Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Extra Chapter



Cinta adalah fitrah manusia yang bisa didapatkan atau diikhlaskan. Ada kalanya cinta yang kita rasakan tidak untuk diperjuangkan, tapi untuk dilepaskan. Saat itulah pengorbanan terasa sangat berat. Karena harus melihat si cinta justru bahagia bersama cintanya yang lain. Namun, bagi mereka yang berhasil mengalahkan ego, kepuasan akan mereka rasakan karena telah mengikhlaskan dan melihat cinta mereka bahagia.


Itulah yang pernah dilakukan Arkan. Demi kebahagiaan Silva dan demi persahabatannya dengan Faris, ia rela mengubur dalam-dalam perasaannya. Ia pendam semua rasa sakit yang selalu menggores hatinya setiap kali melihat mereka saling memberikan afeksi di hadapannya. Tapi, tak apa karena itu memang sudah menjadi keputusannya.


Tapi, yang namanya jodoh tidak akan tertukar, bukan? Ya, dan sekarang Arkan berhasil mendapatkan cintanya yang sempat ia ikhlaskan untuk sahabatnya. Ia sudah berusaha ikhlas, tapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Mungkin Dia ingin menguji dulu kekuatan dan ketulusan cintanya untuk Silva. Karena Silva adalah gadis yang spesial. Tidak hanya bagi Arkan, tapi juga bagi banyak orang yang mengenal gadis itu. Dan sudah teruji beberapa waktu lalu.


Hingga kini Arkan dan Silva yang berdiri berdampingan di atas pelaminan. Mereka sudah melaksanakan pernikahan dan mengikat hati masing-masing dengan akad. Sekarang, mereka sedang menyambut tamu undangan yang mengantri memberikan mereka ucapan selamat.


"Huwaaa selamat ya, Sayang... Akhirnya kalian nikah juga. Gue bahagiaaa banget. Karena jujur, kisah kalian tuh drama banget, sumpah. Tapi gue juga bangga karena gue adalah salah satu saksi bagaimana perjuangan cinta kalian. Aniway, selamat!" Raini kembali memeluk Silva.


Arkan tersenyum mendengar penuturan Raini. Ya, memang benar yang diucapkan gadis itu. Ia sendiri pun tidak menyangka pernikahan ini akan benar-benar terjadi. Karena banyaknya kejadian yang berpotensi membatalkan rencana pernikahan ini. Tapi sekarang, tak ada kata lain yang dapat ia ucapkan berkali-kali selain ucapan syukur. Terima kasih Tuhan, karena telah memberikan begitu banyak pelajaran dan di akhir ia diberikan hadiah yang sangat berharga.


"Oi! Senyam-senyum aja lu! Kesurupan setan kawinan lu?"


Saat kembali dari lamunan, Arkan melihat Faris di depannya bersama sahabat-sahabatnya yang lain.


"Hehe, sorry..." ucap Arkan mengusap tengkuknya merasa malu karena sudah melamun.


"Dih, kenapa lu? Apa jangan-jangan... Lo... Mikirin yang iya-iya, ya? Astaga, Ar. Gak usah dipikirin, nanti malem juga lo ngerasain, kok. Adoh!" Rafan mengusap kepalanya yang dijitak oleh Kevin. Sementara Faris memutar bola matanya melihat kelakuan Rafan yang masih selalu absurd. Ya, walaupun ia akui juga sih, di beberapa kesempatan Rafan terlihat lebih dewasa dan bijak. Tapi ketahuilah, sebenarnya Rafan lebih suka bertingkah seperti anak kecil saat orang-orang di sekitarnya bersikap dewasa. Dan menjadi dewasa saat orang-orang di sekitarnya bodoh. Aneh, kan? Ya, seaneh si penulisnya. Tapi memang seperti itu karakter Rafan.


Kisah ini masih berlanjut hingga kini Silva sudah berada di apartemen milik Arkan. Ia berdiri di balkon kamar sedang menunggu Arkan yang sedang mandi. Ia sendiri masih menggunakan gaun pengantinnya. Silva terlalu menikmati keindahan langit malam yang bertabur bintang hingga terkejut saat sepasang tangan melingkari perutnya. Ternyata Arkan memeluknya dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Silva. Meski mereka sudah biasa melakukan posisi ini, namun Silva masih saja berdebar. Apalagi malam ini suasananya terasa berbeda. Yah... Kalian tau sendiri, bukan? Saat malam pertama dua orang yang baru resmi menjadi pasangan suami istri, apa yang mereka lakukan? Nah, sekarang Silva sedang memikirkannya dan ia sedikit tegang.


