
Istirahat begini kantin pasti ramai. Karena itu, Arkan malas ke kantin. Kalian tahu kan, Arkan itu dingin. Ia tidak suka keramaian. Ia lebih suka suasana yang damai, sendirian, tanpa banyak suara random yang dapat membuat pendengarannya terganggu. Okey, itu berlebihan, kan? Tapi, memang seperti itu yang Arkan inginkan.
Baru saja ia akan menelungkup kan kepalanya di atas meja, suara terbising yang pernah ia dengar.
Jeblak!
Bruk!
"ARKAN!"
"ARKAN, MAIN YOK!!"
"Arkan!"
"Iya!"
"Ada yang baru, nih!"
"Apa?"
"Hah?! Jorok?!"
Geplak!
"Paan sih, lu?"
"Bukan jorok njer!"
"Lah terus apa dong?"
"Hah, jarak?!"
"Jeruk, bege!"
Plak!
"Njir, berani lu ama gua?!"
"Beranilah!"
"Oke, ayo duel!"
"Ayo! Dimana lu maunya?!"
"Di--"
"DIAAAAM!!"
Kedua oknum yang sejak tadi ribut teriak-teriak sambil saling menganiaya, seketika merungkut saling memeluk menatap Arkan takut.
"Udah, gue mau tidur!" tukas Arkan menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Eeeh!" Kedua orang itu memekik sambil berlari ke arah Arkan.
"Ck! Kenapa sih, Fan, Vin? Gue mau tidur. Plis, jangan ganggu!" Arkan kembali akan merebahkan kepalanya di atas meja.
Namun, lagi-lagi Rafan menggagalkannya dengan menahan kepala Arkan. "Eits! Daripada tidur, mending kita makan di kantin. Kuy!"
"Gak deh, males desek-desekkannya gue," tolak Arkan mengibaskan tangan.
"Gue traktir, deh, gimana?" tawar Rafan yang membuat Arkan menghela napas.
"Ya udah, ayo!" jawab Arkan pada akhirnya. Tentu saja dengan gerakan malas. Ia sesungguhnya tidak tergiur sama sekali dengan tawaran Rafan. Tapi sepertinya dua sahabatnya ini sangat menginginkan kehadirannya di kantin. Okey, Arkan terlalu percaya diri.
"Beneran ditraktir, kan?" tanya Arkan memastikan saat mereka sudah berjalan di koridor kelas.
"Benerlah! Gue traktir pake duitnya si Kevin, hahaha!" jawab Rafan sambil berlari menjauh dari kedua temannya menuju kantin.
"Anjir, cebol!" teriak Kevin frustasi menghadapi sahabatnya yang satu itu.
Sementara Arkan hanya menertawakan nasibnya hingga kedua matanya menghilang. Melengkung turut membentuk senyuman.
"Huh, giliran gue sial, lo seneng, ya! Oke!" sarkas Kevin melipat kedua tangan di depan dada.
"Iya dong! Soalnya, muka lo pantes buat dinistain, hahaha!" sahut Arkan yang juga berlari setelah mengejeknya.
"Anjer! Gak ada yang bener gue punya temen. Geblek semua! Awas aja lo semua minta gue traktir! Gak bakal gue kas--"
"Berisik, woy!"
"Siapa sih? Woy elah!" Saat menoleh betapa terkejutnya ia mendapati wajah gadis yang baru saja meneriakinya tepat berada di depan wajahnya.
"Astagfirullah! Neng Soraya jangan deket-deket mukanya! Untung gue gak khilaf, kalo kelepasan nyium, gimana?" ujar Kevin sambil mengusap dadanya dan diakhiri kedipan genit yang ditujukan pada gadis di depannya.
Soraya--nama gadis itu--mengernyit geli melihat tingkah Kevin. "Kalo lo nyium gue, ya gue cium balik lah!"
"Hah! Beneran?!" pekik Kevin dengan kedua mata melebar antusias. Bayangkan saja, ia akan dicium oleh mbak crush! Siapa sih yang tidak senang berkontak fisik dengan sang pujaan hati? Apalagi ini dia akan dicium!
"Iya beneran, gue bales nyium lo pake sepatu gue, nih!"
"Ampooonn!!" Kevin berlari terbirit saat Soraya melepas sepatunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi siap ditamparkan ke wajah tampannya. Itu menurut Kevin sendiri, ya.
***
Sementara di kantin, Arkan dan Rafan baru saja sampai. Sesuai dugaan Arkan, kantin sangat ramai. Ia sampai tidak melihat ada kursi yang masih kosong. Itu membuatnya menghela napas lelah.
"Tuhkan, gue bilang juga apa. Kantin rame banget kalo jam segini," ujar Arkan dengan wajah malasnya bersandar di tiang yang berada tepat di sampingnya.
"Ish, terus kalo gak makan sekarang, mau kapan lo makannya, dodol! Mau bolos, lo?" tanggap Rafan sambil celingak cekinguk mencari tempat duduk kosong.
"Iya deh, mending bolos aja, makan bentar terus balik lagi ke kelas," jawab Arkan enteng.
"Astagfirullah, anak muda! Lo dapet ajaran dari siapa, begitu, hah?" tanya Rafan menatap Arkan melotot dramatis.
"Dari lo lah." Jawaban itu meluncur dengan begitu mudahnya dari bibir Arkan.
Baru saja Rafan akan protes, tubuh keduanya terdorong dari belakang. Saat menoleh, sang tersangka penabrakkan malah menyengir tak berdosa.
