Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 43. Silva Pingsan!



Sepulang sekolah, Arkan segera menuju cafe milik Regan. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Hanya butuh 10 menit menggunakan bus, ia sudah sampai di sana.


Suasana cafe sedang ramai. Mungkin karena banyak para pekerja yang makan siang di sana karena lokasinya yang dekat dengan perkantoran. Di dalamnya pun didominasi oleh para karyawan perusahaan dan ada beberapa juga anak sekolah yang masih mengenakan seragam. Mungkin sedang nongkrong sebelum pulang.


"Arkan!"


Sedang asyik Arkan memperhatikan suasana cafe, Arkan dipanggil oleh seseorang. Saat menemukan sumber suara, ternyata itu si pemilik cafe ini, Regan. Ia menghampiri Arkan dan menyambutnya dengan pelukan di bahu.


"Udah kelar sekolahnya?" tanya Regan menatap Arkan.


"Udah, Bang. Kalo gitu gue ganti seragam dulu ya, Bang!"


"Wis, santai aja dulu, Bro! Gak usah buru-buru. Lo baru juga dateng, makan siang dulu sana!"


Arkan mengibaskan tangannya. "Gak usah lah, gue udah makan siang di sekolah. Langsung aja lah!"


"Ya udah, terserah lo aja. Sana ke dapur, ganti seragam! Tapi kalo lo laper, makan dulu aja, ya!" pesan Regan yang diangguki Arkan.


"Iya, Bang, udah paham kok gue. Kalo laper tuh makan, bukan tidur!"


"Yeu... dikasih perhatian malah begitu lu!" kesal Regan menatap Arkan dengan datar.


"Iya iya, elah ambekan lo!" Arkan meninju pelan lengan Regan sambil melenggang menuju dapur.


Saat Arkan hendak membuka pintu dapur, seseorang yang dari dalam dapur membuka pintu itu lebih dulu.


"Eh, Arkan! Baru datang?" tanya wanita itu. Ia membawa sebuah nampan yang berisi pesanan pelanggan.


"Iya, Mbak. Baru balik sekolah," jawab Arkan tersenyum sopan.


"Oh, ya udah ganti sana! Semangat!" seru wanita itu sebelum melanjutkan kembali langkahnya.


Arkan hanya menanggapi dengan senyuman karena si pemberi semangat pun sudah keburu pergi. Ia melanjutkan langkahnya menuju dapur.


***


Mereka yang ada di ruangan itu hanya melongo menatap Silva yang sedang memakan bubur dengan sangat lahap. Saking lahapnya sampai Bening mengira Silva tidak diberi makan oleh Arkan selama berhari-hari.


"Va, Arkan tega ya sama lo?"


Silva mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan Bening. "Maksud lo?" Menatapnya sebentar lalu kembali melanjutkan makan buburnya yang kini telah tandas.


"Maksud gue, Arkan tega gak ngasih lo makan."


Silva buru-buru menggeleng ribut. "Gak gitu, kok! Arkan baik, dia ngasih gue makan. Tapi, cuma mi instan. Karena dia gak bisa masak, jadinya suka nyetok mi instan aja."


Rafan mengerjutkan alisnya mendengar jawaban Silva yang bernada seperti membela. Mereka semua sadar bahwa sikap Silva pada Arkan seakan mereka sudah lebih dekat. Apakah Silva sudah membuka hatinya dan memaafkan Arkan?


"Silva!" panggil Rafan membuat Silva menatapnya.


"Ya? Kenapa, Fan?"


"Lo kok ngebelain Arkan?" tanya Rafan menatap Silva dengan sorot penasaran.


Kening Silva mengerut tanda tak mengerti. "Maksudnya? Emang kenapa gue gak boleh ngebelain Arkan? Yang penting dia masih ngasih gue makan, kan?"


Silva terdiam. Sementara semua temannya menatapnya menunggu jawaban. Mereka semua pun penasaran dengan perasaan Silva sekarang.


"Gue juga gak tau. Gue benci Arkan itu pasti. Dia yang bikin gue begini, dia yang bikin masa depan gue hancur, dia yang bikin hubungan gue sama keluarga gue rusak, dia yang ngerenggut kehormatan gue. Udah sewajarnya gue benci Arkan."


Silva menjeda kalimatnya sejenak. Ditatapnya satu persatu sahabatnya yang kini fokus mendengarkan penuturannya. Menundukkan kepala, Silva memainkan jemarinya lalu melanjutkan kalimatnya.


