Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 72. Terungkap



"Mungkin ini saatnya kita ngelepas Arkan. Kasian dia, udah terlalu lama menderita dalam paksaan dan kedengkian orang-orang yang membencinya. Mungkin, dengan begini, dia bisa menjalani hidup yang lebih tenang di alam sana."


Orang berjubah itu tertawa lepas. Suara tawanya menggema di keheningan ruangan itu.


"Sebenarnya aku memanggil kalian ke sini untuk kubinasakan juga. Tapi, mungkin sekarang bisa kita tunda untuk bersenang-senang dulu. Bukan begitu, Kevin?"


"Ya, kayaknya ny*ksa sahabat sendiri seru juga HA HA HA...." jawab Kevin diakhiri tawanya yang terdengar puas dan menggelegar, mengundang orang yang bertanya ikut tertawa.


"Oke, mari kita mulai~"


"Sebentar, gue harus meyakinkan mereka dulu!" instruksi Kevin layangkan lalu merangkul Rafan dan Kevin membelakangi orang itu.


"Kita udah gak punya waktu lagi. Kasian Arkan kalo kita terlalu lama ragu," bisik Kevin pada mereka.


"Ya tapi lo juga gak harus ikut ngebun*h Arkan juga, tol*l! Dia juga sahabat lo!" umpat Faris menggeplak kepala belakang Kevin.


"Ini semua demi kebaikan Arkan dan kita juga, Ris. Udah deh, lo ikutin aja apa kata gue. Percaya sama gue, kalo yang gue lakuin ini demi kebaikan kita semua. Oke?" Kevin masih berusaha meyakinkan dua sahabatnya.


"Gak! Gak oke, gue gak setega lo!" tolak Faris melepaskan rangkulan Kevin. Menatap tajam padanya dengan sedikit binaran kecewa.


Kevin mengusap wajahnya kasar. Ia bingung harus bagaimana lagi menjelaskan kepada Faris.


"Udahlah, Ris. Kita ikut aja keputusan Kevin. Kasian juga kan, Arkan udah terlalu lama nahan sakitnya. Mungkin sekarang dia udah kritis," ujar Rafan dengan kepala tertunduk lesu.


"Ya makanya kita selamatin, Fan! Bukannya malah mau dipercepat kematiannya!" seru Faris yang dapat terdengar oleh dua orang berjubah yang sedang menyaksikan acara diskusi mereka.


"Lo pikir dari sini ke rumah sakit itu sebentar? Sebelum sampe rumah sakit pun Arkan udah mati duluan. Mikir dong, pake otak! Jangan cuma cewek doang yang ada di otak lo!" sergah Kevin membuat Faris mengepalkan tangannya kuat.


"Gue udah sabar ya, Vin, ngandepin lo. Bisa gak sekarang kita fokus buat selamatin Arkan? Gak perlu lo bawa-bawa kehidupan pribadi gue!"


"Siapa di sini yang gak mikirin Arkan? Siapa di sini yang gak mau berkorban buat dia? Dari tadi juga gue udah berusaha buat kebaikan Arkan, lo-nya aja yang mempersulit! Udah deh, sekarang nurut aja apa kata gue!" Kevin menyalak namun sebelah matanya berkedip memberikan sebuah isyarat.


Hal itu dapat ditangkap oleh Faris. Ada rasa lega saat itu di hati Faris. Ia kira Kevin memang akan membun*h sahabatnya sendiri. Dan kini, ia ikut mendebat Kevin dengan kemampuan akting yang ia miliki agar memperlambat waktu sampai polisi datang.


Namun, saat akan membuka mulut untuk menjawab Kevin...


Bugh!


Pukulan keras mengalihkan perhatian keduanya. Dapat mereka lihat bahwa Rafan sudah berada di depan Arkan sedang melayangkan pukulan bertubi-tubi ke perutnya. "Maafin gue, Arkan, maafin gue! Tapi ini demi kebaikan lo juga. Lo harus tunggu gue pokoknya di surga! Nanti gue nyusul lo kalo udah tua."


Kevin dan Faris melotot lebar. Kenapa Rafan sudah ada di sana? Rusak semua rencana mereka. Pikir Kevin. Ingin berteriak untuk menghentikan aksi Rafan pun mereka khawatir dua orang berjubah itu curiga. Jadi, mereka terdiam sambil memikirkan rencana yang lain.


Seorang berjubah itu tertawa lepas dan puas. Sementara seorang lagi hanya tersenyum miring penuh kepuasan.


"Ini polisi kemana sih, anjir! Lama banget datangnya. Keburu ko'it beneran nih, si Arkan," gerutu Kevin dengan sangat pelan hingga hanya Faris yang dapat mendengar.


