Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 50. Titik Terang



Bruk!


Pintu utama rumah itu dibanting kasar oleh Faris. Ia keluar sembari mengenakan jaket denimnya, meninggalkan rumah yang penuh keegoisan. Bahkan ini masih pagi, tapi mereka sudah mendebatkan pertanyaan yang seharusnya sangat mudah dijawab oleh orang tua yang memang menyayangi anaknya, pikir Faris.


Seorang wanita paruh baya yang mengenakan setelan kantor keluar mengejar Faris.


"Faris, berhenti! Faris, denger Mama! Kamu gak bisa egois begitu, dong! Mama sama papa melakukan semua itu juga demi masa depan kamu! Kamu harusnya berterima kasih dengan cara berprestasi. Atau paling tidak dengan nurut sama kami! Faris, dengerin Mama! Faris!"


Yang dinasehati malah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi keluar dari halaman rumah itu dan melaju di jalanan pagi yang cukup ramai. Menuju sekolah yang mungkin masih belum banyak yang datang.


"Astaga, anak itu!" seru Via--mama Faris--yang kembali memasuki rumahnya sambil menggeleng frustasi.


Sementara Faris terus melaju dengan kecepatan tinggi ke sekolah. Tanpa mengingat seseorang yang seharusnya ia jemput seperti biasa. Yang kini ada dalam hatinya adalah samsak tinju yang ada di dalam ruangan bela diri sekolahnya. Ia membutuhkan pelampiasan amarah sebelum pelajaran dimulai.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 7.10 saat Arkan menaiki ojek online yang ia pesan dari apartemen. Ia merutuki kebodohannya yang malah lupa waktu saat sarapan dengan Silva tadi hingga waktu masuk sekolahnyalah yang kena imbas. Ia dipastikan akan telat jika di persimpangan terkena macet. Memang ya, benar yang orang-orang bilang, cinta bisa membuat orang lupa diri, lupa waktu, lupa segalanya. Inginnya hanya menghabiskan waktu berdua saja dengan orang yang dicintai. Huh! Arkan jadi senyum sendiri karena tiba-tiba bayangan saat Silva tersipu mampir di pikirannya.


Oke, stop memikirkan cinta! Arkan harus fokus ke jalanan jika tidak ingin salah alamat. Ya meskipun di aplikasi sudah tertera alamat yang dituju, tapi sering kali ada ojek online yang mengantarkan penumpangnya ke alamat yang salah. Jadi, untuk menghindari kejadian buruk tersebut, lebih baik Arkan fokus saja.


Ketika itu, ia melihat seorang gadis berseragam sama dengannya namun atributnya berbeda. Sepertinya adik kelas yang tahun ini baru masuk. Gadis itu berdiri di trotoar depan toko kue, berdiri dengan gelisah sambil celingak-celinguk, seperti sedang menunggu seseorang.


"Pak, Pak, berhenti dulu, Pak!" Arkan menepuk-nepuk bahu si driver ojek online. Mereka berhenti beberapa langkah dari si gadis.


Arkan turun dari motor dan menghampiri gadis itu. "Kamu anak SMA Permata Bangsa, kan?" tanya Arkan membuat si gadis menoleh padanya lalu mengangguk.


"Iya, Kak."


"Lagi ngapain? Ini udah siang loh, bentar lagi bel masuk. Kamu nunggu siapa?"


"Aku lagi nunggu temenku yang biasa ngejemput aku, Kak. Biasanya jam setengah tujuh udah datang, tapi sekarang gak tau kenapa belum datang juga," jawab gadis itu dengan risau.


Arkan memeriksa jam di tangannya. "Lima menit lagi masuk, mending sekarang kamu pake ojek itu aja. Mungkin temen kamu itu udah berangkat duluan atau gak sekolah. Ayo!"


Tanpa aba-aba, Arkan menarik tangan si gadis dan dibawa ke ojek online yang tadi ia tumpangi. Saat ia akan memasangkan helm ke kepala si gadis, gadis itu menahannya.


"Eh tapi, Kak. Nanti Kakak yang telat dong?" tanya gadis itu dengan raut wajah bergurat perasaan sungkan.


"Gak apa-apa, gue udah sering telat, lagian gue pinter. Sekolah gak bakal ngeluarin anak pinter kayak gue. Udah, lo gak usah mikirin gue. Gue bisa naik ojek pengkolan di depan," kata Arkan sambil memasangkan helm ke kepala si gadis.


"Beneran, gak apa-apa, Kak?" tanya gadis itu lagi.


