Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 59. Tante Gemes



Dikarenakan hari sudah cukup siang, Arkan tidak tergesa-gesa berangkat ke sekolah. Ia sudah yakin bahwa dirinya akan terlambat. Jadi, secepat apapun ia bergerak, tetap saja ia akan terlambat.


Sebenarnya ia tidak ingin terlambat. Dengan adanya Silva di apartemennya, seharusnya ia bisa lebih rajin. Tapi kenapa malah lebih sering terlambat? Pikir Arkan. Ternyata tinggal bersama pacar saat masih dalam masa belajar itu sangat tidak disarankan. Pacaran juga sebenarnya lebih banyak memberikan sisi negatif dari pada positif. Positifnya hanya kita jadi lebih semangat menjalani hari dan mencapai cita-cita. Sementara negatifnya ada banyak. Mulai dari menghabiskan lebih banyak uang bagi laki-laki karena setiap Minggu harus mengajak kencan pacarnya. Bagi perempuan juga tak jauh berbeda. Sisa uang jajan yang seharusnya bisa digunakan untuk keperluan yang lebih penting atau ditabung, saat punya pacar, uang jajan lebih banyak dihabiskan untuk membeli make up atau perawatan wajah. Belum lagi kalau putus. Seakan kehilangan semangat hidup, makan pun tidak ingin. Dan masih banyak lagi sisi negatifnya. Ada yang bisa menyebutkan?


Tapi itu benar, kan?


Oke, saat ini Arkan sudah sampai di sekolah. Ia turun dari motor Abang ojek online dan memberikan helmnya.


"Makasih, Bang! Bayarnya pake saldo, ya!"


"Oke!" jawab si Abang ojol mengacungkan jempolnya lalu melaju meninggalkan Arkan.


Arkan berbalik dan berjalan menuju gerbang. Melongok keadaan sekolah yang sudah sepi. Pasti kegiatan belajar mengajar sudah dimulai.


"Arkan! Kok sekarang sering banget telat? Kenapa?" tanya Pak Satpam yang ternyata melihat Arkan saat sedang berjaga.


"Iya nih, Pak. Gak tau saya juga," jawab Arkan mengusap tengkuknya. Sebenarnya ia bingung harus menjawab apa.


"Begadang terus kali, ya?" tanya Pak Satpam lagi. Omong-omong, mereka mengobrol dibatasi pintu gerbang yang terkunci.


"Ah, iya, Pak. Saya tuh ngambil part time di cafe temen saya, jadi sering telat tidurnya, Pak," jawab Arkan yang baru mendapat jawaban yang tepat. Ya, walaupun tidak sepenuhnya tepat, tapi itu termasuk salah satu alasannya, kan.


Pak satpam mengerutkan kening heran. "Bukannya bapak kamu punya banyak cabang cafe, ya? Kenapa kerja di cafe orang?"


"Ya... Simpelnya, saya pengen belajar dari nol dulu, Pak. Nanti kalo udah ngerti seluk beluk tentang cafe, cara kerja di lapangan, baru saya megang usaha papa saya," jawab Arkan serasional mungkin. Pokoknya, ia harus bisa merahasiakan kehidupannya dari dunia luar. Apalagi dari orang yang tidak mengenal dekat dirinya.


"Oh, iya ya. Bener juga kamu. Melakukan pekerjaan apapun, harus tau dulu dari yang paling dasar, betul kan?" Pak satpam mengangguk-angguk.


"Betul banget, Pak."


Saat berbincang, Faris datang dengan motor sportnya. Ia turun dari motor yang diparkir tepat di depan gerbang, melepas helm dan menghampiri Arkan dan Pak Satpam yang sedang menatapnya. Tidak lupa, ia juga mengaca lebih dulu. Merapikan tatanan rambutnya di kaca spion motornya.


"Rambut berantakan begitu gimana rapiinnya?" tanya Arkan retoris menatap Faris dengan datar.