"Lo sih, gak bilang-bilang dulu rencananya di mobil tadi. Rafan jadi salah paham, kan."


"Ya mana gue tau mau begini kejadiannya. Rencana gue juga bukan ini tadinya. Ah, kacau udah!" Kevin mengacak rambutnya frustasi.


Apalagi saat melihat Arkan memuntahkan banyak sekali cairan kental akibat tinju bertubi-tubi yang dilayangkan Rafan. Tak lama, Arkan benar-benar tak sadarkan diri. Tak ada lagi reaksi yang diberikan tubuhnya. Tak ada lagi kerutan samar di dahinya. Bahkan napasnya saja tak terlihat lagi dengan jelas.


Rafan tertunduk dalam. Ia menangis melihat keadaan Arkan, tapi juga tersenyum karena menurutnya, Arkan sudah tidak merasakan penderitaan lagi. Dengan lirih, ia mengatakan, "Selamat jalan, Arkan."


"HAHAHAHAHA..." Suara tawa kedua orang berjubah itu menggelegar di ruangan itu. Bahkan mungkin terdengar hingga keluar. Mereka puas melihat bagaimana Arkan tewas di tangan sahabatnya sendiri. Sungguh, drama yang sangat seru.


DOR!!


"Sial, kita ditipu! Awas kalian!"


Mereka berontak namun tak lama beberapa polisi memasuki ruangan itu.


"Ini pelakunya, Pak!" seru Kevin membuat dua orang polisi menghampiri mereka dan memborgol lengan kedua pelaku.


"Kalian kami tangkap atas kejahatan pembunuhan berencana, penyekapan, dan penganiayaan yang dilakukan kepada saudara Arkan." Polisi hendak membawa mereka yang berteriak menyangkal tuduhan polisi.


"Sebentar, Pak. Boleh kami liat wajah mereka?" pinta Faris yang menghentikan pergerakan polisi.


"Boleh, silahkan!"


Faris perlahan membuka tudung yang setia menutup separuh wajah kedua pelaku.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat siapa orang yang ada di balik tudung itu. Mereka tidak menyangka bahwa orang inilah yang ternyata menjadi dalang dari semua kejahatan ini. Orang yang tidak pernah masuk ke dalam daftar orang-orang yang patut dicurigai.


"Rika?!"


"Jadi, selama ini lo yang ngelakuin ini semua? Lo dalangnya?"


Rika menyunggingkan seringai kemenangan. Menatap satu persatu sahabat Arkan yang menatapnya dengan tajam.


"Ya, dan gue berhasil! Arkan udah merasakan penderitaan bahkan mati! Akhirnya, dendam gue terbalaskan!"


"Brengs*k!" umpat Faris dan melayangkan tinjunya tanpa sempat ditahan tepat wajah Rika hingga hidungnya mengeluarkan cairan merah kental.


"Terus, siapa yang di samping lo?" tanya Kevin menunjuk seorang berjubah lainnya.


Faris membuka tudung orang itu dan mereka kembali dibuat terkejut.


"Bang Regan?!"


Kini, Regan menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi. Menatap Rafan, Kevin, lalu Faris bergantian dengan tatapan tajam.


"Kalo Bunga gak bisa dapetin Arkan, orang lain pun gak boleh," tekan Regan.


"Tapi lo gak bisa maksain perasaan Arkan, Bang! Lo sadar gak sih, itu juga tindakan yang buruk! Lo gak bisa maksa Arkan buat mencintai Bunga, karena Arkan udah punya Silva yang harus jadi tanggungannya! Sekarang Silva lagi hamil dan Arkan harusnya ada di sampingnya. Bukan malah disekap di sini sama psikopat macam lo!" ungkap Kevin menggeleng pelan merasa tak percaya.


"Gue kecewa sama lo, Bang! Selama ini lo udah kita anggap panutan, seorang kakak yang baik yang selalu ada buat kita. Kenapa lo tega ngelakuin ini?!" Rafan merangsek dan mendorong tubuh Regan dengan wajah dan mata memerah.


"Pak polisi, izinin saya ngehajar dia sekali aja buat yang terakhir kali, ya?" pinta Faris yang mau tak mau diangguki oleh sang polisi.


"Hanya sekali," peringat Pak Polisi.


Bugh!


Seketika itu juga Regan tersungkur ke samping karena Faris menghantamkan tinjunya ke pipi Regan dengan kuat.


Regan dibangunkan oleh polisi dan digiring keluar. Namun, belum sampai di pintu, Regan menahan langkahnya.


"Pak, sebelum saya dibawa ke kantor polisi, izinin saya ngeliat adik saya untuk yang terakhir kalinya, Pak."


... Bersambung......