
Secepat apapun Arkan meminta Abang ojek mengendarai motornya, tetap saja kesiangan kalau terjebak macet. Alhasil, ia baru sampai di sekolah jam 8. Gerbang sudah ditutup dan sudah pasti dirinya akan dihukum. Beruntungnya, sebentar lagi bel pergantian jam pelajaran akan berbunyi. Jadi ia tidak perlu menunggu terlalu lama.
Berdiri di depan pintu gerbang, Arkan dapat melihat beberapa siswa yang nampaknya sedang dihukum berdiri di lapangan. Pasti mereka telat di menit-menit awal.
"Eh, itu kan cewek yang tadi?" gumamnya memicingkan mata saat melihat sosok yang familiar.
"Yah, bener kan gue bilang, dia bakal telat juga. Lama sih, nerima tawarannya."
Bertepatan dengan bel berbunyi, Arkan melihat tubuh gadis itu limbung dan terjatuh.
"Eh, dia pingsan?" kaget Arkan melebarkan kedua matanya.
Saat itu, pak satpam membukakan gerbang untuknya. Tak lama seorang wanita dewasa dengan kaca mata bertengger di setengah hidungnya, menghampirinya. Dia Bu Retno--guru piket hari ini. Dengan tatapan galak, ia bersedekap dada mengintimidasi Arkan.
"Kenapa telat?"
"Tadi kena macet, Bu," jawab Arkan diiringi cengiran dan ringisan samar.
Bu Retno menggulirkan kedua bola matanya. "Halah, klasik alasannya!"
"Ya terus saya harus jawab apa dong, Bu? Masa iya, saya harus jawab, saya kesiangan karena pacar saya nginep di tempat saya, gitu?" jawab Arkan tanpa rasa bersalah.
Bu Retno melotot marah. "Arkan! Jangan macam-macam kamu!"
Arkan kembali terkekeh sumbang sambil menggaruk tengkuknya. "Becanda, Bu."
"Hukuman kamu lari 50 putaran keliling lapangan outdoor! Cepat laksanakan!" tekan Bu Retno meluncurkan ultimatumnya.
"Siap, Bu! Saya laksanakan!" jawab Arkan yang segera berlari menuju lapangan tanpa meminta penawaran apapun lagi.
Ia lebih baik lari keliling lapangan dari pada terus-terusan berhadapan dengan guru killer itu. Bukannya takut, hanya saja, membuang-buang waktu. Lagi pula, lari bisa sekalian olahraga. Jadi, badannya tetap sehat.
Saat hukuman larinya sebentar lagi selesai, Arkan melihat Faris keluar dari ruang UKS dengan diikuti gadis itu yang nampak menangis sambil mencoba menahan tangan Faris. Namun, Faris tidak menoleh sedikitpun. Ia tetap berjalan dan menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman gadis itu. Lalu pergi begitu saja meninggalkan gadis itu yang menangis, merosot di dinding dan berjongkok memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan.
Hingga Arkan menyelesaikan hukuman larinya yang tinggal satu putaran lagi, gadis itu masih menangis di sana--di depan UKS. Ia berinisiatif untuk menghampirinya.
Arkan berjongkok di depan gadis itu dan menepuk pundaknya yang bergetar.Tak lama si gadis berhenti terisak dan mengangkat wajahnya. Ia membelalak melihat wajah Arkan. Sepertinya gadis itu mengingat wajah orang yang memaksanya menggantikan posisi penumpang ojek online.
"Kamu kenapa? Jangan nangis di sini! Emang gak malu diliatin orang-orang?" tanya Arkan membuka percakapan.
Si gadis masih pada posisinya lalu mengedarkan pandangan. "Gak ada orang, kok."
Arkan ikut memutarkan pandangannya lalu meringis. "Iya juga."
"Tapi, nanti kalo ada yang liat gimana?"
Si gadis terdiam, sepertinya ia mulai termakan bujukan Arkan.
"Ya udah, yuk bangun!" Arkan membantu gadis itu bangun. Ia juga bingung sebenarnya. Sebelumnya ia tak pernah sepeduli ini pada siapapun. Tapi kenapa setelah Silva bersamanya, ia jadi lebih peduli terhadap lingkungan, terutama pada perempuan. Mungkin, setiap melihat perempuan, ia jadi ingat pada Silva, ya? Jadi, ia merasa tidak tega untuk membiarkan mereka dalam kesusahan. Ah, sudahlah, Arkan juga tidak tahu pasti.
