
Arkan sampai di apartemennya saat malam tiba. Sepulang dari rumah orang tua Silva, ia mampir dulu ke rumah orang tuanya. Arkan menceritakan semuanya yang dikatakan ayah Silva padanya. Yang membuatnya bertambah lemas adalah kedua orang tuanya setuju dengan keputusan Hanum. Arkan akan mulai berlajar mengelola perusahaan milik Setya dan juga cafe yang nantinya akan dipasrahkan kepada Nesya setelah dewasa dan mampu mengelola cafe besar Setya beserta cabang-cabangnya. Apalagi soal pingit-pingitan, mereka setuju sekali. Katanya, agar Arkan dan Silva bisa fokus dengan diri masing-masing untuk mempersiapkan pernikahan. Entahlah, Arkan hanya tidak siap jika harus berpisah dengan Silva selama seminggu.
Baru memikirkan saja tidak bertemu Silva selama seminggu sudah membuat Arkan lemas seakan kehilangan gairah hidup. Apalagi benar-benar menjalaninya. Arkan berjalan dengan bahu lemas di lorong kamar apartemen menuju kamarnya.
Sampai di depan kamar apartemennya, Arkan masuk dan mencari keberadaan Silva. Namun, sudah menyusuri semua ruangan, ia tidak menemukan Silva.
"Va! Silva sayang! Kamu di mana?" seru Arkan hingga terdengar oleh Silva yang sedang membaca novel di balkon.
"Iya!" jawab Silva menghampiri Arkan.
Arkan yang mendengar suara Silva di dalam kamar segera berlari masuk ke kamar mereka.
Saat melihat Silva, Arkan segera memeluknya erat. "Aku gak siap pisah sama kamu."
Sementara Silva kebingungan dengan perkataan Arkan. "Pisah? Maksud kamu?" Perasaannya tidak enak, takut ada sesuatu yang terjadi dengan hubungan mereka.
Arkan melepas pelukannya lalu menatap Silva dengan bibir mengerucut. "Tadi aku kan datang ke rumah ayah kamu buat minta restu--"
"Kamu kok gak bilang sama aku?" protes Silva.
"Dengerin dulu makanya."
Menghela napas, Silva mengangguk. "Ya udah, kamu jelasin dulu."
"Aku di sana dimarahin sama ayah kamu. Gini katanya, kenapa kamu baru datang sekarang? Kemana aja selama ini?" Arkan berkacak pinggang menirukan cara bicara Hanum saat memarahinya tadi.
Melihat tingkah Arkan, Silva tak bisa menahan tawanya.
"Terus ayah tanya gini, jadi kamu kapan siap nikahin Silva? Terus aku jawab, sebulan lagi, Om. Eh, aku dibentak lagi. Itu kelamaan! Istri kamu perutnya pasti udah membesar! Kamu mau mempermalukan saya di depan kerabat saya dan kerabat papa kamu! Gitu. Ya, aku gak bisa jawab. Akhirnya dia putusin sendiri waktunya."
"Kapan?"
"Minggu depan," jawab Arkan yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Silva.
"Kamu kok gak kaget, sih?" tanya Arkan dengan kening mengerut samar.
Silva terkekeh dan menjawab, "Aku udah ngeduga sebelumnya, Ar. Aku tau ayah tuh kaya gimana. Ayah sering buat keputusan yang gak pernah disangka-sangka, dari dulu aku masih kecil. Makanya, sebelum denger cerita kamu, aku khawatir banget. Takut ayah bikin keputusan yang gak terduga. Tapi untungnya, gak terduganya keputusan ayah itu sesuatu yang positif. Gak apa-apa kan, seminggu lagi kita nikah, bukannya lebih cepat lebih baik?"
"Tapi aku belum punya apa-apa buat dikasih ke kamu," rengek Arkan menyanggah pernyataan Silva.
