
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Silva masih duduk di kursinya tak ada niatan untuk pulang atau beranjak.
"Gak mau pulang, Va?" tanya Dinda yang masih duduk di samping Silva.
Sementara Raini dan Bening sudah pulang karena sudah dijemput.
"Bentar lagi pulang, kok. Gue mau nemuin Faris dulu," jawab Silva sambil memainkan ujung sepatunya.
Saat itulah ia merasakan tepukan di bahunya. Saat menoleh, ternyata Dinda sedang menatapnya sendu.
"Gue doain semoga kalian baikan lagi. Tapi kalo gak berhasil, coba lo ikhlasin dia pergi, Va."
Menukik kedua alisnya, Silva tidak setuju dengan saran Dinda. "Kok gitu?!"
Dinda menepuk bahu Silva. "Silva, gak usah lebay, deh! Hubungan kalian ini cuma pacaran anak SMA aja, bukan pacarannya orang dewasa yang pasti berujung pilihan buat nikah atau enggak. Sekarang lo gak mungkin nikah, kan?"
"Iya, sih," jawab Silva dengan menunduk dan bibir mengerucut.
"Makanya, jadi gak usah dibuat susah. Pacaran di umur segini tuh gak usah terlalu dibawa serius, Va. Kalaupun putus, ya udah tinggal cari lagi yang lain. Gampang kan?"
"Tapi nyari yang kayak Faris tuh gak gampang, Dinda..." rengek Silva menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Menggelengkan kepala pelan, Dinda perlahan melepaskan kedua telapak tangan Silva dari wajahnya. Di tatapnya kedua netra berkaca milik sahabatnya itu. "Gak susah kok, kalo lo mau berusaha dan buka hati. Cowok modelan Faris mah banyak. Kalaupun gak ada, lo bisa cari versi yang lebih baik. Inget Va, Faris juga manusia, dia juga punya sisi gak sempurna. Ini yang gue maksud dulu. Kalo main pacar-pacaran, jangan terlalu cinta, supaya nanti udahannya gak terlalu sakit. Mau gimanapun, pacarannya anak sekolah itu cuma main-main. Walaupun ada yang bisa sampe nikah, itu jarang banget, hampir langka."
Silva hanya diam menunduk, mendengarkan perkataan Dinda yang sudah seperti wejangan-wejangan dari ibunya.
"Jadi intinya, kalo masih bisa dipertahankan, silahkan lo pertahankan. Tapi, kalo udah gak ada harapan lagi, lepasin aja. Oke? Ngerti kan, Honey?" tanya Dinda sambil mencubit pelan pipi Silva--menggodanya dengan panggilan Faris untuk Silva.
Meski masih cemberut, Silva mengangguk juga.
"Nah, gitu dong!" seru Dinda lalu memeluk leher Silva. "Apapun masalahnya, lo harus bisa bahagia setelahnya. Karena, masalah ada untuk mengantarkan kebahagiaan yang ada di belakangnya."
***
Tak terasa hari sudah sore dan sebentar lagi petang. Ia terlalu asik curhat dan mendengarkan wejangan dari Dinda. Sekarang, Silva berlari menuju lapangan indoor--tempat tim basket latihan. Ia semakin melajukan kedua kakinya dengan harapan mereka masih belum pulang. Bodohnya ia, setelah Dinda pulang, ia tak langsung ke sana. Malah harus melawan keraguannya dulu. Karena terlalu serius dengan pilihan dan ketakutannya, tanpa disadari waktu sudah petang.
"Faris, tunggu aku dulu, plis," gumamnya di sela berlari.
Sampai di lapangan indoor, Silva kehabisan napas. Kedua tangannya bertumpu di kedua lutut dan dadanya naik turun. Ia berusaha mengatur napasnya yang masih terengah. Di seberang lapangan masih ada tim basket yang sedang bersiap untuk pulang. Faris ada di sana dengan kostum basketnya namun wajahnya sudah segar. Pasti lelaki itu sudah akan pulang. Ia terbiasa tidak berganti pakaian dulu sebelum pulang, hanya mencuci mukanya saja.
