
Pagi menjelang, Silva sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia turun menuju ruang makan untuk sarapan.
"Pagi, Bi Lela!" sapa Silva sambil menarik kursi meja makan lalu duduk tersenyum pada Bi Lela.
"Pagi, Non! Ini susunya diminum, ya! Terus dimakan sarapannya!" ujar Bi Lela membawakan segelas susu dan sepiring nasi goreng.
"Yeay, nasi goreng!" seru Silva senang melihat nasi goreng kini di hadapannya lagi setelah seminggu terganti oleh roti tawar dan selai stroberi coklat.
"Iya, kangen ya sama nasi goreng buatan Bibi?" tanya Bi Lela dengan senyum menggoda.
"Iya tau! Kalo dibolehin sama bunda, setiap hari aja aku minta Bibi masakin sarapan nasi goreng," sahut Silva mulai menyantap nasi gorengnya setelah berdoa lebih dulu.
"Nyonya kan udah bilang alasannya, Non. Nasi goreng kurang baik untuk kesehatan, jadi gak boleh terlalu sering dikonsumsi," jelas Bi Lela yang kini duduk di samping Silva untuk menemani putri tuannya sarapan.
Silva mengangguk mengiyakan. Sudah sering kali ia mendengar alasan itu. "Ayo Bibi juga sarapan!"
"Nanti aja, Non. Setelah Non berangkat, baru Bibi sarapan di dapur," jawab Bi Lela menggeleng sungkan.
"Ya udah, kalo aku udah berangkat Bibi langsung sarapan, ya! Jangan dulu beresin rumah!" peringat Silva masih sambil menyantap sarapannya.
"Iya, Non." Bi Lela menjawab sambil tersenyum. Dalam hati ia merasa sangat beruntung bisa mendapat majikan yang baik-baik seperti keluarga ini. Ia jadi merasa lebih dihargai dan dimanusiakan. Apalagi anak majikannya ini. Selain selalu mengingatkan dirinya untuk makan dan jaga kesehatan, gadis itu juga sering curhat padanya. Entah itu tentang keluarganya, teman, ataupun kekasihnya. Yah, bagaimanapun ia yang selalu ada di rumah ini. Sang nyonya seringnya menamani sang kepala keluarga jika ada pekerjaan di luar kota atau luar negeri.
"Aku udah selesai, Bi. Berangkat, ya!" seru Silva sambil menyalami Bi Lela.
"Iya, Non. Hati-hati di jalan, ya!"
"Jangan lupa Bibi sarapan dulu!" seru Silva sambil berlari kecil menuju pintu utama.
***
Sesampainya di sekolah, Silva bergegas turun dari mobil. Setelah ia mengucapkan terima kasih kepada sopir pribadinya, Silva segera berlari menuju parkiran sekolah. Ia berusaha mengejar Faris yang melewati mobilnya tadi. Silva belum tenang kalau belum meminta maaf pada kekasihnya itu.
"Faris!" panggil Silva membuat Faris yang baru saja melepaskan helmnya menoleh. Namun, Silva melihat ada yang berbeda. Senyum yang selalu ada untuknya, kini tertutup kabut acuh. Seakan kehadirannya tidak diinginkan lelaki itu. Tapi Silva tidak menyerah, ia tetap menghampiri Faris dan harus meminta maaf.
Faris menuruni motornya bertepatan dengan Silva yang hendak menubruk tubuhnya. Namun, tangan Faris lebih dulu menahan kedua bahu Silva.
Melihat tindakan Faris, Silva mengerutkan keningnya menatap Faris nanar. "Kenapa? A-aku minta maaf..." cicit Silva dengan rasa takut yang kentara di iris matanya.
"Kenapa minta maaf? Emang kamu salah apa?" tanya Faris dingin tanpa menatap lawan bicara.
Hati Silva sakit melihat hal itu. Ia merasa benar-benar tidak berharga lagi bagi Faris. Sebegitu besarnya kah kesalahannya semalam? Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Ia selalu tidak siap untuk diacuhkan oleh Faris.
"Kok diem? Aku tanya, kamu salah apa?" kata Faris mengulang pertanyaannya. Kini maniknya sudah menatap Silva dengan dingin.
Silva malah semakin sakit melihat tatapan dingin nan tajam itu. Ia meneguk salivanya kasar dan menundukkan kepalanya. "A-aku salah karena semalam ninggalin kamu, matiin video call sepihak karena ada tamu."
"Terus?"
Silva mendongak menatap Faris dengan sedikit kerutan di keningnya.
Melihat Silva yang kebingungan, Faris
memutar bola mata jengah sekaligus menghela napas kasar. "Gak mau jujur soal siapa tamu yang semalam datang?"