Senyum Silva berikan. Ia sama sekali tidak mengharapkan apapun dari Arkan. Tapi, ia tahu bagaimana perasaan Arkan yang pasti sama seperti laki-laki pada umumnya yang selalu ingin memberikan yang terbaik dan menjadi terdepan untuk orang yang istimewa baginya apalagi wanitanya. Jadi, Silva pun memaklumi dan mencoba memberikan solusi.
"Kamu kan masih bisa berusaha selama seminggu."
"Nah, itu yang harus kamu tau, ayah kamu ngelarang aku kerja lagi di cafe bang Regan. Dia bilang, aku harus mulai belajar mengelola perusahaan papa dan ayah gak akan ngerestuin kita kalo aku masih kerja di cafe. Terus lagi, kita mau dipingit! Gimana bisa aku semangat berusahanya kalo jauh dari kamu??" jelas Arkan merengek di akhir lalu memeluk Silva dengan manja.
"Ututututu... Bayi besarnya aku lagi ngerjuk, ya? Sini coba aku liat mukanya dulu." Silva melepaskan sedikit pelukan mereka dan menatap wajah merajuk Arkan yang bibirnya mengerucut.
Lantas Silva tersenyum gemas. Terkekeh dan mengecup sekilas bibir mengerucut itu hingga si empunya mengerjapkan kedua matanya lambat. Mencerna apa yang baru saja ia terima dari gadisnya. Tindakan yang membuatnya menginginkan lagi. Namun, saat Arkan akan memajukan wajahnya, Silva menahannya. Membuat Arkan kembali menunjukkan wajah merajuknya.
"Kamu gak usah sedih, kita bisa ngabisin waktu malam ini sebelum besok kita harus dipingit. Iya kan?"
Arkan mengangguk setuju. "Ya, jadi kamu harus nurutin permintaan aku, ya."
Silva menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.
Lalu Arkan kembali mendekatkan wajahnya dengan Silva. Perlahan namun pasti, keduanya bersatu. Mengantarkan rasa cinta dan rindu, padahal mereka belum berpisah. Namun, membayangkan saja seminggu tanpa kehadiran masing-masing sudah membuat mereka rindu berat. Hahh... Dasar anak muda!
Selama beberapa menit, mereka menikmati debaran di dada karena reaksi terhadap afeksi yang dilakukan keduanya, Silva menepuk-nepuk dada Arkan, memberitahukan kepadanya bahwa ia sudah kehabisan napas. Arkan yang mengerti pun melepaskannya lalu menyatukan kening mereka.
Kedua mata itu saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Membiarkan napas keduanya saling beradu menerpa permukaan wajah. Arkan mengangkat satu tangannya mengelus sudut bibir Silva yang nampak masih basah akibat ulahnya, sementara satu tangan lainnya menggenggam tangan Silva di samping tubuhnya. Menuntunnya agar berada di atas dadanya. Seketika Silva merasakan debaran yang begitu menggila.
"Iya, kenceng banget."
"Itulah hebatnya kamu. Selalu bisa bikin aku berdebar kapanpun. Jangankan dalam jarak sedekat ini, waktu aku pegang tangan kamu aja, jantung aku udah deg-degan banget. Pake pelet apa sih kamu, hm?"
"Enak aja!" protes Silva memukul dada Arkan. "Aku gak pake pelet apa-apa, ya! Kamunya aja yang bucin!"
Arkan tidak bisa menahan tawanya lagi. "Kamu iya, kamu punya pelet, yaitu pelet alami dari hati kamu. Maksud aku, kebaikan dan ketulusan hati kamu yang bikin aku dan banyak lagi laki-laki di luar sana jadi kepelet."
Menanggapi pujian Arkan, Silva hanya memutar bola matanya malas. "Sekarang apa? Kamu mau aku ngapain?"
Bukannya menjawab, Arkan malah kembali memeluk Silva dan menenggelamkan wajahnya di bahu Silva. "Gak tau, mau cuddle aja sampe pagi."
"Yah, gak seru ah. Masa cuma cuddle aja?"
"Ya apa lagi dong? Kamu mau yang seru?"
