Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 29. Karena Sahabat



Arkan dan Silva pun meninggalkan parkiran dengan mobilnya menuju rumah Silva. Meninggalkan dua orang yang sedang bercumbu tidak tahu tempat, dan seseorang yang tengah menatap datar pada mereka dari balik kendaraan yang menutupi keberadaannya.


"Dasar cewek b*go! Mau aja dijadiin pelampiasan!" hardiknya pelan dengan seringai di bibirnya. "Liat aja, bentar lagi juga dihempas lagi sama Faris."


***


Sesampainya di rumah Silva, Arkan turun dan segera membukakan pintu untuk Silva. Kini mereka telah berdiri berhadapan.


"Makasih ya, Ar," ujar Silva pelan dengan wajah tertunduk.


Menghela napas pelan, satu tangan Arkan terangkat dan mengusap pucuk kepala Silva dengan lembut. Hal itu membuat sang empunya mengangkat wajahnya dan menatap Arkan dengan beberapa kali mengerjap pelan.


"Apapun yang terjadi, lo gak boleh sedih terus. Nangis boleh kalo itu bisa bikin hati lo lega. Tapi, jangan kelamaan! Pokoknya, lo harus selalu bahagia," pesan Arkan dengan tatapan lembut tertuju pada Silva.


Gadis yang diperlakukan sangat lembut itu terus menatap Arkan, mencoba mencari tahu penyebab lelaki itu bisa bersikap selembut ini padanya.


"Kenapa lo peduli sama gue?" tanya Silva tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Arkan.


Seakan terpergok, Arkan mengerjap cepat dan mengusap tengkuknya--kelabakan menghindari tatapan menuntut Silva.


"Eum... Karena, ya karena lo, lo sahabat gue. Ya, lo sahabat gue, Va. Makanya gue peduli dan sayang banget sama lo," jawab Arkan dengan sedikit gugup.


"Oh, iya ya, kita kan sahabatan," balas Silva sambil terkekeh sumbang.


"Iya, masa lo lupa?"


Silva mengangguk kaku. Entah kenapa ia merasa sedikit kecewa saat Arkan menjawab seperti itu. Padahal, memang benar bahwa mereka bersahabat. Jadi wajar jika Arkan peduli pada sahabatnya.


"Ya udah, yuk masuk! Gue mau temenin lo sampe lo tidur," ajak Arkan yang membuat kening Silva mengerut bingung.


"Gak perlu kali, emang gue anak kecil apa?"


"Dengerin gue! Lo kan lagi punya masalah. Kalo dibiarin sendiri, takutnya lo ngelakuin hal-hal yang berbahaya. Makanya, ayo gue temenin!"


Mendengus geli, Silva menggeleng tak habis pikir. "Maksud lo takut gue bunuh diri?"


"I-iya."


"Astaga, gak bakal lah, Arkan. Ya kali cuman masalah cowok gue  bunuh diri?"


"Tap--"


Suara dering ponsel Arkan menghentikan perkataannya. Arkan segera merogoh saku celananya mengambil benda pipih itu lalu menerima panggilan dengan senyum lembut, karena yang tertera di layar adalah nama adiknya.


"Hal--"


"Arkan, cepet ke rumah sakit sekarang! Adek lo kecelakaan dan sekarang lagi di IGD!"


Seketika tubuhnya melemas dan hampir menjatuhkan ponselnya. "I-iya, gue ke sana sekarang. Lo tolong kirim alamat rumah sakitnya!"


Silva yang melihatnya pun bingung. "Ada apa, Ar?" tanya Silva khawatir dengan menyentuh lengan Arkan.


"Nesya kecelakaan dan sekarang lagi ditangani. Gue harus ke sana sekarang," jawab Arkan dengan wajah yang kentara sekali bahwa ia khawatir.


Silva mengangguk. "Iya, lo harus cepetan ke sana. Tapi, jangan panik kayak gitu. Lo harus tenang!"


"Tapi, lo--"


"Gak usah pikirin gue! Gue gak bakal kenapa-napa di rumah, Nesya lebih butuh lo."


"Ya udah, kalo gitu gue pergi. Lo harus janji sama gue kalo lo bakal baik-baik aja, oke!"


Silva mengangguk sambil memejamkan mata sejenak. "Iya, gue janji."


Namun, Silva melebarkan kedua matanya karena tiba-tiba Arkan memeluknya dengan erat.


"Gue butuh banyak energi buat hadapin ini, Va. Doain yang terbaik, ya, buat Nesya," ujar Arkan sembari mengelus surai belakang Silva.


Dengan berat hati, Arkan melepas pelukannya yang hanya satu arah, karena Silva tidak membalasnya. Lalu menatap Silva sekilas, "Gue pergi." Lalu berlari menuju mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah Silva menuju rumah sakit.


***


Sesampainya di rumah sakit, Arkan segera menuju ruang IGD. Di sana, di depan ruang IGD, seorang gadis  duduk dengan kedua tangan fokus pada ponsel di genggamannya. Arkan tak mempedulikan fakta bahwa gadis itu sebenarnya sungguh harus ia hindari. Tapi, untuk saat ini keselamatan Nesya adalah yang terpenting. Ia berlari menghampiri gadis itu yang menoleh saat mendengar suara langkah kaki di lorong samping kirinya. Segera saja ia bangkit berdiri dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku hoodie.


