Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 16. Dahlah



Selesai bersiap, Arkan memasuki mobilnya bersama Nesya dan Reva yang sejak masih di depan apartemen Arkan bernyanyi ceria. Arkan yang jengah mendengar suara berisik mereka pun berdecak keras.


"Eh, bocil! Kalian tuh masih kecil, emang ngerti lagu dewasa kek gitu?" tanya Arkan melirik mereka dari pantulan kaca spion dalam.


"Yee, Kak Arkan hati-hati ya kalo ngomong. Bocil gini, tapi lebih berpengalaman daripada situ!" sahut Reva bersedekap dada menatap kepala Arkan.


"Berpengalaman apa, Re?" tanya Nesya menatap Reva bingung.


"Soal cinta-cintaan lah!" jawab Reva dengan sombongnya.


"Wah, udah berani pacaran nih anak. Gue aduin ke Rafan ah." Arkan meraih ponselnya di saku bersiap menelpon Rafan.


"Eh, jangan dong, Kak! Bercanda doang elah! Serius mulu idup lu!" seru Reva menahan Arkan menelpon Rafan.


"Heh! Kalo songong gue aduin beneran nih!" ancam Arkan kembali mengangkat ponselnya.


"Iya, iya, maap, kagak bakal songong lagi, deh! Udah ya, jangan telpon abang gue lagi, oke?"


Arkan menggeleng sambil menghela napasnya. "Eca, kamu kok bisa betah sih temenan sama dia?"


Mengerucutkan bibir, Nesya menatap Arkan tak suka lalu memeluk Reva. "Ya betahlah! Reva kan sahabat aku yang paling seru dari kecil. Tanpa Reva hidupku cuma hitam putih. Tapi kalo bersama Reva, hidupku jadi lebih berwarna!" seru Nesya lalu keduanya bersorak gembira.


Arkan yang melihatnya hanya memutar bola mata jengah. "Ya udah terserah kalian aja! Sekarang kita mau kemana nih?"


"Farm House!" seru keduanya menjawab pertanyaan Arkan.


Tanpa menyahuti lagi, Arkan melajukan mobilnya meninggalkan lobi apartemen. Menuju jalan yang berlawanan dari arah yang seharusnya. Membuat kedua gadis di sana kembali memekik.


"Salah jalan, Kak Arkan!"


"Ssst! Udah deh, kalian diem aja dulu! Gue mau ngejemput seseorang dulu," jawab Arkan masih serius menatap jalanan pagi yang sudah ramai.


"Jemp--"


"Ssst! Dibilangin diem juga! Udah, diem aja, nanti juga tau, kok," potong Arkan membuat Reva mendengus lalu bersandar dengan wajah tertekuk.


Nesya yang melihatnya hanya mengelus pundak sahabatnya menenangkan.


***


"Ngapain ke rumah gue?!" Reva bertanya dengan nada tinggi membuat Arkan memejamkan mata meringis.


"Gue mau ngajak Rafan jadi babu lo berdua," jawab Arkan lalu keluar dari mobil sambil menggerutu. "Enak aja dia santai-santai di rumah, gue ngasuh adik bar-barnya."


Brak! Pintu kamar Rafan dibuka dengan keras oleh Arkan hingga sang empu yang masih bergelung dalam selimut membuka kedua mata karena terkejut.


"Siapa sih?" tanya pemilik kamar dengan suara parau khas bangun tidur.


"Heh, bangun lo, Kebo!" seru Arkan berkacak pinggang di sisi ranjang Rafan.


Sementara sang empu masih menggeliat kembali menutup matanya. "Apa sih, Ar? Masih pagi juga, ganggu aja lu mah!" Lalu memiringkan tubuhnya berbaring membelakangi Arkan.


"Ck, ayo bangun! Udah siang ini, males banget lu!" Arkan memukul bokong Rafan keras. Namun, tetap tidak membuat Rafan bangun.


Karena sudah tidak sabar, Arkan melilit seluruh tubuh Rafan hingga ke kepala dengan selimut lalu ujung selimut ditarik ke bawah ranjang. Hingga...


Bruk! Duk! "AW!!"


Seluruh tubuh Rafan terjatuh ke lantai. Kepalanya terantuk lantai cukup keras. "Sakit, anjir! Sialan lu, Arkaaaan!!!"


Teriakan Rafan menggema hingga ke seluruh bagian rumah. Sampai Nesya dan Reva yang sedang membuat video tiktok di ruang tamu mendengarnya. Keduanya saling pandang, tersenyum lebar lalu bertos ria. "Yes!"


***


Di sinilah mereka sekarang. Di depan loket sedang mengantri untuk membeli tiket supaya dapat masuk ke tempat wista Farmhouse. Dua bocah diantara mereka nampak senang membicarakan apa saja yang ada di dalam melalui informasi yang mereka dapatkan dari internet. Sementara dua remaja laki-laki di depan dan belakang mereka terlihat malas dengan wajah datar. Arkan berdiri di depan nampak biasa dengan wajah dinginnya.


Namun, Rafan nampak tak biasa kali ini. Ia yang biasanya selalu ceria, kini justru menampakkan wajah tanpa ekspresi. Berdiri di belakang dua bocah yang sejak tadi heboh dengan dunia mereka. Menatap punggung mereka seakan tatapannya mampu melubangi kepala keduanya. Ia masih belum bisa merelakan Minggu paginya yang seharusnya dihabiskan untuk bermalas-malasan, tapi sekarang justru ia harus berada di sini, mengasuh dua gadis menyebalkan ini.


