Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 66. Permainan Dimulai



Hari ini cuaca terasa panas, tapi Silva bosan di dalam kamar terus. Jadi, ia memutuskan untuk berteduh di bawah pohon mangga yang rindang di halaman belakang rumahnya. Di sana terasa teduh karena banyak terdapat tanaman. Ada beberapa pohon besar, ada juga tanaman hias daun dan bunga-bunga cantik. Silva senang sekali memandanginya.


Tapi sebenarnya, ia sedang merindukan Arkan. Setelah dua bulan lebih tinggal bersama Arkan, rasanya ia seperti terbiasa selalu melihat sosoknya. Arkan yang baru bangun tidur, sarapan dengannya, pulang kerja mereka makan malam bersama dan tidur sambil berpelukan. Atau kalau saat Arkan libur bekerja, sepulang sekolah mereka akan menonton film di dalam kamar yang sengaja lampunya dimatikan agar terasa seperti bioskop. Sambil bersandar di bahu Arkan dan tangan Arkan yang memeluknya. Merasakan kehadiran masing-masing yang ternyata sangat berefek dan dibutuhkan masing-masing.


Sekarang, ia sudah dua hari tidak melakukan rutinitasnya itu. Mereka tidak bertemu sama sekali. Komunikasi pun dibatasi oleh ayah Silva. Kadang, Silva ingin sekali protes dan marah-marah pada ayahnya untuk tidak terlalu keras pada Arkan. Karena mau bagaimanapun Arkan masih seorang anak SMA yang masih butuh bimbingan dalam melakukan semua tindakannya.


Tapi, ia bisa apa? Ayahnya itu meski manja kepada bunda, tapi tetap memegang teguh keputusannya. Jika ia anggap keputusan itu yang terbaik, maka akan ia pertahankan apapun halangannya. Jadi, tak ada lagi yang dapat Silva lakukan selain menurut. Lagi pula, ini hanya sementara. Setelah lewat masa ini, ia bisa kembali bersama Arkan bahkan dalam ikatan pernikahan. Ah, Silva jadi tidak sabar menantikan masa itu.


"Semoga kamu benar-benar jadi yang terakhir buat aku, ya, Arkan."


***


Pulang sekolah, Arkan bergegas menuju parkiran. Sekarang sudah jam 2 siang, ia harus segera pergi ke kantor calon ayah mertuanya. Pokoknya ia tidak boleh mengecewakan Hanum. Ia harus memperbaiki citra dirinya di mata Hanum agar ayah kekasihnya itu bisa beralih membanggakannya, tidak lagi membencinya.


Namun, saat hendak melewati gerbang sekolah, ponselnya berdering pertanda sebuah panggilan masuk. Ia merogoh ponselnya di saku celana dan melihat kontak 'Rika' di layar ponselnya. Rika adalah karyawan full time di cafe Regan. Ada apa rekan kerjanya itu menghubunginya? Pikir Arkan. Ia pun menerima panggilan itu dan menempelkan ponsel di telinganya.


"Halo?"


"Halo, Ar! Lo udah kelar sekolahnya?"


"Loh? Ini Bang Regan? Udah, Bang. Ada apa, ya?" Arkan mengerutkan kening saat mendengar suara Regan.


" Iya, ini gue. Bisa dateng ke cafe gak? Ini Bunga nangis histeris pengen ketemu lo. Karyawan di cafe pada panik nenangin dia, kita takut pelanggan juga keganggu, gue juga bingung harus gimana lagi nenanginnya. Dia cuma mau ketemu lo, Ar. Plis, tolongin kita," jelas Regan dengan suara memohon.


"Kok bisa?" tanya Arkan heran. Ia sebenarnya enggan pergi ke cafe apalagi harus menenangkan Bunga. Gadis itu sendiri yang menyukainya, kenapa malah ia yang harus repot menenangkannya? Pikir Arkan.


"Nanti aja gue jelasin. Sekarang lo ke sini dulu, gak ada waktu lagi. Gue takut sakitnya kambuh lagi. Cepet, Arkan!"


"Tapi gue--"


"Plis, Ar, gue mohon tolongin gue. Gue takut Bunga kenapa-napa. Cuma dia keluarga yang gue punya di dunia ini. Gue mohon bantuin gue, Ar. Kali ini aja, ya."


Pada akhirnya, Arkan menghela napas menyerah. Ia akan menemui Bunga dulu sebelum ke kantor Hanum. Tapi sebelumnya, Arkan memberi kabar dulu kepada calon ayah mertuanya bahwa ia akan sedikit terlambat dari jam yang dijanjikan.


***


"Apa ini? Seenaknya dia minta maaf untuk datang telat? Memangnya dia siapa?" gerutu Hanum saat membaca pesan singkat dari Arkan.


"Baik, aku akan menunggu sampai jam 4 sore. Kalau sampai jam 4 dia belum datang juga, akan kubatalkan pernikahan mereka!"


***


Arkan menghampiri tukang ojek tak jauh dari halte. Dengan tergesa, ia menaiki motor tukang ojek yang paling dekat dengannya.


"Bang, cepet jalan, Bang! Nanti saya tunjukin jalannya," ujar Arkan yang dibalas Abang ojek dengan menyerahkan helm kepada Arkan yang sudah nangkring di jok belakang.


"Oke, siap, Dek?"


"Siap!"


Mereka pun melaju menuju cafe Regan dengan kecepatan sedang. Karena Arkan tidak bisa menghabiskan waktu lama di perjalanan, ia pun memaksa bergantian dengan si Abang ojek.