Tak lama kemudian, Silva membulatkan kedua matanya lebar. "A-arkan? Tap-tapi dia cuma datang buat ngecek kondisi aku, terus pulang, gitu aja kok."
Silva yang ketakutan, menghilangkan kerutan di dahinya dan menatap Faris bingung.
"Kenapa? Kamu bingung kenapa aku bisa tau?" tanya Faris dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Aku kecewa sama kamu, Va! Kamu ngelarang aku datang, tapi kamu ngebolehin Arkan datang dan pegang-pegang kamu! Maksud kamu apa?! MAU SELINGKUH DARI AKU!! AAAKHH!!"
Bugh!!
Faris berteriak dan meninju dinding yang tepat di samping wajah Silva. Membuat gadis itu menutup mata ketakutan. Dan tubuhnya terlihat sedikit bergetar.
Napas Faris memburu, dadanya naik turun karena emosi yang terlampau tinggi. Menatap Silva dengan kilatan amarah.
"KALO MAU PUTUS BILANG! GAK USAH SELINGKUH SAMA SAHABAT BEJAT GUA!!" Faris terus meneriakkan kata-kata penuh amarah itu tepat di depan Silva.
Hingga seseorang menariknya menjauh dari Silva yang sudah menangis sambil menutup mata dan telinganya.
"Lepas, breng--"
Bugh!
Umpatan Faris terpotong karena Arkan mendaratkan tinjunya ke wajah Faris.
"Lo yang brengs*k! Kalo lo gak bisa jaga cewek, gak usah pacaran! Lo cuma nyakitin mereka!" seru Arkan berdiri membelakangi Silva, menjadi tameng agar Faris tidak bertindak lebih jauh lagi.
"Gue begini juga karena lo, bangs*t! Kalo lo gak nyari masalah, gue gak mungkin semarah ini!!" Faris balas berteriak pada Arkan.
Kini, maniknya beralih pada Silva yang merungkut di belakang tubuh Arkan. "Puas kamu sekarang?! Cowok yang lebih kamu suka, sekarang ngebelain kamu! Selamat, deh! Sekarang terserah kamu maunya gimana. Aku masih kecewa sama kamu! Jangan temuin aku dulu setelah ini, kalo gak mau kena marah lagi!"
Setelah mengatakan itu, Faris berbalik dan pergi meninggalkan parkiran yang telah ramai oleh para siswa-siswi yang penasaran dengan pertengkaran ketiganya.
Arkan menebar pandangan tajamnya ke sekeliling membuat orang-orang yang masih di sana menunduk takut. "Kenapa masih di sini?! Udah sana bubar!!" sembur Arkan kepada mereka semua.
Bisik-bisik mulai terdengar disertai sorakan kecewa bersamaan dengan bubarnya kerumunan.
Setelah di sana hanya menyisakan Arkan dan Silva saja, Arkan berbalik menatap Silva yang sudah merosot memeluk lututnya di lantai. Wajahnya ditenggelamkan di kedua lutut. Isakan terdengar membuat hati Arkan seakan teriris pisau tak kasat mata.
Menelan tangisnya yang seakan ingin keluar, Arkan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Silva. Dielusnya pucuk kepala Silva lembut. Arkan berusaha meraih dagu Silva dan mengangkat wajahnya. Wajah cantik itu terlihat sangat kacau dengan mata dan hidung yang memerah, seluruh permukaan wajahnya basah oleh air mata.
"Gue minta maaf. Kalo semalam gue gak ke rumah lo, mungkin kalian gak akan berantem kayak gini," ujar Arkan pelan sembari mengusap kedua pipi Silva menghapus air matanya.
Silva menggeleng, air matanya masih berlomba-loba keluar membasahi pipi. Mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Tangisannya pecah hingga hanya sesenggukan yang keluar dari mulutnya.
Arkan tidak sanggup lagi melihatnya. Segera ia bawa Silva ke dalam pelukannya. Merengkuh tubuh rapuh Silva yang bergetar. Hatinya turut merasakan sakit. Dalam hati ia berjanji. Jika suatu hari nanti Silva sudah menjadi miliknya, ia tak akan pernah membuat gadis ini sedih apalagi menjatuhkan air mata karena perbuatannya. Sebaliknya, Arkan akan berusaha untuk selalu menciptakan lengkungan indah di bibir gadis pujaannya ini.
... Bersambung......
gimana part kali ini, readers? semoga kalian suka ya...segitu dulu yaw, sampai ketemu di part selanjutnyaπ
luv yu allβ€οΈβ₯οΈβ£οΈπ§‘πππ€ππππππππππ
salam
Didiloveπ