
Yang namanya kehidupan, pasti akan banyak sekali lika-liku. Kadang suka dan kadang duka. Tapi yang pasti, semuanya pasti ada hikmahnya. Tugas kita sebagai manusia adalah menjalani, mensyukuri dan terus belajar. Belajar di sini adalah memahami banyak kejadian yang pernah kita alami, baik yang buruk ataupun yang bagus. Untuk menjadi bahan pengingat bagi kita bahwa kejadian yang bagus itu harus diamalkan dan disyukuri, sementara kejadian yang buruk itu harus dihindari namun tidak dilupakan, itu penting untuk membantu kita menghindari kesalahan yang sama.
Itulah yang selalu ditanamkan kepada Arkan oleh sang mama. Sementara papanya mendidiknya dengan tegas agar kelak ia bisa menjadi pemimpin di perusahaan milik sang papa. Begitu pun dengan Nesya, meski perempuan tapi ia berjiwa besar. Nesya pun dididik dengan tegas oleh Setya, namun tentu saja tidak sekeras Arkan. Nesya diarahkan agar ia bisa mengambil alih usaha cafe milik Setya di masa depan nanti saat mereka sudah tidak muda lagi.
Maka dari itu, saat mendapat masalah besar, Arkan dan Nesya tidak gentar. Mereka tetap tenang dan berusaha mencari solusi. Bukannya panik dan menyerah pada keadaan. Ya, meski solusinya masih terlihat kekanakkan. Tapi mohon maklum, karena mereka masih dalam tahap beranjak dewasa.
Seperti sekarang, sepertinya Arkan sedang kesulitan menentukan jalan keluar bagi masalahnya yang satu ini. Ia dalam perjalanan menuju rumah papa dan mamanya. Ia akan membicarakan tentang masa depannya dengan Silva. Tentunya, ia harus menikahi gadis itu agar bisa menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya.
Dalam pikirannya berkemelut banyak sekali kemungkinan yang terjadi nanti. Ia harus mempertimbangkan akibat yang akan ia dapatkan setelah membicarakan hal ini. Kemungkinan besar mereka mengizinkan Arkan untuk menikahi Silva. Namun, untuk meyakinkan orang tua Silva, agaknya butuh usaha yang lebih keras. Maka, ia harus mempersiapkan semuanya untuk masa depannya dan Silva agar mereka yakin padanya dan merestui mereka.
Saking asyiknya bercengkrama dengan pikiran sendiri, Arkan sampai tidak sadar bahwa bus yang ia tumpangi sudah sampai di halte tempat seharusnya ia berhenti. Hingga seorang kernet menepuk pundaknya.
"Woy, Dek! Turun gak lo?"
"E-eh! Udah sampe mana?" tanya Arkan memperhatikan sekitarnya.
"Yeu, makanya jangan ngelamun kalo naik bis! Ini udah di halte tempat lo biasa naik. Mau turun gak lo?" Mungkin saking seringnya Arkan naik bus sambil melamun, sampai si Abang kernet mengenalinya sebagai si penumpang yang suka melamun.
Arkan mengangguk cepat. "Iya, Bang, saya turun di sini. Nih, ongkosnya! Makasih, Bang!"
Setelah memberikan beberapa lembar uang sesuai ongkos bus, Arkan segera turun. Ia harus segera sampai dan menyelesaikan masalah ini lalu pulang ke apartemen. Kasihan Silva sendirian. Pasti sekarang gadis itu sedang menunggunya pulang. Ah, lebih baik ia telepon saja untuk memberitahu bahwa ia akan pulang terlambat.
Ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Mendial nomor telepon apartemennya karena ia ingat bahwa Silva kehilangan ponselnya karena kejadian itu. Dan Arkan baru ingat. Seharusnya ia membelikan Silva ponsel baru agar tidak kebosanan saat sendirian di rumah. Astaga, Arkan! Ke mana saja baru sadar sekarang? Padahal Silva sudah lebih dari seminggu tinggal bersamanya.
-"Halo?"-
"Halo, Va! Kamu lagi apa?"
-"Arkan?"
"Iya, ini aku. Kamu udah makan?"
-"Ini aku lagi nunggu kamu. Ayo cepet pulang! Aku udah masakin banyak menu makan malam. Ya gak banyak juga sih, cuma ya lebih enak-enak dari mi instan, hehe."-
Terdengar suara kekehan ringan milik Silva yang membuat Arkan ikut terkekeh. Hatinya terasa tenang sekaligus hangat mendengar Silva menunggunya.
"Kok kamu bisa masak? Kan aku belum belanja bahan-bahannya."
-"Oh, tadi bunda sama mama kamu main ke sini. Mereka juga bawain banyak banget bahan-bahan masakan. Sayuran, beras, daging-dagingan, cemilan juga, pokoknya banyak deh. Jadi sekarang kulkas sama lemari makanan penuh semua."-
"Syukurlah, aku jadi gak perlu belanja lagi."
-"Ish! Seneng ya kamu! Nanti kalo persediaan abis, kamu harus belanja pokoknya!"-
"Iya, dong. Nanti kita belanja berdua, oke?"