Arkan terkekeh sambil mengusap perut Silva. "Gak usah tegang gitu, Sayang. Kalau kamu belum siap, kita bisa lakuin itu nanti, kok. Gak malam ini juga gak apa-apa. Aku gak akan maksa."


"Ta, tapi..." Silva menggantungkan kalimatnya karena Arkan membalikkan tubuhnya hingga kini mereka berhadapan. Kedua tangan Arkan menumpu pada pagar balkon dengan Silva berada di antaranya. Membuat debaran jantung Silva semakin menggila karena menyadari posisi mereka yang sangat dekat.


Satu tangan Arkan terangkat menangkup satu sisi wajah Silva dengan ibu jari mengusap lembut pipi halusnya.


"Va, aku nikahin kamu itu karena aku tulus mencintai dan menyayangi kamu. Bukan hanya karena na*su semata. Aku pengen bahagiain kamu dengan ngasih kamu kasih sayang, memenuhi semua kebutuhan kamu, dan berusaha sebaik mungkin membuat kamu bahagia sama aku seperti saat kamu masih tinggal bersama keluarga kamu. Karena aku udah ambil kamu dari mereka. Jadi, aku gak boleh bikin kamu sedih kalo gak mau diserang sama mereka." Arkan terkekeh sejenak yang membuat Silva ikut tersenyum.


"Jadi, aku gak akan bikin kamu gak nyaman. Tapi, aku juga manusia. Ada kalanya aku gak tau perasaan kamu. Jadi, kalau nanti aku ngelakuin sesuatu yang bikin kamu gak nyaman tapi aku gak sadar, tolong kamu bilang, ya? Kamu gak boleh diem aja. Kita harus saling komunikasi supaya hubungan kita baik-baik aja. Aku juga begitu. Aku bakal bilang apa yang aku rasain setiap tindakan yang kamu lakuin. Dan sekarang, aku deg-degan," lanjut Arkan menyentuh dadanya.


"Tapi kan, aku gak ngapa-ngapain?"


"Iya, aku tau. Tapi, aku deg-degan setiap di deket kamu. Kamu gitu juga gak?" tanya Arkan menatap Silva.


Dengan tegas, Silva menggeleng. "Enggak, tuh!"


Arkan mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum miring. Ia mendekatkan wajahnya dan semakin mempersempit jarak diantara mereka.


"Masa sih? Sekarang masih gak deg-degan?" tanya Arkan dengan senyum jahilnya.


"E, enggak!" jawab Silva yang mengalihkan tatapannya.


Arkan semakin mendekatkan tubuhnya hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Tangan kirinya ia gunakan untuk memeluk pinggang Silva dan tangan kanannya untuk menangkup satu sisi wajah Silva agar hanya menatap matanya. Ibu jari dan telunjuknya beralih menyentuh dagu Silva.


"Sekarang, masih gak deg-degan?" tanya Arkan lagi.


Namun, Silva tak mampu menjawab. Karena Arkan menarik dagunya dan menyatukan ranum mereka. Saling berbagi kehangatan dari saliva yang terasa manis bagi mereka yang sedang dimabuk asmara.


Gerakan Arkan lembut, penuh kasih sayang, tak banyak menuntut membuat Silva terbuai. Hingga ia tidak sadar saat Arkan membuka resleting gaunnya dengan pelan lalu satu tangannya menelusup masuk, mengusap punggung halus Silva dengan gerakan lembut dan seduktif. Membuat Silva serasa melayang.


Hingga lewat beberapa menit, Arkan melepaskan tautan mereka karena Silva kehabisan napas. Mereka saling menatap dengan napas terengah. Arkan tersenyum dan satu tangannya mengusap sudut bibir Silva yang terdapat bekas saliva entah milik siapa. Lipstik yang masih menghiasi bibir Silva pun sudah tak jelas bentuk dan warnanya akibat ulah Arkan.


