Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 12. Ayah Pulang



Menjadi anak satu-satunya adalah suatu keberuntungan sekaligus ketidakberuntungan bagi Silva. Dikatakan beruntung karena ia mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya. Sebaliknya, dikatakan kurang beruntung karena ia sering kesepian di rumah. Ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan bundanya yang kadang menemani sang ayah melakukan pekerjaannya, membuat dirinya sering sedirian di rumah. Maka, ia selalu tidak suka jika ayahnya sudah bilang ada pekerjaan di luar kota apalagi luar negeri. Karena, sang bunda pasti akan ikut menemani. Bedanya, seminggu kemarin bundanya tidak menemani ayahnya disebabkan keadaan kesehatan sang bunda yang tidak memungkinkan untuk ikut. Tapi, sekarang sudah lebih baik. Bundanya sudah sembuh.


Tapi sejauh ini Silva senang-senang saja jadi anak tunggal. Apalagi saat seperti ini, ia selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Namun, dimanjakan di sini bukan berarti semua keinginan Silva selalu dipenuhi, ya. Dimanjakan dalam artian Silva sering mendapatkan perlakuan halus dari ayah dan bundanya. Silva sering dipeluk, diusap kepalanya, ditemani sebelum tidur, ditemani berlibur, ya, seperti itu. Silva juga tidak dibenarkan melewatkan waktu belajar. Meski kedua orang tuanya menyayanginya, namun mereka selalu memerintah Silva belajar. Jika saat Silva malas belajar, mereka akan membujuk dengan halus, disogok es krim misalnya. Dan jika sudah terlalu sulit dibujuk, mereka pun tidak segan untuk memarahi Silva. Jadi, meski Silva mendapat banyak kasih sayang, kedua orang tuanya tetap mengarahkan Silva ke jalan yang benar.


Berkat didikan mereka, jadilah sosok Silva seperti saat ini. Sosok gadis cerdas yang disiplin, ramah, dan penuh kasih sayang. Yang menjadi rebutan banyak lelaki. Contohnya : Faris dan Arkan. Mereka berdua menyukai gadis yang berkepribadian baik dan lembut. Makanya, mereka bisa sama-sama menyukai Silva. Yah, walaupun cinta memang tidak bisa diduga kehadirannya.


Saat ini Silva sedang makan siang bersama kedua orang tuanya di rumahnya. Menikmati masakan sang bunda yang selalu jadi favorit Silva dan sekarang menjadi makanan yang dirindukan ayahnya.


"Akhirnya Ayah bisa makan masakan Bunda lagi. Seminggu makan masakan restoran terus, bosen. Ayah kangen banget masakan Bunda," tutur Hanum setelah menghabiskan makanannya.


Laras sang istri tersenyum manis. "Ayah mau sampai kapan sih, ngegombal terus?"


Silva yang masih mengunyah makanannya hanya tersenyum geli mendengar sahutan sang bunda.


"Loh, kok ngegombal? Ayah bicara serius, kok. Bunda tau kan, Ayah tuh gak suka gombal-gombal begitu," elak Hanum menatap istrinya.


Menghela napas pelan, Laras pun mengangguk. "Iya deh iya, Ayah gak suka ngegombal, tapi sukanya ngerayu."


"Ih, Bunda kayaknya kangen banget ya, sama Ayah? Tenang aja Bun, setelah ini Bunda boleh ikut Ayah kerja lagi. Jadi, Bunda gak bakal kangen lagi sama Ayah. Bunda bisa sayang-sayangan sama Ayah sepuasnya," jelas Hanum tersenyum misterius.


Tatapan sang suami membuat Laras salah tingkah di tempatnya. Ia menunduk berusaha menghindari tatapan Hanum.


Silva yang melihat kemesraan orang tuanya hanya menggelengkan kepala. Di satu sisi, ia senang melihat kemesraan mereka, itu tandanya kedua orang tuanya sangat mencintai satu sama lain. Di sisi lain, saat mereka bermesraan atau saling melontarkan perkataan sayang seperti tadi, ia akan menjadi sosok yang tembus pandang. Seakan tidak terlihat oleh keduanya yang terlalu hanyut dengan keromantisan yang mereka ciptakan. Biasanya, jika kedua orang tuanya sudah bermesraan hingga lupa padanya, ia akan meninggalkan mereka. Pergi ke dapur  atau naik ke kamar. Yang penting tidak bersama mereka.