-"Huh? Eum... I-iya."-
Eh? Kenapa Silva gugup, pikir Arkan. Apakah sekarang gadis itu sedang malu? Apakah mungkin karena rencana mereka belanja berdua? Arkan tak bisa menghilangkan senyumnya sekarang. Dalam otaknya terbayang wajah Silva yang merona dan malu-malu.
"Ya udah, sekarang kamu makan duluan aja, ya. Jangan nungguin aku, nanti aku pulangnya agak larut, ada urusan dulu."
-"Oh, gitu."- Terdengar nada kecewa di sepotong kalimat itu. Nampaknya Silva ingin Arkan cepat-cepat pulang. Oh! Arkan jadi ingin pulang sekarang juga!
"Iya, maaf ya, aku ada urusan penting. Nanti kalo udah selesai, aku pasti langsung pulang, kok. Jangan diabisin ya, makanannya! Aku gak akan makan di luar."
-"Kalo kamu masih lama, mending makan dulu aja, Ar. Aku gak bakal abisin kok, tapi kamu makan di luar aja, nanti takutnya masuk angin. Masakan aku bisa diangetin."-
"Enggak. Pokoknya aku mau makan di apart aja, gak mau di luar! Awas ya, jangan diabisin makanannya!"
"Ssst... Udah ya, jangan khawatir. Aku kuat kok, gak bakal masuk angin. Lagian, urusannya gak lama, kok. Bentar lagi juga pulang."
Terdengar helaan napas pasrah di seberang sana. Nampaknya Silva sudah menyerah untuk membujuk Arkan agar tidak melambatkan makan malam.
-"Ya udah, terserah kamu. Tapi janji ya, jangan kemaleman pulangnya! Aku makan duluan, ya?"-
Senyum lebar menghiasi wajah Arkan disertai kedua mata yang ikut tersenyum. Hatinya sungguh menghangat dan tak bisa digambarkan lagi bagaimana kondisinya. Pasti sudah berantakan karena diperhatikan oleh gadis pujaan.
"Iya, janji langsung pulang. Kamu makan yang banyak, ya! Supaya adek bayinya sehat. Aku tutup, ya! Dah!"
-"Iya, hati-hati ya di jalannya. Dah!"-
Meski terdengar cheesy, tapi bagi orang yang sedang jatuh cinta itu terasa manis sekali. Jadi, sampai di rumah orang tuanya pun ia tak bisa menghilangkan senyumnya.
Sekarang Arkan sudah berada di depan gerbang rumahnya. Sang satpam yang melihat Arkan, segera membukakan pintu gerbang.
"Silahkan masuk, Den Arkan!"
"Makasih, Pak. Mama papa ada kan?"
"Ada, Den. Mereka udah di rumah sejak jam lima sore dan gak kemana-mana lagi."
"Ya udah, kalo gitu saya masuk ya."
"Iya, Den, silahkan."
Arkan pun melenggang memasuki pekarangan rumahnya dan sampai di pintu utama, ia menekan belnya.
Tak lama, pintu terbuka menampilkan sosok wanita yang paling disayang oleh Arkan. Wanita yang melahirkannya ke dunia. Ya, itu sang mama. Arkan segera menghambur di pelukan hangatnya.
Seketika tumpahlah air matanya saat merasakan kehangatan yang sudah lama tidak melingkupinya. Seakan semua masalah dan beban yang harus ia pikul luruh saat itu juga. Betapa hebatnya pelukan ibu. Rasanya hanya pelukan mamanya yang ia butuhkan saat sebanyak dan seburuk apapun masalah yang dihadapi.
"Ma, Kakak pulang," lirih Arkan dengan suara yang agak bergetar.
Lisa mengangguk di bahu Arkan. "Iya, Sayang. Mama kangen banget sama Kakak."
"Ekhem! Masa calon kepala keluarga cengeng? Malu dong kalo diliat anak istri!"
Dari balik punggung Lisa, Setya datang dan mengejek Arkan. Sukses mendapat delikan tajam dari istrinya. Seakan mengatakan, 'dasar, pengganggu!'
Tapi, Setya peduli apa? Ia tidak akan takut pada delikan istrinya karena ia bukan suami yang takut istri. Lain lagi kalo Lisa sudah marah besar sampai tidak mau ditempeli olehnya. Itu baru masalah besar dan ia akan merengek meminta maaf. Terdengar tidak meyakinkan, tapi memang semanja itulah Setya. Padahal anak sudah dua dan sudah besar semua, memang tidak ingat umur.
Arkan melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. Ia melihat jam di pergelangan tangannya lalu menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Karena udah malam dan Silva sendirian di apart, jadi Arkan mau langsung aja."
Setya dan Lisa tidak menjawab, hanya mengangguk untuk mempersilahkan Arkan menyampaikan maksudnya.
"Arkan mau nikahin Silva."
Kalimat itu sukses membuat kedua orang tuanya saling tatap dengan alis terangkat tinggi.
... Bersambung......
ngebet banget sih, Arkanš¤£