"Kenapa? Lo mau model rambut kayak gue juga? Sini, sini, biar gue bikin!" tawar Faris hendak menggapai kepala Arkan.


Dengan kening mengerut, Arkan menghindari tangan Faris. "Enak aja! Gak, gak, gak usah! Gue gini aja udah ganteng, kok."


"Dih, pede!" cibir Faris menggulirkan kedua matanya sambil kedua tangannya merapikan rambutnya lagi.


"Ngaca!" seru Arkan tepat di depan telinga Faris. Membuat Faris merungkut berusaha melindungi gendang telinganya.


"Udah, anjir. Dari tadi baru sampe juga gue udah ngaca," sahut Faris membuat Arkan ingin sekali menggeplak kepalanya sampai wajahnya mencium aspal. Tapi, Arkan tidak sejahat itu, readers. Ia tetap menganggap Faris sahabatnya semenyebalkan apapun sikapnya.


"Betewe, lo kenapa telat?" tanya Faris menatap Arkan.


Sebelum menjawab, Arkan menoleh ke belakang dulu. Setelah memastikan bahwa Pak satpam berada cukup jauh dari mereka, ia pun menatap Faris dan menjawab.


"Nenangin Silva dulu, dia nangis tadi pagi."


Mendengar kata Silva menangis, Faris mencuramkan kedua alisnya. "Lu apain Silva?"


Bukannya takut, Arkan malah menatap Faris datar. "Gak usah lebay, deh. Gak gue apa-apain kok."


"Terus kenapa bisa nangis kalo gak diapa-apain? Inget Ar, Silva tuh lagi hamil, kalian juga belom nikah, jadi jangan dululah."


"Ngomong apa sih lu? Jorok banget otak lo, sumpah! Gue bisa ya nahan nafsu, gak kayak lo!" bantah Arkan mendelik ke arah Faris.


"Halah! Yakin gue kalo Silva yang ngegodain, lo gak bakal bisa nolak dia!" Faris tak mau kalah, dia masih terus mencibir.


"Mau gue gampar gak, Ris? Kenapa jadi ngomongin itu sih?" ancam Arkan frustasi.


"Ya terus, Silva kenapa bisa nangis?"


"Makanya dengerin dulu penjelasan gue!"


"Ya udah, ayo jelasin!"


"Jadi gini, bangun pagi gue gak liat Silva di sebelah gue, makanya gue cari ke luar kamar--


Arkan mengangguk tanpa ragu. "Iya. Makanya, udah gue bilang gue bisa nahan nafsu. Buktinya selama tinggal di apart gue, Silva belum pernah tuh, gue sentuh."


"Cih! Boong lu! Gak percaya gue!"


Berusaha sekeras mungkin Arkan menahan tangannya untuk tidak memendamkan kepala Faris ke dalam tanah. Tapi, ia menghela napas untuk meredakan emosinya.


"Tau ah! Capek gue ngomong sama elu! Mending gue makan, daripada ngeladenin orang yang gagal move on," ujar Arkan duduk di pinggir gerbang lalu mengeluarkan bekal yang diberikan Silva untuknya.


"Anjir! Cewek hasil nikung temen aja bangga lu!" ejek Faris yang tentunya hanya bercanda. Buktinya ia malah ikut duduk lesehan di samping Arkan.


"Mana sini bagi gue!"


"Enak aja! Udah ngatain gue, sekarang mau minta makanan gue! Gak usah, ya!" sahut Arkan menjauhkan bekalnya dari Faris.


"Ah... Lu mah jahad ama temen sendiri juga. Ayo dong bagi... Gue belom makan dari malem nih," bujuk Faris yang terdengar seperti rengekan.


"Salah sendiri kenapa gak makan. Sibuk sama tegem-tegem sih, lu."


"Apaan tegem?"


"Tante gemes."


"Anjir!"