"Kak Arkan, sini tiketnya! Biar aku yang nuker!" seru Nesya berlari menghampiri Arkan.


Arkan langsung memberikan tiketnya pada sang adik.


"Bang, sini biar gue yang nuker tiketnya!" seru Reva hendak mengambil tiket yang digenggam Rafan, namun Rafan segera menyembunyikan tangannya ke balik punggung.


"Enak aja, ntar malah buat lu semua lagi, susunya. Udah, gak usah! Biar gue sendiri aja yang nuker. Hus, hus!" Rafan mengibaskan kedua tangannya.


"Ih enggak kok, Bang! Kebiasaan deh, suuzon mulu sama adek sendiri juga." Reva mengerucutkan bibir mendelik pada Rafan.


"Udah, biar gue sendiri aja. Udah sono lo tuker tiket lo cepetan! Kita mau langsung ke Backyard Kitchen, gue gak sempet sarapan tadi," titah Rafan mendorong punggung Reva.


"Aah, pelit lu mah ah! Gue pengen sosis bakar elah!" rengek Reva menahan tubuhnya agar tidak terdorong oleh Rafan.


"Tuhkan, bener dugaan gue! Gak ada, gak ada! Udah, sono pergi! Kalo gak pergi juga, gak gue bayarin ntar kalo makan!" pekik Rafan yang membuat Reva menyerah. Ia berjalan sambil menggerutu dan kaki menghentak kesal.


"Hadeuh... Anak siapa sih dia?" desah Rafan menggeleng frustasi.


"Adek lo itu," sahut Arkan tersenyum mengejek.


***


Puas berfoto di replika pedesaan Korea, kini Silva ditemani Faris sedang menjelajah replika kota Kyoto Jepang. Silva sudah mengenakan pakaian tradisional Jepang.


"Ayo, Bunny juga foto bareng aku sini!" Silva menarik tangan Faris untuk berdiri di sampingnya.


"Terus siapa yang fotoin? Harusnya tadi kita nyewa fotografer, Honey."


Mengerucutkan bibir, Silva berpikir. "Iya ya. Umm... Gak papa, Bunny. Kita selfie aja, ayo!"


Faris setuju lalu mereka mulai berselfie di beberapa spot yang menarik bagi mereka.


"Bunny, kita ke India, yuk! Aku mau cobain es krim India, kata tanteku enak banget es krimnya," ajak Silva saat mereka sedang melihat-lihat hasil jepretan selfie mereka.


Faris mengangguk. "Oke, ayo! Mau sekarang?"


"Iya, ayo!"


Silva kembali berganti pakaian dan mereka menuju replika negeri seribu kuil, India.


Baru sampai di sungai buatan, Faris menarik Silva menuju jembatan. Ia memandangi air sungai yang nampak keruh.


"Honey, liat deh! Air sungainya keruh. Ini pasti karena sekarang lagi musim hujan. Air di hulu terlalu banyak menerima curah hujan. Air yang mengalir ke hilir jadi keruh karena mengangkut banyak tanah dan lumpur," ujar Faris mengungkapkan teori setengah ngasalnya.


"Terus?" tanya Silva mengerutkan keningnya samar. Rasanya ia ingin tertawa tapi tidak tega melihat wajah serius Faris.


Faris meraih dua tangan Silva untuk ia genggam. Ditatapnya lekat kedua netra kecoklatan milik Silva.


"Ini berlawanan sama hati aku, Honey. Kalo hati aku, biarpun selalu dapet cinta yang banyak dari kamu, tapi sikapku gak akan keruh kayak air sungai ini. Justru sebaliknya. Cinta, rasa sayang dan sikapku akan sejernih air terjun di hulu gunung Tangkuban Perahu," lanjut Faris mengelus punggung tangan Silva dengan ibu jarinya.


Hening sejenak. Silva bukannya tersentuh, ia malah sedang menahan tawa yang akan pecah.


"Pfft- hahahaha." Pecahlah tawa Silva melihat raut hangat Faris berubah menjadi sangat datar. Seakan menyerah dengan gombalannya yang tidak berefek sama sekali pada Silva.


"Dahlah." Rafan berdecak lalu melepaskan tangan Silva dan berlalu meninggalkan gadis itu yang masih tertawa sambil memegangi perutnya.


"Bunny, tunggu!"


...Bersambung......


Pakabar readers tercintahπŸ‘‹ gimana part kali ini? mungkin satu part lagi yg nyeritain keseruan mereka jalan2. jadi ini aku ngangkat tempat wisata The great Asia afric dan farm house yang tempatnya berseberangan. lokasinya ada di lembang Bandung. kalo kalian pengen tau lebih jelasnya, bisa cari di internet atau langsung aja ke sana😁 tapi kalo ada yg udah pernah ke sana dan ada yg salah dari tulisanku, boleh banget kasih tau aku ya, dengan cara komen di bawah. oke, makasih untuk waktunya membaca cerita kentangku ini.


luv yu allβ€οΈπŸ§‘πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œπŸ–€β™₯οΈπŸ’˜πŸ’πŸ’—πŸ’“πŸ’•πŸ’ŒπŸ’Ÿβ£οΈπŸ’–πŸ’ž


salam didiloveπŸ’–