Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 78. Giliranku yang Berjuang



Tak pernah terbayang oleh Arkan, ia akan berpisah dengan Silva. Tapi, sempat terpikir olehnya jauh sebelum hari ini. Ia hanya ingin Silva bisa kembali seperti gadis lain yang bisa menggapai mimpinya. Bukan malah menjadi ibu rumah tangga di usia dini. Bagaimanapun, usia mereka masih terlalu muda untuk membangun keluarga.


Namun, tak pernah ia sangka reaksi Silva justru berbeda dari yang ia harapkan. Ia sempat berharap gadis itu akan bahagia jika lepas dari tanggung jawabnya. Tapi ternyata Silva seakan kecewa padanya dan memilih menyerah dengan menuruti keinginannya. Mungkinkah Arkan yang terlalu naif? Apakah seharusnya ia tetap menggenggam Silva karena gadis itu pun sudah mencintainya? Ah, kepalanya terasa pening sekarang. Dihempaskannya si kepala untuk bersandar di dinding.


Saat ini ia sedang setengah berbaring di atas ranjang rumah sakit. Sendirian tanpa ada yang menemani. Ia sengaja tidak menghubungi atau memberitahu orang-orang terdekatnya bahwa ia telah siuman. Ia masih ingin sendiri, merenungkan tindakannya yang entah benar atau tidak. Lagipula, itu juga salah mereka. Kenapa yang menjaganya hanya Silva sendirian? Kemana mereka yang katanya akan selalu ada untuknya? Cih! Batin Arkan berdecih.


Terdengar pintu terbuka dari luar. Tak lama muncullah sosok Rafan diikuti Kevin memasuki ruangan. Saat mereka melihat Arkan, keduanya nampak kaget dengan menutup mulut dan membuka mata lebar-lebar.


"Arkan! Udah sadar?"


Bukannya menjawab, Arkan malah menggulirkan bola matanya malas lalu berbaring memunggungi mereka.


"Dih? Ngapa tuh anak?" tanya Kevin keheranan.


Keduanya berjalan menghampiri ranjang rawat Arkan. Kevin menepuk lengan Arkan.


"Heh, Ar! Kenapa sih? Baru sadar bukannya kangen-kangenan ama kita. Ini malah munggungin kita. Gimana sih?" gerutu Kevin sambil mendorong pelan lengan Arkan.


Namun, Arkan tidak merespon apapun. Ia masih tetap pada posisinya.


"Apa jangan-jangan..." Rafan menggantungkan kalimatnya dan menunjukkan ekspresi panik dengan kedua mata dan mulut melebar. Menatap Kevin yang juga ikut mengangkat kedua alis karena merasa heran dengan tingkah Rafan.


"Jangan-jangan apa?" tanya Kevin penasaran.


"Jangan-jangan... Arkan hilang ingatan?!"


Tanpa berpikir dua kali, Kevin menggeplak kepala belakang Rafan yang kemudian mendapat protes tentu saja.


"Arkan gak hilang ingatan!" tegas Kevin menunjuk punggung Arkan.


"Sok tau lu!" cibir Rafan bersedekap dada.


Kevin nyaris memutar bola matanya saat pintu ruangan itu terbuka dengan paksa.


Ketiganya menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar dengan Faris yang berdiri dengan kedua tangan mengepal dan tatapan tajam terarah kepada Arkan yang sedang menatapnya juga.


"Faris? Kenap--"


Bugh!


Belum sempat Rafan melanjutkan kalimat tanyanya, Faris sudah melangkah maju melayangkan tinjunya ke rahang Arkan.


"Faris!" seru Rafan dan Kevin yang terkejut melihat tindakan Faris.


Sementara Arkan memegangi rahangnya yang terasa ngilu.


Faris menyunggingkan senyum miring. "Itu balasan karena udah sia-siain Silva sampe bikin dia nangis!"


Mendengar nama Silva, Arkan seketika menatap Faris. Ada guratan khawatir, menyesal dan rindu di sorot mata Arkan.


"Khawatir kan lu? Gue tau lo tuh sebenernya bucin sama dia, kan? Tapi kenapa lo malah bilang kaya gitu ke dia? Maksud lo apa sih? Lo gak bisa liat kalo sekarang dia cinta sama lo?" tanya Faris yang diam-diam Arkan angguki dalam hati.


'Oh, jadi Faris udah tau', batin Arkan.


Namun, Arkan malah memilih menggeleng untuk menjawab. "Dari dulu, cowok yang dia cintai tuh cuma lo, Ris. Silva cuma kebawa suasana aja karena tinggal sama gue. Makanya, dia seakan cinta sama gue, tapi gue rasa itu cuma perasaan nyaman. Gak lebih."


Faris sudah akan kembali menghantamkan tinjunya ke wajah Arkan, namun ditahan oleh Rafan dan Kevin di sisi kiri dan kanannya.


"Jangan, beg*! Dia baru sadar. Lo mau dia koma lagi abis digebukin sama lo?" tekan Rafan sambil menoyor kepala Faris.


"Biarin! Ya semoga aja pas bangun, otaknya bener lagi," jawab Faris acuh tak acuh.


"Emang ada apa sih sebenernya?" tanya Kevin menatap Faris dan Arkan bergantian dengan bingung.


