Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 34. Kecewa



Bugh!


Satu pukulan mendarat di rahang kanan Arkan begitu kuat hingga tubuhnya terhuyung ke samping. Ia baru saja sampai di rumahnya dan seketika itu juga ia dihadiahi bogeman tepat saat ia menginjakkan kakinya di ruang tamu--di hadapan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Silva.


Arkan menatap papanya dengan alis menukik tajam. Ia baru saja datang, kenapa tiba-tiba dipukul?


Seakan tahu kebingungan Arkan, Setya melemparkan dua buah foto tepat ke wajahnya. 


"Lihat sendiri!" desis Setya menatap nyalang sang anak sulung.


Berjongkok, Arkan meraih dua lembar foto di kakinya. Kedua matanya melebar saat melihat siapa yang ada di dalam foto-foto itu. Di salah satu foto terdapat Nesya yang sedang terbaring di rumah sakit, sendirian. Nesya terlihat sedang berusaha mengambil sesuatu di meja samping brangkarnya.


Lalu di foto satunya lagi, terdapat Arkan dan Silva sedang tidur dengan bahu telanjang mereka terekspos di sebuah kamar.


Arkan menatap papanya dengan sorot yang sulit diartikan.


"Kenapa? Siapa yang ngajarin kamu jadi laki-laki brengsek?! Adik kamu kesusahan di rumah sakit, sedangkan kamu ngelakuin hal bejat pada gadis yang seharusnya kamu jaga! Kamu udah ngerusak kepercayaan kami dalam sekejap, Arkan!" murka Setya diakhiri dengan bogem mentah mendarat kembali di rahang kiri sang anak.


Arkan bangkit dengan sudah payah sambil memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Dipandangnya satu persatu wajah keempat orang tua di depannya. Mereka semua menghujamnya dengan pandangan kecewa dan marah. Semudah itukah mereka memercayai fitnah ini?


"Dan kalian percaya gitu aja?!" teriak Arkan dengan mata memerah. "Coba kalian pikir, kenapa bisa kalian dapatin foto-foto itu? Kurang kerjaan banget orang itu kalo ngirim foto-foto itu ke kalian tanpa maksud tertentu. Apa kalian gak mikir, kalo sebenarnya kita lagi diadu domba? Kita semua lagi dijebak. Aku gak nyangka kalian semudah itu percaya sama orang lain yang belum jelas identitasnya siapa, dibanding sama aku anak kalian sendiri."


Bugh!


Bogeman kembali Arkan dapatkan di perutnya hingg membuatnya terdorong ke belakang dengan memegangi perutnya.


"Menurut kamu siapa yang menjebak kita? Orang kurang kerjaan mana yang rela buang-buang waktunya, cuma untuk menjebak kamu?!" marah Setya tepat di hadapan Arkan.


Ia menatap kedua netra papanya yang dipenuhi rasa kecewa. Sungguh, ia bingung harus membuktikan dengan cara apa lagi. Ia sendiri tidak punya bukti.


"Oke, tunggu beberapa bulan lagi, Arkan akan tunjukkan bukti kalau kami dijebak! Arkan sama sekali gak nyentuh Silva!"


Bugh!


Tak disangka Hanum maju dengan amarah memuncak dan menghantamkan kepalan tangannya ke wajah Arkan.


"Bicara apa kamu?! Kalau bukan kamu, siapa yang ngerusak anak saya?! Gak mungkin dia berani tidur dengan laki-laki, kalau tidak kamu yang mejebaknya!" bentak Hanum menunjuk-nunjuk wajah Arkan.


"Petang itu saya baru aja nganter Silva pulang. Tapi tiba-tiba Dea mengabari saya bahwa Nesya kecelakaan. Dengan berat hati saya tinggalkan Silva di rumah dan segera menuju rumah sakit tempat Nesya ditangani. Saya menunggu beberapa jam hingga Nesya selesai dioperasi dan dipindahkan ke ruang rawat inap. Tengah malamnya, saya kembali dihubungi oleh Dea bahwa Silva ada di club' malam yang biasa Dea kunjungi, sedang mabuk dan dibawa oleh laki-laki asing. Saya meminta bantuan Rafan untuk menjaga Nesya dan saya segera datang ke club' yang Dea maksud. Di sana Dea menunjukan kemana Silva dibawa. Saya segera menuju kamar yang ditunjukan Dea. Kalian tau apa yang saya lihat?" Arkan menatap satu persatu orang dewasa di hadapannya.