"Sekarang, kamu mandi dulu aja, gih! Bersihin make up-nya, abis itu baru kita tidur," ujar Arkan yang mendekap pinggang Silva dengan kedua tangannya.


"T, tapi-hmmmp!" Belum sempat Silva mengucapkan kalimatnya, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Arkan.


"Ck, udah berani ya, sekarang? Bukan cuma ngancem aja, tapi langsung dipaktekin, ya?" cibir Silva setelah Arkan melepaskannya.


Senyum Arkan mengembang. "Iya, dong! Kan sekarang udah sah. Jadi, kamu gak boleh protes kata-kata aku! Kalo ngeyel, aku bakal cium kamu! Sampe gak bisa ngomong," bisik Arkan di akhir kalimatnya. Membuat Silva merinding seketika.


"Arkan!"


Namun, tak lama karena ia harus memekik saat Arkan tiba-tiba menggendongnya. Membawanya ke dalam kamar mandi.


"Kenapa kamu juga ikutan masuk?" tanya Silva menatap Arkan bingung. Sebab, lelaki itu menutup pintu kamar mandi saat ia juga berada di dalamnya.


"Oh, iya, ya! Kenapa malah ikut masuk?" ujarnya menepuk jidat. "Ya udahlah, gak papa. Sekalian kita mandi bareng aja, yuk!"


"Arkan! Keluar, gak?!" seru Silva memekik keras hingga Arkan meringis dan menyerah.


"Iya, iya, aku keluar."


Silva mengembuskan napasnya saat Arkan sudah keluar dan menutup pintu kamar mandi. Seketika kedua pipinya terasa panas. Ia menangkup kedua pipinya yang memerah.


"Arkan brengs*k! Gue deg-degan banget, gila!" gerutu Silva memegangi dadanya, lalu mulai membersihkan diri.


***


Arkan sedang bersandar di ranjang dan bermain ponsel saat Silva memanggilnya di balik pintu kamar mandi dengan hanya menyembulkan kepalanya.


"Apa?" tanya Arkan menahan senyumnya.


Arkan tidak bisa lagi menahan senyumnya. "Coba bilang yang bener!"


Silva mengerutkan keningnya. "Ah! Arkan, tolong ambilin handuk, dong..."


Namun Arkan menggeleng. "Gak! Masih belum bener! Ganti!"


"Ish, gimana dong? Cepetan, Arkan! Aku kedinginan ini!" protes Silva mencebikkan bibir.


"Ya makanya, coba ngomongnya yang bener."


"Itu di mana salahnya, sih? Kan udah bener ada kata 'tolong' nya!"


"Bagi aku belum bener. Ayo coba lagi!"


Silva berdecak keras lalu memejamkan mata.


"S, sayang... Tolong ambilin handuk, dong..." ujar Silva menatap Arkan dengan mata berbinar.


Tanpa menjawab, Arkan berdiri, meraih handuk yang sengaja disimpan di nakas dan berjalan ke arah Silva dengan tatapan yang tak lepas dari gadis itu. Membuat Silva ketakutan dan semakin merapatkan pintu kamar mandi.


Bruk!


"Huwaaa...! Takut, bundaaaa! Arkannya serem!" pekik Silva di dalam kamar mandi setelah menutup pintunya lagi.


"Va, kok malah ditutup? Ini handuknya gimana, hey?" ucap Arkan sambil mengetuk pintunya.


"Ya kamunya jangan serem-serem, dong! Aku takut!"


Arkan terkekeh di depan pintu. "Serem gimana, sih? Aku ganteng gini, kok! Ayo buka pintunya, Sayang..."


"Tapi jangan tajem-tajem tatapannya!"


"Iya, iya, enggak kok. Yuk buka dulu pintunya!"


Tak ada jawaban dari Silva. Namun, perlahan pintu kamar mandi terbuka lalu satu tangan Silva terjulur mencari keberadaan handuk.


"Mana handuknya, Ar?" Terdengar frustasi dari nada bicara Silva. Jadi, dengan terkekeh geli, Arkan menyerahkan handuk itu ke tangan Silva.


"Cepetan ya, pake bajunya! Aku tunggu di balkon!"


