Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 79. Aku Maunya Kamu



"Selamat pagi!" seru Silva sambil menuruni tangga menyapa sang ayah dan bunda yang sudah duduk di kursi ruang makan dan bersiap sarapan.


"Eh, kok semangat banget, sih?" tanya Hanum tersenyum pada Silva.


"Semangat dong, Yah! Kan mau ketemu Arkan kesayangan. Iya kan, Sayang?" sahut Laras menatap Silva yang sudah berdiri di sampingnya.


Gadis itu lalu mencium pipi kiri Laras dan menjawab dengan semangat. "Iya, dong!" Lalu menghampiri sang ayah di meja makan dan mengecup pipinya juga.


Hanum tersenyum lega melihat Silva yang semangatnya kembali seperti dulu sebelum bertemu dengan masalah ini. Akhirnya, keceriaan putrinya kembali. Ia merasa bersyukur sekali. Semoga tidak ada lagi yang akan merenggut keceriaan dan kebahagiaan sang anak.


"Nah, nasi gorengnya sudah matang! Ayo kita sarapan!" seru Laras membawa sepanci besar nasi goreng ke meja makan.


***


Selesai sarapan, Silva langsung menuju rumah sakit. Kebetulan ini hari Minggu, jadi ia meminta para sahabatnya untuk ikut menjenguk Arkan setelah kegiatan pagi mereka. Ia menyarankan kepada mereka untuk datang jam 9, sementara dirinya akan datang sekarang saat waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi. Tak apa, ia memang sengaja karena ingin memperbaiki hubungannya dulu dengan Arkan. Masih ingat kan, kejadian kemarin?


Nah, Silva akan memperbaiki dan mengulang kembali dari awal hari ini. Ia harus meyakinkan Arkan bahwa ia hanya ingin bersamanya. Kebahagiaannya adalah lelaki itu. Hanya Arkan yang Silva butuhkan dan inginkan. Apapun yang ia putuskan, melanjutkan pendidikan atau tidak, Arkan harus tetap di sampingnya. Ia akan mengatakan semua itu kepada Arkan.


Saat ini Silva sedang berjalan di trotoar dengan parsel buah di dekapannya. Saking excited-nya, Silva menyebrang tanpa memperhatikan jalan. Padahal, saat itu jalanan sedang ramai karena akhir pekan. Silva menyebrang sembarangan dan sempat membuat beberapa kendaraan membunyikan klakson untuk menegurnya.


"Nyebrang yang bener dong! Mau mati lo!" seru seorang pengendara motor yang melewati Silva sambil membunyikan klakson.


Silva terperanjat dan tersadar saat ia sudah berada di tengah jalan. Seketika ia panik dan memekik takut saat sebuah mobil melaju ke arahnya dengan cepat.


"Aaaaaa!!!"


"Silva!"


Selintas ia melihat Arkan yang berdiri di halaman depan rumah sakit yang memandang ke arahnya dengan mata melebar. Sebelum akhirnya Silva menutup mata karena ketakutan. Dan tubuhnya seperti melayang dan jatuh mengenai tanah.


Bruk!


Berguling-guling hingga berhenti di trotoar.


"Silva, bangun, Va!" seru Arkan yang baru saja menyelamatkannya.


Silva ketakutan dan masih memejamkan matanya erat. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi padanya. Yang jelas, sekarang ia merasakan tubuhnya sakit semua, tapi seakan hangat melingkupinya.


"Silva, bangun!" seru Arkan sekali lagi. Ia menepuk-nepuk pipi Silva agar mau membuka matanya. Ia pun takut terjadi hal buruk pada gadis pujaannya.


Perlahan Silva membuka kedua matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah panik Arkan kemudian mendekapnya erat.


"A-arkan..."


"Akhirnya kamu buka mata juga. Aku kira kamu kenapa-napa tadi. Aku takut banget. Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Arkan lalu melepaskan pelukannya dan menatap Silva yang kini tersenyum manis.


"Kenapa? Kok senyum-senyum?" tanya Arkan lagi dengan wajah bingung menatap wajah Silva di bawahnya.


Senyum Silva semakin lebar dan menubruk tubuh Arkan kembali hingga lelaki itu hampir kehilangan keseimbangan karena belum siap mendapat serangan dari Silva yang memeluknya erat.


Arkan tak kuasa menjawab, hatinya menghangat dan seakan terasa letupan-letupan yang mengiringi kebahagiaannya. Jelas ia bahagia, karena Silva memilihnya. Namun...


"Kayaknya mending kita masuk dulu deh, Va. Di sini banyak yang liatin."