"Iyalah, kan kita bakal seminggu gak ketemu."
"Tapi, emang gak apa-apa kalo nanti sakit?" tanya Arkan lagi yang terdengar ambigu.
"Maksudnya apa sih? Emang mau ngapain, kok sakit?" Silva akan melepas dekapannya agar bisa melihat wajah Arkan, namun ditahan oleh lelaki itu. Jadi, mereka masih dalam posisi berpelukan.
Arkan terkekeh gemas mendengar pertanyaan polos dari Silva. "Enggak ah, bukan apa-apa. Nanti aja kalo udah resmi nikah. Lagian di dalam perut kamu kan udah ada si adek."
Tubuh Silva menegang saat mengerti perkataan Arkan. Wajahnya terasa panas dan memerah. Tentu saja ia malu.
"Va? Kamu gak tidur kan?" tanya Arkan hendak mengendurkan dekapannya untuk memeriksa Silva. Namun, ditahan oleh Silva.
"Enggak kok, aku gak tidur," jawab Silva menggeleng cepat dalam pelukan Arkan.
"Oh, kirain tidur."
Selanjutnya hening yang menyelimuti bersama debaran jantung Silva yang belum normal akibat perkataan Arkan.
"Va, aku tau kita harus ngapain sebelum besok kita dipingit," ujar Arkan menciptakan sedikit jarak dengan Silva.
"Ngapain?"
"Ayo!" Arkan menarik tangan Silva menuju balkon kamar.
"Nah, duduk sini!" Setelah masuk kembali untuk mengambil gitar kesayangannya, Arkan duduk di sofa dan menepuk tempat di sampingnya mengisyaratkan Silva agar duduk di sana.
Silva menurut, ia duduk di samping Arkan yang mulai memetik senar gitar di dekapannya.
🎶 "Aku mengerti, perjalanan hidup yang kini kau lalui. Ku berharap, meski berat kau tak merasa sendiri. Kau t'lah berjuang, menaklukkan hari-harimu yang tak indah. Biar ku menemanimu membasuh lelahmu..."
Suasana terasa syahdu dan romantis. Malam yang tenang dengan langit gelap yang dihiasi taburan bintang, menjadi latar belakang mereka yang sedang mengukir momen manis penuh keromantisan.
🎶 Izinkan ku lukis senja... Mengukir namamu di sana. Mendengarkanmu bercerita, menangis tertawa... Biar kulukis malam... Bawakanmu bintang-bintang... Tuk temanimu yang terluka, hingga kau bahagia..."
Diiringi suara merdu Arkan yang berpadu dengan petikan gitar yang dimainkan lelaki itu, terlalu indah bagi Silva. Momen ini jelas akan menjadi kegiatan favorit mereka mulai sekarang. Ternyata, suara Arkan yang sedang bernyanyi untuknya terdengar candu di telinga Silva. Senyuman terlukis dan tak mau pergi dari bibirnya. Menyaksikan pemandangan wajah rupawan milik Arkan dan menikmati permainan gitar Arkan serta suara berat namun merdunya membuat Silva ingin waktu berhenti saat itu juga. Ia seakan tidak ingin mengakhiri momen indah ini.
Malam ini mereka habiskan dengan bernyanyi bersama di balkon kamar hingga larut malam sebelum tidur setelah lewat tengah malam. Tidak menyanyi terus, mereka juga cuddle karena kedinginan namun enggan masuk karena masih ingin menyaksikan pemandangan langit malam yang dipenuhi taburan bintang.
Tentu saja dengan harapan-harapan yang selalu dirapalkan dalam hati keduanya. Harapan untuk selalu bersama hingga ajal memisahkan meski badai sebesar apapun yang akan menghadang di depan nanti. Karena mereka sepertinya akan bersahabat dengan berbagai konflik. Karena hei, bahkan mereka bersatu itu karena permasalahan. Iya, kan?
... Bersambung......
Iya, dengan kata lain mereka bersatu karena takdir. Takdir dari othor😁