Silva masih berdiri di tempatnya dan memandang sosok Faris. Ia masih ragu untuk menghampiri. Napasnya yang perlahan sudah teratur, seketika tertahan karena Kevin tiba-tiba menunjuk ke arahnya menyebabkan semua orang di sana mengalihkan pandangan ke arahnya, termasuk Faris.
Detak jantungnya terasa tak beraturan dan semakin kacau saat Faris berjalan mengikis jarak diantara mereka. Biasanya jika dalam keadaan mereka baik-baik saja, Silva akan segera berlari dan menubrukkan tubuhnya ke dalam dekapan Faris. Namun, saat ini tidak akan ia lakukan. Hanya melihat kedua mata Faris saja, nyalinya sudah menciut. Sorot mata Faris benar-benar dingin dan tajam. Sangat berbeda dengan beberapa hari yang lalu, ketika hubungan mereka masih baik-baik saja.
Pandangan Silva bergetar dan degupan jantungnya semakin keras terasa saat Faris beberapa langkah lagi di depannya. Silva kira Faris akan berhenti di hadapannya, tapi nyatanya lelaki itu malah terus berjalan melewatinya tanpa menatapnya sama sekali. Hati Silva mencelos melihat sikap acuh Faris. Runtuh sudah pertahanannya, air mata tumpah membasahi kedua pipi. Hal yang lebih menyakitkan ketika ia berbalil hendak menahan Faris, seorang gadis lain tepat di belakangnya menyapa Faris.
"Hai, Kak Faris!" sapa gadis itu nampak malu-malu menautkan jemarinya di depan rok.
Dari belakang, Silva dapat melihat Faris menganggukkan kepala lalu menjawab sapaan gadis itu.
"Hai, Bunga! Yuk, langsung jalan aja!"
Gadis itu tersenyum malu dengan pipi merona samar, lalu mengikuti langkah Faris yang sudah berjalan di depan. Gadis itu mencoba menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Faris, namun karena terlalu panjang baginya, ia pun terpeleset dan hampir jatuh jika tidak tertahan oleh Faris.
Terdengar Faris berdecak. "Makanya kalo jalan hati-hati! Ayo!" Tanpa ragu, Faris menautkan jemari mereka dan mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan.
Silva masih di sana, ia melihat semuanya. Dadanya sungguh sakit, tak sanggup melihat adegan romantis tadi. Benarkah lelaki itu Faris kekasihnya? Kenapa seakan berbeda sekali?
Di belakang sana, Arkan dan yang lain melihat semuanya. Kedua tangan mengepal kuat dan rahang mengeras dengan kedua mata tajam menatap gadis yang ia sayangi menangis pilu. Segera saja Arkan menghampiri Silva. Berjongkok menyamakan tubuhnya dengan Silva. Perlahan satu tangannya terangkat, mengelus pucuk kepala Silva pelan seiring sorotnya yang melembut. Untuk kedua kalinya ia melihat Silva menangis seperti ini hari ini. Sungguh, Faris benar-benar brengsek.
"Ssstt... Udah ya nangisnya. Sekarang, ayo gue anterin pulang!"
Tak ada jawaban dari Silva. Gadis itu hanya berhenti menangis lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap Arkan sambil sesenggukan.
Perlahan Arkan menghapus air mata yang membasahi pipi Silva. Sakit hatinya melihat lagi-lagi mata indah itu mengeluarkan airnya yang berharga.
"Jangan biarin mata cantik ini jadi jelek, cuma karena nangisin cowok brengsek macem dia!" bisik Arkan mengusap kelopak mata Silva.
"Arkan, bisa anter gue pulang gak?" tanya Silva dengan suara bergetar diiringi sesenggukan.
