
"Ada apa ini? Dea kenapa? Kamu temennya?" tanya seorang wanita paruh baya berjilbab krem saat membukakan pintu untuk Faris karena melihat Dea digendong.
"Kita masuk dulu ya, Tante. Deanya tidur," jawab Faris dengan senyuman kecil.
"Oh, ya sudah, ayo masuk! Bisa tolong langsung dibawa ke kamarnya?" Wanita itu memberi akses bagi Faris agar ia bisa masuk.
"Bisa Tan, bisa. Tunjukin aja kamarnya, ya," jawab Faris melewati pintu lalu mengikuti langkah wanita itu menaiki tangga menuju kamar Dea yang berada di lantai atas.
Setelah sampai di kamar Dea, Faris meletakkan tubuh Dea di atas kasur dengan perlahan. Lalu Faris menarik selimut untuk menutupi tubuh Dea hingga leher.
Faris menoleh pada wanita itu yang masih menunjukkan wajah cemas. "Ayo, Tan. Kita ngobrolnya di luar."
Wanita itu mengangguk lalu mendahului Faris keluar dari kamar Dea menuju ruang tamu. Mereka duduk di sofa yang ada di sana.
"Eum... Sebelumnya kenalin, Tan, saya Faris, temen sekolahnya Dea. Tante...mamanya Dea?"
Wanita itu mengangguk. "Iya, saya Laila, mamanya Dea. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Jadi gini ceritanya Tante..." Faris menceritakan dari awal Dea menyukainya dengan tidak biasa, terjadinya masalah dirinya dengan Silva, lalu dengan Arkan, hingga ke pengakuan Dea tadi di rumahnya.
Jelas saja Laila kaget, menutup mulutnya dengan tangan, tidak menyangka putrinya bisa melakukan kejahatan semacam itu. Bahkan ia tidak pernah tahu bahwa Dea sering pergi ke club' malam.
"Astagfirullah, Ya Allah... Saya gak pernah tau Dea seperti itu. Kenapa dia bisa jadi seliar itu?" resah Laila setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Faris.
"Saran saya sih, Tan, coba Tante bawa Dea ke psikiater. Mungkin aja, ya... ini cuma pemikiran saya, mungkin aja Dea butuh jasa mereka untuk mengobati psikologisnya," saran Faris yang diangguki Laila.
"Saya dan suami akan berdiskusi dulu tentang masalah itu, ya. Tapi yang pasti, kami gak akan diam saja. Kami akan mendidik Dea dengan lebih baik dan mungkin lebih ketat agar tidak melakukan hal buruk lagi, apalagi sampai mencelakai orang lain. Tolong sampaikan permintaan maaf saya ke teman dan mantan pacar kamu, ya. Untuk sementara, Dea gak akan masuk sekolah. Nanti saya yang akan datang ke sekolah menjelaskan semuanya. Dan terima kasih, kamu sudah mau mengantar Dea pulang dan menceritakan semuanya. Sekali lagi saya atas nama Dea meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian semua."
"Baik, Tante. Kalau udah jelas begini, saya lega dan bisa memaafkan Dea. Terima kasih, Tante, karena mau bertindak tegas atas masalah ini. Kalau begitu, saya pamit," jawab Faris sedikit membungkukkan badannya lalu bangkit dari duduknya.
Laila ikut berdiri. "Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan, ya. Dan semoga masalah kalian cepat selesai. Maaf, kami gak bisa bantu lebih jauh."
"Eh, gak apa-apa, Tante. Saya bisa sendiri, kok, hehe. Kalo gitu saya pulang, ya. Assalamu'alaikum," salam Faris menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Laila lalu mengantar Faris hingga ke pintu utama.
Berdiri di sana memperhatikan Faris yang meninggalkan halaman rumahnya menggunakan mobil.
"Dea, Dea. Apa mama harus bawa kamu ke desa, tinggal sama nek Ifah?"
***
Tengah malam Silva terbangun dari tidurnya. Ia merasa tenggorokannya kering. Ia berusaha bangun tanpa membangunkan Arkan. Sepelan mungkin ia bergerak duduk dan menjulurkan tangannya meraih gelas air yang ada di nakas di samping Arkan. Jadi, ia harus melewati tubuh Arkan yang tidur telentang agar sampai di nakas.
Namun, tiba-tiba tubuhnya menegang saat merasakan napas Arkan tepat berada di lehernya. Sedikit lagi sampai, tapi Silva seakan tidak mampu bergerak lagi. Memejamkan matanya erat, Silva berusaha mengumpulkan kembali keberaniannya. Ia memperpendek jarak ujung jemarinya dengan gelas lalu menoleh ke arah Arkan untuk memastikan bahwa lelaki itu masih terlelap. Tapi sayangnya, Arkan sudah membuka matanya. Saat ini ia sedang menatap Silva dari jarak dekat.
"Kamu ngapain sih? Hm?" tanya Arkan yang napasnya langsung menerpa wajah Silva karena jaraknya sangat dekat.
Silva tersenyum lebar menampakkan gigi-giginya. "Hehe, aku haus, Ar. Mau ngambil minum tapi susah, gak nyampe," adu Silva dengan nada yang terdengar seperti merengek.