"Ayolah, Bang. Saya lagi buru-buru, nih. Gak bakal kena tilang, kok. Nanti saya bayar tiga kali lipat dari ongkos yang seharusnya deh," tawar Arkan yang langsung diangguki Abang ojek.


Mereka pun berpindah posisi. Arkan yang mengendarai motor.


"Tiga kali lipat, ya? Awas kamu kalo bohong!" ancam Abang ojek menunjuk wajah Arkan dari samping.


"Iya, Bang, saya janji. Pas nyampe langsung saya bayar! Cash!" jawab Arkan lalu melakukan motor itu dengan kecepatan tinggi.


"Uwaaaaa," pekik Abang ojek karena kaget dibonceng Arkan serasa seperti dibawa terbang. Sampai ia memeluk pinggang Arkan dan memejamkan matanya kuat, karena merasa takut untuk melihat jalanan.


Kedua mata Arkan fokus memandang jalanan agar mereka bisa selamat sampai tujuan. Pokoknya, ia harus cepat karena tidak ingin mengecewakan Hanum. Apalagi yang ia tahu, Hanum adalah seorang yang tidak mudah diambil hatinya. Keputusannya juga sangat sulit untuk berubah. Jadi, ia tidak akan membuatnya memberikan keputusan yang buruk baginya.


***


Sepuluh menit, mereka pun sampai di cafe Regan. Bayangkan saja, perjalanan yang seharusnya memakan waktu 20 menit, kini bisa sampai hanya dengan 10 menit. Bagaimana cepatnya Arkan berkendara.


Arkan melepas helmnya dan turun dari motor.


Saat masuk, Arkan tidak melihat tanda-tanda keributan. Para pelanggan tenang-tenang saja menikmati hidangan mereka.


"Mungkin di dapur kali, ya?" tanyanya pada diri sendiri lalu segera bergerak ke dapur.


Saat sampai di dapur pun, ia hanya melihat beberapa karyawan yang ia kenal sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Keningnya mengerut merasakan keanehan.


"Rika, tadi Bang Regan telpon pake hape lo?" tanya Arkan pada Rika yang baru saja memasuki dapur.


Rika mengangguk. "Iya, katanya hapenya abis batere."


"Terus, sekarang mana dia?"


"Pulang, katanya sih ada urusan," jawab Rika dengan tenang, tanpa ada guratan sedih atau terkejut. Seperti tidak ada yang terjadi.


"Tadi di sini gak ada kejadian apa-apa?" tanya Arkan.


Rika menggeleng dengan raut bingung. "Enggak, tuh. Kejadian apa?"


"Kejadian apa gitu yang bikin Bang Regan sampe telfon gue?"


"Enggak sih, dia bilang cuma mau nyuruh lo dateng ke rumahnya aja, katanya."


Arkan mengangguk lalu berterima kasih pada Rika. Setelah itu, ia pun keluar dari cafe dan menghampiri Abang ojek yang masih setia menunggunya di depan.


"Bang, ayo anter saya lagi! Nih, ongkosnya, tiga kali lipat!" ujar Arkan memberikan lima lembar uang seratus ribuan ke genggaman tangan Abang ojek itu.


"Oke, siap! Pake helmnya, Dek!"


"Ngebut, Bang!"


"Siap!"


Mereka melaju menuju rumah Regan dengan petunjuk ingatannya yang beberapa tahun ke belakang sudah tidak pernah datang lagi ke rumah itu. Tapi untungnya Arkan memiliki ingatan yang kuat.


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah Regan yang nampak sepi dari luar.


"Udah, Bang, makasih. Abang boleh pergi," ucap Arkan setelah turun dari motor da menyerahkan helm kepada pemiliknya.


"Gak mau dianter ke tempat tujuan terakhirnya, Dek? Gak papa saya disewa sampe sore juga. Ongkosnya udah lebih dari cukup," tawar Abang ojek namun dibalas gelengan oleh Arkan.


"Gak usah, Bang. Takutnya saya lama di sini. Maaf ya, udah maksa Abang tadi."


"Gak papa, Dek. Nanti kalo buru-buru lagi, calling saya aja, ya, hehe," jawab Abang ojek menyerahkan secarik kertas berisi nama dan nomor handphone-nya.


Arkan menerima lalu memasukkannya ke dalam saku celana. "Oke, kalo gitu saya masuk ya, Bang. Makasih!"


"Sama-sama!" jawab Abang ojek lalu memutar balik sepeda motornya dan melaju meninggalkan pekarangan rumah Regan.


Arkan memasuki teras rumah minimalis itu dan mengetuk pintunya. "Bang! Bang Regan!"


Sudah berkali-kali Arkan memanggil, namun tidak ada yang menyahut. Namun, samar-samar ia mendengar suara tangisan perempuan dari dalam.


"Apa itu suara Bunga, ya?"


"Bunga! Bang Regan! Kalian di dalam, kan?!" Perlahan Arkan membuka pintu itu lalu melongok keadaan di dalam dari balik pintu.


Nampak sepi, tak ada siapa-siapa. Hingga...


Bug!


Seseorang memukul kepala Arkan dengan balok kayu hingga membuatnya pingsan dan tergeletak di lantai.


Orang itu tersenyum miring. "Sorry, Ar. Tapi, ini saatnya permainan balas dendam dimulai~"


... Bersambung......


Nahloh...😲