Saat itulah Silva sadar bahwa mereka masih ada di pinggir jalan. Hal yang memalukan sepanjang hidup Silva. Tapi, untungnya Arkan membantunya menutupi wajah agar tidak terlalu malu.


***


"Nah, sekarang udah di taman. Ayo lanjutin!" seru Arkan merentangkan kedua tangannya dengan senyum merekah dan wajah berbinar menatap Silva yang malah kebingungan. Tapi akhirnya Silva mengerti dan kembali masuk ke dalam dekapan Arkan.


"Arkan..."


"Ssst... Sekarang giliran aku yang bikin pengakuan, oke? Kamu cukup dengerin aja, ya."


Arkan melepas dekapannya lalu menggenggam kedua tangan Silva dan menatap kedua matanya lekat.


"Aku minta maaf soal kemarin. Aku sadar kalo aku salah. Aku gak seharusnya ngasih kamu pilihan bodoh kayak gitu. Harusnya aku tau kalo kamu cinta sama aku--"


"Ih, kok PD sih?! Kata siapa?" potong Silva yang membuat Arkan meredupkan binaran di matanya.


"O-oh, enggak ya?" Arkan menunduk dan hendak melepaskan tangan Silva. Namun, belum sempat karena kini giliran Silva yang menggenggam tangannya.


"Bukan cinta, tapi cinta dan sayaaaaaaang banget!" Silva lagi-lagi memeluk Arkan dengan erat.


"Aku seneng kamu akhirnya sadar dan gak merasa jadi perusak lagi. Kamu itu bukan penghalang apalagi perusak kebahagiaanku sama Faris. Tapi, kamu adalah orang yang spesial banget buat aku. Kamu yang selalu ada di samping aku saat aku lagi di titik terendah, kamu yang rela dianggap pelaku dan dibenci semua orang cuma demi keadaan psikis aku yang lagi down banget. Makasih, Arkan. Kamu itu orang yang sangat berharga bagi aku. Aku beruntung banget waktu itu kamu yang ada di samping aku. Bukan yang lain. Makasih, karena kamu udah mau berkorban buat aku selama ini. Sekarang, biarin aku yang berjuang, ya. Aku akan selalu ada di samping kamu apapun yang terjadi. Dan tolong, jangan pernah minta aku milih lagi. Karena jawabannya akan tetap sama. Aku cuma mau sama kamu."


Arkan tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia menangkup wajah Silva dan mengecup keningnya lama. Menyalurkan rasa hangat dan membuncah di hatinya pada Silva yang ternyata merasakan hal yang sama. Hatinya menghangat dan seakan bertabur bunga-bunga. Perutnya seakan dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan. Geli tapi ia suka. Arkan begitu lembut dan hangat memperlakukannya. Silva bahagia sekali. Ia berharap akan selalu merasakan hal seperti ini ke depannya.


Arkan pun demikian. Kebahagiaan yang mereka inginkan akhirnya mereka dapatkan. Semoga ke depannya hanya hal baik yang mengiringi mereka. Seberat apapun masalahnya, semoga mereka selalu saling mendukung dan menemani.


Arkan menjauhkan bibirnya dari kening Silva dan beralih menyatukan kening mereka berdua. Menatap kedua netra Silva yang juga sedang menatapnya. Saling menyelami perasaan masing-masing melalui sorot mata yang memancarkan binaran cinta dan perasaan yang membuncah.


"I love you, Va," bisik Arkan.


"I love you too, Ar," jawab Silva lalu memejamkan mata saat Arkan mencoba mengikis jarak di antara mereka.


Hingga akhirnya keduanya bertemu dalam perasaan yang berbunga-bunga. Merasakan kelembutan masing-masing tanpa sentuhan kasar. Hanya menempel merasakan kehadiran masing-masing. Saling menyalurkan perasaan rindu dan bahagia yang saat ini mereka rasakan.


Setelah melewati banyak sekali pengorbanan, kesedihan, kesulitan, dan masalah-masalah lainnya, akhirnya mereka sampai pada tahap ini. Tahap akhir yang menyuguhkan kebahagiaan bagi mereka yang telah lama mengalami kesedihan. Semoga setelah ini, kebahagiaan selalu melingkupi mereka.


...Tamat...


Alhamdulillah, akhirnya work ini tamat juga, yeaaaay senangnya😊🎉 Terima kasih bagi kalian yang selalu mendukung karya ini untuk terus update sampai akhir. Maaf jika endingnya kurang sesuai dengan ekspektasi kalian. Tapi, semoga aku udah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menulis endingnya. Terima kasih semuanyaaaa. Saaayang readers🤗


Tenang aja, masih ada extra part ya. Stay tune😉