Saat akan menegakkan tubuhnya, Arkan menahan punggung Silva agar tetap pada posisi seperti itu. Sontak saja Silva melebarkan matanya waspada. Tapi ia tidak berani menatap mata Arkan. Jantungnya mulai berdebar keras. Apalagi saat Arkan menangkup sebelah wajahnya dengan satu tangannya yang bebas. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Silva yang perlahan dihiasi rona merah yang berhasil membuat Arkan terkekeh pelan. Ia sengaja menarik wajah Silva mendekat dan tersenyum makin lebar saat melihat Silva memejamkan matanya perlahan dan menahan napasnya.
Saat sudah semakin dekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan, Arkan meniup wajah Silva pelan. Membuat Silva membuka kedua matanya. Melihat Arkan yang tersenyum jahil tepat di depan wajahnya.
"Jangan ditahan napasnya, sampe merah begitu tuh pipinya. Ayo napas, hey!"
Silva masih diam. Mencerna perkataan Arkan hingga ia melebarkan kedua matanya. Lalu ia segera memeluk Arkan dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arkan. Dan satu tangannya memukul dada Arkan brutal.
"Arkan ih, jangan begitu! Malu!" pekik Silva yang teredam di bahu Arkan.
Arkan terkekeh geli melihat tingkah Silva yang baginya menggemaskan. Ia membalas memeluk Silva yang masih memukuli dadanya.
"Gak mau! Kamu harus janji dulu jangan begitu lagi!"
"Iya, iya, udah dulu dong, aduh!" Arkan menangkap tangan Silva hingga berhenti memukulinya.
"Arkan, lepasin ish..."
"Sini dulu kamunya, liat aku coba!" Arkan menarik bahu Silva agar menatapnya.
"Gak mau ih!"
"Ya udah begini aja," Arkan menyamankan posisi mereka.
"Kamu haus?" tanya Arkan lagi yang diangguki Silva tanpa menjawab.
"Haus gak, hei?"
"Ck, iya ish!" sahut Silva sambil memukul dada Arkan.
"Ya udah bangun dulu, biar aku ambilin minumnya."
Dengan begitu Silva bangun terduduk. Arkan pun bangkit, meraih gelas berisi air setengahnya dan memberikan kepada Silva yang langsung meminumnya.
"Udah?"
Silva mengangguk dan Arkan menyimpan kembali gelas itu ke atas nakas. Kemudian ia bersandar di dinding dan menarik tangan Silva agar mendekat padanya.
"Sini, senderan sama aku!"
"Gak bisa, sempit itu!"
"Bisa kok, sini dulu kamunya!"
Silva menurut dan Arkan menarik Silva agar bersandar di dada bidangnya.
"Nah, bisa kan?" tanya Arkan santai. Tak mempedulikan bagaimana keadaan jantung Silva saat ini. Berdetak tak karuan hingga sesak rasanya.
Selanjutnya keheningan yang mengambil alih. Hanya detak jarum jam yang terdengar dan juga debaran jantung masing-masing yang seakan beradu satu sama lain.
"Arkan... Tadi sore, ayah ke sini," ungkap Silva memecah keheningan.
"Ayah?" ulang Arkan dengan alis mencuram. Jika berhubungan dengan para orang tua, pasti keadaannya tidak baik, kurang lebih untuk saat-saat ini.
"Iya, awalnya ayah baik-baik aja. Mungkin dia ke sini mau jengukin aku, karena sempet nanya keadaan aku ke Bening. Tapi, setelah tau kalau aku hamil, dia marah banget. Sampe ngusir aku dari rumah. Katanya barang-barangku semua bakal dipindahin ke apartemen kamu."
Menghela napas dalam, Arkan mengusap rambut hingga punggung Silva. "Itu karena ayah kamu lagi emosi aja. Aku yakin sebenarnya dia tetep sayang kamu. Karena mau bagaimanapun, kamu anak kandungnya, darah dagingnya, putri tunggalnya yang selalu bikin mereka bangga, dan disukai banyak orang. Yakin deh, ada saatnya nanti ayah maafin kamu. Asal, kita mau berusaha. Kita harus buktikan ke mereka semua kalau kita bisa jadi dewasa, kita bisa jadi orang tua yang baik buat anak kita nanti. Kamu mau kan, berusaha sama aku?"
Mendengar pertanyaan Arkan, Silva mendongak, menatapnya dari jarak sangat dekat. Ditatapnya seluruh bagian wajah rupawan milik Arkan. Dari rambut, alis, mata, hidung, bibir, dagu, kulit, semuanya berhasil membuat Silva tak berhenti mengagumi, meski dalam hati. Ada sedikit rasa menyesal. Kenapa ia baru menyadari betapa rupawan wajah Arkan, dan betapa tulus dan lembut hatinya.
Menyadari keterdiaman Arkan karena ditatap olehnya, Silva tersenyum tertahan. Ternyata seorang Arkan bisa salah tingkah juga, pikir Silva.
"Cie... Malu, ya? Itu pipinya merah, cie...hihihi," goda Silva terkikik tepat di depan wajah Arkan.
Namun, saat akan menjauhkan wajahnya, Silva melebarkan kedua matanya sebagai reaksi terhadap yang dilakukan Arkan secara tiba-tiba. Membuat jantungnya berdetak tak santai, hingga seluruh permukaan wajahnya memerah.
"Arkan, nakal! Dibilangin jangan nakal, malah cium-cium!" pekik Silva yang teredam di dada bidang Arkan.
... Bersambung......
Ouh! cheesy sekali ya...ðŸ¤