Silva berdehem untuk menarik perhatian mereka sekaligus memberitahu bahwa di sini masih ada dirinya. Kedua orang tuanya mengerjap lalu menatapnya.


"E-eh, hati-hati, Sayang. Pelan-pelan aja makannya. Ini, minum dulu!" Laras menyodorkan segelas air putih untuk Silva.


Gadis itu menerimanya karena ia memang sudah selesai makan. Sementara Hanum memicing melirik Silva. Sepertinya ayahnya itu tahu apa yang baru saja ia lakukan. Silva menunjukkan deretan giginya sebagai tanda perdamaian.


"Yah, Bun, hari Minggu kita jalan-jalan, yuk!" ajak Silva menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Ke mana, Sayang?" tanya Laras sembari menumpuk piring-piring kotor.


Silva berdengung tanda sedang berpikir. "Aku pengen banget ke The Great Asia Africa! Yuk, Bun, Yah, kita ke sana!" jawab Silva antusias dengan mata berbinar menatap kedua orang tuanya penuh harap.


"Bunda sih, yes," sahut Laras mengangguk.


Hanum ikut mengangguk setelah berdengung sejenak. "Oke, Ayah juga yes," jawabnya.


"Yes!" seru Silva senang.


***


Sudah lebih dari sepuluh menit Faris duduk di salah satu meja di Ninety's Cafe. Sebuah cafe bertema klasik milik seorang pemimpin perusahaan makanan siap saji yang cukup besar di Bandung dan cukup berpengaruh di Indonesia. Seorang pria paruh baya yang merupakan ayah dari sahabatnya sendiri, Arkan. Ya, ini cafe milik Setya. Yang nantinya akan diserahkan kepada Arkan sebelum menggantikannya memimpin perusahaan.


Cafe ini biasa dijadikan tempat pertemuan jika para orang tua Arkan, Faris, Rafan, dan Silva berkumpul atau sekadar bersantai bersama. Lokasinya yang berada di tengah-tengah perusahaan mereka, menjadikan cafe ini tempat makan siang favorit mereka. Cafe ini juga menjadi terkenal karena sering dikunjungi para pemimpin perusahaan besar di Bandung.


Faris menunggu dengan sedikit tidak tenang. Bagaimanapun, ia akan menghadapi sosok pria dewasa yang sangat bijak, yang merupakan ayah dari kekasihnya. Ia harus terlihat baik di depan beliau jika ingin hubungannya dengan Silva mendapat legalisasi.


Diliriknya jam tangan di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan bahwa ia sudah menunggu di sana selama 15 menit. Bukan Hanum yang telat datang, justru Faris yang datang lebih awal. Ia sengaja agar tidak terlambat. Lebih baik ia menunggu daripada ia yang ditunggu. Karena, ini menyangkut masa depan hubungannya dengan gadis yang dicintainya.


"Sudah pesan minum?" tanya Hanum berbasa-basi. Netranya menangkap secangkir kopi yang tersisa setengah. Lalu menatap Faris dengan alis terangkat tinggi. "Americano?" tanyanya lagi setelah mencium aroma kopi di cangkir itu.


Faris mengangguk sedikit kaku. "I-iya, Om."


Terkekeh, Hanum menepuk pundak Faris beberapa kali. "Hei, kayak sama siapa aja, sih? Santai aja, gak usah tegang gitu. Biasanya juga becanda, kan, kita?"


Faris hanya tersenyum sebagai jawaban. Dalam hati ia berkata, "Situ aja yang becanda, gue mana berani. Mana becandanya bikin nama baik gue tercemar lagi di depan ayang Silva. Untung dia cinta mati sama gue."


Seorang pelayan mengantarkan pesanan Hanum. Segelas teh hangat dengan jahe dan secangkir latte.


"Nih, karena Om gak tau kamu sukanya americano, jadi Om pesenin latte aja buat kamu. Ayo minum!" Hanum menyesap teh jahenya.


"Iya, Om, makasih," jawab Faris lalu menyeruput latte tersebut. Ia kurang suka kopi yang manis seperti latte. Ia lebih suka yang berasa pahit seperti americano, robusta, bahkan ia biasa menikmati kopi tanpa gula. Aneh memang, namun itulah seleranya. Hanya saja, ia melakukan ini demi menghormati Hanum yang sudah memesankan latte untuknya.


