah kemana. Entah kenapa Silva merasa Arkan tidak bersalah dalam musibah yang ia dapatkan. Padahal, sudah sangat jelas bahwa ia bangun mendapati Arkan yang tertidur dengan keadaan yang sama-sama tak berbusana. Sudah sangat jelas bahwa Arkan yang melakukannya.
Namun, hatinya seakan bertolak belakang dengan pikiran dan semua fakta itu. Kenapa hatinya begitu berpihak pada Arkan?
Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba Arkan membuka setengah matanya dan menatap Silva dengan sayu.
"Silva..." gumam Arkan sangat lirih.
Silva menatap netra sayu itu lamat-lamat. Memastikan bahwa Arkan hanya sedang kembali mengigau. Sedetik kemudian, kedua mata Silva melebar saat satu tangan Arkan terangkat mendorong tengkuknya hingga sekarang jarak wajah mereka menjadi sangat dekat.
Mata Arkan masih sayu seakan tak menyadari perbuatannya yang sudah membuat jantung Silva bertalu keras. Apalagi saat merasakan sapuan napas Arkan yang teratur menerpa wajahnya. Tapi itu juga membuat Silva lebih tenang sedikit karena itu artinya Arkan memang hanya mengigau, masih terlelap dalam mimpinya.
Jantungnya kembali berdebar keras saat Arkan semakin menarik wajahnya mendekat dan perlahan menutup kedua mata dan menyatukan keduanya. Hanya menempel seakan hanya ingin menyapa. Namun entah kenapa efeknya begitu besar bagi Silva hingga kedua tangannya yang mendarat di pegangan sofa dan di dada Arkan meremat kuat kain yang disentuhnya. Juga jangan lupakan debaran jantungnya yang semakin menggila.
"Jangan pergi," lirih Arkan tepat di depan bibir Silva. Bersamaan dengan air yang mengalir ke sudut bibir Silva.
Tidak, Silva tidak menangis. Lalu, air mata siapa itu? Mungkinkah Arkan yang menangis? Silva tidak bergerak sama sekali hingga Arkan melepaskannya. Dengan gerakan yang sangat pelan, Silva menjauhkan wajahnya demi menatap lamat wajah Arkan yang pipinya sudah basah. Silva mengerutkan keningnya. Jadi, benar Arkan yang menangis? Pikir Silva.
Meneguk salivanya kasar, Silva menelan tangisnya bulat-bulat. Sebesar itukah rasa bersalah yang Arkan rasakan? Seakan terhantam batu besar tak kasat mata, hatinya berdenyut sakit. Kenapa ia bisa terus menyalahkan Arkan dan berpikir untuk membencinya, sementara Arkan sudah berkali-kali meminta maaf dan merasa sangat bersalah. Ia merasa telah jadi manusia paling jahat di dunia.
Jadi, apakah ia harus memaafkan Arkan dan menerima keberadaannya untuk selalu ada di samping dirinya?
Entahlah. Biar waktu yang menjawab semua. Ia hanya akan mengikuti semua yang ditunjukkan oleh sang waktu.
...Bersambung......
Arkan beneran tidur atau cuma modus nih???
Arkan be like : Ya beneranlah, Di. Kan lo yang nyuruh😑
Salam sayang❤️
Didi Oktavia Hanum🤭