Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 24. Martabak Manis



Sesampainya di rumah Silva, Arkan menekan bel yang ada di depan pintu megah rumah itu. Tak lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu.


"Cari siapa ya, Mas?" tanya Bi Lela.


"Silva ada?" sahut Arkan tersenyum tipis pada Bi Lela.


"Oh, temannya non Silva, ya? Ada, di kamarnya. Ayo masuk dulu, Mas! Biar saya panggilkan non Silva." BI Lela menggeser badannya untuk memberi Arkan akses masuk lalu mempersilahkan Arkan duduk di ruang tamu.


Kemudian sang asisten rumah tangga itu menaiki tangga menuju kamar Silva--sepertinya.


Arkan duduk diam di sofa ruang tamu rumah itu. Netranya memperhatikan sekitar. Hingga sebuah suara menginterupsi.


"Arkan?"


Sang empunya nama menoleh ke sumber suara. Seketika jantungnya berdebar tak karuan. Silva ada di sana, sedang menuruni tangga berjalan ke arahnya. Wajah itu tetap cantik meski hari sudah hampir larut. Arkan jadi semakin jatuh pada gadis itu.


"Ada apa ke sini malam-malam?" tanya Silva setelah duduk di sofa di hadapan Arkan.


Seakan tersadar, Arkan mengerjap beberapa kali lalu mengusap tengkuknya salah tingkah. Mungkin karena terpergok menatap wajah Silva tanpa berkedip.


"Eum... Gue ke sini cuma mau liat keadaan lo aja," jawab Arkan membuat Silva mengerutkan kening bingung.


Arkan yang menyadari raut bingung Silva buru-buru menjelaskan alasannya. "Lo tau gak, orang tua lo ke luar negeri sama orang tua gue. Tadi pagi, papa mama nyuruh gue buat ngejagain lo karena pasti lo sendirian di rumah. Lo gak apa-apa di rumah sendirian?"


Silva melebarkan kedua matanya. "Jadi, orang tua kita perjalanan bisnis bareng, gitu?"


Arkan menggangguk sebagai jawaban.


"Oh, gue baru tau. Tadi pagi gue gak liat mereka sih." Silva mengangguk mengerti.


"Mereka pergi lebih pagi dari ayah bunda lo," ujar Arkan yang dibalas Silva dengan ber-oh ria.


Kemudian hening. Tak ada lagi yang mengisi pembicaraan.


Sampai Arkan menjulurkan tangannya menyimpan sebuah kotak ke hadapan Silva. "Ini buat lo."


"Wah, apa nih?" Silva mengambil kotak itu dengan antusias.


Setelah dibuka, Silva menatap Arkan membuat lelaki itu sedikit tersentak karena tidak menyadari pergerakan Silva.


"Martabak? Beneran buat gue?"


"Y-ya benerlah. Kalo bukan, ngapain gue bawa ke sini terus kasih ke lo?"


"Oh iya ya, hehe." Silva mengetuk pelan kepalanya menyadari kebodohannya.


Sementara Arkan tersenyum melihatnya. Lucu, pikir Arkan.


"Eh, btw makasih, Arkan!" seru Silva tersenyum manis ke arah Arkan.


Lagi-lagi Arkan terpaku. Entah sadar atau tidak, satu tangannya terulur dan mengusak rambut Silva. Membuat gadis itu membulatkan matanya tak menyangka.


Arkan masih dengan senyumnya menjauhkan tangannya dari kepala Silva. "Imut."


"Hah?"


Arkan menaikkan kedua alisnya bertanya. "Kenapa?"


"Lo bilang apa tadi?"


Buru-buru Arkan menggeleng. "Enggak, gak bilang apa-apa kok. Lo salah denger kali?"


Diam-diam Arkan menghela napas lega. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. "Ayo makan martabaknya! Nanti jam 10 gue baru balik."


Silva mengangguk sambil mengulum senyum. "Makasih sekali lagi ya, Arkan. Lo udah mau jagain gue."


Arkan mengangguk mantap. "Ini tugas dari orang tua gue. Jadi, selama sebulan ke depan, lo jadi tanggung jawab gue. Nanti kalo ada sesuatu, lo bisa kasih tau gue. Kalo lo ada kelas tambahan, atau ekskul, atau apapun itu, setelah selesai sekolah, bisa kan kasih tau gue? Supaya gue gak bingung nyariin lo di sini kalo lo belum pulang."


Silva berdengun sebentar lalu mengangguk setuju. "Oke, bisa-bisa. Ya udah, makan yuk!" Gadis itu membuka kotak martabak di depannya dan menggesernya ke tengah meja agar Arkan bisa mengambilnya dengan mudah.


Namun, Arksn malah menggaruk tengkuknya. "Masa gue juga yang makan? Itu kan gue beli buat lo."