"Secinta apa kamu sama Silva?" tanya Hanum tiba-tiba dengan suara beratnya. Terdengar tegas dan mengintimidasi.


Bahkan Faris hampir tersedak. "Eum ... Kalo Om tanya sebesar apa cinta saya ke Silva, tanpa ragu saya akan jawab, gak terhingga, Om. Saya cinta Silva setulus hati saya, sebesar apapun yang Silva butuhkan, akan saya kasih tanpa pengulangan," jawabnya tanpa ragu.


"Kenapa?"


"Karena Silva spesial. Gadis cerdas dan punya rasa peduli yang tinggi kepada lingkungannya. Dia juga lembut dan penuh kasih sayang. Selain itu, Silva juga selalu bisa membuat saya tenang. Baik saat saya sedang panik, sedih, atau marah. Silva itu tempat saya pulang, udah seperti rumah buat saya. Apapun yang sedang saya rasakan, hal pertama yang saya cari adalah Silva. Akan saya curahkan semua yang saya rasakan dan semua masalah yang menimpa saya padanya. Intinya, Silva itu gadis spesial, Om. Makanya, saya sayang banget sama dia. Bahkan saya pernah janji sama diri saya sendiri untuk selalu ngejaga Silva dan akan selalu buat dia bahagia," ungkap Faris panjang lebar dengan tenang dan kedua mata menatap lurus ke dalam netra milik Hanum.


Pria berkemeja itu bersedekap dada sambil mengangguk-angguk dengan senyum penuh arti. "Jadi, Silva selalu bisa nenangin kamu di saat kamu kalut, ya?"


Tanpa ragu Faris mengangguk.


"Berarti kamu sering datangin Silva dalam keadaan dikuasai emosi?" tanya Hanum lagi yang lagi-lagi diangguki Faris.


Kini, Hanum mendekatkan tubuhnya pada meja. Punggungnya tegak, kedua mata menatap lurus pada sepasang mata milik Faris. "Lalu, bagaimana caranya kamu bisa menjamin keselamatan Silva saat kamu sedang dikuasai emosi? Ingat, kadang orang tidak bisa mengontrol emosi. Jangankan memikirkan keselamatan orang lain, dirinya saja akan dibunuh jika orang itu benar-benar sudah frustasi, sudah dikuasai emosi."


Pernyataan Hanum seakan menjatuhkan harapan Faris dari tebing paling tinggi di dunia. Hancur berkeping-keping dalam sekali lemparan. Seakan tidak ada lagi kata-kata di kepalanya, yang Faris lakukan hanya membasahi bibir dengan lidahnya. Skakmat.


"Kesimpulannya, perbaiki dulu sikapmu! Buang sifat burukmu yang tempramen itu! Saya tidak akan membiarkan anak saya satu-satunya tinggal bersama orang yang mengontrol emosi saja masih kesulitan. Seperti anak kecil saja," tegas Hanum lalu berdiri.


Faris tidak ikut bangkit, ia hanya menatap Hanum dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu menunduk saat mengerti dengan kekurangannya yang baru saja diungkapkan Hanum.


"Pikirkan baik-baik perkataan saya! Jika sifatmu masih seperti itu, orang tua manapun tidak akan ada yang mengizinkan putrinya hidup bersama kamu," tutup Hanum sebelum berbalik dan berlalu dari hadapan Faris.


Meninggalkan Faris yang masih menunduk dengan kedua tangan mengepal kuat. Ekor matanya mengikuti kemana langkah Hanum dari balik dinding kaca di sampingnya. Rahangnya mengeras dan kedua matanya memerah. Jelas sekali ia sedang menahan amarah.


"Aargh...!" geramnya dengan mengacak rambutnya frustasi. Pikirannya berkecamuk dengan segala bayangan tentang hubungannya dengan Silva yang diambang perpisahan.


... Bersambung......


Hai readers terkeceh dan terrrsayang?? pakabar?? semoga baik-baik aja ya. gimana part ini? jika kalian suka, semoga berkenan memberikan cerita ini apresiasi. dengan like, masukin ke favorit, vote, komen juga, hadiah juga deh kalo boleh hehe🤭


papai sampai ketemu di part selanjutnya👋