Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 15. Malu, dong!



Setengah jam berlalu, yang dilakukan Silva hanya berguling-guling di kasur. Ia masih kesal dengan orang tuanya, bahkan mereka hendak pamit pun tak ia bukakan pintu. Biar saja mereka tahu bahwa Silva ini anak mereka. Ia juga ingin diprioritaskan, seperti pekerjaan yang selalu jadi prioritas papanya.


Tok tok tok!


Sedang berguling-guling, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Silva menghentikan kegiatannya lalu menatap pintu. "Siapa?"


"Buka dulu dong, pintunya!" jawab seseorang di balik pintu kamarnya.


Silva membulatkan kedua matanya saat ia mengenali suara itu. Ia segera beranjak dari kasur menghampiri pintu lalu membuka kuncinya tak sabaran. Setelah pintu terbuka lebar, sosok Faris dengan senyum menawannya lah yang pertama kali menyambutnya. Segera saja Silva menerjang lelaki itu dengan pelukan. Faris sampai mundur satu langkah karena Silva memeluknya dengan agak melompat. Untungnya, Faris bisa tetap menyeimbangkan tubuhnya dan mendekap erat sang kekasih. Menghirup aroma tubuhnya yang khas. Meskipun Faris yakin Silva belum mandi, tapi ia suka bau tubuh gadisnya itu. Namanya juga bucin.


Faris terus saja menghirup aroma tubuh Silva. Kepalanya terkubur diantara perpotongan lehernya. Ia mengendus membuat Silva geli karena napas hangat Faris menerpa kulit lehernya.


"K-kenapa?" tanya Silva gugup karena Faris terus menatapnya lekat dengan kedua mata sayu menatap matanya lalu beralih ke bibirnya kemudian naik kembali menatap matanya, seakan meminta izin.


Silva gugup. Ia tak berani membalas tatapan Faris. Kedua matanya terus bergerak acak menghindari kontak mata dengan Faris. Ini akan menjadi pertama untuknya. Silva tidak tahu harus berbuat apa. Hingga ia baru sadar bahwa wajah Faris sudah sangat dekat. Bahkan deru napasnya menerpa wajah Silva membuat jantungnya berdebar semakin keras.


Faris terus mendekatkan wajahnya hingga kini ia memiringkan kepalanya. Silva tak kunjung mendongakkan wajahnya membuat Faris kesusahan. Satu tangan Faris menyentuh dagu Silva dan mengangkat wajahnya. Kini, Silva tidak bisa menunduk lagi. Saking gugupnya, Silva sampai mencengkram kedua sisi celana piyamanya dengan erat. Seiring mendekatnya wajah Faris, ia menutup mata kuat-kuat. Sekali lagi, Silva sangat gugup.


Hingga ia merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Menggelitik membuatnya geli. Rasa membuncah juga ia rasakan di hatinya. Seakan meledak dan berubah menjadi taburan bunga warna-warni. Ingat kan, ini pertama kali untuknya. Dan akhirnya, yang mendapatkannya adalah Faris. Lelaki yang begitu dicintainya. Silva bersyukur atas hal itu. Ia senang bukan main.


Namun, di sela kegiatan mereka, Silva merasakan setetes air jatuh ke pipinya. Cairan itu terasa hangat. Apa Faris menangis? Tapi kenapa? Silva hendak melepas tautan mereka agar ia dapat melihat apa yang terjadi dengan Faris. Namun, tangan Faris malah menahan tengkuknya dan semakin memperdalam tautannya. Silva hanya bisa pasrah meski hatinya khawatir akan keadaan Faris. Akhirnya, Silva melingkarkan kedua tangannya di pinggang Faris. Memeluk lelaki itu, seakan mengatakan bahwa dirinya akan selalu ada untuk Faris.


***


Cukup lama mereka di posisi itu. Hingga Faris melepas pelukan mereka. Semburat kemerahan yang ia lihat pertama kali di wajah Silva. Tersenyum lebar, Faris baru menyadari bahwa saat ini gadisnya pasti sedang menahan gugup sekaligus malu.


"Cie... First kiss-nya aku ambil, ya?" bisik Faris tepat di depan wajah Silva.