"Mau ngapain?"


"Aku pengen begadang sambil main gitar sama kamu. Mau, kan?"


"Mau dong! Tunggu bentar, ya!"


Setelah menjawab iya, Arkan menuju balkon dengan gitar kesayangannya. Duduk di sofa dan mulai memetik senar, mengalunkan irama lagu favoritnya dulu hingga kini. Lagu yang selalu ia nyanyikan saat sendiri dan mengingat Silva.


"Ganti dong, lagunya! Masa lagu itu terus? Kan sekarang kita udah bahagia? Aku udah jadi milik kamu." Silva datang membawa secangkir kopi dan secangkir teh hangat, disimpan di meja samping sofa dan duduk di samping Arkan yang sedang memainkan gitar.


"Tapi ini tuh lagu yang selalu aku nyanyiin dari dulu kalo inget sama kamu," jawab Arkan menunduk memerhatikan jemarinya yang bergerak memetik gitar.


Silva merasa bersalah karena berpikir jika Arkan begitu karena dirinya. Ia menunduk sambil memainkan jemarinya. "Maafin aku ya, Ar. Aku udah bikin kamu sedih dan ngerasain sakit hati sendiri. Kamu sih, kenapa gak bilang dari dulu kalo kamu suka sama aku! Malah sok-sok'an mendam perasaan!"


Arkan terkekeh melihatnya. Ia menjulurkan tangannya mengusap pipi Silva lembut. "Aku kan gak tega sama Faris. Kamu gak tau kan, seberapa sering dia ngomongin kamu waktu kita ngumpul? Kamu juga gak tau kan, seberapa senengnya dia waktu cerita kalo kamu terima dia. Aku mana tega nikung dia. Apalagi, Faris dan Rafan tuh sahabat aku dari kecil. Bahkan dari bayi, karena orang tua kita juga sahabatan."


"Tapi karena perasaan gak tegaan kamu, kamu jadi nanggung sakitnya sendirian. Dan itu pasti gak gampang, kan?" lirih Silva menatap Arkan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ssst... Yang penting, sekarang kamu udah jadi milik aku, kan. Lagian, Faris juga udah bahagia sama cinta barunya. Ya, walaupun masih belum bersemi, sih. Tapi aku yakin deh, sebenernya Maira juga cinta sama Faris. Cuma ya... dia kayaknya gak mau cuma pacaran sama Faris. Karena tau sendiri kan, Maira gimana orangnya?"


Silva mengangguk setuju. Ia pun terkekeh mengingat bagaimana lucunya tingkah Faris dan Maira saat Faris ingin menarik perhatian Maira, tapi gadis itu justru cuek dan beberapa kali merajuk karena frustasi dengan tingkah Faris yang membuatnya malu.


"Mereka kalo beneran jadi, kayaknya bakal jadi pasangan paling lucu, deh. Kebayang gak sih, gimana lucunya tingkah mereka? Faris yang manja dan Maira yang cuek, tsundere gitu," timpal Silva yang sudah mengenal Maira sejak beberapa bulan lalu saat dikenalkan oleh Faris karena gadis itu sempat mengira Faris kembali bersamanya saat berpelukan di taman waktu itu.


"Yah, kita doain aja semoga mereka beneran jadi terus nikah abis lulus kuliah, ya."


"Aamiin..."


"Oh, iya. Ngomong-ngomong soal kuliah. Kamu mau kuliah juga gak? Nanti bisa bareng sama aku, mumpung pendaftarannya masih dibuka."


Silva berdengung tanda sedang berpikir. "Kalo aku gak kuliah, kamu malu gak?"


"Kenapa harus malu? Kamu gak kuliah pasti supaya lebih fokus sama keluarga, kan? Aku justru bangga kalo kamu mau fokus ngurusin aku sama baby kita nanti," jawab Arkan mengelus perut Silva yang masih rata.


Plak! Silva memukul tangan Arkan di perutnya.


"Kok dipukul, sih?"


"Ya kamu ngaco! Orang aku belum hamil, mana ada baby-nya, sih?"


"Ya udah makanya, ayo bikin, yuk!" ajak Arkan dengan tatapan jahil dan senyuman lebar.