Arkan mengangguk pasti. "Bisa. Ya udah yuk, pulang!"
Arkan berdiri dan mengulurkan tangan kanan ke hadapan Silva. Perlahan, Silva menerima uluran tangan Arkan dan berdiri dengan bantuan lelaki itu.
Lalu, keduanya berjalan beriringan meninggalkan lapangan indoor menuju parkiran. Meninggalkan sisa orang-orang yang menyaksikan drama mereka.
Menghela napas lelah, Kevin menolehkan kepala ke arah Rafan. "Kayaknya ini bakal jadi pertengkaran mereka yang paling gede, Fan. Menurut lo, apa kita harus bantu?"
Rafan menggeleng pelan. "Gak usah, Vin. Gue udah berusaha ingetin mereka buat gak ngerusak persahabatan kita, tapi mereka gak mau denger," ungkap Rafan lalu mengedikkan bahu. "Mau gimana lagi? Biar aja mereka selesaiin urusan mereka sendiri. Kita bantu semampu kita aja."
Kevin mengangguk paham. Ia pun setuju dengan pendapat Rafan, karena bagaimanapun itu urusan pribadi antara Faris, Silva, dan Arkan. Meskipun mereka sahabat, tapi itu di luar hak mereka.
"Yah, kita doain aja yang terbaik buat mereka."
***
"Lo tunggu di sini, gue ambil mobil dulu," ujar Arkan yang diangguki Silva. Lalu ia segera beranjak menuju mobilnya.
Seakan hal baik tak berpihak padanya hari ini, ia melihat siluet seseorang di balik mobil yang ia ketahui milik kepala sekolah yang terparkir di dekat dinding. Karena penasaran, ia pun melangkahkan kedua kakinya ke sana.
Saat sampai, ia benar-benar merasa menyesal dan sakit hati karena malah mengikuti rasa penasarannya. Udara di sekitarnya seakan hampa dan dadanya terasa sesak membuatnya kesulitan bernapas. Air mata kembali berjatuhan melihat lelaki yang begitu ia cintai dan masih berstatus sebagai kekasihnya bersama gadis lain.
Di sana, di celah antara badan mobil dan dinding, Faris tengah mencumbu gadis yang tadi menjemputnya di lapangan indoor seakan kesetanan. Bahkan hingga terdengar lenguhan kesakitan dari gadis itu. Meski begitu, gadis itu tidak melawan. Hanya pasrah mengikuti permainan Faris.
Silva tidak kuat lagi melihat adegan itu. Namun, saat ia berbalik dan hendak berlari, dada bidang Arkan berada di hadapannya. Jadi, Silva hanya menunduk dengan bahu yang bergetar.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Arkan menarik Silva ke dalam dekapan. Mengelus lembut punggung rapuh gadis itu yang bergetar menandakan tangisannya yang pecah. Pandangannya tertuju pada kedua orang itu yang tanpa merasa bersalah malah asik bercumbu di tempat umum. Arkan sungguh-sungguh akan menghajar Faris habis-habisan nanti.
Tak ingin amarahnya meledak, Arkan mengangkat Silva ke gendongannya dan membawanya ke mobil miliknya. Ia merasakan kedua tangan Silva melingkar erat di lehernya mencari pegangan agar tidak jatuh. Wajahnya disembunyikan di bahu Arkan dan saat itu ia merasakan bajunya basah. Ia tidak keberatan sama sekali akan hal itu.
Dengan pelan, Arkan menurunkan Silva dan mendudukkan gadis itu di kursi samping kemudi. Setelah menutup pintu, ia berlari memutar dan memasuki mobil lalu segera melakukannya ke rumah Silva.
...Bersambung......
Mari doakan yang terbaik untuk mereka:)
sampai sini dulu ya, sampai ketemu di part selanjutnyaππ»
luv yu allβ€οΈβ₯οΈβ£οΈπ§‘πππ€ππππππππππ
salam
Didiloveπ