Silva yang malu lantas memeluk Faris erat. Menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah. "Jangan gitu, dong, Bunny! Malu!" pekik Silva yang teredam di dadanya.


Faris terkekeh melihat tingkah gadisnya itu. Ia pun membalas pelukan Silva tak kalah erat.


"Ya udah, katanya tadi kamu mau jalan-jalan? Ayo, sekarang mandi dulu, yuk!"


Silva mengangkat wajahnya kembali dan menatap Faris memicing. "Kok 'yuk' sih?"


"Ya kan aku mau ikut mandi," jawab Faris dengan seringainya.


"Ih, Faris mesum!!" Silva segera berlari memasuki kamarnya. Menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Faris terkekeh melihatnya. Ia tak bohong, Silva berhasil membuatnya lupa segalanya saat ia menyentuh gadis itu. Namun, Faris juga menyayangi Silva. Jadi, mana mungkin Faris mau merusaknya.


"Tunggu aja di bawah!" seru Silva dari dalam kamar.


"Oke, jangan lama-lama, ya! Kalo lama nanti aku dobrak pintunya!"


Duagh!


Faris sampai terpelonjak mendengar sesuatu mengenai pintu dengan kencang dan teriakan Silva yang mengusirnya. Faris berdecak sambil menggelengkan kepala. Tak menyangka bahwa gadisnya juga bisa jadi menyeramkan seperti itu. Faris kembali terkekeh lalu berbalik. Melangkah menuruni tangga dan menunggu di ruang tamu.


***


Sekitar setengah jam perjalanan, Faris dan Silva sampai di sebuah tempat wisata yang sangat Silva ingin kunjungi. The Great Asia Africa. Tempat wisata yang bertempat di Lembang, Bandung. Yang menyuguhkan pemandangan beberapa kota atau desa dari tujuh negara di Asia dan Africa. Diantaranya Korea, Jepang, Thailand, India, Indonesia, Afrika, dan Timur Tengah.


Silva menarik tangan Faris dengan semangat setelah mereka selesai membeli tiket untuk segera masuk.


"Woah! Ayo kita ke Korea!" seru Silva menunjuk arah panah yang bertuliskan Korea. Lalu menarik tangan Faris mengikuti arah itu.


Faris hanya pasrah ditarik oleh Silva. Tak apa, yang penting gadisnya bahagia.


"E-eh!"


Hampir saja Silva tersandung dan jatuh kalau saja Faris tidak sigap menahan pinggang Silva.


"Makanya, jangan lari-larian! Santai aja jalannya. Ayo!" Kini, Faris yang memimpin berjalan lebih dulu.


Silva mengikuti meski dengan bibir mengerucut. Faris menoleh ke belakang dan tersenyum mencurigakan.


"Jangan cemberut! Mau dicium lagi?"


Seketika kedua pipi Silva memerah karena bayangan apa yang mereka lakukan di depan kamarnya tadi melintas begitu saja.


"Ih, Faris jangan mesum!" pekik Silva sambil memukul punggung Faris.


Faris terkekeh geli lalu kembali menarik Silva menuju replika pedesaan negara Korea yang segala ornamennya terlihat tradisional. Rumah-rumah, barang-barang, dan suasananya sangat menggambarkan pedesaan Korea yang masih kuno. Belum tersentuh teknologi.


"Woah, Korea! Aku mau nyewa hanbok!" seru Silva senang lalu menghampiri lemari yang berisi pakaian tradisional Korea.


Seorang pelayan menghampiri mereka dan membantu Silva memakai hanbok. Rambut panjang Silva yang digerai, dicepol dan ditambahkan tusuk konde yang menjadi ciri khas perempuan Korea. Membuat Silva tampak anggun dan seperti wanita Korea asli. Tentu saja Faris tertegun menatap Silva yang begitu anggun dan cantik.


"Bunny!" panggil Silva malu-malu. Ia jelas malu ditatap selekat itu oleh Faris.


"Iya?" jawab Faris sembari mendekat pada Silva bahkan memeluk pinggangnya.


Silva berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke telinga Faris.


Laki-laki itu sudah membatu di tempatnya. Apakah Silva akan melakukannya di sini? Ini kan tempat umum, pikir Faris.


"Fotoin!" bisik Silva di depan telinganya.


"Ha, apa?"


...Bersambung......