
Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Kalian tahu apa yang sedang dilakukan Arkan dan Silva?
Mereka tidur.
Berdua.
Di satu ranjang.
Di kamar Arkan.
Sambil berpelukan.
Ouh! Posisinya sangat lucu!! Arkan memeluk Silva dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Silva. Entah kenapa, itu menjadi tempat favorit baginya. Rasanya ia akan seketika tenang saat menghirup aroma harum yang menguar dari tubuh Silva. Entah sabun apa yang dipakai Silva. Padahal mereka menggunakan sabun yang sama. Tapi kenapa Arkan tidak merasakan tubuhnya harum seperti kulit Silva. Bukannya tidak harum, hanya Arkan saja yang tidak sadar. Padahal, Silva juga suka sekali wangi tubuh Arkan. Saat dipeluk Arkan, Silva selalu tenang karena aroma tubuh lelaki itu. Makanya, akhir-akhir ini Silva sering rindu kepada Arkan, karena ia ingin kembali menghirup aroma harum sekaligus merasakan kehangatan dari tubuh Arkan.
Umm... Terbaca seperti pasangan bucin, ya?
Maka dari itu, beberapa hari ini, mereka selalu tidur sambil berpelukan. Nyaman katanya, membuat tidur mereka semakin nyenyak. Arkan bahkan beberapa kali bangun kesiangan karena tidur yang terlalu nyenyak sampai malas bangun.
Tapi anehnya, cowok itu tidak merasa ketakutan jika kesiangan berangkat sekolah. Ia seperti sudah terbiasa telat masuk. Saat ditanya oleh Silva, ia selalu menjawab dengan jawaban yang sama dan membuat Silva jengah, tak ingin bertanya lagi.
Begini jawabannya : "Kamu tenang aja, aku udah biasa telat. Lagian aku pinter, banyak prestasi yang udah aku dapetin. Jadi sekolah gak mungkin ngeluarin anak jenius kayak aku."
Jika sudah seperti itu, Silva hanya akan memutar bola matanya malas. Ia serasa masih berpacaran dengan Faris kalau begini. Karena Arkan terlalu percaya diri, tapi masih lebih tinggi Faris sih, tingkat kepercayaan dirinya.
Meski begitu, Silva tidak ingin kembali bersama Faris. Ia sudah jatuh pada pesona lelaki di dekapannya ini. Lelaki yang merenggut kehormatannya, masa depannya, cita-citanya, dan kasih sayang keluarganya. Tapi entah kenapa, sekarang ia justru menyayangi lelaki ini. Selalu ingin bersama dan tidak ingin berjauhan dalam waktu yang lama. Bahkan sehari saja tidak bertemu, ia sudah rindu. Ya, sehari itu lama menurut Silva.
Omong-omong, saat ini Silva terbangun dari tidurnya. Ia adalah tipe orang yang mudah terbangun oleh hal-hal kecil. Gerakan atau suara sedikit saja, bisa membangunkannya. Tadi, Arkan sedikit bergerak mengeratkan pelukannta pada pinggang Silva. Jadi, saat ini ia terbangun dan masih belum ingin tidur kembali.
Silva menatapi setiap inci wajah Arkan. Begitu rupawan dan damai dengan deru napas yang teratur. Senyumnya tak mau hilang saat menatap wajah tampan Arkan dari dekat. Tangannya terangkat menggerakkan jemarinya mengusap pipi Arkan yang tak kalah mulus darinya. Lalu beralih ke hidung, kelopak mata, alis, dan terakhir di bibir.
Kedua pipi Silva terasa memanas saat mengingat apa yang telah dilakukan bibir nakal ini. Bibir agak tipis berwarna pink yang agak kering ini sering membuat kinerja jantungnya lebih cepat dua kali lipat. Membuat darahnya berdesir deras dan wajahnya memerah seperti tomat.
Oke, berhenti mengingat apa yang dilakukan Arkan dengan bibirnya! Hanya mengingat saja sudah membuat dadanya berdisko.
Ting!
Ting!
Ting!
Bunyi notifikasi yang berturut-turut dari ponsel Arkan, mengundang rasa penasaran Silva. Dengan hati-hati, ia melepaskan pelukan Arkan dan bangkit duduk. Tangannya berusaha menggapai ponsel Arkan yang disimpan di samping tubuh lelaki itu. Jadi, Silva harus ekstra hati-hati agar tidak membangunkan Arkan.
Saat sudah berhasil meraih ponsel Arkan, ia melihat beberapa pesan teks dari sebuah nomor tak dikenal.
