
"Bagaimana, Pak? Apa sudah ditemukan siapa pemilik nomor itu?"
"Sudah, Pak."
"Syukurlah--"
"Tapi, sepertinya kartu SIM-nya sudah tidak digunakan lagi dan dibuang. Jadi, kita belum bisa menentukan dimana keberadaan pemiliknya."
***
Ketiga orang itu sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat di pinggir kota. Jauh dari keramaian dan cukup membuat bulu kuduk merinding karena tempatnya yang dipenuhi pepohonan besar yang tumbuh cukup rapat.
Mereka menggunakan mobil milik Rafan. Untuk sampai di sana, mereka membutuhkan waktu selama hampir dua jam. Rafan dan Kevin duduk di depan dengan tenang. Memperhatikan sekeliling dengan perasaan agak takut dan was-was. Khawatir akan ada bahaya yang sedang mengintai mereka.
Tak jauh berbeda dengan Faris yang duduk di belakang. Kedua netranya menelusuri sekitar kawasan yang mereka lewati dengan binar gelisah. Takut-takut mereka akan dihadang oleh makhluk-makhluk menyeramkan yang sedang memperhatikan mereka. Padahal, itu belum tentu ada.
"Fan, Vin, ini bener tempatnya ke sini?" tanya Faris dengan masih menatapi sekitarnya.
Rafan memeriksa ponselnya. "Iya, bener kok ke sini."
"Kenapa harus ke sini-sini, sih, dia ngumpetin Arkan? Serem, anjir!" gerutu Faris dengan wajah frustasi.
"Gue rasa sih, orang ini rada punya gangguan jiwa, deh," ujar Kevin mengungkapkan analisanya.
"Kenapa begitu?" tanya Rafan menoleh pada Kevin di sampingnya.
"Lo pikir aja sendiri, kalo dia orang normal, sehat wal Afiat, ngapain dia nyekap orang sampe dibawa ke sini-sini?"
"Oh, iya juga," jawab Rafan setuju.
"Terus, gimana kalo kita nanti juga diserang? Kata lo kan dia orang gila. Bisa aja kita juga kena sasaran," tanya Faris, terdapat rasa khawatir di dalam kalimatnya.
"Tenang aja kalo soal itu, Ris. Gue udah punya rencana. Kita tinggal ikutin aja, dijamin 70% selamat!" jawab Rafan menoleh pada Faris.
"Terus 30%-nya gimana?" tanya Faris lagi.
"Ya, gak bakal selamat," sahut Kevin dengan pandangan lurus ke jalanan.
"Huwaaa!! Gue gak mau mati! Nanti kalo gue mati, Maira-nya gue sama siapa?" rengek Faris tanpa malu.
Rafan meringis melihat tingkah Faris yang kontras dengan ukuran tubuhnya. Sementara Kevin terkikik geli karena berhasil menjahili Faris.
"Vin, lo sih!" Rafan menatap tajam Kevin.
"Apa sih, Fan? Bener, kan, gue bilang? Kata lo kan 70% pasti selamat, ya berarti 30%-nya gak selamat, bener kan?" bela Kevin dengan sudut bibirnya berkedut menahan tawa.
"Bodo ah, urusin tuh temen lo yang katanya cassanova tapi mental cabe-cabean!"
"Kalian kok malah diskusi gak jelas, sih?! Gue lagi ketakutan nih!" protes Faris merajuk pada keduanya.
Rafan berdecak dan Kevin terbahak melihat ekspresi wajah Rafan yang sepertinya dongkol pada Faris yang ketakutan.
"Udah deh, lo diem aja makanya! Bentar lagi juga sampe." ujar Rafan menatap Faris tajam.
"Kalo sampe, gue gak mau turun!" rajuk Faris dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
"Bodo! Biar lo dicekek penghuni hutan ini, sendirian di dalem mobil!" tegas Rafan membuat Faris kembali merengut.
"Ck, ya udah, iya gue masuk," jawab Faris pada akhirnya.
"Nah, ya udah yuk turun! Udah sampe." Kevin berujar mengalihkan perhatian mereka yang sedang berdebat.
Di depan mereka sekarang adalah sebuah bangunan rumah yang kumuh tak terurus. Semua ruangannya gelap jika dilihat dari depan. Namun, ada satu jendela yang memancarkan cahaya, seperti ada seseorang di dalam sana sedang menyalakan lilin. Keadaannya mengerikan membuat nyali Faris kembali menciut. Ia merapat pada Rafan dan bersembunyi di balik tubuh Rafan yang bahkan lebih pendek darinya.
"Bener ini tempatnya?" tanya Kevin menatap Rafan untuk memastikan.
"Coba lo tanya lagi!" usul Kevin mengedigkan dagu ke saku Rafan.
Rafan mengeluarkan ponselnya dan melihat bahwa tidak ada sinyal sedikitpun di sana. "Gak ada sinyal."
"Ya udah, mungkin bener ini. Rumahnya juga cocok jadi tempat penyekapan. Ayo!" putus Kevin lalu berjalan mendahului.
Sementara Rafan tertahan langkahnya karena Faris yang mencengkram lengannya masih diam di tempat.
"Ck! Lo kalo masih mau di sini, sendiri aja! Gue mau masuk!" tekan Rafan mengempaskan tangannya dari genggaman Faris hingga terlepas.