"Kakak ini sebenernya siapa? Pahlawan kaum wanitakah, malaikatkah, atau apa? Kenapa selalu ada setiap aku kesusahan?" tanya gadis itu dengan wajah polos bercampur sedikit frustasi dan sedih(?).
"Setiap kamu kesusahan?" ulang Arkan karena ia tidak merasa melakukan hal itu sebelumnya.
Gadis itu mengangguk. "Iya, sebelum hari ini pun Kakak pernah nolongin aku. Gak ingat, ya?"
Gadis itu nampak menghela napas pasrah. "Ya udahlah, gak apa-apa kalo gak ingat, lagian itu udah lama banget. Tapi, aku boleh tau nama Kakak?" Ia menjulurkan tangannya ke depan.
"Oh, boleh-boleh, namaku Arkan, kelas 12," jawab Arkan menjabat tangan gadis itu.
"Aku Bunga, kelas 10. Aku boleh minta nomor hape Kakak gak?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
"Umm... Sorry, kalau nomor hape aku gak bisa kasih. Karena aku udah punya hati yang harus dijaga. Maaf ya?"
"Oh." Raut Bunga berubah sendu kembali. "Ya udah, gak apa-apa kok. Aku udah bisa kenalan sama Kakak aja udah seneng banget. Makasih, Kak Arkan. Aku ke kelas dulu, ya!"
Arkan melihat punggung sempit Bunga berjalan di depannya, hatinya serasa tidak tega. Ia pun memanggil Bunga.
"Bunga, tunggu!"
Gadis itu berhenti dan menoleh. Ternyata Arkan mengejarnya dan memberikan secarik kertas berisi kartu nama.
"Itu aku kasih untuk kamu kalau ada perlu aja, ya. Jangan dipake cuma buat hal-hal yang gak penting. Dan satu lagi, jangan datang ke tempat tinggal aku! Karena aku tinggal sama pacar." Setelah mengatakan itu, Arkan berjalan meninggalkan Bunga yang masih terdiam di tempatnya berdiri.
Ia menatap secarik kertas itu. Ada nama, nomor ponsel, alamat rumah, cafe, dan perusahaan. Wah, apa Arkan sudah sesukses itu di usianya yang masih muda? Pikir Bunga.
"Tapi, dia udah ada pacar, sayang banget," lirihnya tersenyum miris.
***
Bugh!
"Apaan sih, Bang?! Gue salah apa lagi kali ini?!" seru Faris menatap nyalang pria di hadapannya.
Saat ia baru saja keluar dari toilet, pria itu yang entah sejak kapan berdiri di sana menyeretnya masuk kembali lalu meninju wajahnya.
"Salah lo? Masih gak sadar juga, ya?" Pria itu menyudutkan Faris ke dinding dan mencengkram kedua sisi kerahnya.
"Lo udah bikin adek gua nangis, anj*ng!" umpatnya sambil kembali menghantamkan tinjunya ke perut Faris.
Dengan sekuat tenaga, Faris mendorong tubuh pria yang lebih tua darinya itu hingga menciptakan jarak lebih lebar.
"Gue udah muak, Bang, sama adek lo! Cewek manja yang gak ngerti situasi! Gue udah coba ngertiin dia dan maklumin sikapnya, tapi apa? Bukannya sadar, dia malah makin ngelunjak!" Faris mengeluarkan semua kekesalannya.
"Tapi dia--"
"Sakit? Lo mau bilang begitu, kan? Sakit dari mananya? Mana ada orang penyakitan, tapi super aktif dan seneng nyusahin orang? Itu manja namanya, bukan sakit! Mulai sekarang, jangan coba nipu gue lagi!" tekan Faris lalu melenggang pergi sambil menyenggol bahu pria itu.
"Faris, sial*n! Tapi lo yang bikin Bunga suka sama lo! Faris!" marahnya menatap arah kepergian Faris dengan mata memerah.
Namun perlahan, rautnya berubah menjadi sendu. Seiring dengan napasnya yang teratur kembali dan kepalan tangannya melonggar.
"Lo gak tau yang sebenarnya, dia cuma berusaha ngelupain penyakitnya."
...Bersambung......
Jadi, siapa sih, kakaknya Bunga?😏