"Iya kan?" goda Arkan menyudutkan Faris.


Tak disangka, Faris mengusap tengkuknya dan meringis canggung. "Iya, sih hehe."


Kini, Arkan menggeleng. "Faris, Faris. Mau sampe kapan lo begitu? Tiap marahan sama pacar, clubbing. Putus, berburu tante. Nih, gue kasih tau. Yang halal tuh rasanya pasti lebih 'wah' dari pada yang udah berkali-kali dijebol sama sembarang laki-laki. Lagian, lo gak takut apa kena penyakit menular?"


"Iya sih, gue juga takut. Tapi ya gimana? Gue gak tau caranya ngilangin stress selain clubbing."


"B*go! Lo bisa mendalami hobi lo kalo lo lagi stres! Dengan begitu, masa stress lo bisa lebih bermanfaat. Stress itu masa yang biasa dirasakan setiap orang. Semua orang pasti pernah ngerasain stress. Jadi wajar, tandanya lo berpikir. Jadi waktu stress lo gak cuma diabisin buat uring-uringan apalagi ke club', ngabisin duit aja. Tapi kalo diisi sama kegiatan yang bermanfaat, kan gak akan sia-sia, malah itu bisa nambah kemampuan lo di bidang itu. Gimana sih, gitu aja gak tau!" jelas Arkan sambil menoyor kepala Faris di awal.


"Iya deh, iya. Gue gak ke club' lagi. Sekarang bagi dong sarapannya, laper nih gue."


Menghela napas, Arkan menggelengkan kepalanya. Ia pun berbagi nasi goreng buatan Silva untuk dimakan bersama dengan Faris.


"Ngomong-ngomong Ar, lo kapan mau nikahin Silva? Dia udah ngandung loh. Masa nanti pas lahir, bayinya gak punya bapak," tanya Faris lalu menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Tidak langsung menjawab, Arkan menelan dulu nasi goreng yang ada di dalam mulutnya. "Gue mau beresin dulu masalah ini, Ris. Beresin Dea, buktiin ke orang tua Silva kalo gue gak salah, dan buktiin ke mereka kalo gue bisa menghidupi anak mereka. Gue masih belom dapet restu dari mereka."


"Kalo soal Dea, lo tenang aja. Dia udah ditangani sama orang tuanya. Katanya dia bakal dipindahin ke rumah neneknya di desa biar gak kepikiran sama gue terus dan pelan-pelan bisa ngelupain cintanya ke gue. Jadi, urusan sama Dea udah beres--"


"Gue heran sama Dea, apa bagusnya lo sampe terobsesi gitu sama lo?" potong Arkan sambil sibuk makan.


"Ar, ribut yok!"


"Males gue ribut sama lo. Ntar yang ada gue dilabrak tante-tante gemes lo lagi."


"A--"


"Am!"


Sebelum Faris selesai mengumpat, Arkan menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Jadi, Faris tidak jadi mengumpat.


"Syukur deh, kalo gitu. Gue tinggal minta restu, ngeyakinin orang tua Silva kalo gue gak bersalah dan bisa bahgiain Silva." Tanpa merasa bersalah dan ekspresinya yang masih datar, Arkan bicara dan memakan nasi gorengnya lagi.


Faris menyembunyikan senyumnya. Ia mengangguk. "Nah, kalo gitu semangat! Gue sama yang lain pasti ngedukung lo."


Arkan mengangguk dan mengulum senyum. "Thank's."


Faris sengaja tidak memberitahu Arkan tentang orang tua Silva dan orang tua Arkan yang sudah mengetahui bahwa dirinya tidak bersalah. Biar saja Arkan berusaha sendiri, he he he.


... Bersambung... ...


Maaf ya telat🙏🏻 ini juga gak sempet diedit lagi. jadi kalo nanti ada typo, mohon dimaklumi dan kalo berkenan bisa dikomen yaw😉 terima kasih sudah mampir❤️