Saat membukanya, Silva merasa sangat menyesal karena telah melampaui batas privasi Arkan.
______________________________________
From : 08**********
Kak Arkan, makasih ya udah nolongin aku tadi. Kalau gak ada kakak mungkin aku udah kehilangan kehormatan ku.
Oh iya, ini aku Bunga. Save nomor ku ya, Kak😊
Good night❤️
______________________________________
"Bunga?" gumam Silva setelah membaca isi pesan itu.
"Apa Bunga yang sama yang jadi pacar baru Faris?" Silva terdiam dengan pemikirannya selama beberapa saat sebelum mengedipkan bahu.
"Ah, mungkin Bunga yang lain. Lagian, Arkan kan orang baik, jadi pasti dia udah nolongin cewek ini." Silva mencoba berpikiran positif lalu kembali menyimpan ponsel Arkan di tempatnya semula.
Namun, setelah kembali membaringkan tubuhnya di samping Arkan, ia teringat sesuatu.
"Eh, tapi kok cuma nolongin bisa dapat chat, sih?"
***
Keesokan paginya, Arkan terbangun tanpa Silva di sampingnya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali berusaha memperjelas penglihatannya. Memang benar, Silva tidak ada di sampingnya. Mungkin Silva sudah bangun dan sekarang sedang mandi? Jadi, Arkan memutuskan untuk keluar kamar menuju dapur.
Ternyata dugaannya salah. Silva sedang memasak sarapan. Wah, rajin sekali calon istrinya, batin Arkan. Ia tersenyum lebar hingga kedua matanya ikut melengkung indah. Senyuman yang menjadi favorit Silva.
Pemandangan pagi seperti ini adalah yang paling disukai Arkan. Silva yang memasak dan dirinya yang duduk menunggu di meja makan, terlihat seperti sepasang suami istri yang akan memulai aktifitas di pagi hari. Sunggu membuat hatinya menghangat.
Sebenarnya Silva belum menyadari kehadiran Arkan. Terlintas ide jahil di kepala Arkan untuk mengejutkan Silva. Dengan sangat pelan dan berusaha tidak menghasilkan suara, Arkan berjalan menghampiri Silva dan memeluknya dari belakang. Dagunya ia tumpukan di bahu Silva.
Jelas pergerakan dan suara dalam Arkan membuat Silva terkejut.
"Arkan, kaget ih!!" pekik Silva yang sempat terpelonjak.
Itu membuat Arkan terkekeh geli. "Kamu pasti ngelamun, makanya kaget. Lagi mikirin apa sih, hm?"
Silva tidak menjawab, ia masih sibuk dengan kegiatannya memasak nasi goreng.
Arkan yang melihat raut sendu Silva, mematikan kompor dan membalik tubuh Silva menjadi berhadapan dengannya.
Dipegangnya kedua bahu Silva lalu satu tangannya mengangkat dagu Silva agar ia dapat menatap matanya. Terlihat jelas ada rasa sedih dan gelisah yang terperangkap di kedua netra itu.
"Kenapa?" tanya Arkan sambil ibu jarinya mengelus pipi Silva. Sementara satu tangannya yang lain menarik pinggang Silva agar lebih dekat dengannya.
"Kenapa mata kamu banyak virusnya? Siapa yang bikin kamu kena virus sedih, hm?" sambung Arkan mencubit pelan pipi Silva.
"Kamu," jawab Silva dengan cepat.
Hal itu membuat kening Arkan mengerut bingung. " Kok aku?"
Tidak buru-buru menjawab, Silva malah menundukkan tatapannya. Ia menarik napas dan memejamkan matanya. Sebulir air menetes dari sebelah sudut matanya.
Arkan kelabakan. Ia panik karena tidak tahu hal apa yang membuat Silva menangis.
"Va, kamu kok nangis? Hei, kenapa? A, aku salah apa? Coba bilang, aku udah ngelakuin kesalahan apa sama kamu? Plis maafin aku, jangan nangis," ujar Arkan dengan perasaan cemas. Ia menghapus air mata yang terus menetes dari kedua manik Silva yang memerah dan berair.
"Arkan..." panggil Silva dengan lirih.
"Ya? Kenapa, Sayang?"
"Tolong jawab jujur ya, kamu nyesel gak udah ngelakuin itu ke aku?" tanya Silva menatap Arkan penuh harap.