"Hehe, sorry, guys. Gue dikejar ayang Soraya tadi, hee."
Bertepatan dengan datangnya Kevin, serombongan murid meninggalkan sebuah meja. Rafan langsung menyeret Kevin ke sana.
"Pas banget, lo harus kita hukum karena udah nabrak kita, ayo traktir kita sepuasnya!"
"Enak aja! Fan, plislah, Fan! Jangan sepuasnya, dong. Duit jajan bulanan gue udah menipis, nih. Kasihanilah, gue." Kevin memohon sambil terus diseret oleh Rafan dan Arkan.
"Bodo amat, gue gak peduli! Lo kan holkay, kalo abis tinggal minta lagi, pasti dikasih. Ayo cepet pesenin kita makan!" putus Rafan masih menyeret Kevin. Lalu ia beralih pada Arkan saat mereka sudah sampai di meja kosong tadi. "Ar, Lo tunggu sini, ya. Gue mau pesen makan dulu. Takutnya kalo ga diawasin, dia malah pake nama gue yang bayarinnya."
"Oke," jawab Arkan sambil terkekeh geli melihat Kevin yang memohon sambil diseret oleh Rafan menuju salah satu stand makanan.
Arkan duduk di salah satu kursi. Masih menggeleng memperhatikan tingkah dua sahabatnya yang masih seperti anak-anak. Padahal mereka sudah duduk di tingkat akhir SMA, setahun lagi lulus. Lebih anehnya lagi, kenapa ia bisa betah bersahabat dengan mereka selama ini? Ah, sudahlah. Bagaimanapun tingkah mereka, mereka tetap sahabatnya yang selalu ada untuknya.
Mengalihkan pandangan dari Rafan dan Kevin yang sekarang sedang membuat kebingungan ibu kantin karena tingkah mereka. Arkan menebar pandangan ke seluruh penjuru kantin. Pandangannya terhenti di satu meja yang membuat hatinya terasa tergores. Di meja itu, Faris sedang bersandar manja di bahu Silva. Lalu dapat ia lihat Silva menyuapi Faris sesendok bakso dengan sabar. Sambil mengobrol dengan sahabat-sahabatnya, Silva nampak tidak terganggu dengan kehadiran Faris yang menggelayuti lengannya bahkan memeluk pinggang rampingnya.
Andai dulu ia lebih berani menyampaikan perasaannya pada Silva, mungkin yang akan berada di sana adalah dirinya, bukan Faris. Sayang, semuanya hanya tinggal penyesalan. Hanya kata seandainya yang dapat ia ucapkan. Menghela napas berat, ia memaku pandangan pada wajah cantik Silva yang tidak menyadari pandangannya tertuju pada gadis itu.
Namun, beberapa detik selanjutnya, pemandangan menyakitkan harus ia saksikan. Faris tiba-tiba mencium pipi Silva tanpa meminta izin lebih dulu pada gadis itu. Dapat Arkan lihat Silva melebarkan kedua matanya kaget, namun tak lama rona merah menjalar di kedua pipinya. Tidak terlihat cukup jelas dari tempat Arkan, namun dari gelagat tubuh Silva dan tatapan matanya yang perlahan menunduk sudah memberitahu Arkan bahwa gadis itu salah tingkah.
Saat itu juga, Arkan merasa pasokan udara di sekitarnya menipis. Dadanya sesak dan kedua tangannya mengepal kuat menyalurkan rasa perih di hatinya. Apalagi saat melihat sorot mata Faris yang terlihat sinis terarah padanya diiringi seringai tipis di bibirnya. Seakan Faris sengaja melakukan itu untuk membuatnya cemburu. Yap! Faris berhasil membuatnya cemburu. Bahkan sudah naik level menjadi sangat kesal. Rasanya Arkan ingin sekali merebut Silva dari sisi Faris. Setelah itu ia akan membalas perbuatan Faris itu.
"Heh, ngapa lu, bocah?"
Pertanyaan dari Kevin menyadarkannya dari lamunan. Ia menoleh ke samping kanan dan depannya, ternyata Rafan dan Kevin sudah kembali bersama tiga porsi makanan dan minuman di genggaman mereka bersiap duduk di kursi yang masih kosong.
"Kenapa sih, Ar?" tanya Rafan yang masih menatap bingung pada Arkan.
Pasalnya, Arkan nampak mengeraskan rahang dan mengepalkan kedua tangan. Kedua matanya memerah seakan sedang menahan amarah. Semua orang pasti takut melihat tatapan Arkan saat ini.
"Udah, udah! Nih, makan aja, siomay sama cola! Gue yang traktir!" ujar Kevin menyodorkan sepiring siomay dan sekaleng cola ke depan Arkan.
Pletak!
"Lu gak bosen apa menganiaya gue mulu, Fan?!" protes Kevin saat kepalanya dijitak Rafan.
"Siapa suruh nyebelin?! Orang gue yang bayar, juga!"
"Ya kan nanti gue ganti!"
"Awas aja kalo gak diganti! Gue bakar rumah lo!" ancam Rafan bersungut-sungut.
"Anjir, serem amat."
Sret!
"Lah, mau kemana tuh, anak?" Rafan bertanya saat tiba-tiba Arkan berdiri dan berjalan menjauhi meja dan keluar dari kantin. Meninggalkan Rafan dan Kevin yang saling pandang bingung.
... Bersambung......