"Iya, iya, gue ikut! Tapi pegangin!"
Akhirnya Rafan hanya bisa pasrah saat tangannya digenggam sangat erat oleh Faris.
Mereka bertiga masuk setelah memperhatikan keadaan rumah itu. Pintunya tidak dikunci, memudahkan mereka masuk tanpa harus berteriak memanggil si pemilik.
Kegelapan langsung menyambut mereka saat berada di dalam, karena cahaya bulan yang bersinar di luar, tidak dapat menembus atap rumah tua ini. Jangan lupakan bau anyir dan menyengat lainnya yang menyeruak memasuki penciuman mereka.
"Fan, gelap--" Cicitan Faris terhenti saat Kevin buru-buru membekap mulut sahabatnya itu.
Ia segera membisikkan sesuatu ke telinga Faris. "Tenang aja, mendingan kita gak liat apa-apa dari pada harus liat sesuatu yang bikin tempat ini bau anyir."
Selain itu, dengan keadaan gelap begini, kedatangan mereka tidak akan disadari oleh orang yang menyuruh mereka ke sini yang kemungkinan besar adalah pelaku dari hilangnya Arkan. Dengan begitu mereka bisa mengambil kesempatan mengetahui siapa sebenarnya pelaku itu karena ia belum sempat bersembunyi.
"Oh, kalian sudah datang?"
Atau mungkin tidak. Sebuah suara menginterupsi langkah mereka untuk terhenti. Tak lama sebuah cahaya kecil muncul dari korek api yang dinyalakan seseorang. Orang itu mengenakan jubah hitam lalu menyalakan lilin-lilin yang mengitari ruangan itu. Mereka tidak dapat melihat jelas wajahnya karena tertutup kupluk hitam separuhnya.
Setelah semua lilin dinyalakan, nampaklah jelas semua yang berada di dalam ruangan itu.
Di depan mereka, dua orang berjubah hitam berdiri bersisian dengan seringai yang terlihat samar di tengah cahaya minim. Sementara di sudut ruangan, seorang pria bersimpuh di lantai yang kedua tangannya digantung dengan tali yang dihubungkan dengan papan di atap. Sekujur badannya penuh luka dan di lantai sekitarnya berceceran cairan merah kering dan segar.
Ketiganya menelan ludah sekatika. Mereka tau siapa pria itu. Pria yang sudah tidak berdaya. Kepala tertunduk lemah dengan mata tertutup rapat. Kening mengkerut samar dan bibir hingga dada terdapat noda merah pekat. Itu Arkan, sahabat mereka yang hilang.
"Bagaimana? Kaget melihat sahabat kalian ada di sini? Bukankah kita berdua hebat bisa membuat dia tidak berdaya? Oh, pastinya." Terdengar kekehan setelahnya.
"Si*lan!" umpat Faris yang hendak maju namun ditahan oleh Rafan. Faris yang tadinya ketakutan, kini malah mengeraskan rahang dengan mata memerah. Menatap tajam penuh kemarahan pada dua orang berjubah itu.
"Tahan dulu, Ris. Kita gak tau mereka punya senjata apa," bisik Kevin dengan pandangan masih terarah lurus ke depan.
"Tenang dulu, Bro! Kita bakalan lepasin teman kalian kalau dia gak bisa berbuat apa-apa lagi. Termasuk, bernapas." Orang itu memberikan jeda hanya untuk melihat reaksi yang ditunjukkan tiga remaja itu. Seringai puas muncul saat melihat tatapan yang menajam dan tangan terkepal kuat ditunjukkan mereka.
"Jadi, kalau kalian mau membawanya dengan cepat, kalian boleh kok membantu kami agar proses kematiannya lebih cepat. Bagaimana?"
Hening. Tak ada jawaban yang menanggapi. Rafan, Kevin dan Faris masih dalam upaya menenangkan diri dari emosi yang akan meluap seketika.
"Oke!" seru Kevin membuat Rafan dan Faris menoleh cepat ke arahnya.
"Kevin!" tekan Rafan menatap tak percaya pada Kevin.
Seringai yang kentara menjawab bentakan itu. Kevin tidak menjawab, ia hanya menatap lurus ke depan, ke dua orang berjubah hitam di depan mereka yang salah satunya tertawa puas melihat drama yang akan dimulai sebentar lagi.
"Bagus! Ayo kita mulai!"
"Kami akan melakukannya secara bergantian. Rafan yang pertama yang akan melakukan, kami berdua akan menunggu di sisi kalian berdua," usul Kevin menyebutkan rencananya.
Lagi-lagi Rafan dan Faris menatapnya tajam. Namun, ketika itu Rafan merasakan genggaman yang kuat di telapak tangannya. Itu Kevin yang melakukan. Entah maksud jelasnya apa, namun Rafan mendeskripsikannya sebagai ungkapan tak mengapa. Seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Rafan pun menggenggam tangan Faris yang berdiri di sisinya yang lain. Dengan lirih ia ucapkan kalimat yang paling sulit untuk diungkapkan.
"Mungkin ini saatnya kita ngelepas Arkan. Kasian dia, udah terlalu lama menderita dalam paksaan dan kedengkian orang-orang yang membencinya. Mungkin, dengan begini, dia bisa menjalani hidup yang lebih tenang di alam sana."
...Bersambung......