Faris mengedigkan dagu ke arah Arkan. "Tanya aja sendiri ke temen lo tuh!"


Rafan dan Kevin beralih menatap Arkan menuntut penjelasan. "Ayo, sekarang jelasin semua yang terjadi dan belum kita tau!"


***


Silva sedang menangis di pelukan Laras. Ia telah menceritakan semua yang ia alami dan apa yang Arkan katakan.


"Kalo kamu gak mau pergi, kenapa milih pergi, Sayang?" tanya Laras dengan lembut sambil satu tangannya mengusap kepala Silva.


"A, aku kesel sama Arkan, Bun! Bisa-bisanya dia ngasih aku pilihan kayak gitu saat aku udah cinta sama dia. Apa seenggak peka itu dia sampe gak tau kalo aku udah cinta sama dia? Enggak kan? Pasti Arkan tau kalo aku udah suka sama dia, bahkan aku udah move on dari Faris, Bunda... Kenapa Arkan malah ngebiarin aku pergi? Kalo mau pergi, kenapa gak dari dulu aja? Toh, anak yang aku kandung juga bukan darah dagingnya, kan?"


Tubuh Laras menegang. Usapan lembut di kepala Silva terhenti. Hal itu disadari oleh Silva. Ia mendongak menatap sang bunda, lalu perlahan melepaskan diri dari dekapan Laras. Ia menunduk memainkan jemarinya.


"Aku udah tau, Bun. Tadi aku maksa Faris buat cerita. Maaf..." cicit Silva yang menunduk dalam.


Laras mengulum senyumnya lalu menepuk kepala Silva pelan. "Gak usah minta maaf, kamu juga berhak tau. Jadi, sekarang kamu tau kan, sebesar dan setulus apa cinta Arkan buat kamu?"


Tanpa berpikir lama, Silva mengangguk. Namun tidak menjawab ataupun mendongak.


"Nah, tindakannya yang ini pun didasari oleh rasa cintanya ke kamu. Saking tulusnya cinta Arkan, dia sampai rela melepas kamu demi kebahagiaan kamu yang sempat terenggut. Walaupun bukan dia pelakunya, tapi dia pikir kamu masih berpikir seperti itu. Arkan tau pasti bahwa kamu punya mimpi selayaknya remaja-remaja pada umumnya. Jadi, Arkan bermaksud untuk memberi kamu kebebasan mengejar kembali mimpi kamu setelah tidak ada lagi halangan, yaitu kehamilan."


"Tapi sekarang kebahagiaan aku tuh sama dia, Bun! Mimpiku sekarang udah berubah! Aku cuma pengen membangun keluarga yang bahagia sama dia!"


"Jadi, udah gak mau bahagiain ayah bunda lagi, nih?"


Silva mengerjap cepat. Hatinya seakan tercubit mendengar pertanyaan sang bunda. Seketika Silva ingat bahwa dirinya masih belum membanggakan orang tuanya. Ia masih belum lulus SMA, perjalanannya masih panjang. Tapi ia malah memikirkan orang lain dan kebahagiaannya saja.


Melihat sorot kesedihan di mata Silva, Laras mengusap bahu sang anak tunggal. "Sayang, kalau kamu bilangnya sama Bunda, gimana Arkan bisa tau kalau kamu udah cinta sama dia?"


Silva mendongak, menatap sang bunda bingung. "Maksud Bunda gimana sih? Tadi katanya aku harus bahagiain ayah bunda, sekarang malah nyaranin aku perjuangin Arkan? Jadi aku harusnya gimana, Bun?"


"Emang Bunda ada bilang kalau kamu bahagiain ayah bunda dengan cara ninggalin Arkan?"


"Enggak ya?"


"Enggak, Sayang. Kamu bisa bahagiain kita dengan melihat kamu juga bahagia. Silva, kalau kamu ingin bahagia bersama Arkan, jangan nyerah! Arkan aja tetap gak menyerah kan, mencintai kamu walaupun dalam diam? Dia udah banyak berkorban demi kamu. Sekarang, giliran kamu untuk berkorban buat Arkan. Urusan sekolah dan cita-cita, kamu masih bisa raih kok, walaupun sudah menikah. Kamu bisa home schooling dulu sampai sama-sama lulus SMA, baru menikah. Setelah menikah, kamu bisa meneruskan pendidikan ke universitas dengan status sebagai seorang istri. Itu gak masalah, Sayang. Yang terpenting, sekarang kamu harus bisa yakinin Arkan, kalau kamu maunya dia, bukan yang lain."


Di tempatnya, Silva sudah berkaca-kaca mendengar penuturan sang bunda. Lalu ia kembali memeluk bundanya. "Makasih, Bunda. Aku bersyukur banget jadi anak seorang ibu yang pengertian kayak Bunda."


Laras tersenyum dan membalas pelukan Silva. "Sama-sama, Sayang. Bunda juga bersyukur punya anak yang kuat kayak kamu. Sekarang, tunjukkan lagi kekuatan kamu untuk memperjuangkan Arkan, ya?"


Silva memejamkan mata dan mengangguk dalam dekapan Laras.


Semoga perjuangan Silva kali ini bisa mengantarkannya pada kebahagiaan, ya.


... Bersambung......