"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Silva yang sudah kehilangan kesadarannya sedang disetubu*i oleh lelaki asing. Amarah saya memuncak begitu saja. Saya menghabisi pria itu hingga pingsan. Saat saya mendekati Silva, kepala saya dihantam sesuatu yang keras dari belakang sampai saya pingsan. Dan saat kami bangun, saya sudah ada di ranjang samping Silva tanpa busana. Lebih sakitnya saya, Silva juga menyangka saya yang melakukannya! Padahal saya yang berniat menolongnya!" jelas Arkan menggebu-gebu.


Namun, Hanum mendengus mendengar penuturan Arkan. "Pandai juga anakmu merangkai cerita, Setya. Kamu pikir, saya akan semudah itu percaya pada karangan cerita kamu yang tidak berdasar? Bukti-bukti ini lebih menunjukkan kebenaran! Mau mengelak seperti apa lagi, hah?!"


"Oke, kalau kalian gak percaya, gak masalah. Tapi, Silva akan saya jaga sampai saya yakin kalian gak akan ngehukum dia. Jangan tanyakan dimana Silva, yang jelas dia aman sama saya! Permisi." Arkan berbalik dan pergi dari rumahnya. Meninggalkan keempat orang dewasa yang meneriaki namanya untuk tidak pergi dulu.


Setya berteriak frustasi setelahnya. Lisa tidak berani dan tidak dapat menenangkannya, ia juga sama terpukulnya. Ia pun sulit untuk memercayai yang mana. Di satu sisi ia percaya dengan penjelasan Arkan, namun di sisi lain bukti menunjukkan hal yang bertolak belakang. Dalam hatinya hanya satu yang ia rasakan. Kecewa.


***


Melangkah gontai, Arkan berjalan menyusuri trotoar. Ia merangkai langkahnya dengan pandangan ke depan namun pikiran tak setujuan. Yang kini di pikirannya hanya bagaimana caranya ia dapat menghidupi dirinya dan Silva setelah ini. Ia tak mungkin mendapat uang bulanan lagi dari papanya dan ia tak akan meminta. Ia sudah memutuskan untuk keluar dari rumah dan tidak menjadi tanggung jawab mereka lagi. Jadi, ia akan berusaha sendiri mulai sekarang. Termasuk tempat tinggal. Ia berniat akan pindah dari apartemen miliknya yang dibelikan sang papa. Ia akan pindah tanpa memberitahu mereka ke mana. Biar saja ia pergi hingga mereka dapat menerima Silva kembali.


Tapi, yang jdi masalah utama sekarang adalah bagaimana ia bisa mendapatkan uang untuk biaya hidup mereka.


"Gue harus kerja. Tapi, di mana?" monolog Arkan menghentikan langkahnya dan menebar pandangan ke sekitar.


Hingga kedua netranya menangkap sebuah poster yang terpajang di jendela sebuah toko di pinggir jalan. Tulisannya bisa menjadi solusi bagi msalahnya. Ia lantas menghampiri toko itu dan membaca tulisan yang tertera dengan seksama.


Senyuman muncul saat dirasa ia bisa memanfaatkan peluang ini. Sampai seorang pria keluar dari toko itu untuk membuang sampah. Ia tak menyia-nyiakan waktu lagi.


"Mas, Mas!" panggilnya sambil berjalan mendekati pria itu.


"Iya?" sahut si pria menatap Arkan bertanya.


"Di sini ada lowongan kerja?" tanya Arkan menatap pria itu penuh harap.


Si pria mengangguk. "Ada, Mas. Mas mau ngelamar?"


Arkan mengangguk tak santai. "Iya, iya. Saya mau ngelamar, Mas. Tapi, bisa part time?"


"Yah, maaf Mas. Gak bisa part time. Soalnya di sini kerjanya jadi asisten saya, Mas, dari jam sembilan sampai jam empat sore," jawab si pria dengan nada menyesal.


"Yah, ya udah, Mas. Makasih." Raut senang Arkan seketika menghilang.


Si pria kembali masuk dan Arkan melanjutkan langkahnya kembali setelah menghela napas kasar. Namun, tiba-tiba langkahnya berhenti seketika saat di pikirannya terlintas sebuah nama.


"Mungkin Bang Regan bisa bantu gue."


...Bersambung......


Makasih buat yg udah mampir. jangan lupa untuk vote, komen, dan favoritin yup. thank you


luv yu all♥️❣️🧡💛💙🖤🖤💓💕💌💟💜💚💗💖❤️


salam


Didiluv💚