Arkan sendiri bingung harus menjawab apa. Ia pun tidak tahu harapan di mata Silva itu mengharapkan ia menjawab 'iya' atau 'tidak'. Bagaimana ini???
"Silva sayang, dengerin aku, ya. Aku gak tau kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu dan aku juga gak tau harus jawab apa. Jujur, terlepas dari aku nyesel atau enggak, aku bahagia sekarang. Dengan adanya kamu di sisi aku, aku bahagia banget. Karena selama ini kamu yang aku inginkan."
Silva merasa hatinya menghangat mendengar jawaban Arkan. Namun, masih belum bisa membuat kegelisahan di hatinya menghilang.
"Tapi, aku nyesel karena udah bikin masa depan kamu rusak, udah bikin kamu gak bisa mencapai cita-cita kamu lagi, bahkan aku udah bikin kamu diusir sama ayah kamu. Aku bener-bener nyesel."
"Aku mungkin lelaki paling brengs*k yang pernah kamu temuin, tapi aku gak bisa bohong. Aku seneng sekarang, karena kamu bisa jadi milik aku. Terserah kamu mau bilang aku brengs*k atau apa, tapi yang jelas, aku bakal selalu memberikan yang terbaik buat kamu. Aku bakal buktiin kalau aku juga bisa bahagiain kamu."
"Jadi plis, tolong, aku mohon banget sama kamu. Jangan pernah tanyain itu lagi. Aku gak bakal bisa jawab pertanyaan itu. Karena aku sendiri juga gak tau, aku nyesel atau enggak. Kamu cukup tau kalau aku mencintai kamu dengan tulus dari dalam hati aku yang terdalam. Kalau kamu gak percaya, aku bakal buktiin mulai dari hari ini. Kamu harus tau, sebesar apa cinta aku buat kamu."
Tangisan Silva semakin pecah. Ia menggeleng dan menubruk badan Arkan, memeluknya erat dan masih menggelengkan kepalanya di dada bidang Arkan.
"Enggak, gak perlu, Ar. Kamu gak perlu buktiin perasaan kamu ke aku. Aku percaya, kok, aku yakin kamu cinta banget sama aku dan cinta kamu itu tulus. Plis, jangan ngelakuin yang aneh-aneh, ya. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku gak mau kehilangan kamu."
Senyuman terukir di bibir Arkan. "Emang kamu pikir aku mau ngelakuin apa? Aku gak mungkin bahayain diri aku sendiri. Karena aku tau kamu dan adek butuhin aku. Kalian kan tanggung jawab aku, jadi, aku akan sebaik mungkin menjaga kesehatan dan juga kalian. Aku cuma mau buktiin dengan giat bekerja dan ngejaga kamu dengan baik. Pokonya kamu harus bahagia. Makanya, kalau ada apa-apa, kamu harus cerita sama aku. Oke?"
Kini, Silva lebih tenang. Ia mengangguk dalam dekapan Arkan. "Iya, aku gak akan nutup-nutupin apapun lagi dari kamu."
"Jadi, mau cerita kenapa kamu sedih?"
Silva melepas pelukan mereka dan menatap Arkan dengan wajah galaknya.
"Kamu mau telat dan dihukum lagi?! Ini udah jam tujuh lewat banyak, tau! Udah, nanti aja ceritanya! Sekarang kamu siap-siap, biar aku bikinin bekal buat kamu makan di sekolah nanti."
Bukannya takut, Arkan malah terkekeh geli melihat Silva dengan wajah galak--katanya--dan kedua tangan bertolak pinggang. Dengan gemas, Arkan kembali memeluk Silva dengan erat sambil digoyang-goyangkan ke kanan dan kiri.
"Uh... Gemes gemes gemesssss. Gemesin banget sih, kamuuuuu."
Tak peduli Silva yang berteriak meminta dilepaskan karena merasa sesak.
Arkan melepaskan Silva, menangkup kedua sisi wajah Silva dan mencuri kecupan di bibir Silva lalu segera berlari ke kamar mandi.
Sementara Silva merasa jantungnya akan copot dan sekarang malah berdebar keras. Ia menutupi kedua pipinya yang terasa panas.
Menghela napasnya, Silva mengulum senyum. "Maaf ya, Ar. Aku udah buruk sangka sama kamu. Aku gak seharusnya berpikir kamu ngelanggar janji kamu buat tanggung jawab sama aku. Aku makin sayang sama kamu, Ar."
...Bersambung......
Uh... Cheesy lagi😭 maafkan aku, tapi aku seneng bikin adegan sweet merekaaaaa gimana dong???