"Tapi sikap Arkan yang memperlakukan gue dengan sangat baik, perhatian sama gue, mencukupi semua kebutuhan gue, ngertiin gue banget, dan sangat ngelindungin gue, bikin rasa benci gue perlahan jadi terkikis. Gara-gara itu gue jadi gak bisa marah lagi setiap liat mukanya. Gak kaya waktu pertama gue tau kalo Arkan yang ngelakuin itu ke gue. Waktu awal-awal gue dibawa ke sini juga gue selalu marah-marah dan mukulin dia setiap dia nyoba ngedeketin gue."


Masih belum ada yang menimpali. Semuanya mencoba mendengarkan penjelasan Silva lebih banyak agar mereka mendapat lebih banyak informasi tentang keadaan mental Silva saat ini. Karena itu yang terpenting sekarang.


"Tapi sekarang gue gak bisa. Gue gak bisa lagi nolak kalo dipeluk dia. Jujur, gue sekarang malah seneng kalo dia ngasih perhatian ke gue. Dan sekarang gue sering ngerasa kesepian kalo dia lagi di luar. Gue juga gak ngerti gue kenapa. Harusnya gak begini, kan? Harusnya dia gak peduliin gue, dia gak usah ngelindungin gue dari hukuman ayah bunda gue. Supaya gue bisa terus benci sama dia, supaya gue bisa selalu inget kalo dia yang udah ngancurin masa depan gue. Iya, kan? Harusnya gitu, kan?" Silva mengakhiri penuturannya dengan suara parau menahan tangis yang mulai menyesakkan dada.


Dinda dan Raini yang berada di sisi Silva kemudian memeluknya. Pecahlah tangis Silva dalam dekapan mereka. Sementara Bening menggenggam tangan Silva bermaksud menyalurkan kekuatan.


"Enggak, Va. Lo gak salah, lo berhak nentuin keputusan lo, lo juga berhak ngerubah perasaan lo, lo juga berhak maafin Arkan. Lo berhak bahagia, Va. Udah ya, jangan terlalu mikirin masalah ini. Lo cukup ngejalanin aja, apapun yang terjadi ke depannya, lo harus ikutin kata hati kecil lo aja," ujar Dinda sambil mengusap rambut Silva yang ada di dekapannya.


"Satu yang harus lo tau, Va. Arkan sayang banget sama lo lebih dari yang lo tau," ujar Kevin dengan mantap. Membuat semuanya mengangguk setuju.


Beberapa menit kemudian, tangisan Silva mulai reda. Ia mengusap kedua pipinya menghapus jejak air mata.


"Euh... Din, bubur lo mau diabisin gak?"


Seketika mereka semua menatap Silva tak percaya. Baru saja tadi gadis itu menangis tersedu, dan sekarang sudah kembali ingin makan? Pikir mereka heran.


Mereka melihat Silva dan mangkuk bubur Dinda yang baru dimakan beberapa sendok bergantian dengan sorot tak menyangka. Seakan mengatakan 'Serius, masih muat?'


"E, eng, enggak kok. Nih, buat lo aja!" Dinda menyerahkan mangkuk buburnya kepada Silva.


"Hehe... Yeay! Makasih, Dindaaaa!" Silva bersorak riang lalu menyantap bubur ayam 'sisa' Dinda. Karena sebenarnya itu masih dimakan oleh si empunya. Namun, diikhlaskan saja untuk sahabat tercinta yang baru sembuh dari sakit.


"Loh, kok malah pada diem sih? Ayo dimakan lagi buburnya! Nih, gue udah abis dua mangkok loh ini. Ayo dimakan!" ujar Silva saat menyadari teman-temannya diam saja.


Mereka mengangguk sambil meringis. Sebenarnya mereka speechless melihat Silva sangat jauh berbeda dari biasanya.


"Oh iya, gue lupa! Tadi kan gue beli gorengan," seru Kevin sambil menepuk keningnya. Segera saja ia mengaduk-aduk isi tasnya dan mengeluarkan seplastik gorengan.


"Nah, ayo dimak--"


"Hoeeek!"


Ucapan Kevin terputus karena tiba-tiba Silva muntah. Gadis itu segera berlari ke wastafel dan memuntahkan kembali semua makanan yang baru saja masuk ke perutnya.


"Silva!"


Semuanya panik, tak mengerti Silva kenapa dan mereka harus bagaimana. Hingga akhirnya Silva pun pingsan.


"Cepet telepon ambulan!"


...Bersambung......


kira-kira kata dokter Silva kenapa ya??😏