"Ya gak apa-apa. Udah, ayo makan, nih!" Silva mengambil satu potong martabak lalu diberikan kepada Arkan.


Mau tidak mau, Arkan menerimanya. Kemudian mereka menghabiskan makanan manis itu bersama.


"Sial!" umpat seseorang di depan pintu rumah Silva yang tidak tertutup rapat.


Saking penasarannya Faris pada tamu yang mengganggu momen kebersamaannya dengan Silva, ia mendatangi rumah Silva untuk memberi sedikit pelajaran kepada tamu itu agar tidak bertamu malam-malam ke rumah gadisnya. Namun, yang ia lihat justru hal menyakitkan. Di ruang tamu rumah itu, Silva duduk berhadapan dengan Arkan. Dan Arkan yang mengusak pelan rambut gadisnya seakan itu m


"Faris, Faris. Kasian, kalah cepet sama temen sendiri, ya?" Seseorang lainnya menimpali umpatan Faris di belakangnya.


Faris berbalik menatap gadis itu tajam. "Gak usah ikut campur urusan gua dan jangan coba-coba ganggu cewek gua!" tekan Faris dengan nada dinginnya.


Gadis itu yang tak lain adalah Dea, memutar bola matanya jengah. "Gue gak akan ganggu cewek lo dan gue juga gak akan ganggu Arkan. Biarin aja mereka gak ada yang ganggu, biar selingkuh sekalian!"


Plak!


Faris dengan mata memerah menampar Dea hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi gadis itu. "Jaga mulut lo! Gue gak peduli lo cewek! Kalo lo ngeganggu Silva, gue gak akan segan ngelakuin yang lebih dari ini!" ancam Faris mengacungkan telunjuknya di depan wajah Dea. Lalu melenggang pergi dengan motornya meninggalkan Dea yang memegangi pipinya dengan mata yang berkaca-kaca.


Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras dengan mata yang menyorot penuh kebencian. Dea tidak takut dengan ancaman yang Faris berikan. Jika dirinya tidak bisa bahagia dengan Faris, maka tidak ada gadis manapun yang bisa. Ia akan membuat gadis itu menderita, merasakan yang ia rasa. Termasuk Silva.


"Tunggu tanggal mainnya! Gue gak akan biarin lo bahagia di atas penderitaan gue!"


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih sedikit. Arkan sudah pulang setelah ia paksa ikut menghabiskan martabak manis kesukaannya. Silva tidak tahu dari mana Arkan tahu varian kesukaannya. Tapi itu cukup membuatnya senang. Malam-malam setelah dibuat pusing oleh tugas-tugas dan catatan yang harus ia kerjakan karena tidak masuk sekolah hari ini. Dengan tanpa diduga, Arkan datang membawakannya martabak manis rasa stroberi coklat yang selalu jadi camilan favoritnya.


Kini, ia akan kembali menelpon Faris. Sesuai janjinya tadi. Kekasihnya itu pasti sedang marah karena harus menyudahi acara kencan virtual mereka. Silva harus segera membujuk jika tidak ingin esok pagi diacuhkan di sekolah.


Tengkurap di kasur, Silva mendial nomor Faris untuk kembali menyambung panggilan video mereka yang sempat terputus. Menunggu beberapa saat namun tidak kunjung diterima. Hingga sambungan terputus sendiri. Silva mengerutkan keningnya, bingung dengan sikap Faris. Apa kekasihnya itu sudah terlanjur marah? Tapi, biasanya meski marah, Faris akan tetap menerima panggilannya, meski dengan nada ketus atau wajah dingin.


Silva kembali mencoba menghubungi nomor Faris. Lebih membingungkan lagi, kali ini malah ditolak. Perasaannya terasa tidak enak. Ia takut Faris benar-benar marah padanya. Maka, Silva segera mengetikkan beberapa pesan menanyakan keadaan Faris.


"Faris, kamu kenapa?" gumam Silva menatap ponselnya khawatir.


Menunggu hampir satu jam, Faris masih belum juga membalas pesannya, apalagi menghubunginya. Menghela napas, Silva pun memutuskan untuk tidur saja karena malam sudah semakin larut.


"Besok aja deh, ngebujuknya."


Setelahnya, Silva bersiap untuk tidur.


... Bersambung......


bagaimana part kali ini? apakah cukup menghibur?๐Ÿ˜maaf kalo kurang uwu, karena Arkan masih sadar diri kalau Silva itu masih milik sahabatnya๐Ÿ˜Œ segitu dulu yaw, sampai ketemu di part selanjutnya๐Ÿ‘‹


luv yu allโค๏ธโ™ฅ๏ธโฃ๏ธ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’™๐Ÿ–ค๐Ÿ’˜๐Ÿ’๐Ÿ’“๐Ÿ’•๐Ÿ’Œ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’œ๐Ÿ’š๐Ÿ’—๐Ÿ’–


salam


Didilove๐Ÿ’–