"Iya, udah cepetan naik! Bang, jalan Bang! Terusin ke tujuan saya, ya!" ujar Arkan ke si driver.


Driver itu mengangkat jempol kirinya. "Siap, Dek! Pasti pacarnya saya antar dengan selamat sampai tujuan!" jawab pria itu sambil melajukan motornya.


Arkan hanya bisa mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Kenapa malah dianggap pacar? Ketemu aja baru tadi, pikir Arkan. Tapi ia tidak ambil pusing, hanya menggelengkan kepala lalu berjalan menuju pangkalan ojek di depan persimpangan sana.


Sebelumnya, dilihat lagi jam tangannya. "Yah, udah jam setengah delapan, dia juga pasti telat sih. Yah, paling gak, dia masih bisa pergi ke sekolah."


***


Pagi-pagi Hanum sudah kedatangan tamu. Katanya sekalian lewat menuju kantor, apa salahnya mampir dulu ke rumah calon besan.


"Omong-omong, Num, aku sudah menemukan satu titik terang siapa pelakunya," ujar Setya meminum kopi yang baru saja disuguhkan oleh asisten rumah tangga rumah itu.


"Sudahlah, Setya. Pelakunya bukan hal yang penting lagi kalau ternyata Silva sudah hamil," sahut Hanum setelah menghela napas berat.


Setya mengerutkan keningnya menatap Hanum tak senang. "Apa maksudmu pelakunya gak penting lagi? Justru kalau Silva hamil, pelakunya bisa kita jadikan petunjuk, siapa ayah dari janin itu sebenarnya."


"Maksudmu? Anakku bukan dikotori oleh Arkan, tapi oleh orang lain, begitu?" Hanum menatap Setya dengan sedikit bumbu tidak senang.


"Ya itu salah satu dugaanku. Karena memang itu juga bisa saja terjadi," jawab Setya mengikuti pikirannya.


Namun Hanum nampak tidak senang. Ia menatap Setya tajam dengan rahang mengeras. Tentu saja ia tidak akan senang bila di dalam perut anak tunggalnya terdapat benih dari orang yang tidak diketahui jelas asal-usulnya. Mungkin jika benar Arkan yang melakukannya, ia tidak akan terlalu marah. Tapi jika bukan, ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia bisa saja memaksa Silva untuk menggugurkan kandungannya.


Menyadari ekspresi wajah Hanum yang mengeras menahan amarah, Setya mengangkat kedua tangannya berusaha menenangkan Hanum.


"Tenang dulu, Num. Jangan terbawa emosi, ini juga baru dugaanku. Kita belum tau siapa sebenarnya ayah dari janin itu dan baru bisa melakukan tes DNA kalau bayinya sudah lahir. Tapi, ada jalan lain, yaitu dengan menangkap pelakunya dan kita interogasi agar dia mengungkapkan semuanya. Makanya, aku sangat ingin pelakunya cepat tertangkap. Para polisi dan bawahanku sudah mulai bergerak," jelas Setya.


Menghela napas, Hanum mencoba untuk tenang agar bisa berdiskusi dengan kepala dingin.


"Yah, benar juga pemikiranmu. Semuanya bisa jadi kemungkinan dan patut dijadikan dugaan. Oke, aku akan mendukung dan ikut berpartisipasi dengan mengutus bawahanku juga untuk membantu investigasi. Karena aku yakin, bawahanmu itu bergerak di bagian mata-mata."


"Ah, tau saja. Calon besanku sudah mengenalku dengan baik, ternyata ha ha ha."


Di saat yang bersamaan, dua buah pesan masuk ke ponsel Setya dari dua kontak berbeda.


_____________________________________


From Jeffry :


Bos, sahabat Arkan rencananya akan menemui bos sepulang sekolah untuk membicarakan perihal pelakunya.


_____________________________________


Setya kemudian membuka pesan satu lagi yang dikirim dari kontak Faris.


______________________________________


From Faris :


Om, saya bisa bicara sama om siang nanti? Ada hal penting yang harus saya bicarakan sama om. Nanti pulang sekolah, saya ke kantor om. Makasih, om.


______________________________________


Sebenarnya apa hubungan Faris dengan kasus ini. Kenapa ia bisa mengetahui pelakunya, pikir Setya.


"Nah, aku baru saja dapat pesan kalau nanti siang, Faris akan mengungkapkan siapa pelaku yang sebenarnya. Jadi, kamu mau ikut denganku tidak?" tanya Setya menatap Hanum.


"Oke, aku akan ikut."


... Bersambung......


Nah, sebentar lagi selesai masalah ini😇