"Dea! Gimana keadaan Nesya?" tanya Arkan saat ia sampai di hadapan gadis itu.


"Sekarang dia lagi ditangani, udah sejam mereka di dalam," jawab Dea menuding ruangan di belakangnya dengan ibu jari mengarah ke belakang.


"Kenapa bisa begini? Lo tau apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Arkan lagi.


Dea mengangguk. "Gue bakal ceritain semuanya, tapi sekarang lo tenangin diri lo dulu. Kita sambil duduk, ya, jelasinnya."


Tanpa mau mengulur waktu lebih lama, Arkan mengangguk lalu duduk di sebelah Dea. Dadanya naik turun mengatur napasnya agar bisa lebih tenang.


"Oke, lo bisa jelasin sekarang!"


"Jadi, gue dalam perjalanan pulang dari rumah temen gue. Tapi, di pinggir jalan gue liat ada kerumunan. Pas gue ngelewatin kerumunan itu, gak sengaja gue liat muka korban kecelakaan tabrak lari. Gue kaget banget waktu ngenalin wajah korban itu yang gue tau adik lo. Jadi gue berenti dan langsung minta tolong sama orang-orang buat ngangkat adek lo dan dimasukkan ke mobil gue biar gue langsung bawa ke rumah sakit. Dan untungnya kata dokter, dia masih bisa ditolong," jelas Dea panjang lebar.


Terdiam sejenak menatap ke dalam manik kembar gadis di depannya berusaha mencari perbedaan dari pengakuannya. Namun, ia tak menemukan, hanya ada keyakinan di dalam sana. Haruskah ia percaya? Arkan memejamkan kedua mata sambil menarik napas dalam. Saat ini yang paling penting adalah keselamatan Nesya, tak peduli dengan siapapun yang membuat adiknya celaka seperti ini. Lalu ia mengangguk.


"Ya, makasih udah nolongin adek gue dan bawa dia ke rumah sakit," ujar Arkan melirik Dea sekilas lalu menyenderkan punggung dan kepalanya ke dinding sambil memejamkan mata.


Tanpa menyadari tatapan Dea yang sulit diartikan mengarah padanya. Disertai seringai tipis di bibirnya.


"Kalo gitu gue pamit. Gue harus pulang karena ini udah hampir larut," ucap Dea membuat Arkan membuka matanya lalu menatap Dea yang sudah berdiri dan mengangguk.


"Oke, sekali lagi makasih," balas Arkan masih pada posisinya. Terduduk bersandar di kursi tunggu.


Mendapat balasan dari Arkan, Dea pun pergi. Meninggalkan Arkan yang masih pada posisinya.


***


Di dalam kamarnya, berserakan tisu bekas di lantai sekitar tempat tidurnya. Silva sudah menghabiskan setengah kotak tisu untuk membersihkan wajahnya dari air mata dan ingus yang seakan tak mau berhenti keluar. Entahlah, ia hanya sedang ingin menangis. Hanya ingin menangis tanpa melakukan dan memikirkan apapun, berharap sakit di hatinya segera berkurang.


Hatinya sakit dan pikirannya gundah. Ia sudah mencoba menghubungi Faris berkali-kali namun selalu ditolak bahkan pesannya tidak ditanggapi sama sekali, dibaca pun tidak. Ia bingung harus bagaimana lagi untuk mempertahankan hubungan mereka. Sungguh, ia tidak siap jika harus kehilangan Faris. Karena Faris adalah lelaki istimewa dalam hidupnya yang membuat hari-harinya penuh warna. Hanya Faris yang bisa membuatnya kembali tertawa saat sedang sedih, hanya Faris yang bisa membuatnya kembali semangat dikala ia kehilangan harapan. Lalu, jika Faris pergi, bagaimana keadaannya? Siapa yang akan menggantikan posisi lelaki itu sedangkan ia yakin bahwa tidak akan ada yang bisa menggantikannya.


Tok tok tok!


Di tengah-tengah kegiatannya menangis, suara ketukan pintu terdengar disusul suara Bi Lela dari balik pintu.


"Non, di bawah ada temen Non Silva!"


Setelah mengatur napasnya agar suara yang keluar tak terdengar bergetar, Silva menjawab, "Siapa Bi?"


"Gak tau, Non. Bibi baru pertama kali liat, tapi dia perempuan," jawab Bi Lela.


"Suruh tunggu aja, Bi! Bentar lagi aku turun!"


"Baik, Non!"


Setelahnya, tak terdengar suara apapun lagi. Silva segera turun dari kasurnya dan memperbaiki penampilannya meski kedua mata sembabnya tidak dapat disembunyikan.


Dirasa sudah cukup baik, Silva segera keluar dari kamarnya menuju ruang tamu untuk menemui tamu yang katanya perempuan yang baru pertama kali datang ke sini. Siapa kira-kira?


Sampai di ujung tangga, Silva berhenti begitu saja saat kedua matanya bersitatap dengan seorang gadis yang menjadi tamunya. Entah mengapa namun perasaannya seketika tidak enak.


"Dea?"


...Bersambung......


udahan dulu ya papai👋🏻